[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 343

 09. KITAB TALAK 07

1005

وَأَخْرَجَ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ مِثْلَهُ، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ، لَكِنَّهُ مَعْلُولٌ أَيْضًا

1005. Dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits serupa dari Al-Miswar bin Makhramah dan isnadnya hasan, tetapi kedudukannya ma’lul juga.

[Shahih: Shahih Al Jami’ 7524]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Yaitu, perkataannya, “Dan, Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Al- Miswar bin Makhramah hadits yang serupa. Isnad-nya hasan, tetapi kedudukan haditsnya ma’lul juga.” Karena, di situ diperselisihkan pada Az-Zuhri.

Berkata Ali bin Al-Husain bin Waqid dari Hisyam dari Sa’id dari Az-Zuhri dari Urwah dari Al-Miswar. Berkata Hammad bin Khalid dari Hisyam dari Sa’id dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah, Abu Bakar, Abu Hurairah, Abu Musa Al-‘Asy’ari, Abu Sa’id Al-Khudri, Imran bin Hushain dan yang lainnya. Al-Baihaqi menuturkan hal ini dalam kitab Al-Khilafiyyat.

Al-Baihaqi berkata, “Hadits yang paling shahih dalam hal ini, adalah hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya.” At-Tirmidzi berkata, “(Hadits Amr) ini merupakan sesuatu (hadits) yang paling bagus dalam bab ini.” Dan, matannya menurut para penyusun kitab sunan, adalah:

«لَيْسَ عَلَى رَجُلٍ طَلَاقٌ فِيمَا لَا يَمْلِكُ» الْحَدِيثَ ”

“Tidak ada hak talak bagi seseorang pada apa yang tidak dimilikinya…. dan seterusnya.” [Shahih: Abu Dawud (2190)]

Al-Baihaqi berkata, “Kata Al-Bukhari, ‘Sesuatu (hadits) yang paling shahih dan sekaligus yang paling masyhur dalam hal ini, adalah hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dan akan disebutkan nanti. Hadits Az-Zuhri dari Aisyah dan Ali tersebut kisaran muaranya pada Juwaibir dari Adh-Dhahhak dari An-Nazal bin Saburah dari Ali Radhiyallahu Anhu, sedangkan Juwaibir sendiri matruk (ditinggalkan)”. Kemudian, Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad yang hasan.”

Hadits ini merupakan dalil bahwa talak terhadap wanita lain (ajnabiyah) itu tidak jatuh talak (tidak sah). Jika itu sebagai tanjiz (aplikasi langsung), maka hukum ini merupakan suara bulat para ulama (ijma’), sedangkan jika itu merupakan ta’liq (komentar) terhadap pernikahan, seperti mengucap, “Jika kunikahi si fulanah, maka dia tertalak.”, maka di situ ada tiga pendapat:

Pertama, bahwa talaknya itu mutlak tidak berpengaruh (tidak jatuh talak). Ini merupakan pendapat Al-Hadawiyah, Syafi’iyah, Ahmad, Dawud dan yang lain, dan juga telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari 22 shahabat. Dalil bagi pendapat ini, adalah hadits bab di atas. Dan, sekalipun di sini ada satu catatan dari segi isnad-nya, tapi hadits ini cukup kuat dengan banyaknya jalur riwayatnya. Betapa indahnya apa yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, “Allah Ta’ala berfirman,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ}

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka…” (QS. Al-Ahzab: -49), dan Dia tidak berkata, “Jika kalian mentalak mereka lalu menikahi mereka.”

Juga, bahwasanya ketika si pentalak ini mengucapkan kalimat, “Jika kunikahi si fulanah, maka dia tertalak.”, itu berarti dia mentalak wanita asing (ajnabiyah). Karena, wanita ini -pada saat dijatuhkannya talak itu- posisinya masih sebagai wanita ajnabiyah. Berarti, yang baru adalah pernikahannya. Maka, ibaratnya itu seperti jika dia berkata kepada wanita ajnabiyah, “Jika kamu masuk rumah ini, maka kamu tertalak.”, lalu wanita ini masuk rumah itu di saat menjadi isterinya, maka hukumnya menurut ijma’, dia tidak tertalak.

Abu Hanifah berpendapat -dan ini juga merupakan satu dari dua pendapatnya Al-Mu’ayyid billah—bahwasanya ta’liq (komentar) tersebut mutlak sah, sedangkan Malik dan ulama lainnya memilih untuk merinci hukumnya. Maka, mereka berkata, “Jika dia mengkhususkan ta’liq dengan mengatakan, “Semua wanita dari Bani Fulan atau berasal dari daerah si fulan yang kunikahi, maka dia tertalak.” Atau, mengatakan, “…pada waktu tertentu.”, maka jatuhlah talak. Tapi, jika dia mengumumkan ta’liq seperti mengatakan, “Semua wanita yang kunikahi, maka dia tertalak.”, maka tidak terjadi apa-apa.

Ibnu Rusyd dalam kitab Nihayat Al-Mujtahid berkata, “Sebab terjadinya khilaf (silang pendapat) di sini adalah: Apakah di antara syarat jatuhnya talak itu, adanya kepemilikan yang mendahului talak tersebut menurut urutan waktu atau tidak? Orang yang berpendapat itu termasuk salah satu syaratnya, dia mengemukakan talak itu tidak terkait dengan wanita asing (ajnabiyah). Sedangkan orang yang berpendapat, “Syaratnya sebatas adanya kepemilikan saja.”, dia menyatakan jatuhnya talak. Di sini, saya katakan, “Klaim mengenai syarat (kepemilikan lebih dulu) ini masih butuh dalil.” Dan, siapa saja yang tidak meninggalkan (atau tetap bersikukuh) tentang kesyaratannya, maka pada dasarnya jatuhnya talak itu selalu terkait dengannya. Kemudian, Ibnu Rusyd berkata, “Adapun perbedaan antara pengkhususan dan pengumuman ta’liq ini, maka itu lebih sebagai hukum istihsan yang berdiri di atas kemaslahatan. Hal itu, mengingat apabila terjadi pengumuman di sini -maka kalaulah kita katakan talak itu jatuh-, maka tercegah (terlarang) darinya menikah. Sehingga, dia tidak mendapati lagi cara menuju pernikahan yang halal. Akibatnya, hal itu termasuk dalam bahasan nazar kepada perbuatan maksiat. Sedangkan jika dia mengkhususkan ta’liq tersebut, maka jadilah pernikahan itu tidak tercegah sama sekali terhadapnya.”

Saya katakan, “Jawaban dari argumen ini telah disampaikan tadi, yaitu dengan ketiadaan dalil yang menyatakan kesyaratannya.”

Demikianlah, dan silang pendapat tentang masalah pembebasan juga tidak jauh berbeda dari perbedaan pendapat dalam masalah talak ini. Maka, pembebasan tersebut dinyatakan sah oleh Abu Hanifah beserta para pengikutnya. Sedangkan menurut Ahmad dari dua pendapatnya yang paling shahih, juga merupakan pilihan para pengikutnya dan di antara mereka adalah Ibnul Qayyim, dia membedakan antara talak dan pembebasan. Yaitu, menyatakan batal hukum yang pertama (talak) dan mengesahkan hukum yang kedua (pembebasan). Untuk yang kedua ini, dia berdalil bahwa pembebasan memiliki kekuatan dan peralihan, karena dia beralih status menjadi milik orang lain. Dan, karena sah pula kepemilikan ini dijadikan sebab untuk pembebasan. Seperti halnya, jikalau dia membeli seorang budak untuk membebaskan dirinya dari suatu kaffarat, nazar atau bisa jadi dia membelinya dengan syarat dibebaskan. Juga, karena pembebasan itu termasuk bahasan pendekatan diri (taqarrub) dan taat kepada Allah Ta’ala. Adalah sah nazar dengannya sekalipun yang dinazarkan (mandzur bih) adalah budak (mamluk). Seperti ucapanmu, “Seandainya Allah memberikan karunia-Nya kepadaku, niscaya aku akan menyedekahkan ini dan itu.” Hal ini telah diungkapkan dalam hadits Nabi.

Saya katakan, “Di sini, jelaslah bahwa pengalihan status kepada milik orang lain, ini merupakan cabang dari pembebasannya atas sebagian apa (harta) yang dimilikinya, karena hukum Allah di sini dengan cara pengalihan status, mengingat tidak ada istilah pembagian dalam masalah pembebasan budak. Adapun ucapannya, “Dan, karena sah pula kepemilikan tersebut dijadikan sebab untuk pembebasan, seperti halnya jikalau dia membeli seorang budak untuk dapat membebaskan dirinya.” Argumen ini bisa dijawab dengan sanggahan, bahwasanya orang yang dibelinya ini tidak bisa bebas selain dengan dibebaskan, seperti dikatakannya, “untuk membebaskan dirinya”. Dan, ini merupakan pembebasan terhadap apa yang dimilikinya. Sedang ucapannya, “bahwa nazarnya sah.”, dan juga ucapan yang serupa, “Seandainya Allah memberikan karunia-Nya kepadaku.”, maka di sini ada perbedaan pendapat. Dalil orang yang menyelisihi pendapat ini adalah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا نَذْرَ فِيمَا لَا يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ

“Tidak ada nazar pada apa-apa yang tidak dipunyai oleh anak Adam.” [Shahih: At Tirmidzi 1181]

Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh hadits berikufc

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *