[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 337

09. KITAB TALAK 01

Kata talak secara bahasa bermakna melepaskan ikatan. Diambil dari kata al-Ithlaq yang berarti melepaskan dan membiarkan. Seperti kalimat fulanun thalqul yadaini bil-khair, artinya si fulan banyak memberi dan mengulurkan kedua tangannya dengan kebaikan. Sedangkan menurut istilah, talak adalah melepaskan tali pernikahan. Imam Al-Haramain berkata, “Talak adalah lafazh jahiliyah yang diakui dan disahkan dalam Islam.”

0993

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَبْغَضُ الْحَلَالِ إلَى اللَّهِ الطَّلَاقُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَابْنُ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَرَجَّحَ أَبُو حَاتِمٍ إرْسَالَهُ

993. Dari Ibnu Umur Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim, namun Abu Hatim mentarjihnya sebagai hadits mursal)

[Dhaif: Abi Dawud (2178)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Selain Abu Hatim, hadits ini juga ditarjih oleh Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi sebagai hadits mursal.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa dalam perkara yang dihalalkan, ada hal-hal yang dibenci oleh Allah Ta’ala, dan talak merupakan perkara halal yang paling dibenci. Makna ‘dibenci’ di sini sebagai bentuk kiasan, yakni tidak ada pahalanya dan tidak dianggap sebagai bentuk ibadah jika perkara itu dilakukan. Sebagian ulama memberikan contoh lain tentang perkara halal yang dibenci ini, seperti tidak mengerjakan shalat fardhu di masjid secara berjamaah tanpa adanya udzur (halangan).

Hadits ini juga menunjukkan bahwa hendaknya seseorang tidak menjatuhkan talak tanpa adanya faktor-faktor yang membolehkannya. Sebagian ulama telah membagi talak ini ’kepada lima hukum. Talak yang diharamkan adalah talak bid’i, sedangkan talak yang makruh adalah talak yang terjadi tanpa ada sebab [kondisi rumah tangga dalam keadaan normal]. Dan talak termasuk perkara yang dibenci meskipun dihalalkan.

0994

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ «أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ، وَهِيَ حَائِضٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَسَأَلَ عُمَرُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لْيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ، ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تَطْلُقَ لَهَا النِّسَاءُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

994. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa dia menceraikan isterinya di saat sedang haid pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu Umar Radhiyallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah tentang hal itu. Maka, beliau pun berkata, “Suruhlah dia agar merujuknya kembali. Dan sebaiknya dia menahan diri sampai sang isteri suci, lalu haid, lalu suci lagi. Kemudianjika mau, dia tetap menjadikannya sebagai isteri, dan jika mau, dia dapat menceraikannya sebelum menggaulinya. Itulah iddah (masa penantian) yang diperintahkan Allah untuk menceraikan isteri.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5251) dan Muslim (1471)]

وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ «مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لْيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أَوْ حَامِلًا»

Dalam riwayat Muslim, “Suruhlah dia agar merujuknya kembali. Kemudian, sebaiknya dia menceraikannya di saat sedang suci atau hamil.”

[shahih, Muslim (1471)]

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى لِلْبُخَارِيِّ «، وَحُسِبَتْ تَطْلِيقَةٌ»

Dalam riwayat Al-Bukhari yang lain, “Dan, cukuplah itu dianggap sebagai satu kali talak.”

[shahih, Muslim (1471), tapi saya tidak melihatnya ada dalam Shahih Al-Bukhari.]

وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «أَمَّا أَنْتَ طَلَّقْتهَا وَاحِدَةً أَوْ اثْنَتَيْنِ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَنِي أَنْ أُرَاجِعَهَا ثُمَّ أُمْسِكَهَا حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً أُخْرَى، ثُمَّ أُمْهِلَهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ أُطَلِّقَهَا قَبْلَ أَنْ أَمَسَّهَا، وَأَمَّا أَنْتَ طَلَّقْتهَا ثَلَاثًا فَقَدْ عَصَيْت رَبَّك فِيمَا أَمَرَك بِهِ مِنْ طَلَاقِ امْرَأَتِك»

Dalam riwayat Muslim, Ibnu Umar berkata, “Adapun jika kamu menceraikannya sekali atau dua kali, maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyuruhku untuk merujuknya lalu menahannya sampai dia haid sekali lagi. Lalu, saya menangguhkannya sampai dia suci. Kemudian, saya menceraikannya sebelum sempat menggaulinya. Sedangkanjika kamu menceraikannya tiga kali, maka sungguh kamu telah berbuat maksiat terhadap Tuhanmu dalam hal menceraikan isterimu sesuai yang diperintahkan-Nya kepadamu.”

[shahih, Muslim (1471)]

وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: قَالَ «عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: فَرَدَّهَا عَلَيَّ، وَلَمْ يَرَهَا شَيْئًا» ، قَالَ «إذَا طَهُرَتْ فَلْيُطَلِّقْ أَوْ لِيُمْسِكْ»

Dalam riwayat lainnya, “Abdullah bin Umar berkata, “Maka, beliau pun menyerahkan (urusan)nya kepadaku dan tidak berpendapat apapun tentangnya, dan beliau bersabda, “Apabila si isteri telah suci, barulah suami menceraikannya atau tetap menjadikannya sebagai isteri.”

[Shahih Abi Dawud (2185)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam sabda Rasulullah, “Suruhlah dia agar merujuknya kembali”, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa yang menyuruh Ibnu Umar untuk merujuk isterinya adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan Umar disuruh menyampaikan pesan dari Nabi kepada putranya agar merujuk isterinya kembali. Kalimat ini semisal dengan firman Allah,

{قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلاةَ}

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, “Hendaklah mereka mendirikan shalat…” (QS. Ibrahim: 31)

Dalam ayat ini, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam diperintahkan untuk menyuruh kita menegakkan shalat. Padahal, sebenarnya perintah itu datang dari Allah Ta’ala, dan Nabi hanya menyampaikan perintah itu. Demikian pula, Ibnu Umar di sini diperintah oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka, tidak disangsikan lagi bahwa masalah ini termasuk bab: Apakah orang yang menyampaikan perintah tentang sesuatu hal, itu mesti pemberi perintah tersebut? Hanya saja, masalah itu hanya mirip dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ»

“Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia tujuh tahun….”, [hasan shahih, Abi Dawud (495)]

tetapi bukan seperti kasus ini.”

Apabila kamu mengetahui bahwa dia diperintah oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk rujuk, apakah perintah tersebut adalah suatu keharusan, sehingga hukum rujuk di sini menjadi wajib ataukah tidak?

Imam Malik berpendapat kepada hukum yang pertama, yakni wajib, dan itu merupakan riwayat dari Ahmad. Begitu pula, penulis kitab Al-Hidayah dari madzhab Hanafiyah menshahihkan hukum yang menyatakan wajib, dan ini juga merupakan pendapat Dawud. Dalil mereka ialah adanya perintah terhadap hal tersebut. Mereka berpendapat, “Apabila suami menolak rujuk, maka hakim [penguasa] wajib menasihatinya. Namun, jika dia bersikeras menolak, barulah hakim memaksanya.”

Sedang jumhur berpendapat bahwa hukum rujuk sebatas dianjurkan (mustahab). Mereka berpendapat, “Karena memulai nikah itu hukumnya tidak wajib, maka kelanggengannya juga demikian. Maka, qiyas menjadi qarinah [indikasi] bahwa perintah di sini bersifat anjuran.” Namun, pendapat ini dijawab; apabila talak diharamkan di waktu sedang haid, maka hukum kelanggengan pernikahan pada saat itu adalah wajib.

Dalam sabdanya, “sampai dia suci, lalu haid, lalu suci lagi”, terdapat dalil bahwa seseorang -dalam kontek hadits ini adalah Ibnu Umar-tidak boleh menceraikan isterinya, kecuali pada waktu suci yang kedua, bukan yang pertama. Malik berpendapat haramnya menjatuhkan talak pada saat tersebut, dan pendapat ini pula yang paling shahih menurut madzhab Syafi’iyah. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa menanti keadaan suci yang kedua hukumnya mandub (sunnah), demikian juga dari Ahmad dengan berdalil kepada hadis, “Dan, dalam riwayat muslim (yakni: dari Ibnu Umar), suruhlah dia agar merujuknya kembali, lalu menceraikannya dalam keadaan suci atau hamil.” Maka, dia menceraikan manakala sedang suci, karena pada hakikatnya pengharaman tersebut karena faktor haid. Apabila faktor ini hilang, maka hilang pula faktor yang mengharamkan. Sehingga, boleh saja menceraikannya pada kondisi suci ini, sebagaimana dibolehkan pada kondisi setelahnya, dan boleh pula pada masa suci yang belum didahului oleh talak sewaktu haidnya. Dan, tidaklah samar kemiripan pendapat yang mereka katakan.

Dalam sabdanya, “sebelum dia (suami) menggaulinya”, terdapat dalil bahwa jika seseorang menceraikan isterinya ketika sedang suci setelah bersetubuh, maka itu adalah talak bid’i yang diharamkan, dan inilah pendapat jumhur ulama. Sebagian kalangan madzhab Malikiyah berkata, “Suami tersebut boleh dipaksa rujuk pada saat itu, sebagaimana dia menceraikan sewaktu si isteri sedang haid.”

Dalam sabdanya, “lalu dia (isteri) suci,”dan juga sabdanya, .. dalam kondisi suci” ada silang pendapat di kalangan ulama fikih; apakah yang dimaksud di sini sewaktu terhentinya darah ataukah mesti mandi (jinabat) dulu? Dari Ahmad ada dua riwayat. Pendapat yang rajih (kuat), bahwa kondisi suci itu harus dihitung setelah mandi, mengingat hadits yang ada dalam riwayat An-Nasa’i, “Maka, apabila dia (isteri} telah mandi dari haidnya yang lain (yang kedua), maka janganlah dia menyentuh (menyetubuhi)nya sampai menceraikannya. Dan, jika dia hendak menahannya [tetap menjadikannya sebagai isterinya], maka dia boleh menahannya.”

Hadits ini menjelaskan sabda Nabi, “…dalam kondisi suci” dan sabdanya, “lalu dia (isteri) suci”. Dan, juga sabdanya, “Maka, itulah iddah yang diperintahkan Allah untuk dapat menceraikan isteri,” yakni, diizinkan, sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala, “Hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (QS. Ath-Thalaq: 1)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Ibnu Umar berkata, “Dan, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat, “Hai Nabi, …” (QS. Ath-Thalaq: 1) Hadits ini menunjukkan bahwa kata al-qur’u artinya suci, mengingat adanya perintah untuk menceraikannya di saat sedang suci. Adapun firman Allah, “Hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (QS. Ath-Thalaq: 1) yakni, waktu permulaan iddahnya.

Dalam sabdanya, “atau, dalam keadaan hamil”, terdapat dalil bahwa menceraikan wanita yang sedang hamil itu sunnah. Dan, ini adalah pendapat Jumhur.

Apabila kamu mengetahui bahwa talak bid’i itu dilarang dan diharamkan, maka sebenarnya dalam hal ini ada perselisihan pendapat; apakah talak tersebut dianggap sah atau tidak? Jumhur berpendapat talak tersebut dianggap sah dengan berdalil pada hadits, “Dan, pada riwayat yang lainnya dari Al-Bukhari: Dan, telah dihitung satu kali talak.” Maksudnya, dia menganggapnya satu kali dari tiga kali talak yang menjadi hak suami. Akan tetapi, pelakunya di sini tidak disebut secara eksplisit. Jika pelakunya adalah Ibnu Umar, maka tidak ada hujjah di dalamnya, dan jika dia adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau sebagai hujjah. Hanya saja dalam riwayat yang lain, pelakvinya disebut secara eksplisit. Seperti yang terdapat dalam Musnad Ibni Wahab dengan redaksi: Ibnu Abi Dzi’b menambahkan dalam hadits ini dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “. ..dan itu adalah satu (talak)”. Dan, Ad-Daraquthni meriwayatkan dari hadits Ibnu Abi Dzi’b dan Ibnu Ishak, semuanya diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda, “Itu adalah satu (talak).”

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa yang menghitung adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari beberapa jalur periwayatan yang masing-masing riwayat saling menguatkan yang lainnya.

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan: Ibnu Umar berkata (ketika ditanya oleh seorang penanya), “Adapun jika kamu menceraikannya sekali atau dua kali, maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyuruhku untuk merujuknya lalu menahannya sampai dia haid sekali lagi. Sedangkan jika kamu menceraikannya tiga kali (sekaligus), maka kamu telah berbuat maksiat kepada Tuhanmu dalam hal menceraikan isterimu sesuai yang diperintahkan-Nya kepadamu.”

Hadits ini menunjukkan haramnya menjatuhkan talak pada saat haid. Dan, ucapan Ibnu Umar, “beliau telah menyuruhku untuk merujuknya ” bisa pula menunjukkan tentang jatuhnya talak mengingat rujuk merupakan bagian dari terjadinya talak itu, dan mengenai hal itu ada pembahasan tersendiri. Namun, Thawus, kelompok Khawarij dan Rafidhah (Syi’ah) menyelisihi pendapat jumhur ini, dan itu telah disiny alir dalam kitab Al-Bahr dari Al-Baqir dan An-Nashir. Merekaberpendapat, tidak terjadi apa pun (tidak jatuh talak), dan pendapat ini didukung oleh Ibnu Hazm dan ditarjih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Mereka berdalil kepada hadits, “Dan, dalam riwayat lain (yakni, dari Muslim dari Ibnu Umar) Abdullah bin Umar berkata, “Maka, beliau (Nabi) pun mengembalikannya (urusan ini) kepadaku dan tidak berpendapat apa-apa tentangnya. Beliau berkata, “Apabila si isteri telah suci, maka hendaknya dia menceraikan atau menahannya (tetap menjadikannya sebagai isteri).” Kalimat yang senada ada dalam riwayat Abu Dawud, “Maka, beliau pun mengembalikannya (urusan ini) kepadaku dan tidak berpendapat apa-apa tentangnya.” Isnadnya sesuai dengan syarat kitab Shahih. Hanya saja, Ibnu Abdil Bar berkata, “Ucapan Ibnu Umar, “Dan beliau tidak berpendapat apa-apa tentangnya”, ini merupakan hadits mungkar, dan tidak ada yang mengucapkannya selain Abu Zubair. Dan, bukanlah termasuk hujjah kalimat senada dengannya yang bertentangan dengan pendapat jumhur dalam masalah ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang lebih kuat darinya [dalam meriwayatkan hadits]? Kalaupun itu shahih, niscaya maknanya, “Dan, beliau tidak berpendapat suatu apa pun yang lurus (benar) tentangnya, mengingat hal itu tidak terjadi menurut sunnah.”. Wallahu A’lam.

Al-Khitihabi berkata, “Para Ahli hadits berkata, ‘Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan hadits yang lebih mungkar dari hadits ini.’ Dan, bisa jadi maknanya, beliau tidak berpendapat suatu apa pun tentangnya yang disertai keharaman rujuk. Atau, beliau tidak berpendapat sesuatu tentangnya yang boleh saja menurut sunnah dan berlalu sesuai pilihan, meskipun hal itu wajib baginya.”

Al-Baihaqi dalam kitab Al-Ma’rifah menukil dari Asy-Syafi’i bahwa dia telah menyebutkan sebuah riwayat Abu Zubair. Maka, dia berkata, “Nafi’ lebih kuat daripada Abu Zubair. Dan, yang paling kuat dari kedua hadits ini adalah yang paling layak untuk diambil apabila keduanya saling berlawanan, dan perawi-perawi kuat lainnya telah sepakat dengan Nafi’.

Mereka berkata, “Ucapan Ibnu Umar, “.. .dan beliau tidak berpendapat apa pun tentangnya” dapat diartikan bahwa beliau tidak mengang gapnya sebagai sesuatu yang benar, tetapi tidak juga salah. Bahkan, pelakunya diperintah untuk tidak berpedoman kepadanya. Karena, Nabi menyuruhnya untuk rujuk. Seandainya dia menceraikannya dalam keadaan suci, tentu dia tidak diperintah demikian. Maka, dia -lebih seperti yang diucapkan kepada seseorang ketika berbuat kesalahan dalam pekerjaannya atau salah dalam jawabannya-, bahwa dia tidak bisa apa-apa, yakni, tidak berbuat sesuatu yang benar. Dan, Ibnul Qayyim di dalam kitab Al-Huda telah berbicara panjang lebar untuk membela pendapat tentang tidak jatuhnya talak ini. Akan tetapi, setelah nyata-nyata bahwa Nabi Shallallahu Alaihi zva Sallam menghitungnya sebagai satu kali talak, maka segenap kata-kata menjadi sirna dan segala karya menjadi sia-sia. Dan, kami pernah berfatwa tentang tidak jatuhnya talak ini dan telah menulis satu risalah tentangnya. Kami sempat berhenti (tawaqquf) sesaat, lalu kami pun berpendapat tentang jatuhnya talak tersebut.

Itulah (pendapat) yang kuat menurutku. Apa yang mula-mula saya fatwakan tentang tidak jatuhnya talak menurut beberapa dalil yang kuat, semuanya telah kami sampaikan dalam sebuah risalah yang kami berijudul Ad-Dalil Asy-Syar’i Fi Adami Wuqu’i Ath-Thalaqi Al-Bid’u (Dalil Syar’i tentang Tidak Jatuhnya Talak Bid’i).

Di antara dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa talak bid’i dinisbatkan kepada bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan kesesatan itu tidak masuk dalam cakupan hukum syar’i dan tidaklah terjadi kepadanya, melainkan dia adalah batil. Dan, karena para perawi hadits Ibnu Umar ini telah bersepakat, bahwa musnad yang marfu’ dalam hadits ini tidak tersebut bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menganggap talak (bid’i) tersebut kepada Ibnu Umar, dan beliau pun tidak berkata kepadanya, “Telah jatuh (talak)”; dan Ibnu Umar tidak meriwayatkannya secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi). Namun, dalam Shahih Muslim ada pernyataan yang menunjukkan bahwa jatuhnya talak (bid’i) tersebut lebih sebagai pendapat Ibnu Umar sendiri, dan bahwa dia telah ditanya tentang hal itu lalu menjawab, “Dan, tidak berarti aku tidak menganggapnya, meskipun aku benar-benar tidak kuasa dan tidak tahu.”

Ini menunjukkan bahwa dia tidak tahu ada nash nabawi (teks hadits) mengenai hal itu. Karena, kalaupun riwayatnya ini tidak diabaikan dan berhubungan dengan ‘illah yang sangat lemah, maka kelemahan dan ketidaktahuan di sini tidak mempunyai keterkaitan dengan sahnya talak. Kalaulah dia punya nash nabawi, niscaya dia berkata, “Dan, tidak berarti aku tidak menganggapnya, dan sungguh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyuruhku untuk menganggapnya.” Imam Muhammad bin Ibrahim Al-Wazir Rahimahullah menjelaskan bahwa para perawi hadits telah bersepakat mengenai tidak di-marfu’-kannya hadits tentang jatuhnya talak (bid’i) dalam riwayat ini kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sayyid Muhammad Rahimahullah telah menyampaikan 16 argumen tentang tidak jatuhnya talak bid’i, dan kami pun telah merangkumnya dalam risalah kami tersebut. Setelah itu, kamu pun tahu penarikan pendapat kami dari apa yang ada di situ. Maka, hal ini dapat ditemukan dalam naskah kitab Subulus Salam.

Adapun pendapat mengenai jatuhnya (talak bid’i) dengan berdalil kepada sabda Nabi, “maka, hendaknya dia merujuknya kembali”, karena tidak ada rujuk kecuali setelah talak, maka pendapat itu tidaklah kokoh. Karena, rujuk yang ditaqyid (diikat) setelah talak merupakan tradisi syar’i belakangan, karena dia sebagai term atau bahasan yang lebih umum daripada talak itu sendiri.

Hadits ini menjelaskan tentang haramnya menjatuhkan talak pada waktu istri dalam keadaan haid, dan bahwa rujuk merupakan hak prerogative suami tanpa harus minta restu (persetujuan) istri maupun wali, karena talak tersebut diperuntukkan baginya, dan juga berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ}

“Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu…” (QS. Al-Baqarah: 228)

Juga, bahwa wanita yang sedang hamil itu tidak mengeluarkan darah haid berdasarkan sabda Nabi, “..dalam keadaan sedang suci atau hamil”. Maka, teks ini menunjukkan bahwa wanita yang sedang hamil tidak mengeluarkan darah haid mengingat boleh dijatuhkannya talak pada saat itu. Argumen ini dibantah bahwa haid wanita hamil ketika tidak berpengaruh dalam memperpanjang masa iddah, maka haid tersebut tidak dianggap. Karena, masa iddahnya dengan melahirkan kandungan. Juga, bahwa al-qur’u dalam masa iddah itu berarti suci.

Al-Ghazali berkata, “Terkecuali dari pengharaman talak sewaktu haid adalah talak wanita yang khulu’, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menguraikan kondisi istri Tsabit, apakah dia sedang suci atau haid sewaktu beliau menyuruhnya bercerai. Asy-Syafi’i berpendapat, bahwa tidak adanya rincian dalam kondisi serba mungkin ini, berarti punya makna umum dalam konteks perkataan.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *