[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 342

09. KITAB TALAK 06

1003

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – «أَنَّ ابْنَةَ الْجَوْنِ لَمَّا أُدْخِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَدَنَا مِنْهَا قَالَتْ: أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْك، فَقَالَ: لَقَدْ عُذْت بِعَظِيمٍ، الْحَقِي بِأَهْلِك» رَوَاهُ الْبُخَارِ

1003. Dan, dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwasanya putri Al-Jaun manakala dihadapkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau pun mendekatinya, dia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari (kejahatan)mu.” Maka, beliau pun berkata, “Sungguh, kamu telah berlindung kepada Dzat Yang Maha Agung, temuilah keluargamu.” (HR. Al-Bukhari).

[shahih, Al-Bukhari (5254)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ada banyak sekali silang pendapat mengenai nama putri Al-Jaun tersebut, tapi, manfaat penyebutannya sedikit. Karena itu, kami tidak mau menyibukkan diri untuk menukilnya. Ibnu Sa’ad telah meriwayatkan melalui jalur Abdul-Wahid bin Abu Aun, dia berkata, “An-Nu’man bin Abul-Jaun Al-Kindi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, maukah engkau kunikahkan dengan janda tercantik di Arab yang dulu jadi isteri sepupunya, lalu suaminya meninggal dan kini dia menghendaki engkau?” Beliau menjawab, “Boleh!” Dia berkata, “Utuslah seseorang yang akan membawanya kepadamu.” Beliau akhirnya mengutus bersamanya Abu Usaid As-Sa’idi. Abu Usaid bertutur, “Aku pun menginap selama tiga hari lalu membawanya bersamaku dalam keadaan tertutup rapat. Aku lalu berangkat dengannya sampai tibalah aku di kota Madinah. Lalu kutempatkan dia di Bani Sa’idah dan aku sendiri menghadap kepada Rasulullah yang sedang berada di tengah-tengah Bani Amr bin Auf, lalu kukabari beliau…. dan seterusnya . Ibnu Abi Aun berkata, “Itu tepatnya terjadi pada bulan Rabi’ul Awal tahun ketujuh hijriyah”. Kemudian Ibnu Sa’ad meriwayatkan hadits ini dari dua jalur, dan di akhir kisahnya dikatakan kepada wanita tersebut, “Mohonlah perlindungan dari beliau, karena itu lebih terhormat bagimu di mata beliau.” Dan, dia pun telah diperdayai ketika terlihat kecantikannya. Disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam siapa saja yang telah memprovokasinya untuk mengucapkan kalimat itu. Beliau pun berkata, “Sesungguhnya mereka itu wanita-wanita pengagum Yusuf beserta tipu muslihatnya.”

Hadits ini merupakan dalil bahwa ucapan suami kepada isterinya, “Temuilah keluargamu.”, itu sebagai ungkapan talak. Karena, tidak pernah ada riwayat yang menyatakan bahwa beliau menambahkan kata-kata selain itu. Sehingga, itu menjadi kinayah talak. Apabila diniatkan talak, maka jadilah itu sebagai lafazh talak. Al-Baihaqi berkata, “Ibnu Abi Dzi’b dari riwayat Az-Zuhri menambahkan, “Temuilah keluargamu” , dijadikannya sebagai talak satu. Dan, petunjuk bahwa itu sebagai kinayah (kiasan) talak, adalah apa yang tersebut dalam kisah Ka’ab bin Malik, bahwasanya ketika dikatakan kepadanya, “Kucilkan isterimu!”, maka dia pun berkata, “Temuilah keluargamu, maka jadilah kamu bersama mereka.”, dan dia tidak berniat menceraikan. Maka, sang isteri pun tidak tertalak. Pendapat ini dikemukakan oleh tokoh- tokoh fikih madzhab empat dan selain mereka. Golongan Zhahiriyah berpendapat, “Talak tidak bisa jatuh dengan ucapan, “Temuilah keluargamu!”. Alasan mereka, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan akad (nikah) dengan putri Al-Jaun, akan tetapi beliau sebatas mengirim utusan kepadanya untuk meminangnya, mengingat riwayat-riwayat tersebut telah diperselisihkan dalam kisahnya.

Dan, bukti bahwa beliau tidak pernah melakukan akad dengannya, adalah riwayat yang ada dalam Shahih Al-Bukhari,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ هَبِي لِي نَفْسَك قَالَتْ وَهَلْ تَهَبُ الْمَلِكَةُ نَفْسَهَا لِلسُّوقَةِ فَأَهْوَى لِيَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا لِتَسْكُنَ، فَقَالَتْ أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْك»

bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Persembahkan dirimu untukku!” Dia pun berkata, “Apakah seorang ratu menyerahkan dirinya kepada seorang gembel?” Lalu, beliau beranjak untuk meletakkan tangannya di atas (kepala)nya agar dia merasa tenang. Dia pun lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari (kejahatan)mu.” [shahih, Al-Bukhari (5255)]

Mereka berargumen, “Meminta diberi di sini sebagai dalil bahwasanya beliau belum melakukan akad dengannya.” Argumen mereka ini bertentangan dengan ucapannya, “… untuk meletakkan tangannya”, dan juga dengan riwayat, “Ketika beliau masuk kepadanya.” Karena, hal itu hanyalah dilakukan bersama isteri. Sedangkan ucapannya, “Berikan dirimu kepadaku!”, maka itu sebagai penenang perasaannya dan untuk mencari simpati hatinya. Argumen ini dikuatkan oleh dalil terdahulu berupa riwayat, “Bahwasanya dia menghendakimu.” Dan, telah diriwayatkan tentang kesepakatan Nabi bersama ayahnya mengenai besarnya maskawinnya. Dan, ini kalaulah bukan jelas-jelas tentang terjadinya akad nikah dengannya, maka ini adalah satu dari dua kemungkinan yang paling, dekat dari kebenaran.

1004

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا طَلَاقَ إلَّا بَعْدَ نِكَاحٍ، وَلَا عِتْقَ إلَّا بَعْدَ مِلْكٍ» رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَهُوَ مَعْلُولٌ

1004. Dan dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada talak kecuali setelah ada pernikahan, dan tidak ada pembebasan (budak) kecuali setelah ada kepemilikan.” (HR. Abu Ya’la dan telah dishahihkan oleh Al-Hakim, dan kedudukan hadits ini ma’lul).

[Shahih: Al-Irwa 1751, Shahih Al Jami’ 7523]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan, dari Jabir Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada talak kecuali setelah ada pernikahan dan tidak ada pembebasan kecuali setelah ada kepemilikan.” (HR. Abu Ya’la dan telah dishahihkan oleh Al-Hakim), (Dia juga berkata, “Aku merasa heran dari Al-Bukhari dan Muslim, bagaimana mereka mengabaikan hadits ini. Sungguh, hadits ini shahih menurut syarat mereka dari hadits Ibnu Umar, Aisyah, Abdullah bin Abbas, Mu’adz bin Jabal dan Jabir).

“Hadits ini ma’lul (cacat)” menurut apa yang dikatakan oleh Ad- Daraquthni. Yang benar, hadits ini mursal, tidak ada Jabir di dalamnya. Yahya bin Ma’in berkata, “Tidaklah shahih hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang berbunyi, “Tidak ada talak sebelum ada pernikahan.” Ibnu Abdil-Barr berkata, “Hadits ini telah diriwayatkan dari beberapa jalur periwayatan. Hanya, menurut ulama hadits semuanya dinyatakan ma’lul. Akan tetapi, hadits ini dikuatkan oleh hadits:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *