[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 338

09. KITAB TALAK 02

0995

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «كَانَ الطَّلَاقُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَبِي بَكْرٍ وَسَنَتَيْنِ مِنْ خِلَافَةِ عُمَرَ طَلَاقُ الثَّلَاثِ وَاحِدَةً، فَقَالَ عُمَرُ: إنَّ النَّاسَ قَدْ اسْتَعْجَلُوا فِي أَمْرٍ كَانَتْ لَهُمْ فِيهِ أَنَاةٌ، فَلَوْ أَمْضَيْنَاهُ عَلَيْهِمْ؟ فَأَمْضَاهُ عَلَيْهِمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

995. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Dulu, talak pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar dan dua tahun dari masa kekhalifahan Umar, talak tiga (yang diucapkan sekali) itu berarti sekali (talak). Maka, Umar bin Al-Khaththab berkata, “Sesungguhnya orang-orang itu sangat tergesa-gesa dalam perkara yang seharusnya mereka bisa bersikap pelan-pelan [tidak terburu-buru]. Andai saja kami tetapkan hal itu atas mereka, maka, ia akan menjadi ketetapan yang berlaku atas mereka.”(HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1472)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini shahih dari berbagai jalur dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu. Dan, yang dipermasalahkan, adalah bagaimana dihukumi sah dari Umar apa yang bertentangan dengan hukum yang sudah ada pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu masa Abu Bakar dan awal-awal masa pemerintahannya. Zhahir perkataan Ibnu Abbas, adalah bahwasanya ijma’ menyatakan demikian. Tapi, hal ini dapat dijawab dengan jawaban-jawaban berikut:

Pertama, bahwa tadinya memang hukumnya demikian, tapi kemudian dinasakh (dihapus) pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Dawud telah meriwayatkan dari jalur Yazid An-Nahwi dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata, “Dulu, apabila seseorang menceraikan istrinya, maka dia berhak merujuknya kembali sekalipun telah mengucap lafazh talak sebanyak tiga kali, lalu hukum tersebut dinasakh menjadi talak tiga (ba’in).” [Shahih: Abi Dawud (2195)]

Hanya, nasakh ini tidak terpublikasikan, sehingga hukum yang telah dimansukh ini masih diberlakukan sampai akhirnya Umar mengingkarinya.

Saya katakan, “Sebenarnya riwayat nasakh nyata adanya seperti itu. Karena, jika tidak, maka hal ini dapat melemahkan perkataan Umar, “Sesungguhnya orang-orang itu sangat tergesa-gesa dalam perkara yang seharusnya mereka bisa pelan-pelan-[tidak terburu-buru]…. dan seterusnya.” Karena ini jelas-jelas merupakan pendapat an sich, bukan sunnah. Dan, apa yang tersebut dalam sebagian redaksi riwayat Muslim, adalah bahwa Ibnu Abbas berkata kepada Abu Ash-Shahba’, “Ketika orang- orang bergantian cerai pada masa Umar, maka dia pun membolehkannya atas mereka.”

Kedua, bahwa kedudukan hadits Ibnu Abbas ini mudhtharib (diper selisihkan sanad dan matannya). Al-Qurthubi dalam Syarah Muslim berkata, “Di dalamnya terjadi idhthirab pada redaksinya seiring perselisihan pendapat terhadap Ibnu Abbas. Maka, zhahir dari siyaq (alur)nya, bahwa hukum ini diriwayatkan dari semua orang pada masa itu, dan tradisi menuntut hal itu muncul dan tersebar luas, dan Ibnu Abbas tidak sendirian meriwayatkannya. Maka, hal ini menuntut sikap tawaqquf (diam) dari mengamalkan zhahirnya, apabila kepastian hukum tidak menyatakan kebatilannya.

Saya katakan, “Ini sebatas menghindari. Karena, sudah berapa banyak sunnah dan kejadian yang hanya diriwayatkan seorang rawi sendirian dan tidak menjadi persoalan, terlebih oleh orang sekelas Ibnu Abbas yang bergelar bahrul-ummat (samudera umat).”

Apa yang dikatakan Ibnu Abbas tentang talak tiga yang dulunya dihukumi satu ini dikuatkan oleh hadits Abu Rukanah, meskipun ada pembahasan (komentar) tentang hadits tersebut.

Ketiga, bahwa hadits ini muncul dalam bentuk khusus, yaitu berupa ucapan si pentalak, “Kamu tertalak, kamu tertalak, kamu tertalak.” Hal itu mengingat pada masa Nabi dan periode setelahnya keadaan manusia dimungkinkan masih normal dan jujur. Maka, bisa saja diterima perkataan orang yang mengaku bahwa lafazh kedua sebagai ta’kid (penguat) lafazh pertama, bukan sebagai pernyataan talak lainnya. Dia dibenarkan dalam pengakuannya. Manakala Umar melihat adanya perubahan keadaan manusia dan banyaknya pengakuan-pengakuan batil, maka demi kemaslahatan dia berpendapat agar si pengucap diberlakukan menurut zhahir ucapannya, dan tidak bisa begitu saja dibenarkan pengakuan hatinya. Dan, jawaban ini telah disepakati oleh Al-Qurthubi. An-Nawawi berkata, “Ini merupakan jawaban yang paling shahih.”

Saya katakan, “Tidak samar lagi bahwa ini sebagai pengakuan karena larangan Umar hanyalah pendapat semata. Di samping itu, manusia itu berbeda-beda sepanjang masa, ada yang jujur dan ada yang pembual. Dan, tidaklah diketahui apa yang ada dalam benak seseorang, kecuali dari ucapannya, sehingga dapat diterima ucapannya, sekalipun sebenarnya itu batil. Maka, dia dihukumi menurut zhahirnya, sedangkan Allah Maha Mengetahui semua rahasia, meskipun zhahir perkataan Ibnu Abbas adalah, “Talak tiga (kali ucap) berarti sekali (talak)”, dan sesungguhnya talak itu bisa jatuh [terjadi, sah] dengan ungkapan apa pun.

Keempat, makna kalimat, “Dulu, talak tiga (kali ucap) adalah satu (talak) “, adalah bahwa sebenarnya talak yang dijatuhkan pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masa Abu Bakar umumnya dijatuhkan sekali, bukan tiga. Maksudnya, talak tiga yang kalian jatuhkan, dulu pada masa tersebut dihukumi satu talak. Jadi, perkataan Umar, “Andai saja kami tetapkan hal itu atas mereka.” yakni, andai saja kami dapat memberlakukannya sesuai hukum yang disyariatkan, berupa jatuhnya talak tiga.

Dan, jawaban ini mengiringi perkataan Umar, “Mereka tergesa-gesa dalam perkara yang seharusnya mereka dapat pelan-pelan [tidak terburu-buru] “. Maknanya adalah memberitahukan perbedaan kebiasaan-kebiasaan manusia dalam menjatuhkan talak, bukan dalam hal jatuhnya talak itu sendiri. Maka, hukum tersebut menjadi sah (diakui). Dan, Ibnul Arabi pun mentarjih (memenangkan) interpretasi ini dan menisbatkannya kepada Abu Zur’ah. Begitu pula, Al-Baihaqi telah meriwayatkan darinya. Dia berkata, “Artinya, bahwa talak tiga yang kalian ucapkan itu dulu bagi mereka dihukumi satu (talak).”

Saya katakan, “Dan, ini akan menjadi lengkap bila disepakati bahwa menyatakan talak tiga dalam sekali waktu tidak terjadi pada masa Nabi. Dan, ini dibantah oleh hadits Abu Rukanah dan hadits lainnya dan tidak sesuai dengan perkataan Umar, “Andai saja kami tetapkan hal itu.” karena nyata-nyata terlihat bahwa talak ini tidak berlaku pada masa tersebut sampai Umar berpendapat untuk memberlakukannya. Ini sebagai dalil terjadinya talak tersebut pada masa Nabi, namun tidak diberlakukan. Di situ, tidak ada penjelasan bahwa talak tiga dalam sekali ucap itu jarang terjadi pada masa tersebut.”

Kelima, bahwa ucapan Ibnu Abbas,”Dulu, talak tiga” itu tidak punya kedudukan marfu’ (disandarkan kepada Nabi), namun sebatas mauquf (disandarkan) kepadanya. Dan, pendapat ini lemah, mengingat apa yang sudah menjadi ketetapan dalam ushul hadits dan ushul fikih, jika kita berlakukan, dan mereka pun memberlakukan hukum marfu terhadapnya.

Keenam, bahwa yang dimaksud dengan perkataannya, “Talak tiga adalah satu”, itu adalah lafazh ‘sama sekali’ (al-battah). Seperti yang akan disampaikan dalam hadits Rukanah nanti. Maka, apabila seseorang mengatakan hal itu,. maka penafsirannya dengan satu dan tiga talak dapat diterima. Tatkala hal itu terjadi pada masa Umar Radhiyallahu Anhu, penafsirannya dengan satu talak itu tidak dapat diterima. Dikatakan, “Dan Al-Bukhari menunjuk kepada hal ini.” Maka, dia memasukkan dalam bab ini beberapa atsar yang terdapat kata ‘sama sekali’ di dalamnya, juga hadits-hadits yang berisi penyebutan talak tiga secara jelas. Seakan-akan dia menunjuk tidak adanya perbedaan di antara keduanya. Dan, bahwa kata ‘sama sekali’ apabila diucapkan, maka dia bisa diartikan dengan ‘talak tiga’. Kecuali, apabila si pentalak menghendaki satu talak, maka itu dapat diterima. Maka, sebagian perawi meriwayatkan kata ‘sama sekali’ dengan redaksi ‘talak tiga’. Maksudnya, bahwa asal hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma adalah, “Dulu talak sama sekali (sekaligus) terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masa Abu Bakar dan seterusnya.”

Saya katakan, “Tidak samar lagi setelah penafsiran ini dan keragu-raguan perawi dalam penggantian tiga menjadi satu talak. Dan, mustahil talak dengan ucapan ‘sama sekali’ itu sangat jarang terjadi. Sehingga, apa yang terjadi itu tidak dapat diartikan demikian (talak tiga). Bagaimana tidak, sedang perkataan Umar, ”Mereka sangat tergesa-gesa dalam perkara yang seharusnya mereka pelan-pelan (tidak terburu-buru)”, ini menunjukkan bahwa hal itu juga terjadi pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pendapat yang terdekat (dari kebenaran), adalah bahwasanya ini merupakan pendapat Umar yang ditarjih (dimenangkan), seperti halnya larangan terhadap umrah haji dan yang lainnya. Dan, setiap orang bisa saja diambil perkataan (pendapat)nya dan bisa pula ditinggalkan, kecuali Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan soal keberadaan (pendapat)nya itu ternyata bertentangan dengan apa yang ada pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka itu lebih menyerupai kasus mut’ah haji, tanpa disangkal lagi. Dan, memaksakan jawaban agar sejalan (sesuai) dengan apa yang telah ada pada masa Nabi, tidaklah patut. Maka, ada banyak produk ijtihad dari Umar yang sukar sekali untuk diterapkan. Dan, jika memungkinkan untuk diterapkan secara benar, maka itulah yang dikehendaki (diharapkan)”.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *