[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 32

01.09. BAB TAYAMUM 02

0121

121 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ: ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ، وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ» . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَصَحَّحَ الْأَئِمَّةُ وَقْفَهُ

121. Dari Ibnu Umar RA, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tayamum itu dua kali tepukan, sekali tepukan untuk muka, dan sekali tepukan lagi untuk kedua tangan, sampai kedua siku.” (HR. Ad Daruquthni) para imam menshahihkan kemauqufan hadits ini.

[Dhaif: Adh Dhaifah 3427-ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Ad Daruquthni berkata di dalam kitab sunannya, setelah meriwayatkan hadits ini, “Hadits tersebut dinilai mauquf oleh Yahya Al Qaththan, Hasyim dan ulama lainnya, dan itulah yang benar.” Oleh sebab itu penulis berkata, “ulama hadits membenarkan kemauqufan hadits tersebut, yaitu pada Ibnu Umar saja.” Mereka berkata, ‘Kalimat di atas adalah ucapan Ibnu Umar sendiri, dan terbuka peluang untuk berijtihad dalam masalah tersebut.”

Ada beberapa riwayat senada, yang semuanya tidak shahih, jika tidak mauquf berarti dha’if, sehingga yang bisa dijadikan pegangan hanya hadits dari Ammar, dan dengan itu pula yang ditegaskan oleh Al Bukhari dalam shahihnya, beliau menulis dalam kitabnya “Bab Tayamum untuk muka dan kedua telapak tangan”.

Penyusun kitab Al Fath berkata, “Itulah yang wajib dan sah”, Al Bukhari mengemukakannya dengan tegas seperti itu –meskipun terdapat perbedaan yang sangat masyhur –lantaran kekuatan dalilnya. Sebab hadits-hadits yang menjelaskan praktek tayamum tidak ada yang shahih kecuali hadits Abu Juhaim dan Ammar, hadits-hadits selain dua hadits tersebut lemah atau diperdebatkan, apakah hadits tersebut marfu atau mauquf. Dan yang rajih adalah hadits tersebut tidak marfu.

Hadits dari Juhaim menyebutkan dengan lafazh al yadain (kedua tangan) secara global, sedang hadits Ammar menyebutkan dengan lafazh al kaffain (kedua telapak tangan) di dalam Ash-Shahihain, dan dengan lafazh al mirfaqain (dua siku) dalam kitab As Sunan, dan dalam satu riwayat, ‘hingga separuh hasta’, dalam riwayat lain ‘hingga ketiak’.

Mengenai riwayat ‘hingga kedua siku’ dan ‘hingga separuh hasta’, masih ada perdebatan, sedang riwayat ‘hingga ketiak’, Asy-Syafi’i dan ulama lainnya mengatakan, jika itu terjadi karena perintah Rasulullah SAW, maka setiap tayamum yang sah dari Nabi SAW sesudahnya itu menasakh perbuatan beliau sebelumnya. Jika bukan perintah beliau, maka yang menjadi hujjah adalah yang diperintahkannya. Adapun yang menguatkan riwayat dalam Ash-Shahihain tentang pembatasan hanya muka dan kedua telapak tangan saja, bahwa Ammar pernah berfatwa demikian sesudah wafatnya Rasulullah SAW, dan perawi hadits lebih memahami maksud hadits tersebut dari yang lainnya, terlebih seorang shahabat yang mujtahid

0122

122 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «الصَّعِيدُ وُضُوءُ الْمُسْلِمِ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ. فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ» . رَوَاهُ الْبَزَّارُ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ الْقَطَّانِ، لَكِنْ صَوَّبَ الدَّارَقُطْنِيُّ إرْسَالَهُ

122. Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Debu adalah alat bersuci bagi seorang Muslim, sekalipun ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun. Apabila ia telah mendapatkan air, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT, dan menyentuhkan air itu ke kulitnya. (HR. Al Bazzar). Dishahihkan Ibnu Al Qaththan, tetapi Ad Daruquthni membenarkan secara mursal.

[Sanadnya shahih, diriwayatkan Al Bazzar dalam musnadnya, lihat Nashbur Rayah 1/221 –ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW bersabda, “Debu (menurut mayoritas ulama yang dimaksud adalah debuh, sedang menurut yang lainnya dari para ahli lughah adalah permukaan tanah, baik debu atau yang lainnya, sekalipun sebuah batu besar yang tidak berdebu. Masalah ini sudah dibahas sebelumnya) adalah alat bersuci bagi seorang Muslim, sekalipun ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun. (dalam hadits tersebut terkandung dalil penamaan tayamum dengan wudhu) Apabila ia (yaitu seorang Muslim) telah mendapatkan air, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT, dan menyentuhkan air itu ke kulitnya.

Diriwayatkan oleh Al Bazzar dan dishahihkan oleh Al Qaththan. Telah dibahas tentang lafazh kedua nama ini dan penjelasan tentang kondisi kedua perawinya. Akan tetapi Ad Daruquthni membenarkan kemursalannya. Ia mengatakan dalam kitabnya Al Ilal, penilaian bahwa hadits tersebut mursal adalah lebih shahih.

Mengenai sabdanya ‘apabila ia telah menemukan air’, adalah dalil bahwa apabila seseorang sudah mendapati air, maka dia wajib menyentuhkan air ke kulitnya (mandi junub). Pendapat inilah yang dipakai bagi yang mengatakan bahwa debu tidak dapat menghilangkan hadats. Maksudnya, hendaklah ia menyentuhkan air itu ke kulitnya, karena sebelumnya ia junub, maka hal itu tetap wajib baginya. Debu itu hanya membolehkannya melaksanakan shalat, dia kembali ke kondisi junub. Oleh karenanya, mereka mengatakan bahwa dia harus tayamum setiap kali hendak melaksanakan shalat. Dalil mereka adalah hadits Amr bin Ash dan sabda Rasulullah SAW kepadanya:

[أَصَلَّيْت بِأَصْحَابِك وَأَنْتَ جُنُبٌ]

“Kamu shalat dengan shahabat-shahabatmu, padahal kamu masih junub” [shahih: Abu Daud 334]

Dan berdasarkan pertanyaan para shahabat kepada Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Amr shalat dengan mereka, padahal dia sedang junub, lalu beliau mengakui penamaan Amr dengan junub.”

Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa tanah itu sama hukumnya dengan air, dapat menghilangkan jinabat dan membolehkan shalat dengannya berapa saja dia kehendaki. Apabila ia mendapatkan air maka dia tidak wajib mandi, kecuali untuk shalat selanjutnya, dengan alasan bahwa Allah SWT telah menjadikannya sebagai pengganti air, ketika air tidak ada, dan pada prinsipnya ia dapat menggantikannya pada semua hukumnya, tidak dapat keluar dari itu kecuali dengan dalil.

Adapun bila sudah mendapatkan air, maka dia harus mandi, berdasarkan hadits Nabi SAW menamai Amr dengan junub, juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

[فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ]

“Apabila dia telah mendapatkan air, maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah.”

Sesungguhnya yang nampak adalah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mandi setelah ada air, karena ada sebab yang mendahuluinya yakni ketiadaan air, karena menyentuhkannya –lantaran sebab-sebab wajibnya mandi atau berwudhu- telah maklum dari Al Qur’an dan Sunnah. Sementara membangun keyakinan di atas hal yang telah pasti, lebih baik dari mencari penegasan.

0123

123 – وَلِلتِّرْمِذِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ نَحْوُهُ، وَصَحَّحَهُ

123. Dan menurut riwayat At Tirmidzi dari Abu Dzar seperti riwayat sebelumnya dan At Tirmidzi menshahihkannya.

[Shahih: At Tirmidzi 124, Al Irwa 153]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Dzar, namanya adalah Jundub bin Junada. Ia termasuk shahabat yang terkemuka, paling zuhud dan termasuk golongan Muhajirin, dialah orang yang pertama kali menghormati Nabi SAW dengan mengucapkan salam kepada beliau. Ia masuk Islam sejak di Makkah, dan termasuk orang yang kelima masuk Islam. Kemudian beliau kembali kepada kaumnya hingga dia datang ke Madinah menemui Rasulullah SAW setelah perang Khandaq. Lalu ia menetap di Ribdzah setelah Rasulullah SAW wafat, sampai akhirnya ia meninggal dunia di tempat itu pada tahun 32 H, pada masa pemerintahan Utsman. Ibnu Mas’ud menshalatkan jenazahnya, ada yang mengatakan bahwa ia meninggal sepuluh hari setelah itu.

Tafsir Hadits

Ungkapan ‘yang sepertinya’, yakni At Tirmidzi meriwayatkan hadits yang sama dengan hadits dari Abu Hurairah RA, dengan lafazh:

«قَالَ أَبُو ذَرٍّ: اجْتَوَيْت الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِإِبِلٍ فَكُنْت فِيهَا، فَأَتَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقُلْت: هَلَكَ أَبُو ذَرٍّ، قَالَ: مَا حَالُك؟ قُلْت: كُنْت أَتَعَرَّضُ لِلْجَنَابَةِ وَلَيْسَ قُرْبِي مَاءٌ، قَالَ: الصَّعِيدُ طَهُورٌ لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْمَاءَ وَلَوْ عَشْرَ سِنِينَ»

Abu Dzar berkata, “Aku tidak senang tinggal di Madinah, lalu Nabi SAW menyuruhku tinggal di suatu tempat yang bernama Ibl, maka akupun tinggal di sana, hingga aku mendatangi Nabi SAW, lalu aku berkata, ‘Binasalah Abu Dzar’. Nabi SAW bertanya, “Bagaimana keadaanmu”, aku jelaskan, ‘Aku mendapatkan jinabat, sedangkan di dekatku tidak ada air’, Nabi SAW bersabda: “Debu itu alat untuk bersuci bagi orang yang tidak mendapatkan air, walaupun sampai sepuluh tahun.”

Lafazh ‘Dan ia menshahihkannya’ yaitu At Tirmidzi menshahihkan hadits Abu Dzar. Penulis dalam kitab Al Fath mengatakan, ‘hadits tersebut juga dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Ad Daruquthni.’

0124

124 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ – وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا، فَصَلَّيَا، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ: أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ لِلْآخَرِ: لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ.

124. Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, dia berkata, Ada dua orang laki-laki keluar dalam satu perjalanan, lalu datanglah waktu shalat, sedang keduanya tidak memiliki air, lalu keduanya bertayamum dengan debu yang bersih, kemudian shalat, kemudian mereka mendapatkan air di waktu itu juga, salah satunya mengulangi shalat dan wudhu, sedang yang lainnya tidak mengulanginya, lalu keduanya mendatangi Rasulullah SAW dan menjelaskan perihal keduanya kepada beliau, maka Rasulullah SAW bersabda kepada yang tidak mengulangi shalatnya, “engkau telah melakukannya sesuai dengan sunnah dan shalatmu sudah sah”, dan beliau bersabda kepada yang lainnya, “Bagimu pahala dua kali.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

[Shahih: Abu Daud 338]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, dia berkata, Ada dua orang laki-laki keluar dalam satu perjalanan, lalu datanglah waktu shalat, sedang keduanya tidak memiliki air, lalu keduanya bertayamum dengan debu yang bersih, (yakni debu yang bersih lagi halal, Allah SWT mengkhususkannya dengan debu pada dua ayat Al Qur’an, karena memutlakkannya dengan hadits Abu Hurairah RA ditaqyid –dibatasi- dengan beberapa ayat dan hadits) kemudian shalat, kemudian mereka mendapatkan air di waktu itu juga, (yaitu waktu shalat yang mereka telah shalat padanya) salah satunya mengulangi shalat dan wudhu, (biasanya dinamakan dengan mengulangi, kalau tidak dinamakan begitu berarti dia tidak berwudhu, atau tayamum dinamakan wudhu sebagai kiasan saja, sebagaimana hal itu telah dinamakan sebelumnya) sedang yang lainnya tidak mengulanginya, lalu keduanya mendatangi Rasulullah SAW dan menjelaskan perihal keduanya kepada beliau, maka Rasulullah SAW bersabda kepada yang tidak mengulangi shalatnya, “engkau telah melakukannya sesuai dengan sunnah (yaitu cara yang sesuai syariat) dan shalatmu sudah sah” (karena shalat dilaksanakan pada waktunya, sedangkan air tidak ada, maka wajib dia menggunakan debu), dan beliau bersabda kepada yang lainnya, (yakni yang mengulangi shalatnya) “Bagimu pahala dua kali.” (yaitu pahala shalat dengan menggunakan debu –tayamum- dan shalat dengan menggunakan air –wudhu-)

(HR. Abu Daud dan An Nasa’i). dalam Mukhtashar As Sunan karya Al Mundziri, bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh An Nasa’i dengan musnad dan mursal. Abu Daud berkata, bahwa hadits itu mursal dari Atha’ bin Yasar, akan tetapi penulis mengatakan riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Sakan dal kitab Shahih-nya. Hadits itu memiliki syahid dari hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ishaq di dalam Musnad-nya:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَالَ ثُمَّ تَيَمَّمَ فَقِيلَ لَهُ: إنَّ الْمَاءَ قَرِيبٌ مِنْك؛ قَالَ: فَلَعَلِّي لَا أَبْلُغُهُ»

“Bahwa Nabi SAW buang air kecil, lalu beliau tayamum, maka dikatakan kepada beliau, sesungguhnya air ada di dekatmu, beliau menjawab, ‘Mungkin aku tidak bisa sampai ke air itu.’

Tafsir Hadits

Hadits tersebut sebagai dalil tentang kebolehan berijtihad pada masa Rasulullah SAW, dan bahwa tidak wajib mencari dan menunggu air. Hadits tersebut juga menunjukkan tidak wajibnya mengulangi shalat bagi orang yang sudah shalat dengan tayamum kemudian menemukan air pada waktu yang sama setelah ia shalat. Ada yang mengatakan, “Orang yang menemukan air itu mesti mengulangi shalatnya”, berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Apabila dia mendapatkan air hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyentuhkan air ke kulitnya’, sementara orang tersebut sudah mendapatkan air.

Pendapat ini dibantah, bahwa hadits tersebut bersifat mutlak bagi orang yang menemukan air setelah masuknya waktu shalat dan sebelum habisnya waktu shalat tersebut, dan ketika dalam kondisi sedang shalat atau sudah shalat. Sedangkan hadits Abu Sa’id ini mengenai orang yang tidak mendapatkan air pada waktunya ketika dalam kondisi shalat, maka hadits ini muqayyad (membatasi kemutlakan hadits tadi). Keumuman hadits tadi dibatasi oleh hadits Abu Sa’id yang muqayyad, sehingga pengertiannya adalah, apabila Anda mendapatkan air sebelum shalat dalam waktu shalat tersebut, maka Anda harus menyentuhkan air ke kulit Anda. Maksudnya, ketika Anda mendapatkan air, sedang Anda sudah junub sebelumnya. Hadits ini membatasi kemutlakannya, sebagaimana yang telah kami jelaskan.

Orang yang berpendapat mesti mengulagi shalat pada waktu itu juga, menggunakan dalil:

{إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا}

‘… apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah….” (QS. Al-Maidah [5]: 6), bahwa khithab (perintah) tersebut ditujukan ketika waktu shalat masih ada.

Pendapat ini dijawab, bahwa setelah shalat shalat, maka tidak ada lagi khithab yang ditujukan kepada pelakunya, bagaimana shalatnya harus diulang? Padahal Rasulullah SAW bersabda, “shalatmu sudah sah”, kepada shahabat yang tidak mengulangi shalatnya, karena ijza (sudah cukup, sah) merupakan ungkapan tentang suatu perbuatan yang menggugurkan kewajiban untuk mengulangi ibadah. Dan yang benar shalatnya telah dinyatakan sah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *