[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 33

01.09. BAB TAYAMUM 03

0125

125 – «وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ {وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ} [المائدة: 6] قَالَ: إذَا كَانَتْ بِالرَّجُلِ الْجِرَاحَةُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْقُرُوحُ، فَيُجْنِبُ، فَيَخَافُ أَنْ يَمُوتَ إنْ اغْتَسَلَ: تَيَمَّمَ» ، رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ مَوْقُوفًا، وَرَفَعَهُ الْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ

125. Dari Ibnu Abbas RA tentang firman Allah SWT, “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan”, beliau mengatakan, “Apabila seseorang kena luka di jalan Allah dan berpenyakit kudis, lalu dia junub, tetapi dia takut akan mati jika ia mandi, maka dia boleh bertayamum.” (HR. Ad Daruquthni secara mauquf dan dinyatakan marfu oleh Al Bazzar, sedang Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim menilainya hadits shahih)

[Dhaif: Al Mustadrak 1/270, Ibnu Khuzaimah 1/128, Dhaif Al Jami 647]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Ibnu Abbas RA tentang firman Allah SWT, “Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan”, beliau mengatakan, “Apabila seseorang kena luka di jalan Allah (yaitu jihad) dan berpenyakit kudis, (yakni, bintik-bintik yang muncul di badan seperti cacar atau semacamnya) lalu dia junub, (dia ditimpa junub) tetapi dia takut (yakni menyangka) akan mati jika ia mandi, maka dia boleh bertayamum.” (HR. Ad Daruquthni secara mauquf (atas Ibnu Abbas) dan dinyatakan marfu (sampai Nabi SAW) oleh Al Bazzar, sedang Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim menilainya hadits shahih)

Abu Zur’ah dan Abu Hatim mengatakan, Ali Ibnu Ashim salah dalam masalah ini. Al Bazzar mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada orang tsiqah yang menyatakan sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW dari Atha’ kecuali Jarir”. Ibnu Main mengatakan bahwa dia mendengar dari Atha’ setelah Atha’ rancu hafalannya (pikun), maka dengan demikian kemarfu’an hadits ini tidak jelas.

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini terkandung dalil disyariatkannya tayamum bagi orang yang junub, kalau dia khawatir akan mati menggunakan air, tetapi kalau hanya sebatas taku bahaya saja, maka firman Allah SWT: “dan jika kamu sakit” menunjukkan kebolehan tayamum bagi orang sakit, bik karena khawatir akan mati, ataupun yang lainnya. Penetapan luka dan kudis dalam hadits Ibnu Abbas itu hanya sekedar contoh, karena semua penyakit sama-sama berbahaya, mungkin juga Ibnu Abbas mengkhususkan kedua jenis penyakit itu di antara berbagai penyakit. Begitu juga penyebutan di jalan Allah hanya sekedar contoh, karena seandainya luka itu akibat terjatuh, maka hukumnya sama, dan karena itu hanya sekedar contoh, maka boleh tayamum karena takut adanya bahaya.

Jika tidak maka perkataan Ibnu Abbas, ‘Khawatir akan mati’, menunjukkan bahwa tayamum tidak sah kecuali karena takut mati. Demikian menurut pendapat Ahmad dan salah satu dari dua pendapat Asy-Syafi’i. sedang Al Hadawiyah, Malik dan salah satu dari dua pendapat Asy-Syafi’i dan Al Hanafiyah, membolehkan tayamum karena takut bahaya, dengan alasan keumuman ayat di atas. Daud dan Al Manshur berpendapat boleh tayamum bagi orang yang sakit, sekalipun dia tidak takut akan adanya bahaya, sesuai dengan zhahirnya ayat tadi.

0126

126 – وَعَنْ «عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: انْكَسَرَتْ إحْدَى زَنْدَيَّ فَسَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَأَمَرَنِي أَنْ أَمْسَحَ عَلَى الْجَبَائِرِ» . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ وَاهٍ جِدًّا

126. Dari Ali RA, ia berkata, “Salah satu pergelangan tanganku patah, maka aku tanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, lalu beliau menyuruhku untuk mengusap di atas perban.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad lemah sekali)

[Dhaif Jiddan: Ibnu Majah 663]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Salah satu pergelangan tanganku patah, (yaitu persendian antara lengan bawah dan telapak tangan) maka aku tanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, (yaitu tentang yang wajib dilakukan ketika berwudhu dalam kondisi tersebut) lalu beliau menyuruhku untuk mengusap di atas perban.”(yaitu, pembalut tulang yang patah)

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang lemah sekali. Yakni, aku mendapatkan ia sangat lemah sekali.

Al Jidd adalah penelitian, sebagaimana yang dikatakan di dalam Al Qamus, maksudnya saya meneliti kedhaifan hadits dan benar-benar mendapatkan kelemahannya. Yahya bin Ma’in, Ahmad dan lainnya mengingkari hadits ini. mereka mengatakan demikian karena hadits itu dari riwayat Amr bin Khalid Al Wasithi, seorang pembohong besar.

Diriwayatkan juga oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi dari dua sanad yang lebih lemah.

An Nawawi mengatakan, “Para Hafizh telah sepakat akan kedhaifan hadits di atas.” Asy-Syafi’i mengatakan, “Seandainya aku mengetahui sanadnya shahih, aku akan shahihkan, hadits ini termasuk di antara hadits yang aku istikharahkan kepada Allah.”

Ada beberapa hadits yang senada dengan hadits tersebut, tetapi menurut Al Baihaqi tidak satu pun yang shahih, kecuali hadits berikut:

0127

127 – «وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي الرَّجُلِ الَّذِي شُجَّ، فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ – إنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ، وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِسَنَدٍ فِيهِ ضَعْفٌ، وَفِيهِ اخْتِلَافٌ عَلَى رُوَاتِهِ.

127. Dari Jabir RA tentang orang yang luka kepalanya, lalu dia mandi dan meninggal, (maka Nabi SAW bersabda), “cukup baginya bertayamum dan membalut lukanya dengan secarik kain, kemudian dia mengusap di atasnya dan mencuci sekujur tubuhnya. (HR. Abu Daud dengan sanad lemah, dan terdapat perbedaan pendapat tentang perawi hadits ini)

[Hasan tanpa kalimat ‘cukup baginya…’, Abu Daud 336]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Az Zubair bin Khuraiq sendirian, sehingga Ad Daruquthni mengatakan, ‘ia bukan orang yang kuat’, dan saya katakan, ‘Adz Dzahabi pernah mengatakan, bahwa dia orang yang jujur.’

Terjadi perbedaan pendapat tentang perawi hadits ini, yaitu Atha’, bahwa Az Zubair bin Khuraiq meriwayatkan hadits dari Atha’ dari Jabir, dan Al Auza’i meriwayatkannya dari Atha’ dari Ibnu Abbas, perbedaan ini terjadi pada periwayatan Atha’, apakah riwayat dia itu dari Jabir atau dari Ibnu Abbas? Terdapat pada salah satu riwayat tersebut yang tidak terdapat pada riwayat lainnya.

Hadits ini, dan hadits dari Ali yang pertama saling menguatkan dalam hal wajibnya mengusap bagian atas pembalut dengan air, dan terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama pada masalah ini. ada yang mengatakan wajib mengusap, berdasarkan kedua hadits tersebut, sekalipun keduanya lemah tetapi saling menguatkan, dan karena anggota wudhu tersebut sulit dicuci dengan air, maka boleh mengusap bagian luarnya saja seperti kepala, dan diqiyaskan pada mengusap bagian atas sepatu (khuff) dan sorban, qiyas ini memperkuat nash.

Saya katakan, “orang yang berpendapat boleh mengusap bagian atas khuf, pasti akan menguatkan bolehnya mengusap bagian luar pembalut, inilah yang nampak.”

Di dalam hadits Jabir terkandung dalil yang membolehkan menggabungkan antara tayamum, mengusap pembalut dan mandi, tapi hal ini menimbulkan problem dalam masalah penggabungan antara tayamum dengan mandi. Ada yang mengatakan, dapat dipahami bahwa anggota-anggota wudhu atsar terluka maka tidak dapat diusapkan dengan air, maka dia mesti tayamum, kemudian menuangkan air ke bagian lain dari badannya. Sedangkan bila luka itu berada di kepala yang seharusnya dibasahi dengan air, tetapi terhalang karena adanya luka, maka dia wajib membalutnya lalu mengusap bagian atasnya.

Akan tetapi, penulis berkata dalam At Talkhish, bahwa tidak disebutkan kata tayamum dalam riwayat Atha’ dari Ibnu Abbas, maka jelaslah bahwa Az Zubair bin Khuraiq meriwayatkannya sendirian, sebagaimana telah diingatkan oleh Ibnu Qaththan. Kemudian dia juga mengatakan, dalam riwayat Atha’ tidak ada penyebutan mengusap bagian atas pembalut, berarti termasuk di antara hadits yang diriwayatkan oleh Az Zubair sendirian.

Penulis mengatakan tentang hadits Jabir yang menunjukkan bahwa sabda beliau SAW, “cukup bagimu tayamum” tidak marfu, padahal ternyata marfu’, hal ini terjadi karena ketika penulis meringkasnya, luputlah kalimat yang menunjukkan bahwa hadits tersebut marfu.

Dalam hadits ini terdapat satu kisah yang lafazhnya milik Abu Daud, dari Jabir:

«خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلًا مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ: هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً عَلَى التَّيَمُّمِ؟ قَالُوا: مَا نَجِدُ لَك رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ، فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ أَلَا سَأَلُوا إذْ لَمْ يَعْلَمُوا؟ فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِبَ – شَكَّ مُوسَى – عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ» إلَى آخِرِهِ

Kami pernah keluar dalam sebuah perjalanan, lalu salah seorang di antara kami terkena batu pada kepalanya yang membuatnya terluka serius. Kemudian dia bermimpi junub, maka dia bertanya kepada para sahabatnya; Apakah ada keringanan untukku agar saya bertayammum saja? Mereka menjawab; Kami tidak mendapatkan keringanan untukmu sementara kamu mampu untuk menggunakan air, maka orang tersebut mandi dan langsung meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diberitahukan tentang kejadian tersebut, maka beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak mengetahui, karena obat dari kebodohan adalah bertanya! Sesungguhnya cukuplah baginya

Kami pernah keluar dalam sebuah perjalanan, lalu salah seorang di antara kami terkena batu pada kepalanya yang membuatnya terluka serius. Kemudian dia bermimpi junub, maka dia bertanya kepada para sahabatnya; Apakah ada keringanan untukku agar saya bertayammum saja? Mereka menjawab; Kami tidak mendapatkan keringanan untukmu sementara kamu mampu untuk menggunakan air, maka orang tersebut mandi dan langsung meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau diberitahukan tentang kejadian tersebut, maka beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak mengetahui, karena obat dari kebodohan adalah bertanya! Sesungguhnya cukuplah baginya…. dan seterusnya.

0128

128 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: «مِنْ السُّنَّةِ أَنْ لَا يُصَلِّيَ الرَّجُلُ بِالتَّيَمُّمِ إلَّا صَلَاةً وَاحِدَةً، ثُمَّ يَتَيَمَّمَ لِلصَّلَاةِ الْأُخْرَى» . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ جِدًّا

128. Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, ‘Termasuk sunnah Rasulullah SAW, bahwa seseorang melaksanakan shalat dengan tayamum hanya untuk sekali shalat saja, kemudian dia bertayamum lagi untuk shalat yang lain.” (HR. Ad Daruquthni dengan sanad yang lemah sekali)

[Dhaif: Ad Daruquthni 1/185]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Termasuk sunnah Rasulullah SAW (maksudnya cara yang disyariatkannya), bahwa seseorang melaksanakan shalat (demikian pula perempuan) dengan tayamum hanya untuk sekali shalat saja, kemudian dia bertayamum lagi untuk shalat yang lain

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dengan sanad yang dhaif. Karena termasuk riwayat Al Hasan bin Imarah. Ia adalah seorang yang lemah sekali.

Dalam bab ini, terdapat dua hadits lemah dari Ali dan Ibnu Umar, dan apabila dikatakan sesungguhnya atsar Ibnu Umar lebih shahih, maka ia termasuk mauquf, sehingga semuanya tidak dapat dijadikan hujjah.

Pada dasarnya Allah SWT telah menjadikan tanah untuk menggantikan kedudukan air, dan sudah maklum bahwasanya tidak wajib berwudhu dengan air kecuali adaanya hadats, maka tayamum pun demikian. Itulah pendapat sekelompok ulama hadits dan yang lainnya, dan merupakan dalil yang paling kuat.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *