[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 341

09. KITAB TALAK 05

1001

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – «عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: إنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اُسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْحَاكِمُ، وَقَالَ أَبُو حَاتِمٍ: لَا يَثْبُتُ

1001. Dan, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memaafkan kesalahan dan kealpaan dari umatku, serta apa-apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim, dan Abu Hatim berkata, “(Hadits ini) tidak kuat.”)

[Shahih: Ibnu Majah 2075]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Al-Jarh wat-Ta’dil

An-Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah sewaktu mengomentari talak mengatakan bahwasanya ini adalah hadits hasan. Demikian pula, dia mengatakannya di halaman akhir kitab Al-Arba’in.

Hadits ini mempunyai banyak isnad. Ibnu Abi Hatim mengatakan, bahwasanya dia telah menanyakan kepada ayahnya tentang isnad- isnadnya. Lalu, dia pun berkata, “Ini adalah hadits-hadits yang mung kar. Semuanya maudhu’ (palsu).’ Abdullah bin Ahmad di dalam kitab Al-‘Ilal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku tentangnya (hadits ini), lalu dia pun sangat mengingkarinya.” Dan, dia juga berkata, “Tidaklah hadits ini diriwayatkan selain dari Al-Hasan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Al-Khallal telah menukil dari Ahmad, bahwa dia berkata, “Barangsiapa yang mengaku bahwa kekhilafan dan kealpaan itu terangkat (dalam arti: diampuni), maka sungguh dia telah menyelisihi kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena, Allah telah mewajibkan kaffarat (tebusan) terhadap pelanggaran pembunuhan jiwa karena khilaf.

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil bahwasanya hukum-hukum ukhrawi seperti hukuman (siksaan) itu dimaafkan terhadap umat Nabi Muhammad, apabila hal itu bersumber dari suatu kesalahan, kealpaan maupun paksaan. Adapun memunculkan hukum dan atsar (dalil) syar’i tentangnya, maka dalam hal ini terdapat silang pendapat di antara para ulama. Mereka berbeda pendapat mengenai talaknya orang yang alpa. Dari Al-Hasan, bahwasanya dia memandang itu sama saja seperti sengaja, kecuali jika orang tersebut memberi syarat. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan ini darinya. Sedang pendapat Atha’ dan jumhur adalah, bahwasanya itu tidak dihukumi talak mengingat hadits di atas. Demikian pula, mayoritas ulama berpendapat bahwasanya tidak jatuh talak dari orang yang khilaf. Namun, menurut pendapat Hanafiyah jatuh talak. Terjadi perselisihan pendapat pula tentang talaknya orang yang dipaksa. Menurut pendapat jumhur tidak jatuh talak. Dan, diriwayatkan dari An-Nakha’i dan juga Hanafiyah berpendapat jatuh talak. Jumhur berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ}

“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)…” (QS. An-Nahl: 106)

Atha’ berkata, “Syirik itu lebih besar daripada talak.” Syafi’ i menegaskan dalil bahwa Allah Ta’ala manakala mengabaikan kekufuran terhadap orang yang mengucapkannya karena dipaksa dan menggugurkan darinya hukum-hukum kufur, maka tentunya gugur pula dari orang yang dipaksa itu apa yang selain hukum kufur ini. Karena, perkara yang lebih besar apabila gugur, maka menurut skala prioritasnya gugur pula apa yang di bawah levelnya.

1002

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: إذَا حَرَّمَ امْرَأَتَهُ لَيْسَ بِشَيْءٍ. وَقَالَ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ – وَلِمُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: إذَا حَرَّمَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ، فَهُوَ يَمِينٌ يُكَفِّرُهَا.

1002. Dan, dan Ibnu Abbas berkata, “Apabila dia mengharamkan isterinya, maka itu bukanlah apa-apa, dan dia pun berkata, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21). (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 5266]

Dan, riwayat Muslim dari Ibnu Abbas: “Apabila seseorang mengharamkan isterinya, maka itu merupakan sumpah yang mesti ditebusnya.

[shahih: Muslim 1473]

ــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini mauquf (sebatas ucapan shahabat). Di sini terdapat dalil bahwasanya mengharamkan isteri itu tidak dikategorikan talak, meskipun di situ diwajibkan adanya tebusan terhadap sumpah. Sebagaimana hal itu dinyatakan pula oleh riwayat Muslim. Maka, maksud ucapan beliau, “bukanlah apa-apa” di sini, adalah bukan dikategorikan talak, bukan berarti bahwa ucapan itu tidak punya konsekuensi hukum sama sekali. Al-Bukhari telah meriwayatkan hadits ini darinya (Ibnu Abbas) dengan matan, “Apabila seorang lelaki (suami) mengharamkan isterinya, maka sebenarnya itu merupakan sumpah yang mesti ditebusnya.” Maka, hadits ini menunjukkan bahwasanya yang dimaksud dengan ucapan Nabi, *’bukanlah apa-apa.”, adalah bahwa itu bukan termasuk ungkapan talak. Dan, ada kemungkinan beliau menghendaki, “Tidak ada konsekuensi apa pun di situ.” Dan, akibatnya riwayat bahwa itu merupakan sebuah sumpah menjadi riwayat yang lain lagi. Sehingga, dia mempunyai dua pendapat dalam persoalan ini.

Persoalannya, para generasi salaf yang terdiri dari para shahabat dan tabi’in dan generasi khalaf yang diwakili para imam mujtahid telah berselisih pendapat tentang hal ini sampai-sampai pendapat tersebut mencapai 13 pendapat pokok dan bercabang lagi. menjadi 20 madzhab:

Pertama, bahwasanya itu merupakan kesia-siaan, tidak punya implikasi hukum pada suatu apa pun. Dan, ini merupakan pendapat sekelompok dari kalangan salaf. Ini juga merupakan pendapat kelompok Zhahiriyah. Dalilnya, bahwa pengharaman dan penghalalan itu mutlak diserahkan kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah,

{وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ}

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘ini halal dan ini haram’…” (QS. An-Nahl: 116)

Juga firman Allah kepada Nabi-Nya,

{لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ}

“Mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu…” (QS. At-Tahrim: 1)

Dan firman-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ}

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu…” (QS. Al-Maidah: 87)

Mereka berkata, “Dan, mengingat tidak ada perbedaan (hukum) antara menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, karena hukum yang pertama itu batil, maka batil pula hukum yang kedua.”

Kemudian, perkataannya, “(Ucapannya) ini haram, jikalau dia bermaksud untuk memunculkan hukum. Maka, melakukan pengharaman itu bukanlah wewenangnya. Dan, jika dia bermaksud dengannya untuk memberikan informasi, maka itu merupakan suatu kebohongan.” Mereka berkata, “Kami telah melihat pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini selain pendapat ini, lalu kami mendapati di sana sejumlah pendapat yang lemah, tidak ada dalilnya dari Allah Ta’ala. Maka, nyatalah pilihan pada pendapat ini. Pendapat ini juga dinyatakan oleh hadits Ibnu Abbas dan bacaannya terhadap firman Allah,

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ}

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka, ini menunjukkan bahwa tidak boleh mengharamkan dengan pengharaman apa-apa yang diharamkan kepada dirinya sendiri, karena Allah Ta’ala melarang Rasul-Nya untuk mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah baginya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ucapan ini tidak mewajibkan adanya kaffarat (tebusan).

Adapun firman-Nya,

{قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ}

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu…” (QS. At-Tahrim: 2)

Maka, itu sebagai tebusan atas sumpah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ath-Thabari dengan sanad yang shahih dari Zaid bin Aslam, seorang dari kalangan tabi’in yang masyhur, dia berkata,'”Rasulullah pernah menggauli Ummu Ibrahim, di rumah salah satu isterinya, lalu isterinya itu menegur, “Wahai Rasulullah, di rumahku dan di atas kasurku?” Maka, beliau pun menjadikannya haram baginya. Istrinya itu pun balik berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin engkau mengharamkan yang.halal?’ Beliau lalu bersumpah atas nama Allah tidak akan menggaulinya.” Maka, turunlah ayat ini. Ini adalah salah satu dari dua pendapat tentang apa-apa yang telah diharamkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedang pendapat lainnya akan disampaikan dalam pembuktian ila’ Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hadits ini sekalipun kedudukannya mursal, namun telah diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan sanad yang shahih dari Anas Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mempunyai budak wanita yang biasa digaulinya. Maka, selalu saja Hafshah dan Aisyah mempermasalahkannya sampai beliau mengharamkan budak itu. Lalu, Allah pun menurunkan ayat, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu…” (QS. At-Tahrim: l)

Dan, ini merupakan sebab turunnya ayat ini yang paling benar. Dan, hadits mursal dari Zaid di atas dikuatkan oleh hadits ini. Maka, kaffarat di sini untuk sumpah, bukan untuk pengharaman. Dan, Zaid bin Aslam memahami betul hal ini. Maka, setelah riwayatnya ini, dia mengungkap kisah, “Ucapan suami kepada isterinya, “Kamu haram bagiku”, itu adalah suatu kesia-siaan. Akan tetapi, wajib baginya tebusan sumpah, jika dia bersumpah.” Ketika itulah, maka seharusnya meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu meniadakan pengharaman dan membayar kaffarat jika dia bersumpah. Dan, pendapat inilah yang paling dekat dari kebenaran dari sekian pendapat yang dikemukakan, dan sekaligus yang paling rajih (unggul) menurutku. Karena itu, saya tidak mencantumkan pendapat selainnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *