[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 345

10. KITAB RUJUK

1008

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ الرَّجُلِ يُطَلِّقُ ثُمَّ يُرَاجِعُ، وَلَا يُشْهِدُ، فَقَالَ: أَشْهِدْ عَلَى طَلَاقِهَا، وَعَلَى رَجْعَتِهَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد هَكَذَا مَوْقُوفًا، وَسَنَدُهُ صَحِيحٌ. وَأَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ بِلَفْظِ: إنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – سُئِلَ عَمَّنْ رَاجَعَ امْرَأَتَهُ، وَلَمْ يُشْهِدْ، فَقَالَ: فِي غَيْرِ سُنَّةٍ. فَلْيُشْهِدْ الْآنَ وَزَادَ الطَّبَرَانِيُّ فِي رِوَايَةٍ: وَيَسْتَغْفِرْ اللَّهَ

1008. Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhu, bahwasanya dia ditanya tentang seorang lelaki yang mentalak isterinya, lalu merujuknya dan tidak ada saksi? Dia berkata, “Hendaknya dipersaksikan talak dan rujuknya terhadap isterinya itu.” (Abu Dawud meriwayatkannya seperti ini secara mauquf (tidak disandarkan kepada Nabi), tapi sanad-nya shahih.

[Shahih: Abi Dawud (2186)]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan matan, “Bahwasanya Imran bin Hushain ditanya tentang orang yang merujuk isterinya dan tidak ada yang menjadi saksi? Dia pun berkata, “Dia merujuk (isterinya) tidak berdasarkan sunnah. Maka, hendaknya sekarang juga dipersaksikan.”

Ath-Thabrani menambahkan, “Dan dia (bersegera) memohon ampun kepada Allah.”

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan tentang disyariatkannya rujuk. Dasar hukumnya, adalah firman Allah,

{وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ}

“Dan suami-suaminya berhak merujuknya.” (QS. Al-Baqarah: 229)

Para ulama telah bersepakat, bahwa suami memiliki hak untuk merujuk isterinya dalam konteks talak raj’i, selama sang isteri masih dalam masa iddah (masa penantian), tanpa butuh adanya kerelaan isterinya itu dan kerelaan walinya. Hal ini, jika talak terjadi setelah adanya hubungan badan, dan juga hukum keabsahan rujuk ini disepakati ulama, bukan ketika diperselisihkan.

Hadits ini juga menunjukkan perintah adanya saksi (persaksian), sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala,

{وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ}

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.” (QS. At-Thalaq: 2)

Dalam ayat ini, Allah menyebut perintah adanya saksi ini setelah kata talak dan rujuk. Dan zhahir perintah itu adalah kewajiban adanya persaksian dalam masalah rujuk. Pendapat ini dikemukakan oleh Syafi’i dalam pendapat lamanya (qaul qadim); dan seakan-akan madzhabnya sudah mantap dengan opsi tidak diwajibkannya persaksian ini.

Al-Muza’i dalam Tafsir Al-Bayan berkata, “Ulama telah sepakat bahwa talak tanpa persaksian itu boleh.” Adapun rujuk, maka bisa saja seperti talak, karena antara keduanya ada kaitannya. Karena itu, tidak wajib adanya persaksian dalam hal ini, karena rujuk merupakan wewenang suami. Sehingga, tidak wajib baginya mempersaksikan ketika ia akan menyambung hubungan kembali kepada isteri yang ditalaknya (rujuk). Dan, mungkin saja persaksian itu wajib dan itu melupakan zhahir khitab ayat tersebut.

Hadits ini boleh jadi ucapan Imran sendiri sebagai bentuk ijtihadnya, karena dalam ijtihad itu ada keleluasaan. Kecuali, bahwa ucapannya, “Dia telah merujuk (isterinya) tidak berdasarkan sunnah”, itu bisa dikatakan bahwasanya istilah sunnah, jika dilontarkan melalui lisan seorang shahabat, maka yang dimaksudkan adalah sunnah Nabi, sehingga hukum ucapan itu adalah marfu’ (disandarkan kepada Nabi). Hanya saja, itu tidak menunjukkan pada hukum wajib mengingat adanya keragu-raguan tentang keberadaannya termasuk sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam antara wajib dan sunnah. Dan, persaksian terhadap rujuk ini tampak jelas apabila rujuk tersebut dinyatakan dengan ucapan sharih (terang-terangan). Para ulama sepakat tentang rujuk dinyatakan dengan ucapan ini, dan mereka berselisih pendapat apabila rujuk itu dengan tindakan (hubungan badan langsung).

Imam Syafi’i dan Imam Yahya berkata, “Tindakan (hubungan badan) ini diharamkan. Maka, tidak boleh rujuk itu dilakukan dengannya, karena Allah Ta’ala telah menyebutkan persaksian itu, dan tidaklah persaksian itu, kecuali melalui ucapan. Pendapat ini dibantah dengan hujah, bahwa itu tidak berdosa bagi suami, karena Allah berfirman, “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka…” (QS. Al-Mukminun: 6, QS. Al-Ma’arij: 30), sedangkan wanita itu adalah isterinya. Dan, persaksian itu pun tidak wajib, sebagaimana dikatakan sebelumnya.

Jumhur berpendapat, “Rujuk dengan tindakan (hubungan badan langsung) itu sah.” Tetapi, mereka berselisih pendapat apakah termasuk syarat tindakan itu mesti ada niat?

Menurut Malik, “Tidak sah rujuk dengan tindakan kecuali dibarengi niat, seakan-akan dia berpendapat demikian menurut keumuman hadits, “(Semua) amalan itu dengan niat.” Sedangkan menurut mayoritas ulama, “Sah rujuk tanpa niat, karena menurut syariat, wanita itu masih isterinya yang termasuk dalam kategori firman Allah Ta’ala, “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka…” (QS. Al Mu’minun: 6, Al-Ma’arij: 30).” Dan, menurut ijma’ ulama tidak disyaratkan niat dalam urusan mencampuri isteri, menciumnya dan lain-lainnya.

Terjadi silang pendapat, apakah wajib atas suami mengumumkan rujuknya, bahwasanya dia telah merujuk isterinya, agar mantan isterinya itu tidak dinikahkan dengan lelaki lain?

Menurut pendapat mayoritas ulama, wajib atas suami mengumumkan rujuknya itu. Ada yang berpendapat itu tidak wajib. Dari silang pendapat ini berkembang pada persoalan jikalau mantan isterinya itu telahmenikah lagi sebelum dia mengetahui mantan suaminya telah merujuknya. Maka, kelompok ulama yang pertama (jumhur) berpendapat, pernikahannya itu batil, dan dia tetap sebagai isteri bagi mantan suami yang merujuknya itu. Mereka berdalil dengan ijma’ ulama, bahwasanya rujuknya itu sah, sekalipun mantan isterinya itu tidak tahu hal itu. Juga, mereka telah bersepakat, bahwasanya suami yang pertama lebih berhak terhadapnya sebelum dia dinikahkan.

Menurut pendapat Imam Malik, bahwa wanita itu milik suami keduanya, baik suami kedua itu sudah mencampurinya ataupun belum. Dia berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Ibnul Musayyab, bahwasanya dia berkata, “Sudah ada sunnahnya mengenai orang yang mentalak isterinya, lalu dia merujuknya, lalu dia menyembunyikan rujuknya itu terhadap mantan isterinya ini. Maka, wanita ini pun menjadi halal. Dan, ternyata wanita ini menikah dengan lelaki lain, maka tidak ada hak lagi baginya terhadap urusan mantan isterinya ini, tetapi si wanita ini milik lelaki yang menikahinya.”

Hanya saja dikatakan, bahwa hadits ini tidak diriwayatkan selain dari Ibnu Syihab saja, yakni Az-Zuhri. Maka, ini lebih sebagai ucapannya dan bukan merupakan hujah. Sedangkan pendapat jumhur di atas dikuatkan oleh hadits riwayat At-Tirmidzi dari Samurah bin Jundub, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ تَزَوَّجَهَا اثْنَانِ فَهِيَ لِلْأَوَّلِ مِنْهُمَا»

“Siapa pun wanita yang dinikahi oleh dua orang lelaki, maka dia milik lelaki yang lebih dulu menikahinya’ [Dhaif: At Tirmidzi 1110]

Maka, pendapat itu pun benar menurut perspektif ini.

Ketahuilah, bahwa Allah Ta’ala telah berfirman,

{وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلاحًا}

“Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki islah.” (QS. Al-Baqarah: 228)

Yakni, suami (pertama) lebih berhak merujuknya selama dalam masa iddah dengan syarat si suami menginginkan islah (perbenahan) dengan rujuk itu, yaitu hubungan suami isteri yang baik dan menjalankan hak-hak suami isteri. Jika dengan rujuknya itu dia menghendaki hal lain, semisal orang yang merujuk isterinya untuk mentalaknya lagi, seperti umumnya yang dilakukan banyak orang, maka dia itu mentalak lalu beralih dari posisinya lalu merujuknya lalu mentalaknya lagi karena menginginkan status ba’in terhadap wanita (isterinya) itu. Maka, rujuk seperti ini tidak dimaksudkan untuk upaya islah (pembenahan) dan bukan pula untuk menegakkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Maka, rujuk semacam ini hukumnya batil, mengingat ayat di atas jelas-jelas menunjukkan, bahwa dia tidak diperbolehkan untuk rujuk, dan dia akan lebih berhak untuk merujuk isterinya itu hanya dengan syarat keinginan untuk islah. Dan, kemauan islah (pembenahan) seperti apa dalam upaya rujuknya untuk mentalak isterinya ini? Dan, barangsiapa yang berpendapat bahwa firman Allah, “Jika mereka (para suami) itu menghendaki islah.” (QS. Al-Baqarah: 228) itu bukanlah sebagai syarat untuk rujuk, maka itu merupakan pendapat yang bertentangan dengan zhahir ayat ini, tanpa dalil.

1009

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّهُ لَمَّا طَلَّقَ امْرَأَتَهُ قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

1009. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya ketika dia mentalak isterinya, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Umar Radhiyallahu Anhu, “Suruhlah dia untuk merujuknya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5251) dan Muslim (1471)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Pembahasan tentang hadits ini sudah dibicarakan di muka yang dirasa cukup tanpa perlu tambahan lagi.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *