[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 335

08. KITAB NIKAH – 08.06. BAB KHULU’ 01

Khulu’ adalah talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya atas permintaan sang istri dengan pemberian harta dari istri sebagai tebusan atas dirinya. Makna kata khulu’ diambil dari khal’i ats-tsaub [melepaskan baju], karena wanita adalah pakaian bagi laki-laki, ini adalah makna majazi. Kata khulu’ adalah bentuk masdar yang didhammahkan untuk membedakan antara bentuk masdar haqiqi dan majazi. Istilah khulu’ berasal dari firman Allah Ta’ala,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ}

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (QS. Al-Baqarah: 229)

0990

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعِيبُ عَلَيْهِ فِي خُلُقٍ وَلَا دِينٍ، وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلَامِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ فَقَالَتْ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: اقْبَلْ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: «، وَأَمَرَهُ بِطَلَاقِهَا» – وَلِأَبِي دَاوُد، وَالتِّرْمِذِيِّ، وَحَسَّنَهُ: «أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ اخْتَلَعَتْ مِنْهُ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عِدَّتَهَا حَيْضَةً»

990. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa istri Tsabit bin Qais menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit bin Qais dalam hal akhlak dan agama, namun aku tidak suka durhaka (kepada suami) setelah masuk Islam. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apakah engkau mengembalikan kebun kepadanya? Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah bersabda kepada Tsabit bin Qais, “Terimalah kebun itu dan ceraikanlah ia.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5273)]

Dalam riwayatnya yang lain: beliau menyuruh Tsabit bin Qais untuk menceraikannya.

[shahih, Al-Bukhari (5274)]

Menurut riwayat Abu Dawud dan hadits yang dihasankan oleh At-Tirmidzi: bahwa istri Tsabit bin Qais meminta kepada Rasulullah agar diceraikan dari suaminya, lalu beliau menetapkan masa iddahnya satu kali masa haidh.”

[Shahih: Abi Dawud (2229)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Tsabit bin Qais adalah seorang sahabat dari keturunan Khazraji, Anshari. Ikut serta perang Uhud dan peperangan sesudahnya. Termasuk pemuka shahabat, orator bagi orang-orang Anshar dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam serta mendapatkan predikat ahli surga dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa istri Tsabit bin Qais (menurut Al-Bukhari, istri Tsabit namanya Jamilah. Menurut Ikrimah secara mursal, Al-Baihaqi meriwayatkan, bahwa nama istri Tsabit adalah Zainab binti Abdullah bin Ubai bin Salul. Ada juga yang mengatakan, bahwa namanya bukanlah seperti yang telah tersebut) menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit bin Qais dalam hal akhlak dan agama, namun aku tidak suka durhaka (kepada suami) setelah masuk Islam. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apakah engkau mengembalikan kebun kepadanya? Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah bersabda kepada Tsabit bin Qais, “Terimalah kebun itu dan ceraikanlah ia.” (HR. Al-Bukhari) Dalam riwayatnya yang lain: beliau menyuruhnya untuk menceraikan. Menurut riwayat Abu Dawud dan hadits yang dihasankan oleh menurut At-Tirmidzi (yaitu hadits dari Ibnu Abbas) bahwa istri Tsabit bin Qais meminta kepada Rasulullah agar diceraikan dari suaminya, lalu beliau menetapkan masa iddahnya satu kali masa haidh.”

Perkataannya istri Tsabit, “Namun aku tidak suka durhaka (kepada suami) setelah masuk Islam”, maksudnya aku tidak suka tinggal dengannya karena bisa menyebabkan aku melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti durhaka, benci terhadap suami dan lainnya. Ungkapannya “apa-apa yang bertentangan dengan ajaran Islam adalah perbuatan orang kafir” berlebih-lebihan, tapi mungkin juga berarti lain.

Sabda Rasulullah, “Kebunnya”, yakni ladang untuk bertani. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Tsabit bin Qais menikahinya dengan mahar kebun kurma.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang mensyari’atkan dan mengesahkan khulu’, yang berarti membolehkan mengambil harta dari istri. Ulama berbeda pendapat, apakah disyaratkan sahnya khulu’ karena sang istri adalah seorang wanita yang durhaka ataukah tidak?

Al-Hadi, Azh-Zhahiriyyah dan Ibnu Al-Mundzir berpendapat, bahwa sahnya khulu’ harus disyaratkan sang istri durhaka kepada suami; berdasarkan kisah Tsabit ini, bukankah istri bila meminta cerai itu perbuatan durhaka, dan juga firman Allah, “Kecuali jika keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (QS. Al-Baqarah: 229), dan, “Terkecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata.” (QS. Al-Baqarah: 19).

Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Al-Muayyid dan Jumhur ulama berpendapat: tidak disyaratkan durhaka, maksudnya dengan kerelaan dari kedua belah pihak dan keadaan rumah tangga yang damai. Harta (ganti) itu dihalalkan berdasarkan firman Allah, “Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu pembagian dari maskawin itu dengan senang hati” (QS. An-Nisaa’: 4), dan belum dipisah ketika ayat ini turun, dan berdasarkan hadits, “kecuali dengan kerelaannya” mereka beralasan: hadits Tsabit ini tidak ada keterangan yang mensyaratkan khulu’, demikian juga ayat tersebut berdasarkan pada kemungkinan karena kekhawatiran itu masih prasangka, penentuannya apakah itu benar atau tidak di kemudian hari diketahui, itu menunjukkan bahwa khulu’ dibolehkan walaupun kehidupan rumah tangga damai dan selalu melaksanakan ketentuan Allah.

Ada juga yang berpendapat: mungkin maksud ayat itu adalah keduanya mengetahui tidak akan ketentuan perintah Allah, berdasarkan apa mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Ada juga yang mengatakan: pengetahuan tentang sifatnya bukan berarti dia tidak akan durhaka di kemudian hari, jadi maksudnya adalah saya tidak yakin jika tetap tinggal dengannya apakah bisa melaksanakan perintah Allah di kemudian hari, bila demikian penafsiran ayat tersebut; maka kedua ayat itu sama-sama tidak mensyaratkan perilaku durhaka bila ingin khulu’.

Hadits ini membolehkan suami untuk mengambil kembali mahar atau pemberian yang telah diserahkan kepada istri. Ulama berbeda pendapat: apakah boleh ditambah atau tidak? Malik dan Asy-Syafi’i membolehkan tambahan apabila sifat durhaka itu dari pihak istri, Malik berkata, “Saya dengar bahwa fidyah (tebusan) itu boleh dengan mahar dan tambahan lebih banyak berdasarkan firman Allah, “Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya” (QS. Al-Baqarah: 229). Ibnu Bathal berkata, “Jumhur ulama membolehkan bagi suami untuk mengambil harta (mahar) dari istri lebih banyak daripada yang diberikan.” Malik menambahkan, “saya belum mendapatkan seseorang melarang hal tersebut, namun perbuatan itu bukan termasuk akhlak yang mulia.” Sedangkan riwayat: “jangan meminta lebih dari itu” belum ditetapkan bahwa tambahan itu marfu’ (berasal dari Nabi). Atha’, Thawus, Ahmad, Ishaq, Al Hadawiyyah dan lainnya: tidak membolehkan tambahan dari mahar tersebut berdasarkan hadits bab. Dan juga ada riwayat: “jangan meminta lebih dari itu” tambahan hadits itu diriwayatkan Al-Baihaqi, Ibnu Majah dari Ibnu Juraij dari Atha’ mursal di akhir hadits bab.

Ad-Daraquthni meriwayatkan hadits yang sama, yang menerangkan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Apakah engkau mau mengembalikan keban kepadanya?” Dia menjawab, “Apakah harus ditambah, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: “Tidak….'(Al-Hadits).

Para perawinya tsiqah (dapat dipercaya) hanya saja hadits ini mursal. Yang membolehkan tambahan membantah dalil yang dikemukakan bahwa hadits dalam bab ini tidak menunjukkan, baik untuk membolehkan ataupun meniadakan tambahan harta selain mahar, dan hadits , “Tidak ditambah” sudah dijawab bahwa hadits itu mursal, seandainya hadits itu benar-benar marfu’ mungkin hanya meminta pendapat dari Nabi yang tidak mewajibkan tambahan atasnya, bukan pemberitahuan yang mengharamkan suami meminta tambahan.

Sedangkan perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menceraikannya adalah sebagai bentuk pembelajaran dan bukan wajib dilaksanakan sebagaimana salah satu pendapat yang menafsirkan tentang hal itu. Zhahir hadits menunjukkan bahwa itu adalah perintah yang wajib dilaksanakan, berdasarkan firman Allah, “Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikannya dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah: 229), yang maksudnya: dia harus memilih antara dua hal tersebut (tetap mempertahankan rumah tangga atau menceraikan). Pada kisah hadits, tidak mungkin dipahami kalau dia mempertahankan rumah tangga; karena istrinya meminta cerai, maka pasti dia akan menceraikan istrinya (perintah Nabi wajib dilaksanakan dan bukan sebatas pembelajaran). Kemudian dari zhahir hadits bahwa khulu’ bisa dengan lafazh talak, karena dilakukan dengan tebusan harta (mengembalikan mahar), maka talak itu dinamakan dengan khulu’.

Ulama berbeda pendapat jika talak dengan lafazh khulu’. Al-Hadawiyyah dan Jumhur ulama berpendapat bahwa itu adalah talak, dengan dalil bahwa lafazh itu hanya suami yang mengucapkan, maka dinamakan talak, sebab jika itu fasakh membatalkan pernikahan keduanya tentu tidak dibolehkan memberikan selain mahar, dan itu dibolehkan jumhur ulama, baik dengan tambahan sedikit ataupun banyak, maka hal itu dinamakan talak.

Ibnu Abbas dan yang lainnya berpendapat bahwa itu adalah fasakh (membatalkan pernikahan) dan pendapat inilah yang masyhur dalam madzhab Ahmad, dengan dalil bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan masa iddahnya satu kali masa haidh. Al-Khaththabi berpendapat: inilah dalil kuat yang menerangkan bahwa khulu’ adalah fasakh yang membatalkan pernikahan dan bukan talak, sebab kalau dinamakan talak tentu tidak cukup masa iddahnya satu kali haidh.

Yang berpendapat bahwa khulu’ adalah fasakh menambahkan dalil dari firman Allah, “Talak {yang dapat dirujuk) itu dua kali.” (QS. Al-Baqarah: 229), kemudian menyebutkan tentang tebusan. Firman Allah, “Kemudian jika si suami mentalaknya (sudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya, hingga dia kawin dengan suami yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 230), kalau memberikan tebusan untuk menceraikannya dinamakan dengan talak juga, tentu talak yang tidak boleh rujuk kecuali bila telah menikah dinamakan dengan talak yang ke 4.

Dalil-dalil ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang ditanya seseorang yang menceraikan istrinya dua kali lalu dia menceraikannya atas mahar yang dikembalikan, Ibnu Abbas menjawab: “Ya” boleh dinikahi lagi (dengan keridhaannya) karena khulu’ bukan talak, karena Allah sudah menyebutkan tentang talak di awal ayat dan akhirnya. Sedangkan tentang khulu’ sebelum keduanya dan tidak sama, lalu melanjutkan dengan firman Allah, “Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali.” (QS. Al-Baqarah: 229), kemudian membaca Firman Allah, “Kemudian jika si suami mentalaknya (sudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya, hingga dia kawin dengan suami yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 230), kami sudah menetapkan bahwa bahwa kata “talak” di ayat bukanlah talak tapi khulu’ dalam kitab Minhah Al-Ghafar dan dalam hasyiyah (catatan kaki) Dhau’ An-Nahar.

Dalam kitab itu, kami menjelaskan dalil-dalil yang menerangkan maksud ayat tersebut. Kemudian yang berpendapat: bahwa maksud ayat itu adalah talak, mengatakan bahwa itu adalah talak ba’in; karena bila suami bisa rujuk kembali, tentu tidak ada faedahnya tebusan harta yang diberikan untuk menceraikannya. Para fuqaha’ mempunyai pembahasan yang luas dalam masalah ini, perincian yang detail dalam kitab-kitab fiqih yang berkaitan dengan khulu’, maksudnya kami hanya menerangkan apa yang dimaksud hadits bab dan menambahkan apa yang perlu diketahui.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *