[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 34

01.10. BAB HAIDH 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Karena haidh memiliki hukum-hukum syar’i, seperti adanya beberapa perbuatan yang harus dikerjakan atau ditinggalkan, maka penulis menetapkan satu bab khusus yang di dalamnya disebutkan hukum-hukum yang terkait dengannya.

0129

129 – عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إنَّ دَمَ الْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكِ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلَاةِ، فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ، وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِمٍ

129. Dari Aisyah RA bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy pernah keluar darinya darah istihadhah, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Sesungguhnya darah haidh itu berwarna hitam yang sudah dikenal, maka apabila keluar darah itu berhentilah shalat, tetapi jika yang keluar adalah darah yang lain, maka berwudhu dan shalatlah.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, tetapi dianggap munkar oleh Abu Hatim)

[Hasan shahih: Abu Daud 286]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

pernah keluar darinya darah istihadhah, (telah disebutkan bahwa istihadhah adalah mengalirnya darah dari kemaluan (vagina) perempuan tidak pada waktunya. Berkenaan dengan ini telah disebutkan bahwa Fatimah datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya, ‘Aku seorang perempuan yang selalu keluar darah istihadhah, akibatnya aku tidak pernah suci, karena itu bolehkah aku meninggalkan shalat?) maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Sesungguhnya darah haidh itu berwarna hitam yang sudah dikenal, (yakni punya kebiasaan dan bau khas, ada yang mengatakan dengan memfathahkan ra yaitu sudah dikenal oleh perempuan) maka apabila keluar darah itu berhentilah shalat, tetapi jika yang keluar adalah darah yang lain, (yaitu yang tidak memiliki ciri-ciri seperti di atas) maka berwudhu dan shalatlah.”

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim, tetapi dianggap hadits munkar oleh Abu Hatim. karena termasuk hadits riwayat Adi bin Tsabit dari ayahnya dari kakeknya, kakeknya itu tidak dikenal, dan Abu Daud telah menyatakan bahwa hadits ini lemah.

Hadits ini mengembalikan penilaian terhadap darah istihadhah kepada sifat darah, maka jika seperti sifat yang telah disebutkan berarti darah haidh, dan jika tidak maka darah istihadhah. Asy-Syafi’i berpendapat demikian terhadap perempuan yang baru pertama kali mengalami haidh.

Pada bab “hal-hal yang membatalkan wudhu’ telah dijelaskan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah, “Yang demikian itu dari irq (peluh), maka apabila datang haidhmu, tinggalkanlah shalat, dan jika haidhmu telah berhenti cucilah darahmu.” Hal tersebut tidak menafikan hadits ini, karena sabdanya, “Sesungguhnya darah haidh itu hitam yang sudah dikenal” sebagai keterangan tentang waktu permulaan datangnya haidh dan masa berakhirnya.

Jika seorang wanita dapat mengetahui dan membedakan waktu haidhnya, baik dengan sifat darahnya atau dengan kebiasaan dan waktu haidhnya teratur, kemudian keluar darah istihadhahnya, maka waktu haidhnya sesuai kebiasaannya. Fatimah, dalam hadits ini kemungkinan waktu haidhnya teratur, maka sabda beliau, “jika datang masa haidhmu..” yaitu sesuai dengan kebiasaan. Atau bisa juga tidak teratur, maka yang dimaksud dengan datangnya haidh, dilihat dari sifat darah, dan tidak mustahil dua kemungkinan tersebut terjadi pada diri Fatimah dan wanita lainnya.

Bagi wanita yang keluar darah istihadhah, memiliki beberapa hukum yaitu:

1. Boleh mencampurinya –hubungan badan- ketika keluar darah istihadhah menurut pendapat jumhur ulama, karena dia seperti orang suci, dalam kaitannya dengan kewajiban shalat, puasa dan lainnya, maka begitu juga dalam kaitannya dengan persetubuhan, karena sesungguhnya tidak diharamkan bercampur kecuali ada dalil, dan tidak ada dalil yang mengharamkannya. Ibnu Abbas berkata, “Perempuan yang keluar darah istihadhah boleh dicampuri oleh suaminya, jika dia telah shalat karena shalat lebih mulia.” Maksudnya apabila shalat saja boleh baginya ketika darah istihadhah keluar, padahal shalat seharusnya lebih disyaratkan bersuci maka boleh mencampurinya.

2. Perempuan yang keluar darah istihadhah diperintahkan untuk betul-betul memperhatikan kesucian dari hadats dan najis, dia mesti mencuci kemaluannya sebelum berwudhu dan tayamum, harus menutup kemaluannya dengan kapas atau secarik kain untuk mencegah percikan najis atau untuk menguranginya. Apabila masih tidak tertahan juga keluarnya darah dengan cara itu, maka diperbanyak lagi kapas atau kain itu pada kemaluannya dengan mengikat dan membalutnya sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab induk. Hanya saja cara semacam itu tidak wajib baginya, hanya lebih utama untuk mengurangi najis sesuai dengan kemampuannya, lalu setelah itu dia berwudhu.

3. Dia tidak wajib berwudhu sebelum masuknya waktu shalat, menurut pendapat jumhur, karena bersucinya itu adalah darurat. Makanya, dia tidak boleh mendahulukannya sebelum waktu yang dibutuhkan.

0130

130 – وَفِي حَدِيثِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ عِنْدَ أَبِي دَاوُد «وَلْتَجْلِسْ فِي مِرْكَنٍ فَإِذَا رَأَتْ صُفْرَةً فَوْقَ الْمَاءِ فَلْتَغْتَسِلْ لِلظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، غُسْلًا وَاحِدًا، وَتَغْتَسِلْ لِلْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ غُسْلًا وَاحِدًا. وَتَغْتَسِلْ لِلْفَجْرِ غُسْلًا وَاحِدًا. وَتَتَوَضَّأْ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ»

130. Dan dalam hadits Asma’ binti Umais RA, menurut riwayat Abu Daud, “Hendaklah dia duduk dalam suatu bak, apabila dia melihat warna kuning dipermukaan air, hendaklah dia mandi untuk shalat Zhuhur dan Ashar dengan sekali mandi, mandi untuk shalat Maghrib dan Isya dengan sekali mandi, mandi untuk shalat Shubuh dengan sekali mandi, dan berwudhu di antara waktu-waktu itu.”

[Shahih: Abu Daud 296]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Asma’ binti Umais adalah istri Ja’far, Ummu Abdillah bin Ja’far. Ia pernah hijrah bersama suaminya ke Habasyah dan melahirkan beberapa orang putra, di antaranya Abdullah. Kemudian setelah terbunuhnya Ja’far dia dinikahi oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan melahirkan putra yang bernama Muhammad. Setelah Abu Bakar wafat, dia dinikahi oleh Ah bin Abu Thalib dan melahirkan putra yang bernama Yahya.

Penjelasan Kalimat

“Dan hendaklah ia duduk (di-athaf-kan (dihubungkan) dengan kalimat pada hadits sebelumnya, sebab penulis hanya mengambil sebagian saja dari hadits Asma’ akan tetapi dalam lafazh Abu Dawud dari Asma’ berbunyi seperti berikut: (سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا مِنْ الشَّيْطَانِ لِتَجْلِسْ) “Maha suci Allah, ini dari setan, hendaklah kamu duduk…” dst. Tanpa ada penambahan huruf (wa). Yang demikian itu teks hadits dalam kitab Bulugh Al Maram) di dalam suatu bak (yakni bak yang digunakan untuk mencuci pakaian) apabila dia melihat warna kuning di permukaan air (di tempat yang dia duduk padanya, lalu mencurahkan air padanya, maka akan tampak warna kuning di permukaan air) hendaklah dia mandi untuk shalat Zhuhur dan Ashar dengan sekali mandi, mandi untuk shalat Maghrib dan Isya dengan sekali mandi, mandi untuk shalat Subuh dengan sekali mandi, dan barwudhu di antara waktu-waktu itu.”

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini -dan hadits Hamnah berikutnya- terkandung perintah untuk mandi sehari semalam sebanyak tiga kali. Dalam hadits Hamnah dijelaskan bahwa maksudnya ialah apabila dia mengakhirkan shalat Zhuhur dan Maghrib, dan yang dipahami darinya adalah, apabila sudah jelas waktunya dia harus mandi pada setiap kali akan shalat fardhu.

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, diriwayatkan dari sekelompok shahabat dan tabi’in bahwasanya perempuan itu harus mandi pada setiap kali akan shalat, sedang jumhur ulama berpendapat tidak wajib setiap akan shalat, dengan alasan bahwa riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk mandi setiap shalat itu lemah. Dan Al-Baihaqi telah menjelaskan kelemahannya [Al Kubra 1/354], bahkan ada yang mengatakan hadits itu mansukh (dibatalkan hukumnya) oleh hadits dari Fathimah binti Abi Hubaisy, bahwa dia hanya berwudhu untuk setiap kali waktu shalat.

Saya katakan, “Soal nasakh dan mansukh membutuhkan pengetahuan tentang hadits yang lebih terakhir keluar”, kemudian Al-Mundziri mengatakan, “Hadits Asma’ binti Umais itu hasan.” Hadits Asma’ dan hadits Fathimah dapat dikompromikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa mandi itu hukumnya sunnah berdasarkan qarinah bahwa beliau tidak memerintahkan Fatimah untuk mandi dan hanya menyuruhnya berwudhu, maka yang wajib adalah berwudhu, Asy-Syafi’i condong kepada pendapat ini.

0131

131 – وَعَنْ «حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ: كُنْت أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيرَةً شَدِيدَةً، فَأَتَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَسْتَفْتِيهِ، فَقَالَ: إنَّمَا هِيَ رَكْضَةٌ مِنْ الشَّيْطَانِ، فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ، أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ، ثُمَّ اغْتَسِلِي، فَإِذَا اسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي أَرْبَعَةً وَعِشْرِينَ، أَوْ ثَلَاثَةً وَعِشْرِينَ، وَصُومِي وَصَلِّي، فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُك، وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي كُلَّ شَهْرٍ كَمَا تَحِيضُ النِّسَاءُ، فَإِنْ قَوِيت عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ، ثُمَّ تَغْتَسِلِي حِينَ تَطْهُرِينَ، وَتُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، ثُمَّ تُؤَخِّرِينَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فَافْعَلِي. وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ الصُّبْحِ وَتُصَلِّينَ. قَالَ: وَهُوَ أَعْجَبُ الْأَمْرَيْنِ إلَيَّ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ الْبُخَارِيُّ

131. Dari Hamnah binti Jahsy RA, “Aku pernah keluar darah istihadhah yang banyak dan deras, lalu aku mendatangi Rasulullah SAW meminta fatwa beliau, maka beliau bersabda, “Darah istihadhah itu hanyalah gangguan setan, hitunglah masa haidhmu enam atau tujuh hari lalu mandilah, apabila kamu sudah bersih, shalatlah 24 hari atau 23 hari, puasa dan shalatlah, karena cara yang demikian cukup bagimu, lakukanlah begitu setiap bulan seperti perempuan-perempuan yang haidh, apabila kamu kuat mengakhirkan Zhuhur dan menyegerakan Ashar, kemudian kamu mandi ketika engkau bersih, lalu jamaklah shalat Zhuhur dan Ashar, lalu kamu akhirkan Maghrib dan segerakan Isya’, kemudian kami mandi dan menjamakkan antara kedua shalat, maka kerjakanlah. Lalu kamu mandi untuk shalat Shubuh dan kami melaksanakan shalat Shubuh. Beliau bersabda, “Yang demikian itu lebih aku sukai dari dua perkara tersebut.” (HR. Imam yang lima kecuali An Nasa’i dan dishahihkan oleh At Tirmidzi, sedang Al Bukhari menilainya hasan)

[Hasan: Abu Daud 287]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Hamnah binti Jahsy adalah saudara perempuan Zainab Ummul Mukminin, istri Thalhah bin Ubaidillah.

Penjelasan Kalimat

“Aku pernah keluar darah istihadhah yang banyak dan deras (dalam Sunan Abu Dawud ada keterangan banyaknya darah istihadhah, Hamnah berkata, “Darahnya mengalir deras sekali.”) lalu aku mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta fatwa beliau, maka beliau bersabda, “Darah istihadhah itu hanyalah gangguan setan (maknanya, bahwa setan telah mendapat jalan untuk membuat ragu-ragu dalam urusan agamanya, kesucian dan shalatnya, sehingga membuat dia lupa akan kebiasaannya dalam menentukan masa haidh dan masa sucinya, seakan-akan menjadi suatu permainan setan, hadits ini tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya yang mengatakan bahwa istihadhah itu dari urat, yang disebut dengan al-adzil, urat tempat mengalirnya darah istihadhah, karena mengandung makna bahwa setan yang menggerakkannya sehingga memancar keluar, dan yang lebih tepat; Bahwa pada hakikatnya darah itu adalah permainan setan, karena tidak salahnya kalau memahaminya seperti itu) hitunglah masa haidhmu enam atau tujuh hari lalu mandilah, apabila kamu sudah bersih, shalatlah 24 hari (jika biasanya masa haidhnya enam hari) atau 23 hari (Jika biasanya masa haidhnya tujuh hari) puasa dan shalatlah (terserah kamu, baik yang sunnah maupun yang fardhu) karena cara yang demikian itu cukup bagimu, lakukanlah seperti itu (pada bulan-bulan berikutnya. Pada lafazh Abu Dawud dikatakan, (فَافْعَلِي كُلَّ شَهْرٍ) “lakukan setiap bulan”) seperti perempuan-perempuan yang haidh.” (Dalam Sunan Abu Dawud ada tambahan, ( وَكَمَا يَطْهُرْنَ مِيقَاتُ حَيْضِهِنَّ وَطُهْرِهِنَّ ) “Dan sebagaimana para perempuan itu bersuci diwaktu-waktu haidh dan suci mereka.” Jadi dalam masalah ini disuruh untuk mengembalikan kepada umumnya kondisi perempuan lainnya) apabila kamu kuat mengakhirkan Zhuhur dan menyegerakan Ashar (ini adalah lafazh Abu Dawud, dan sabdanya, “Dan kamu segerakan Ashar”, maksudnya kamu akhirkan shalat Zhuhur, dengan shalat di akhir waktunya sebelum habis waktu Zhuhur, dan menyegerakan shalat Ashar dengan melaksanakannya di awal waktunya, dengan demikian dia melaksanakan semua shalat pada waktunya, seakan-akan dia menjamak antara dua shalatnya) kemudian kamu mandi ketika engkau bersih (lafazh ini tidak terdapat dalam Sunan Abu Dawud, tapi lafadznya begini, (فَتَغْسِلِينَ فَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ ) “Kamu mandi dan menjamak dua shalat: Zhuhur dan Ashar”, yakni dengan jamak shuri (seakan-akan menjamak shalat) sebagaimana yang sudah Anda ketahui) lalu jamaklah shalat Zhuhur dan Ashar (ini bukan dan lafazh Abu Dawud sebagaimana telah Anda ketahui) kemudian kamu akhirkan Maghrib dan segerakan ‘Isya” (dalam lafazh Abu Dawud, (وَتُؤَخِّرِينَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ الْعِشَاءَ) “Kamu mengakhirkan Maghrib dan menyegerakan “Isya””, alangkah bagusnya kalau penulis menghapus yang demikian itu, sebagaimana Anda ketahui) kemudian kamu mandi, dan menjamakkan antara kedua shalat, maka kerjakanlah. Lalu kamu mandi untuk shalat Subuh dan kamu melaksanakan shalat Shubuh’, yang demikian itu lebih aku sukai dari dua perkara tersebut (zhahirnya, itu ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tapi Abu Dawud mengatakan, Amr bin Tsabit meriwayatkannya dari Ibnu Aqil, dia berkata, Hamnah berkata, “Yang demikian itu perkara yang paling aku sukai”, dia tidak mengatakan itu ucapan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam).

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh yang lima kecuali An-Nasa’i, dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Bukhari. Al-Mundziri mengatakan dalam Mukhtashar Sunan Abu Dawud, Al-Khaththabi mengatakan, “Sebagian ulama tidak mau berpegang pada hadits ini, karena Ibnu Uqail yang menjadi perawinya dinilai tidak demikian.” Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, “Hadits ini hanya diriwayatkan sendiri oleh Abdullah bin Muhammad bin Uqail, yang terdapat perbedaan pendapat tentang berhujjah dengan riwayatnya, ini akhir pembicaraanya.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.” Ia juga mengatakan, aku bertanya kepada Muhammad, yakni Al-Bukhari tentang hadits ini, dia mengatakan, “Itu hadits hasan”, Ahmad mengatakan, “Itu hadits hasan shahih.”

Dengan demikian kita bisa mengetahui, bahwa pendapat yang mengatakan hadits di atas tidak shahih, adalah pendapat yang salah, karena para ulama menilai hadits tersebut shahih. Sudah Anda ketahui dari uraian kami yang berdasarkan lafazh dari riwayat Abu Dawud, bahwasanya apa yang dikutip oleh penyusun di sini bukanlah dari lafazh Abu Dawud, tapi dari salah satu dari perawi yang lima itu, oleh karena itu maka harus dibatasi ungkapannya yang mutlak itu dengan sabdanya, “Engkau segerakan shalat Isya”” sebagaimana sabda beliau, “Engkau segerakan shalat Ashar”, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi petunjuk kepadanya dengan cara demikian, untuk selalu memperhatikan pelaksanaan setiap shalat pada waktunya. Shalat ini yang dikerjakan di akhir waktunya (Zhuhur dan Maghrib), dan ini shalat yang mesti dikerjakan di awal waktunya (Ashar dan Isya’).

Adapun sabdanya, “Enam atau tujuh hari”, itu bukanlah berarti keraguan dari perawi, juga bukan memberi pengertian boleh memilih, tetapi untuk memberitahukan bahwa masa haidh perempuan antara dua hal itu, ada yang masa haidhnya enam hari, ada juga yang tujuh hari, maka kembali kepada orang yang sebaya dengannya, atau yang lebih dekat dengan tabiatnya.

Kemudian sabda beliau “apabila mampu”, mengandung pengertian bahwa hal itu tidak wajib baginya, tapi hanya sunnah, karena yang wajib adalah berwudhu di setiap akan melaksanakan shalat, setelah mandi sehabis haidh, setelah berlalunya masa enam atau tujuh hari, itulah perintah pertama yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu Alathi wa Sallam di awal hadits,

آمُرُك بِأَمْرَيْنِ أَيَّهُمَا فَعَلْت أَجْزَأَ عَنْك مِنْ الْآخَرِ، وَإِنْ قَوِيت عَلَيْهِمَا فَأَنْتَ أَعْلَمُ

“Aku menyuruhmu dengan dua perintah, yang apabila kamu kerjakan salah satunya maka kamu tidak perlu lagi mengerjakan perintah lainnya, dan jika kamu mampu melaksanakan keduanya kamu lebih tahu.”

Kemudian beliau menyebutkan perintah yang pertama, agar dia memperkirakan masa haidhnya, enam atau tujuh hari, kemudian mandi dan shalat sebagaimana telah dijelaskan oleh penulis, dan sudah maklum bahwa dia mesti berwudhu untuk setiap shalat karena keluarnya darah terus menerus dapat membatalkan wudhu. Hal ini yang tidak dijelaskan dalam riwayat ini, tetapi disebutkannya dalam riwayat lain.

Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan perintah yang kedua, yaitu menjamak dua shalat dan mandi, sebagaimana telah Anda ketahui.

Dalam hadits tersebut terkandung dalil bahwa tidak dibolehkan menjamak dua shalat pada salah satu waktunya karena ada halangan, sebab andaikata dibolehkan karena ada halangan, maka perempuan yang keluar darah istihadhah lebih dibolehkan, tetapi malah beliau menyuruh mereka untuk shalat pada waktunya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *