[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 30

01.08. BAB MANDI DAN HUKUM JUNUB 04

0113

113 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

113. Dari Aisyah RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita yang sedang haidh dan junub.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Dhaif: Abu Daud 232]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid (yakni masuk dan menetap di dalamnya) bagi wanita yang sedang haidh dan junub.

Tafsir Hadits

Mengenai hadits ini, Ibnu Rifa’ah berpendapat bahwa di antara perawinya ada yang matruk. Pendapatnya ini tidak perlu didengarkan karena telah dibantah oleh sebagian ulama.

Hadits tersebut adalah dalil tidak bolehnya perempuan yang sedang haidh dan junub masuk ke dalam masjid, demikianlah menurut pendapat jumhur ulama. Sementara Daud dan ulama lainnya mengatakan boleh, sepertinya pendapatnya ini berdasarkan al bara’ah al ashliah (hukum asalnya, terlepas dari kewajiban) dan hadits ini tidak dapat mengangkat hukum asal tersebut.

Adapun melewati masjid bagi yang haidh dan junub, ada yang mengatakan boleh berdasarkan firman Allah SWT:

{إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ}

“…. terkecuali sekedar berlalu saja…” (QS. An-Nisa’ [4]: 43]

Mengenai yang junub, sedangkan perempuan haidh diqiyaskan padanya. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah tempat-tempat shalat.

Pendapat tersebut dapat dijawab, bahwa ayat itu berkenaan dengan orang yang junubnya terjadi di dalam masjid, maka dia harus keluar untuk mandi, ini berbeda dengan zhahirnya ayat tersebut. Dan terdapat penafsiran yang lain mengenai ayat ini.

0114

114 – وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كُنْت أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ إنَاءٍ وَاحِدٍ، تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ مِنْ الْجَنَابَةِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَزَادَ ابْنُ حِبَّانَ: وَتَلْتَقِي أَيْدِينَا.

114. Dari darinya RA, dia berkata, “Aku pernah mandi junub bersama Rasulullah SAW dari satu bejana, tangan kami saling berebutan mengambil air dari dalam bejana itu.” (Muttafaq alaih, Ibnu Hibban menambahkan, “Dan tangan-tangan kami saling bertemu)

[Al Bukhari 261, Muslim 321, Ibnu Hibban 3/395]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil bolehnya suami istri mandi junub bersama dari air yang sama dalam satu bejana. Kebolehan ini sebagai hukum asal, pembahasan tentang masalah ini sudah dipaparkan pada bab air.

0115

115 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةً، فَاغْسِلُوا الشَّعْرَ، وَأَنْقُوا الْبَشَرَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَاه

115. Dari Abu Hurairah RA, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di bawah setiap helai rambut ada jinabat, maka basuhlah rambut dan bersihkanlah kulit.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, keduanya mendha’ifkannya)

[Dhaif: Abu Daud 248, At Tirmidzi 106]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Sesungguhnya di bawah setiap helai rambut ada jinabat (karena jika di bawahnya saja terdapat janabat, apalagi di rambut itu sendiri, maka ia menyebutkan secara tersendiri mencuci rambut atas hukum tersebut karena di bawah setiap helai rambut ada janabat)

Tafsir Hadits

Abu Daud dan At Tirmidzi mendha’ifkan hadits di atas, karena menurut keduanya hadits tersebut dari riwayat Al Harits bin Wajih. Abu Daud mengatakan haditsnya munkar, dan dia adalah perawi lemah. At Tirmidzi mengatakan haditsnya gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari Al Harits, padahal hadits syaikhnya tidak begitu. Asy-Syafi’i menuturkan, hadits ini tidak kuat. Sementara Al Baihaqi berkata, para ulama hadits mengingkari hadits tersebut, seperti Al Bukhari, Abu Daud dan lainnya.

Hanya saja dalam bab ini terdapat hadits dari Ali RA yang diriwayatkan secara marfu’:

«مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جَنَابَةٍ لَمْ يَغْسِلْهَا فُعِلَ بِهِ كَذَا وَكَذَا، فَمِنْ ثَمَّ عَادَيْت رَأْسِي فَمِنْ ثَمَّ عَادَيْت رَأْسِي ثَلَاثًا، وَكَانَ يَجُزُّهُ»

“Barangsiapa yang meninggalkan janabat pada sehelai rambutnya dengan tidak mencucinya, maka dia harus mengerjakan begini dan begitu.” Oleh sebab itu aku kibas-kibaskan kepalaku tiga kali, yang demikian itu sudah mencukupinya. [Dhaif: Abu Daud 249]

Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh penulis, hanya saja Ibnu Katsir mengomentarinya dalam Al Irsyad, bahwa hadits Ali tersebut termasuk riwayat Atha bin Sa’ib, dia jelek hafalannya. An Nawawi berkata, sesungguhnya haditsnya dhaif.

Saya katakan, sebab timbulnya perbedaan ulama tentang penilaian shahih dan dhaifnya hadits tersebut, karena Atha bin Sa’ib hafalannya rancu di akhir usianya. Oleh karena itu, barangsiapa yang meriwayatkan darinya sebelum dia pikun, maka riwayatnya shahih, sebaliknya, siapa yang meriwayatkan darinya setelah dia pikun, maka riwayatnya lemah.

Adapun hadits Ali ini, mereka berbeda pendapat, apakah meriwayatkannya sebelum dia pikun atau sesudahnya? Itulah penyebab timbulnya perbedaan pada penilaian shahih dan dhaifnya. Dan yang benar tawaquf (tidak memberikan penilaian) apakah shahih atau dhaif sampai masalahnya jelas. Ada yang mengatakan yang benar adalah hadits tersebut mauquf atas Ali.

Hadits tersebut adalah dalil wajib mencuci sekujur tubuh ketika mandi junub dan tidak dimaafkan jika ada yang tertinggal sedikit pun. Ada yang mengatakan, ‘itu sudah menjadi ijma ulama, kecuali kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung terdapat perbedaan pendapat.’ Ada yang mengatakan kedua-duanya wajib, berdasarkan hadits ini, ada juga yang mengatakan keduanya tidak wajib, berdasarkan hadits Aisyah RA dan Maimunah yang telah dijelaskan sebelumnya, hanya saja, hadits yang mewajibkan keduanya tidak shahih dan tidak dapat mengalahkan hadits yang tidak mewajibkan.

Adapun hadits yang mengatakan bahwa Nabi SAW berwudhu seperti wudhu untuk shalat, itu hanyalah perbuatan yang tidak menetapkan hukum wajib. Hanya saja, ada yang mengatakan itu sebagai keterangan bagi yang masih mujmal (global), karena mandi yang terdapat dalam Al Qur’an masih mujmal, dan dijelaskan dengan praktek beliau SAW.

 0116

116 – وَلِأَحْمَدَ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – نَحْوُهُ وَفِيهِ رَاوٍ مَجْهُولٌ

116. Dan bagi Ahmad dari Aisyah RA , sama dengan hadits sebelumnya. Dan padanya terdapat perawi yang majhul (tidak dikenal)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penulis tidak menyebutkan hadits tersebut dalam At Talkhish, dan tidak menentukan siapa perawi majhul tersebut. Dan jika ada perawinya yang majhul, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah. Hadits-hadits yang ada dalam bab ini berjumlah 17 hadits.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *