[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 339

09. KITAB TALAK 03

0996

وَعَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ رَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ثَلَاثَ تَطْلِيقَاتٍ جَمِيعًا، فَقَامَ غَضْبَانَ ثُمَّ قَالَ: أَيُلْعَبُ بِكِتَابِ اللَّهِ، وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ حَتَّى قَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَقْتُلُهُ؟» رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَرُوَاتُهُ مُوَثَّقُونَ

996. Dan dari Mahmud bin Labid Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dikabari tentang seseorang yang telah menceraikan isterinya tiga kali talak sekaligus. Maka, dalam keadaan marah beliau berdiri lalu berkata, “Apakah dia hendak mempermainkan kitab Allah (Al-Qur’an) sedangkan aku masih ada di tengah-tengah kalian?” Maka ada seorang [shahabat] berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku membunuhnya?” (HR. An-Nasa’i dan para perawinya dapat dipercaya).

[Dha’if: An-Nasa’i (3401)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Mahmud bin Labid Radhiyallahu Anhu, dia adalah Ibnu Abi Rafi’ Al-Anshari Al-Asyhali. Lahir pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan telah banyak hadits diriwayatkan darinya. Al-Bukhari berkata, “Dia termasuk shahabat (Nabi)”, sedang Abu Hatim berkata, “Kami tidak tahu akan keshahabatannya”, dan Muslim menyebutkannya dalam daftar generasi tabi’in. Dia termasuk salah seorang ulama yang wafat pada tahun 96 H. Ahmad dalam Musnad-nya telah membuat biografinya dan meriwayatkan hadits-haditsnya. Namun, di situ tidak ada satupun yang diungkapkannya dengan memakai kata “mendengar”.

“Dia (Mahmud) berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah dikabarkan tentang lelaki yang menceraikan isterinya tiga talak sekaligus. Maka, sambil marah beliau pun berdiri lalu berkata, “Apakah dia hendak mempermainkan kitab Allah, sedang aku masih ada di tengah-tengah kalian?” hingga ada seorang [shahabat] berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku membunuhnya?” (HR. An-Nasa’i dan para perawi adalah orang-orang terpercaya).

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah sebagai dalil bahwa menggabungkan tiga talak sekaligus itu hukumnya bid’ah. Para ulama berbeda pendapat tentang hal itu. Aliran Al-Hadawiyah (pengikut Al-Hadi), Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa itu hukumnya bid’ah. Sedangkan Syafi’i, Ahmad dan Imam Yahya berpendapat bahwa itu hukumnya tidak bid’ah dan tidak pula makruh. Kelompok pertama berdalil dengan adanya kemarahan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga sabda beliau, “Apakah dia hendak mempermainkan kitab Allah? dan berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanad shahih dari Anas, bahwasanya Umar ketika didatangkan seorang laki-laki yang telah mentalak isterinya dengan talak tiga sekaligus, dia pun spontan memukul punggung lelaki itu, dan seakan-akan dia (Umar) memilih hukum pengharamannya dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apakah dia hendak mempermainkan kitab Allah?”

Sementara kelompok yang lainnya (madzhab kedua) berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

{فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ}

“Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar)…” (QS. Ath-Thalaq: 1)

{الطَّلاقُ مَرَّتَانِ}

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali.” (QS. Al-Baqarah: 229)

dan dengan dalil yang ada dalam hadits li’an, yaitu bahwa suami telah mentalaknya dengan talak tiga di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak mengingkari (mencegah)nya. Argumen ini dapat dibantah bahwasanya dua ayat tersebut bersifat mutlak, sedang hadits ini jelas-jelas mengharamkan talak tiga (sekaligus), sehingga kedua ayat itu pun ter-taqyid (terikat) oleh hadits ini. Juga, mengingat talaknya mula’in (suami yang melakukan li’an) kepada isterinya itu bukanlah talak pada kedudukan semestinya. Karena, sang isteri langsung (tertalak) ba’in cukup dengan li’an saja, seperti yang akan dibahas nanti.

Ketahuilah, bahwa hadits Mahmud ini tidak disinggung di sini bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberlakukan (hukum) talak tiga kepada lelaki tersebut. Atau, sebaliknya menjadikannya satu talak saja. Akan tetapi, si pengarang hanya menyebutkannya sebatas informasi bahwasanya talak tiga sekaligus ini sungguh pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

0997

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: «طَلَّقَ أَبُو رُكَانَةَ أُمَّ رُكَانَةَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: رَاجِعْ امْرَأَتَك، فَقَالَ: إنِّي طَلَّقْتهَا ثَلَاثًا. قَالَ: قَدْ عَلِمْت، رَاجِعْهَا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد -. وَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ: «طَلَّقَ أَبُو رُكَانَةَ امْرَأَتَهُ فِي مَجْلِسٍ وَاحِدٍ ثَلَاثًا، فَحَزِنَ عَلَيْهَا، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: فَإِنَّهَا وَاحِدَةٌ» . وَفِي سَنَدِهِمَا ابْنُ إِسْحَاقَ، وَفِيهِ مَقَالٌ. وَقَدْ رَوَى أَبُو دَاوُد مِنْ وَجْهٍ آخَرَ أَحْسَنَ مِنْهُ: «أَنَّ رُكَانَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ سُهَيْمَةَ أَلْبَتَّةَ، فَقَالَ: وَاَللَّهِ مَا أَرَدْت بِهَا إلَّا وَاحِدَةً، فَرَدَّهَا إلَيْهِ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -»

997. Dan, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata,'”Abu Rukanah mentalak Ummu Rukanah. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Rujuklah isterimu!” Dia pun berkata, “Sesungguhnya saya telah mentalaknya tiga.” Beliau berkata, “Aku sudah tahu, rujuklah dia.” (HR. Abu Dawud)

[Hasan: Abu Daud 2196]

Dalam redaksi Ahmad, “Abu Rukanah mentalak tiga isterinya dalam satu majlis. Lalu dia pun bersedih karenanya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Sesungguhnya itu baru sekali (talak).” Dalam sanad kedua riwayat ini ada Ibnu Ishak dan pada dirinya ada catatan.

Dan, Abu Dawud telah meriwayatkan hadits ini dari jalur lain yang lebih bagus (kualitas haditsnya) daripadanya: “Bahwasanya Rukanah telah mentalak isterinya, Suhaimah sama sekali (talak tiga sekaligus), lalu dia berkata, “Demi Allah, aku tidak memaksudkan itu melainkan sekali (talak) saja.” Maka, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mengembalikan (masalah)nya kepadanya.”

[Dhaif: Abu Daud 2206]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, “Abu Rukanah telah mentalak Ummu Rukanah, lalu Rasulullah berkata kepadanya, “Rujuklah isterimu”. Dia pun berkata, “Sesungguhnya aku telah mentalaknya tiga.” Beliau berkata, “Sungguh, aku sudah tahu. Rujuklah dia!” (HR. Abu Dawud). Dan, dalam redaksi Ahmad (juga dari Ibnu Abbas): Rukanah telah mentalak tiga (sekaligus) isterinya dalam satu majlis. Lalu, dia pun bersedih karenanya. Maka, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Rujuklah dia! Karena itu baru talak satu.” Dalam sanad kedua riwayat ini (maksudnya, hadits Abu Dawud dan hadits Ahmad) ada Ibnu Ishak (alias: Muhammad, pengarang kitab sirah), dan pada dirinya ada catatan.”

Al-Jarh wat-Ta’dil

Sungguh, kami telah melakukan pengecekan dalam kitab Tsamarat An-Nazharfii llmi al-Atsar dan juga dalam kitab Irsyad An-Nuqqad tentang tidak sahnya cacat pada dirinya yang dapat mencoreng riwayatnya.

“Dan, Abu Dawud juga telah meriwayatkannya dari jalur lain yang lebih bagus darinya, bahwasanya Rukanah telah mentalak sama sekali istrinya, Suhaimah, lalu dia berkata, “Demi Allah, tidaklah aku memaksudkan itu melainkan satu talak. Maka, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun menyerahkan (persoalan)nya kepadanya.”

Abu Ya’la juga telah meriwayatkan hadits ini dan menshahihkannya. Dan, jalur-jalurnya semuanya berasal dari riwayat Muhammad bin Ishak dari Dawud bin Al-Hushain dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas. Dan, para ulama telah memakai isnad semacam ini dalam banyak hukum. Seperti, hadits terdahulu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengembalikan putrinya kepada Abu Al-‘Ash dengan nikah yang pertama, dan hadits ini dinyatakan shahih oleh Abu Dawud, karena dia juga meriwayatkannya dari jalur berbeda. Ialah hadits yang disinyalir oleh pengarang dengan ucapannya, “lebih bagus (kualitasnya) daripadanya (hadits bab).” Yaitu, bahwa dia telah meriwayatkannya dari hadits Nafi’ bin ‘Ujair bin Abd Yazid bin Rukanah, bahwasanya Rukanah dan seterusnya. Hadits ini juga telah dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Hanya, di sini terjadi silang pendapat bagi kalangan ulama antara kubu yang menshahihkannya dan kubu yang mendla’ifkannya.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa mengucapkan talak tiga dalam satu majlis, itu sama saja dengan talak satu. Dan, sungguh para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ini kepada empat pendapat:

Pertama, tidak jatuh talak sama sekali dengannya (ucapan tersebut). Karena, dia merupakan talak bid’ah. Ini merupakan pendapat ulama yang menafikan jatuhnya talak bid’ah. Dan, nama-nama beserta dalil-dalil mereka sudah dikemukakan di muka.

Kedua, jatuh talak tiga. Dan, pendapat ini dikemukakan oleh Umar, Ibnu Abbas, Aisyah juga riwayat dari Ali Radhiyallahu Anhum, imam madzhab empat dan mayoritas ulama salaf dan khalaf. Mereka berdalil dengan ayat-ayat talak, dan bahwasanya ayat-ayat tersebut tidak membedakan antara talak satu dan talak tiga. Pendapat ini dapat dibantah dengan argumen terdahulu, yaitu bahwa ayat-ayat tersebut bersifat mutlak yang mungkin sekali di-taqyid dengan hadits-hadits ini. Mereka juga berdalil dengan hadits yang ada dalam Ash-Shahihain, bahwa Uwaimir Al-‘Ajlani telah mentalak tiga terhadap isterinya di hadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak melarangnya. Maka, hadits ini pun menunjukkan tentang diperbolehkannya menggabungkan talak tiga karena pernah terjadi.

Argumen ini juga bisa dimentahkan dengan hujah, bahwasanya taqrir (sikap diam Nabi) ini, tidak serta merta menyatakan bolehnya talak semacam ini, juga tidak berarti jatuhnya talak tiga (ba’in). Karena, intinya larangan itu sebenarnya ada dalam talak yang dapat menghapus nikah yang dituntut kelanggengannya, sedangkan mula’in (suami yang melakukan li’an) itu menjatuhkan talak dengan didasari dugaan bahwa dia masih dapat menahan isterinya, dan dia tidak mengetahui bahwa dengan li’an tersebut berakibat terjadinya perpisahan untuk selamanya, baik perpisahan itu disebabkan tindakan li’an itu sendiri, ataupun karena dipisahkan oleh hakim. Maka, hadits ini pun tidak menunjukkan pada apa yang dicari (diminta). Mereka juga berdalil dengan hadits lainnya yang ada dalam Muttafaq Alaih (Al- Bukhari dan Muslim), tepatnya dalam hadits Fatimah binti Qais yang menyatakan bahwa suaminya telah mentalak tiga kepadanya, dan bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam manakala dikabari tentang hal itu, beliau bersabda, “Dia (Fatimah) tidak berhak mendapat nafkah, tapi baginya ‘iddah.” Namun, argumen ini lagi-lagi dapat dibantah dengan sanggahan bahwasanya dalam hadits tersebut tidak disinggung secara eksplisit bahwa sang suami telah menjatuhkan talak tiga dalam satu majlis. Maka, hadits ini pun tidak menunjukkan pada apa yang diinginkan. Mereka berdalih, “Tidak adanya rincian dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: apakah itu terjadi dalam satu majlis atau banyak majlis? Itu menunjukkan bahwasanya dalam konteks ini tidak ada perbedaan.” Pernyataan ini dapat disanggah, bahwasanya beliau tidak merinci (kejadian itu), karena umumnya yang terjadi pada masa itu tidak ada pengucapan talak tiga, seperti yang telah dikemukan sebelumnya. Kami katakan ‘ghalibnya’ (umumnya) agar tidak dikatakan, “Telah kami sampaikan terdahulu, bahwasanya talak tiga pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam”. Karena, pada dasarnya kami katakan, ‘ya’, tapi itu jarang terjadi. Dan, kasus yang sama seperti yang dijadikan dalil dari hadits riwayat Aisyah, bahwasanya seorang lelaki telah mentalak tiga terhadap isterinya, lalu isterinya itu pun menikah, lalu suami keduanya mentalaknya, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya, apakah isteri tersebut halal bagi suami pertamanya (dalam artian: boleh menikah lagi dengannya)? Beliau menjawab, “Tidak, sampai kamu merasakan madunya (dengan kata lain: menggaulinya)” (HR. Al-Bukhari). Dan, bantahannya sama seperti tersebut di atas. Mereka memiliki sejumlah dalil dari Sunnah (hadits) yang di dalamnya ada unsur kelemahan, sehingga karenanya tidak bisa dijadikan hujah. Oleh karena itu, kami pun takkan mengagungkan besar (tebal)nya kitab tersebut. Demikian pula, apa yang mereka jadikan dalil berupa fatwa-fatwa shahabat yang merupakan pendapat-pendapat individu yang karenanya tidak bisa menjadi hujah.

Ketiga, bahwasanya jatuh dengannya talak satu (talak raj’i), dan ini merupakan riwayat dari Ali dan Ibnu Abbas. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Al-Hadi, Al-Qasim, Ash-Shadiq juga Al-Baqir, dan didukung pula oleh Abul-Abbas Ibnu Taimiyah dan diikuti oleh Ibnul-Qayyim, muridnya untuk mendukungnya. Di sini, mereka berpijak pada dalil yang lalu, berupa dua hadits Ibnu Abbas, dan keduanya merupakan dalil yang jelas-jelas dimaksud, dan bahwa dalil-dalil lainnya yang terdiri dari sejumlah pendapat itu tidaklah tegak (kuat). Adapun pendapat yang pertama dan kedua, maka mengingat itulah yang kuketahui. Dan, disusul berikutnya pendapat yang lainnya.

Keempat, bahwasanya dibedakan antara isteri yang telah disetubuhi dan yang belum. Maka, jatuh talak tiga bagi isteri yang telah disetubuhi dan jatuh talak satu bagi isteri yang belum disetubuhi. Ini merupakan pendapat sekelompok orang dari para pengikut Ibnu Abbas. Ishak bin Rahuyah juga mengemukakan pendapat ini. Mereka berdalil dengan hadits riwayat Abu Dawud,” Adapun yang kuketahui, bahwa jika suami mentalak tiga isterinya sebelum sempat menyetubuhinya, maka mereka menjadikannya sebagai talak satu di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam… dan seterusnya.” Selain itu, mereka berdalil pula dengan menggunakan qiyas (analogi). Maka, apabila si suami mengucapkan, “Kamu tertalak”, maka si isteri tertalak ba’in karenanya.’ Apabila dia mengulang lafazh tersebut, maka dia tidak mendapat ruang lagi untuk talak. Maka, lafazh itu pun menjadi sia-sia. Argumen ini dapat dibantah dengan jawaban terdahulu, yaitu dinyatakannya hal itu dalam hak wanita yang disetubuhi dan yang belum. Maka, pengertian dari hadits Abu Dawud ini tidak berseberangan dengan keumuman hadits-hadits Ibnu Abbas.

Ketahuilah, bahwa zhahir dari hadits-hadits tersebut tidak ada bedanya antara dia mengucap, “Kamu tertalak tiga”, atau dia mengulang-ulang tiga kali lafazh tersebut. Dalam kutub furu’ (kitab-kitab yang membahas masalah-masalah subsider) ada sejumllah perkataan dan silang pendapat dalam hal pemilahan antara lafazh-lafazh ini yang tidak bersandar kepada suatu dalil yang jelas. Sungguh, para pengkaji masalah-masalah furu’ (subsider) ini telah berpanjang lebar membahas persoalan ini. Sedangkan para tokoh madzhab empat bersepakat tentang jatuhnya talak tiga secara beruntun ini, mengingat Umar memberlakukannya, dan pengingkaran mereka sangat keras terhadap kelompok-kelompok yang menyelisihi hal itu. Dan, persoalan ini pun di mata mereka menjadi simbol bagi sekte Rafidhah dan kelompok- kelompok yang berseberangan. Ibnu Taimiyah sendiri dicekal oleh karena berfatwa dengannya, sedang muridnya, Ibnul-Qayyim diarak di atas unta gara-gara memfatwakan tidak jatuhnya talak tiga. Dan, tidak hayal lagi ini murni bentuk fanatisme buta dalam masalah furu’iyah yang menjadi perselisihan bagi kalangan generasi salaf dan khalaf. Maka, tidak perlu ada pengingkaran terhadap orang yang menyatakan pendapat apa saja yang berbeda tentangnya. Sebagaimana hal itu sudah maklum adanya. Nah, di sini pengarang tampak berbeda dari sejumlah kalangan orang-orang berilmu dan bertakwa lainnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *