[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 340

09. KITAB TALAK 04

0998

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «ثَلَاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكَاحُ، وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ» رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ. وَفِي رِوَايَةٍ لِابْنِ عَدِيٍّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ «الطَّلَاقُ وَالْعَتَاقُ وَالنِّكَاحُ»

998. Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tiga hal, kesungguhannya dihukumi serius dan main-mainnya juga dihukumi serius: Nikah, talak dan rujuk.” (HR. AI-Arba’ah selain An-Nasa’i, dan telah dishahihkan AI-Hakim).

[hasan, Abu Dawud (2194)]

Dalam riwayat Ibnu ‘Adi dari jalur berbeda yang dha’if (lemah), “Talak, pembebasan budak dan nikah.”

[dha’if, Al-Irwa’ (1826)]

Dan, mengenai maknanya dijelaskan oleh hadits:

0999

وَلِلْحَارِثِ بْنِ أَبِي أُسَامَةَ مِنْ حَدِيثِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – رَفَعَهُ «لَا يَجُوزُ اللَّعِبُ فِي ثَلَاثٍ: الطَّلَاقُ، وَالنِّكَاحُ، وَالْعَتَاقُ، فَمَنْ قَالَهُنَّ، فَقَدْ وَجَبْنَ» وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ

999. Dan redaksi dari Harits bin Abu Usamah dari hadits Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Annum – ia memarfu’kannya: “Tidak boleh main-main dalam tiga perkara: Talak, nikah dan pembebasan budak. Karenanya, siapa saja yang mengucapkannya, maka pasti terjadi.” (Sanadnya lemah).

[lemah isnadnya, Al-Irwa’ (1826)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Yaitu, sabda Nabi, “Dan, redaksi dari Harits bin Abu Usamah dari hadits Ubadah bin Shamit, dia menyandarkannya kepada Nabi, ‘Tidak boleh main-main dalam tiga hal: Talak, nikah dan pembebasan budak. Karenanya, siapa saja yang mengucapkannya, maka pasti terjadi. Dan, sanadnya lemah”, (mengingat ,di dalamnya ada Ibnu Luhai’ah. Di samping itu, juga ada keterputusan sanad).

Tafsir Hadits

Hadits-hadits di atas menunjukkan akan jatuhnya talak dari orang yang sekadar bercanda, dan bahwasanya talak secara jelas tidak butuh adanya niat. Pendapat ini disampaikan oleh madzhab Al-Hadawiyah, Hanafiyah dan Syafi’iyah. Sedangkan Ahmad, An-Nashir, Ash-Shadiq dan Al-Baqir berpendapat keharusan adanya perkiraan niat mengingat keumuman hadits, “Amalan-amalan itu dengan niat.”. Namun, argumen ini dijawab dengan sanggahan bahwasanya itu hadits umum yang telah dikhususkan oleh hadits-hadits yang disebutkan di atas, dan akan dibahas dalam bab pembebasan budak nanti.

1000

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إنَّ اللَّهَ تَعَالَى تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ، أَوْ تَكَلَّمْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

1000. Dan, dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengampuni apa yang tersirat dalam hati umatku selagi belum mengerjakan atau mengucapkannya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 2528 dan Muslim 127]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Ibnu Majah juga telah meriwayatkannya dari hadits Abu Hurairah dengan redaksi,

«عَمَّا تُوَسْوِسُ بِهِ صُدُورُهَا»

“… terhadap apa yang dibisikkan dada (kalbu)nya.”,

sebagai ganti kalimat, “…yang dibisikkan nafsunya.”, dan di akhir matannya dia menambahkan kalimat,

«وَمَا اُسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ»

“..dan apa yang terpaksa mereka perbuat.”

Pengarang kitab berkata, “Saya duga tambahan matan ini adalah mudraj (sisipan dari perawi), seakan-akan kalimat tersebut masuk pada (ingatan) Hisyam bin ‘Ammar dari satu hadits ke hadits lainnya.

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil bahwasanya talak tidak bisa jatuh dengan bisikan hati, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Namun, diriwayatkan dari Ibnu Sirin dan Az-Zuhri dan juga merupakan satu riwayat dari Malik, bahwasanya apabila suami mengucapkan talak dalam hatinya, maka talak tersebut sah (jatuh talak). Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnul Arabi dengan argumennya, “Barangsiapa meyakini kekufuran itu dengan hatinya dan barangsiapa bersikeras untuk berbuat maksiat, maka dia berdosa. Demikian pula, orang yang menuduh seorang muslim berbuat zina dengan hatinya. Semua itu termasuk amalan-amalan hati, bukan lisan. Argumen ini dijawab dengan bantahan, bahwa hadits di atas memberitakan dari Allah bahwasanya Dia tidak akan menghukum umat-Nya hanya karena bisikan hatinya, dan bahwasanya Allah Ta’ala berfirman,

{لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا}

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dan, bisikan nafsu ini keluar dari batas kemampuan. Benar memang, rengekan hati berupa ucapan-ucapan batil itu membuat seorang hamba bertekad bulat (bernafsu) untuk berbuat, sehingga dikhawatirkan dia terjerumus dalam hal-hal yang diharamkan. Maka, itulah yang sebaiknya lekas dipangkas (dihentikan) apabila sudah berbahaya. Adapun argumen Ibnul Arabi dengan menggunakan dalil kufur dan riya’, maka tidak samar lagi bahwa keduanya termasuk amalan-amalan hati. Maka, keduanya terkhusus dari hadits ini bahwa keyakinan dan niat riya itu keluar dari wilayah bisikan hati ini. Sedangkan orang yang bersikeras untuk berbuat maksiat, maka dosanya dilimpahkan pada perbuatan maksiat yang didahului dengan desakan terus-menerus. Karena hal itu menunjukkan bahwasanya dia tidak bertaubat darinya. Ini dijadikan dalil mengingat bahwa orang yang menuliskan kata talak, maka tertalaklah isterinya. Karena, dia telah bertekad dalam hatinya dan menuliskannya. Dan, ini merupakan pendapat mayoritas ulama, namun Malik mensyaratkan di sini adanya kesaksian terhadap hal itu. Dan, itu akan dibahas nanti. .

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *