[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 346

10. KITAB RUJUK – 10.01. BAB ILA’, ZHIHAR DAN KAFFARAT 01

Ila’ secara bahasa berarti: sumpah, dan menurut syara’ adalah tidak mau mencampuri isteri dengan mengucap sumpah. Sedangkan zhihar adalah derivasi dari kata zhahr (berarti: punggung), mengingat ucapan si pengucap, “Kamu di mataku ibarat punggung ibuku.” Sementara kaffarat berasar dari kata takfir (penebus dosa)

1010

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «آلَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ نِسَائِهِ وَحَرَّمَ، فَجَعَلَ الْحَرَامَ حَلَالًا، وَجَعَلَ لِلْيَمِينِ كَفَّارَةً» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ

1010. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersumpah untuk tidak mencampuri isteri-isterinya dan mengharamkan (mereka), dan menjadikan halal perkara yang haram dan menetapkan kaffarat bagi sumpah tersebut.” (HR. At-Tirmidzi dan para perawinya adalah orang-orang terpercaya)

[Dhaif: At Tirmidzi 1201]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

At-Tirmidzi telah mentarjih (menguatkan) hukum kemursalannya atas ketersambungan sanadnya..

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil dibolehkannya suami bersumpah tidak mencampuri isterinya, dan tidak ada di situ pemaparan jelas tentang ila’ yang diistilahkan dalam tradisi syariat ini. Ila’ adalah sumpah (suami) untuk tidak mencampuri isterinya.

Ketahuilah, bahwasanya telah terjadi perbedaan riwayat perihal sebab ila’-nya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tentang sesuatu yang telah diharamkannya ini dalam sejumlah riwayat berikut:

Pertama, bahwasanya hal itu dipicu oleh tindakan Hafshah menyebarkan hadits yang beliau rahasiakan kepadanya. Dan, mengenai hadits yang beliau rahasiakan kepada Hafshah ini ada perselisihan pendapat pula. Al-Bukhari meriwayatkannya dari Ibnu Abbas dari Umar Radhiyallahu Anhu dalam sebuah hadits panjang, dan sebagus-bagus dalam riwayat Al-Bukhari adalah ini, dan telah ditafsirkannya dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, bahwa itu adalah pengharaman beliau terhadap Mariyah, dan bahwa beliau merahasiakan itu kepada Hafshah, lalu Hafshah membocorkannya kepada Aisyah. Atau, disebabkan pengharaman beliau terhadap madu. Dikatakan, “Bahkan, beliau merahasiakan kepada Hafshah bahwa ayahnya (Umar) akan memangku urusan umat setelah Abu Bakar nanti dan beliau berkata, “Jangan beritahu Aisyah!” perihal pengharamannya terhadap Mariyah.”

Kedua, bahwa sebab I’la ‘Nabi ShallallahuAlaihiwa Sallam adalah beliau telah membeda-bedakan hadiah yang datang kepada beliau di antara para isterinya. Maka, Zainab binti Jahsy tidak puas dengan bagiannya. Dia tidak puas lalu beliau menambahnya sekali lagi, tapi dia tetap tidak puas. Maka, Aisyah pun berkata, “Sungguh, engkau telah mencolok wajahmu. Engkau menolak hadiah yang diberikan kepadamu.” Beliau pun berkata, “Sungguh kalian itu lebih hina di mata Allah dari sekadar mencolokku. Aku tidak akan menggauli kalian selama satu bulan.” Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Amrah dari Aisyah, sedang dari jalur Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah dengan hadits yang serupa, dan dia berkata, “Beliau benar-benar menyembelih.”

Ketiga, bahwa hal itu disebabkan mereka (para isteri Nabi itu) menuntut nafkah. Ini diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir.

Inilah tiga sebab; boleh jadi itu karena pembocoran rahasia oleh salah seorang isterinya, yaitu Hafshah. Dan, rahasia ini adalah salah satu dari tiga hal: bisa berupa pengharaman beliau terhadap Mariyah (sebagai madu), atau beliau mendapati bahwa itu ada pada diri Mariyah, atau dengan dibuatnya hati beliau dongkol akibat melakukan pemilahan hadiah di antara mereka atau desakan mereka dalam menuntut nafkah.

Penyusun kitab Rahimahullah berkata, “Yang paling pantas dengan kemuliaan akhlak, kelapangan dada dan kelemah-lembutan beliau, adalah bahwa kesemua hal-hal ini sebagai faktor penyebab mereka dikucilkan oleh beliau. Maka, ucapan Aisyah, “beliau mengharamkan”, itu maksudnya mengharamkan Mariyah atau madu. Maka, di sini tidak ada dalilnya bahwa pengharaman itu terhadap jima’ (hubungan badan) sehingga itu dikategorikan bab ila’ yang syar’i. Juga, tidak ada bukti bagi penegasan Ibnu Baththal dan lainnya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mencampuri isteri-isterinya pada bulan tersebut jika itu disimpulkan dari hadits ini, dan memang tiada sandaran baginya selain hadits ini. Karena, penyusun kitab berkata, “Saya tidak tahu ada riwayat secara jelas mengenai hal itu.” Maka, dari tidak masuknya beliau kepada mereka ini, tidak berarti seorang dari mereka tidak menemui beliau di tempat beliau mengisolisasi diri ini. Kecuali, jika tempat tersebut adalah masjid. Maka, tidak masuknya beliau kepada mereka diikuti terus- terusan berada di dalam masjid itu mengharuskan adanya tekad untuk tidak berhubungan badan mengingat hal itu tidak boleh dilakukan dalam masjid.

1011

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: إذَا مَضَتْ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَقَفَ الْمُولِي حَتَّى يُطَلِّقَ، وَلَا يَقَعُ عَلَيْهِ الطَّلَاقُ حَتَّى يُطَلِّقَ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ

1011. Dan, dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dia berkata, “Apabila sudah lewat empat bulan, maka muli’ (suami yang meng-ila’ isterinya) itu berhenti sampai dia mentalak, dan tidaklah jatuh talak itu kepadanya sampai dia mentalak.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 5291]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini laiknya sebagai tafsir bagi firman Allah Ta’ala,

{لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ}

“Kepada orang-orang yang meng-ila’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).” (QS. Al-Baqarah:’ 226)

Dan, para ulama berselisih pendapat dalam beberapa hal menyangkut masalah ila’ ini:

Pertama, perihal sumpah, karena mereka berselisih pendapat di dalamnya. Jumhur berpendapat, “Sah hukum ila’ dengan semua ucapan sumpah untuk tidak mempergauli isteri, baik dia bersumpah dengan menyebut nama Allah atau dengan selainnya”. Kata ulama Al-Hadawiyah, “Bahwasanya tidak sah dengan sumpah selain menyebut nama Allah”. Alasan mereka, karena tidak disebut sumpah, kecuali dengan menyebut nama Allah. Maka, ayat di atas tidak meliputi sumpah dengan selain itu. Saya katakan, “Inilah pendapat yang benar sebagaimana akan dibahas nanti.”

Kedua, tentang masalah yang berkaitan dengan ila, yaitu tidak berhubungan badan dengan berkata blak-blakan atau kinayah (sindiran), atau tidak mau berbicara (dengannya) menurut sebagian ulama. Sedangkan pendapat jumhur, bahwa dalam hal ini harus berkata blak-blakan untuk tidak berhubungan badan, bukan sebatas tidak berhubungan badan dengan isteri saja. Dan, tidak ada pernyataan bahwa dasar hukum ila’ ini, adalah firman Allah, “Kepada orang-orang yang meng-ila’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya).” (QS. Al-Baqarah: 226)

Karena, ayat ini turun untuk menolak (menghapus) apa yang diperbuat orang-orang di masa Jahiliyah yang memperlama masa ila’. Yaitu, pernah seorang suami meng-ila isterinya sampai setahun dan dua tahun. Maka, Allah Ta’ala pun membatilkan model ila’ semacam ini, dan memberi suami yang meng-i’la’ itu tempo empat bulan saja. Sesudah itu, dia boleh pilih, berhubungan badan atau mentalak isterinya.

Ketiga, Para ulama berbeda pendapat tentang masa ila’ ini. Menurut Jumhur dan kelompok Hanafiyah, ila’ tersebut harus lebih dari empat bulan. Kata Al-Hasan dan ulama lainnya, sah ila ‘dengan masa sebentar maupun lama, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang meng-ila’isterinya.” (QS. Al-Baqarah: 226).

Pendapat ini dibantah dengan hujah, bahwa tidak ada dalilnya dalam ayat ini, karena Allah telah menetapkan dalam ayat ini masa ila’ tersebut dengan firman-Nya, “empat bulan” (QS. Al-Baqarah: 226). Maka, masa empat bulan ini telah dijadikan oleh Allah sebagai masa penangguhan. Ia lebih seperti masa jatuh tempo hutang (kredit), karena Allah Ta’al berfirman, “Jika mereka kembali.” (QS. Al-Baqarah: 226) dengan menggunakan huruf “fa” yang berfungsi untuk “ta’aib ” (kelanjutan) dan itu setelah empat bulan ini. Seandainya masa ila’ itu tepat empat bulan atau kurang dari itu, maka tentunya sudah habis masa tersebut, sehingga dia tidak dituntut apa-apa setelah itu. Dan, ta’qib di sini ditujukan untuk masa ila’, bukan untuk ila’ yang sesudahnya.

Keempat, bahwasanya terlewatnya masa ila’ itu tidak berarti langsung terjadi talak menurut Jumhur. Abu Hanifah berkata, “Tetapi, apabila masa empat bulan itu sudah lewat, maka wanita tersebut tertalak.” Dikatakan, dalilnya bahwa dengan berlalunya masa empat bulan itu tidak langsung terjadi talak, karena Allah Ta’ala dalam ayat di atas telah memberi opsi antara kembali kepada isteri dan kemauan keras untuk bercerai. Keduanya itu di dalam satu waktu, yaitu setelah lewat masa empat bulan. Andai saja talak itu dinyatakan jatuh setelah lewat masa empat bulan, dan tentu tiada lagi opsi fa’iah (kembali kepada isteri) ini setelah itu. Karena, hak opsi tersebut agar salah satunya terjadi pada waktu yang sah pula pada saat itu bagi opsi lainnya, seperti halnya kaffarat. Karena, Allah Ta’ala telah menyandarkan kemauan untuk cerai itu kepada suami, dan bukanlah berlalunya masa itu akibat dari perbuatan suami. Dan, juga karena hadits Ibnu Umar yang kami sampaikan ini. Kalaupun hadits ini mauquf, maka dia sebagai penguat dalil-dalil tadi.

Kelima, Fai’ah (kembali kepada isteri) sama dengan rujuk. Dan, para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana caranya hal itu bisa terjadi? Ada yang mengatakan dengan hubungan badan bagi suami yang masih kuat, sedangkan suami yang sudah udzur, maka dia mengungkapkan udzurnya itu dengan berkata, “Andai saja aku masih kuat, pastilah aku rujuk.” Karena, hanya itulah yang dapat dimampuinya mengingat firman Allah Ta’ala,

{لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا}

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan-nya.”(QS. Al-Baqarah: 286)

Ada yang berpendapat itu dengan mengucap, “Kutarik kembali sumpahku.” Ini menurut ulama Al-Hadawiyah. Seakan-akan mereka berpendapat, maksudnya penarikan sumpah kembali olehnya, bukan penjatuhan apa yang telah disumpahkannya. Ada pula yang berpendapat, cara kembali bagi orang yang udzur adalah dengan niat, karena itu sebagai taubat yang cukuplah kemauan kuat itu di dalamnya. Namun, pendapat ini bisa dibantah dengan hujah bahwa fai’ah ini sebagai taubat dari hak manusia lain, maka haruslah memahamkannya mengenai penarikan dari perkara yang telah ditekadkannya itu.

Keenam, para ulama berbeda pendapat tentang: Apakah wajib kaffarat atas suami yang kembali ini? Pendapat Jumhur, wajib kaffarat, karena itu merupakan sumpah yang telah dilanggar (dibatalkan)nya. Maka, kaffarat itu pun wajib, dan juga mengingat adanya hadits,

«مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ وَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ»

“Barangsiapa yang berikrar atas suatu sumpah, lalu dia melihat selainnya yang lebih baik daripada sumpahnya itu, maka wajib baginya mengkaffarat (menebus) sumpahnya itu, dan hendaklah dia melakukan yang terbaik.”

[shahih, Muslim (1649)]

Ada yang berpendapat kaffarat tersebut tidak wajib berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 226)

Tetapi, pendapat ini dibantah dengan argumen bahwa ampunan tersebut hanya khusus berkaitan dengan dosa, bukan dengan kaffarat. Dan, petunjuk terhadap masalah kelima, adalah hadits:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *