[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 344

09. KITAB TALAK 08

1006

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا نَذْرَ لِابْنِ آدَمَ فِيمَا لَا يَمْلِكُ، وَلَا عِتْقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ، وَلَا طَلَاقَ لَهُ فِيمَا لَا يَمْلِكُ»

1006. Dan, dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada nazar bagi anak Adam dalam hal yang bukan menjadi haknya, dan tidak ada pembebasan baginya dalam hal yang bukan menjadi haknya. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan dia telah menshahihkannya. Dan, dinukil dari Al-Bukhari bahwa itu adalah hadits dalam hal ini yang paling shahih).

[Shahih: Abu Daud 2190]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan tentang hadits ini telah disampaikan di depan secara tuntas.

1007

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبُرَ، وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ، أَوْ يُفِيقَ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَأَخْرَجَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

1007. Dan, dari Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Pena terangkat dari tiga hal: dari orang yang sedang tidur sampai dia bangun, dari anak kecil sampai dia dewasa dan dari orang gila sampai dia berakal atau sadar.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah selain At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan pula telah diriwayatkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Abi Dawud (4398)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Hadits

“Dan, dari Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Pena terangkat (yakni, tidak berjalan semestinya, bukan dalam arti terangkat setelah diletakkan. Maksudnya, terangkatnya pena azab hukuman, bukan pena pahala. Maka, itu tidak mesti menafikan keislaman anak kecil yang sudah tamyiz. Sebagaimana dinyatakan perihal anak Yahudi yang pernah melayani Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu Nabi menawarinya masuk Islam, lalu dia pun masuk Islam. Beliau lalu berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka lantaran aku.” Demikian pula telah dinyatakan bahwasanya seorang wanita telah membawa seorang anak ke hadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia lalu bertanya, “Apakah anak ini boleh haji?” Beliau pun menjawab, “Boleh, dan bagimu pahala.” Dan, kasus seperti ini banyak didapati dalam sejumlah hadits) dari tiga hal: dari orang yang sedang tidur sampai dia bangun, dari anak kecil sampai dia dewasa dan dari orang gila sampai dia berakal atau sadar.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah selain At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan pula telah diriwayatkan oleh Ibnu Hibban).

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini ada banyak bahasan bagi para ahli hadits. Di sini terdapat dalil bahwasanya tiga hal di atas tidak berhubungan dengan masalah taklif (mukallaf). Yaitu, adanya ijma’ mengenai orang yang sedang tidur nyenyak. Sedangkan anak kecil yang belum tamyiz, di situ masih ada selisih pendapat apabila dia sudah berakal dan tamyiz. Hadits ini menjadikan batas terangkatnya pena darinya sampai dia menginjak dewasa. Maka, dikatakan di sana, “sampai dia kuat berpuasa dan menghitung shalat”, dan hal ini menurut pendapat Ahmad. Pendapat lain, “Apabila dia telah menginjak usia 12 tahun.” Ada lagi, “apabila dia sudah hampir mimpi keluar mani (ihtilam)” Ada lagi, “Apabila dia telah baligh.” Dan, baligh ini ditandai dengan mimpi keluar mani (ihtilam) bagi anak laki-laki disertai dengan keluarnya mani menurut ijma’ (konsensus ulama), dan bagi anak perempuan menurut pendapat Al-Hadawiyah. Juga, ditandai dengan sampainya usia 15 tahun dan tumbuhnya rambut kemaluan setelah usia sembilan tahun menurut Al-Hadawiyah. Demikian pula, mengeluarkan mani dalam keadaan tergugah (bangun) apabila itu karena syahwat. Dan, dalam kesemuanya itu ada silang pendapat yang cukup terkenal.

Adapun orang gila, maka yang dimaksudkan adalah orang yang sedang hilang akal. Maka, termasuk pula di sini orang yang sedang mabuk dan anak kecil, seperti juga termasuk di situ orang gila. Dan, terjadi perbedaan pendapat perihal talaknya orang yang sedang mabuk kepada dua pendapat:

Pertama, bahwasanya talaknya tidak jatuh. Dan, pendapat ini dikemukakan oleh Utsman, Zaid, Jabir, Umar bin Abdul Aziz dan sekelompok ulama salaf. Ini juga adalah madzhabnya Ahmad dan kelompok Zhahiriyah, mengingat hadits di atas dan adanya firman Allah Ta’ala,

{لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ}

“Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” ((QS. An-Nisa’ [4]: 43)

Maka, Allah di sini menjadikan ucapan orang yang sedang mabuk itu tidaklah dianggap. Karena, dia tidak mengetahui (sadar) apa yang sedang diucapkannya. Juga, bahwasanya dia bukan termasuk seorang yang mukallaf, mengingat adanya ijma’ yang menyatakan, bahwa di antara syarat taklif adalah akal. Dan, barangsiapa yang tidak menyadari apa yang sedang diucapkannya, maka dia bukan termasuk seorang mukallaf. Selain itu, bahwasanya harus (mutlak) jatuh talaknya apabila dia dipaksa untuk menenggaknya atau dia tidak tahu bahwa itu minuman keras (khamr). Dan, ini yang tidak dikatakan oleh pihak yang berseberangan.

Kedua, talaknya orang yang sedang mabuk itu jatuh. Diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dan sekolompok shahabat, juga dari Al-Hadi, Abu Hanifah, Syafi’i dan Malik. Mereka berhujah dengan firman Allah Ta’ala,

{لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى}

“Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk….” (QS. An-Nisaa’: 43)

Karena, hal itu merupakan larangan bagi mereka untuk menunaikan shalat dalam keadaan mabuk. Dan, larangan ini menuntut bahwasanya mereka itu adalah para mukallaf pada saat mabuk tersebut, sedang mukallaf itu sah ditetapkan darinya berbagai hukum. Juga, bahwasanya dijatuhkannya talak itu sebagai sanksi (hukuman) baginya. Alasan lainnya, bahwa jatuhnya talak atas dasar pengucapan talak itu merupakan bab hubungan hukum dengan sebabnya. Maka, kondisi mabuk di sini tidaklah berpengaruh. Alasan lainnya lagi, bahwasanya para shahabat telah memposisikannya pada kedudukan orang yang sadar akan ucapannya. Karena, mereka berpendapat, “Jika dia minum, maka dia mabuk. Jika dia mabuk, maka dia mengigau (bicara ngelantur). Dan, jika dia bicara ngelantur, maka dia pun mengada-ada. Sedang had (sanksi) bagi orang yang mengada-ada itu didera 80 kali. Dan, alasan lain lagi, adalah bahwasanya Sa’id bin Manshur telah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hadits,

«لَا قَيْلُولَةَ فِي طَلَاقٍ»

“Tidak ada tidur siang (qailulah) dalam masalah talak.'”

Argumen ini dijawab dengan Sanggahan, bahwasanya ayat tadi sebagai khitab kepada mereka sewaktu sadar, dan sebagai larangan bagi mereka sebelum mabuk untuk menunaikan shalat pada saat tersebut. Bahwa mereka tidak mengetahui apa yang akan mereka ucapkan, maka itu menjadi dalil bagi kita, seperti halnya yang lalu. Juga, bahwasanya menjadikan jatuhnya talak sebagai hukuman, itu masih membutuhkan dalil yang menyatakan tentang hukuman bagi orang yang mabuk itu dengan diceraikan dari isterinya. Karena, Allah Ta’ala sendiri tidak menetapkan hukuman terhadapnya selain had. Juga, bahwasanya jatuhnya talak atas dasar pengucapan talak ini merupakan pangkal terjadinya perselisihan. Ahmad dan Al-Bati mengatakan, bahwa tidak sah baginya akad, jual-beli dan lain-lainnya, tapi malah keharusan bagi mereka mengatakan jatuhnya talak atas dasar pengucapan talak ini, itu berarti menunjukkan keabsahan talaknya orang gila, orang yang sedang tidur, orang mabuk yang mabuknya bukan karena maksiat dan anak kecil. Juga, apa yang telah diriwayatkan dari para shahabat, bahwasanya mereka berkata, “Jika dia minum…. dan seterusnya.”, maka Ibnu Hazm pun berkata, “Itu adalah khabar yang didustakan, batil dan kontradiksi. Karena, di situ ada keharusan had terhadap orang yang mengigau, sedangkan orang yang mengigau itu tidak berhak dijatuhi had (sanksi). Juga, bahwa hadits, “Tidak ada tidur siang dalam masalah talak.” itu adalah khabar yang tidak shahih. Kalau pun shahih, maka yang dimaksud adalah talaknya mukallaf yang berakal, bukan orang yang tidak berakal. Dan, mereka masih punya banyak dalil selain yang tersebut ini yang tidak cukup kuat sebagai klaim (dalih).

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *