[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 347

10. KITAB RUJUK – 10.01. BAB ILA’, ZHIHAR DAN KAFFARAT 02

1012

وَعَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: أَدْرَكْت بِضْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كُلَّهُمْ يَقِفُونَ الْمُولَى رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ

1012. Dan, dari Sulaiman bin Yassar Radhiyallahu Anhu dia berkata, “Aku melihat lebih dari sepuluh lelaki dari shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, semuanya menghentikan sebagai orang yang meng-ila’. (HR. Asy-Syafi’i)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Sulaiman bin Yassar adalah Abu Ayyub bin Yassar, budaknya Maimunah, isteri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia adalah saudara lelakinya Atha’ bin Yassar. Sulaiman termasuk ulama fikih Madinah dan tokoh generasi tabi’in. Dia juga orang yang terpercaya, mulia, wara’ dan sebagai hujah, atau salah satu ulama fikih yang tujuh. Dia meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Ummu Salamah. Dia wafat pada tahun 107 H dalam usia 73 tahun.

Penjelasan Kalimat

Dalam kitab Al-Irsyad karangan Ibnu Katsir, bahwasanya Asy-Syafi’i setelah meriwayatkan hadits ini, ia berkata, “Dan, setidak-tidaknya jumlah mereka adalah 13 orang”. Maksudnya jumlah minimal dari ungkapan kata “lebih dari sepuluh.”

Kata ‘yaqifuuna’ artinya mereka menghentikan ila’ sampai empat bulan, seperti yang telah diriwayatkan Isma’il, yakni, Ibnu Abi Idris, dari Sulaiman juga, bahwa dia berkata, “Kami melihat orang-orang menghentikan ila’ apabila sudah lewat masa empat bulan. Maka, ke-mutlaq-an riwayat dalam kitab ini ditafsirkan dengan riwayat yang muqayyad ini.

Ad-Daraquthni telah meriwayatkan dari Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya, bahwasanya dia berkata, “Aku bertanya kepada 12 orang shahabat tentang lelaki yang meng-ila’ isterinya, lalu mereka menjawab, ‘Tidak wajib apa pun baginya sampai lewat masa empat bulan, lalu dia menghentikan ila’-nya. Maka, (setelah itu) dia boleh kembali, atau jika tidak maka dia mentalak isterinya.”

Ismail juga meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu Umar, bahwasanya dia berkata, “Apabila sudah lewat masa empat bulan, maka dia harus menghentikan ila-‘nya sampai dia mentalak isterinya, dan talak itu tidak akan jatuh pada isterinya sampai dia mentalaknya.” Sedangkan Al-Isma’ili meriwayatkan atsar (ucapan) Ibnu Umar ini dengan redaksi, “Bahwasanya dia pernah berkata, “Siapa saja lelaki yang meng-ila’ isterinya, jika sudah lewat masa empat bulan, maka dia harus menghentikan ila’-nya sampai dia mentalaknya atau rujuk, dan tidaklah talak itu jatuh terhadap isterinya apabila sudah lewat masa empat bulan sampai dia menghentikan ila’-nya.”

Tafsir Hadits

Dalam bab ini ada banyak atsar dari ulama salaf, semuanya menetapkan bahwa setelah lewat masa empat bulan perihal harus ada penghentian orang yang meng-ila’ isterinya ini. Makna penghentian di sini, adalah dia dituntut untuk rujuk atau bercerai. Dan, talak tersebut tidak akan jatuh hanya dengan lewatnya masa empat bulan tersebut, dan pendapat inilah yang dikemukakan mayoritas ulama. Ini ditunjukkan oleh zhahirnya ayat, mengingat firman Allah Ta’ala,

{وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ}

“Dan jika mereka ber’azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 227)

Firman-Nya, “Maha Mendengar” di sini menunjukkan bahwa talak tersebut bisa jatuh oleh ucapan yang berhubungan dengan pendengaran, meskipun dia berkaitan dengan berlalunya masa tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Musayyib, Al-Auza’i, Rabi’ah, Makhul, Az-Zuhri dan ulama Kufah, bahwasanya talak tersebut bisa jatuh dengan berlalunya masa itu sendiri -maka di sini ada yang berpendapat itu sebagai talak raj’i, dan ada pula yang berpendapat itu sebagai talak ba’in dan tidak ada ‘iddah lagi baginya—niscaya cukuplah firman Allah, “Maha Mengetahui”, mengingat apa yang sudah diketahui mengenai kedalaman makna Al-Qur’an. Dan, juga bahwa pembatas-pembatas ayat itu mengisyaratkan pada apa yang ditunjukkan oleh kalimat sebelumnya. Maka, apabila talak tersebut dinyatakan sudah jatuh, maka itu adalah sebagai talak raj’i menurut mayoritas ulama dan pendapat inilah yang menonjol. Sedangkan kubu lain punya banyak rincian, tetapi tidak ada dalilnya.

1013

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ إيلَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ السَّنَةَ وَالسَّنَتَيْنِ فَوَقَّتَ اللَّهُ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ، فَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَلَيْسَ بِإِيلَاءٍ أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ

1013. Dan, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dia berkata, “Dulu, ila’ orang-orang Jahiliyyah itu sampai setahun dan dua tahun, lalu Allah menentukan waktunya empat bulan. Jika kurang dari empat bulan, maka itu bukanlah ila’.” (HR. Al-Baihaqi)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ath-Thabrani juga meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas. Asy- Syafi’i berkata, “Dulu, orang-orang Arab pada masa Jahiliyah bersumpah dengan tiga hal, dan dalam redaksi lain, “Dulu, mereka menyebut talak, zhihar dan ila'”, lalu Allah mengalihkan hukum ila’ dan zhihar dari apa yang ada sebelumnya pada masa Jahiliyah, yakni penjatuhan cerai terhadap isteri kepada hukumnya yang tetap di dalam syariat, sedangkan hukum talak tetap (berlaku) seperti apa yang sebelumnya.”

Hadits ini merupakan dalil bahwa pemberlakukan ila’ paling minim adalah empat bulan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *