[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 348

10. KITAB RUJUK – 10.01. BAB ILA’, ZHIHAR DAN KAFFARAT 03

1014

وَعَنْهُ «- رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَجُلًا ظَاهَرَ مِنْ امْرَأَتِهِ، ثُمَّ وَقَعَ عَلَيْهَا، فَأَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ: إنِّي وَقَعْت عَلَيْهَا قَبْلَ أَنْ أُكَفِّرَ، قَالَ: فَلَا تَقْرَبْهَا حَتَّى تَفْعَلَ مَا أَمَرَك اللَّهُ بِهِ» رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَرَجَّحَ النَّسَائِيّ إرْسَالَهُ وَرَوَاهُ الْبَزَّارُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -، وَزَادَ فِيهِ ” كَفِّرْ، وَلَا تَعُدْ “.

1014. Dan, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya seseorang telah menzhihar isterinya, lalu dia mencampurinya. Maka, dia pun menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu berkata, “Sesungguhnya saya telah mencampurinya sebelum membayar kaffarat.” Beliau berkata, “Jangan kamu dekati dia sampai kamu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadamu.” (HR. Al-Arba’ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi menshahihkannya, tapi An-Nasa’i mentarjihkan (menguatkan) hukum ke-mursal-annya.

[Shahih: At-Tirmidzi (1199)]

Dan, Al-Bazzar juga telah meriwayat-kan hadits ini dari jalur lain dari Ibnu Abbas dan dia menambahkan kalimat, “Bayarlah kaffarat dan jangan kamu ulangi lagi.”

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ini termasuk bab zhihar. Hadits ini tidak terpengaruh (ternodai) oleh hukum ke-mursal-annya, sebagaimana telah kami ulang-ulang, bahwasanya periwayatannya dari jalur yang mursal (terputus sanadnya) dan jalur yang bersambung sanadnya, tidak berarti menjadinya cacat, bahkan membuatnya semakin kuat.

Kata ‘zhihar’ merupakan derivasi dari kata ‘zhahr’ (berarti:punggung), karena itu merupakan ucapan suami kepada isterinya, “Kamu bagiku laksana punggung ibuku.” Lalu diambillah nama (istilah) zhihar ini dari lafazh tersebut, dan mereka menyebut dengan kata zhahr ini mengenai sesuatu yang jika disebut dianggap hina. Dan, mereka menyandarkan kata itu kepada ibu, karena dia (ibu) merupakan induknya wanita-wanita yang diharamkan. Para ulama telah bersepakat tentang pengharaman zhihar ini dan ditimpakannya dosa terhadap pelakunya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

{وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا}

“Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta.” (QS. Al-Mujadilah: 2)

Adapun hukumnya (zhihar) setelah pengucapannya, maka itu akan dibahas nanti. Dan, para ulama telah bersepakat bahwa zhihar ini terjadi dengan melakukan penyerupaan isteri dengan punggung ibunya. Kemudian mereka berselisih pendapat tentang zhihar ini dalam beberapa hal:

Pertama, jika dia menyerupakan isteri dengan anggota tubuh ibunya selain punggung. Maka, kebanyakan ulama berpendapat bahwa penyerupaan tersebut juga merupakan zhihar. Ada yang berpendapat, “Penyerupaan itu sebagai zhihar apabila dia menyerupakan isterinya dengan anggota tubuh yang haram dipandang. Dan, Anda pun sudah mengetahui bahwa teks (dalil) di sini tidak menyebut selain tentang zhahr (punggung).

Kedua, bahwa mereka juga berbeda pendapat perihal apabila dia (suami) menyerupakan isterinya dengan para mahramnya selain ibunya. Kalangan Al-Hadawiyah berpendapat, itu bukanlah zhihar, karena teks (dalil) di atas hanya menyebut kata ‘ibu’. Sedangkan ulama lain seperti Malik, Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa itu sebagai zhihar, bahkan kalaupun dia menyerupakan isterinya dengan mahram dari unsur persusuan. Dalil mereka, adalah qiyas (analogi), karena illat-nya adalah pengharaman abadi yang tetap, dan hal itu berlaku pula pada mahram-mahramnya seperti halnya pada ibunya

Malik dan Ahmad berkata, “Penyerupaan itu sah sekalipun yang menjadi objek penyerupaannya diharamkan untuk selamanya, seperti wanita asing. Bahkan, Ahmad berkata, “Bahkan termasuk binatang.” Dan, sangat jelas bahwa nash (dalil) di atas tidak menyebut selain kata ‘ibu’. Dan, apa-apa yang tersebut seperti mengikutsertakan wanita selain ibu di sini, maka itu dasarnya dengan qiyas (analogi) dan juga dengan memperhatikan maknanya. Dan, itu tidak cukup kuat menjadi dalil terhadap hukum masalah ini.

Ketiga, bahwasanya mereka juga berbeda pendapat tentang apakah sah zhihar yang dilakukan oleh orang kafir? Dikatakan, “Sah, mengingat umumnya khitab pada ayat di atas. Ada yang berpendapat, tidak sah zhihar yang dilakukan orang kafir, karena di antara konsekuensi-konsekuensinya adalah membayar kaffarat, dan tidaklah sah kaffarat yang berasal dari orang kafir. Ulama yang berpendapat zhihar tersebut sah, berdalih bahwa orang kafir tersebut bisa membayar kaffarat dengan memerdekakan budak atau memberi makan (fakir-miskin), bukan dengan berpuasa mengingat dia tidak berkewajiban puasa. Pendapat ini dibantah dengan argumen bahwa memerdekakan budak dan memberi makan (fakir-miskin) apabila itu dilakukan untuk membayar kaffarat, maka keduanya menjadi ibadah, padahal tidak ada ibadah bagi orang kafir.

Keempat, bahwasanya mereka juga berbeda pendapat tentang zhihar yang dilakukan pada budak wanita. Kalangan Al-Hadawiyah, Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat, bahwasanya tidak sah zhihar terhadap budak wanita, karena bunyi firman Allah Ta’ala, “dari isteri-isteri mereka”, itu tidak mencakup budak menurut tradisi pemakaian bahasa, di samping karena ada kesepakatan dalam masalah ila’, bahwa budak wanita tidak termasuk daftar keumuman kata “Nisaa” (isteri), dan pula berdasarkan qiyas kepada talak. Sedangkan Malik dan yang lainnya berpendapat bahwa zhihar terhadap budak wanita sah, mengingat umumnya kata “Nisaa” tersebut. Hanya saja, para ulama yang berpendapat tentang sahnya zhihar pada budak wanita ini berbeda pendapat tentang kaffarat-nya. Ada yang berpendapat tidak wajib, kecuali setengahnya kaffarat, seakan-akan dia menganalogikan hal itu dengan talak.

Kelima, Hadits ini sebagai dalil bahwa haram hukumnya berhubungan badan dengan isteri yang telah dizhihar sebelum membayar kaffarat, dan itu menjadi kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا}

“Sebelum kedua suami isteri itu bercampur.” (QS. Al-Mujadilah: 3, 4)

Kalaulah dia sudah berhubungan badan, maka kaffaratnya tidak gugur dan pula tidak menjadi berlipat-ganda, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “.. .sampai kamu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah.”

Ash-Shilt bin Dinar berkata, “Aku telah menanyai sepuluh orang kalangan fuqaha tentang muzhahir (suami yang menzhihar isterinya) yang menyetubuhi isteri sebelum membayar kaffarat? Mereka pun menjawab, “(membayar) satu kaffarat saja”, dan itu merupakan pendapat ulama fikih madzhab empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad).”

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa wajib baginya membayar dua kaffarat. Salah satunya untuk zhihar yang disertai dengan kembali mencampuri isteri dan kedua untuk hubungan badan yang diharamkan, seperti hubungan badan pada siang hari bulan Ramadhan. Dan, pendapat ini jelas sekali lemah.

Diriwayatkan dari Az-Zuhri dan Ibnu Jubair, bahwasanya kaffarat-nya gugur, karena sudah lewat waktunya, mengingat itu sudah lewat sebelum hubungan badan ini. Pendapat ini dibantah dengan argumen bahwa lewatnya masa pelaksanaan (membayar kaffarat) itu tidak bisa menggugurkan apa yang pasti dalam tanggungan; seperti halnya shalat dan ibadah-ibadah lainnya.

Terjadi silang pendapat tentang larangan bercumbu (pembuka hubungan seks). Ada yang berpendapat, hukumnya -dalam hal diharamkan- itu seperti hukum hubungan badan itu sendiri. Karena, dia telah menyerupakan isterinya dengan orang yang haram disetubuhi dan dicumbui olehnya. Dan, ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Sedangkan menurut sebagian kecil ulama bercumbu tersebut tidak diharamkan, karena menjamah itu hakikatnya adalah kontak seks itu sendiri. Maka, hal itu tidak meliputi pemanasan (bercumbu), selain hanya majaz. Dan, tidak sah pula bila diartikan demikian, karena itu sebagai penggabungan antara hakikat dan majaz. Sementara menurut Al-Auza’i bersenang-senang (dengan pasangan) dalam balutan sarung itu sah-sah saja.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *