[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 299

08. KITAB NIKAH 02

0900

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَقَالَ: لَكِنِّي أَنَا أُصَلِّي، وَأَنَامُ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

900. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, beliau bersabda, “Tetapi aku shalat, tidur, berpuasa, berbuka dan menikah. Barangsiapa membenci sunnahku, ia tidak termasuk umatku.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5063), Muslim (1401)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Lafazh hadits ini yang terdapat pada Shahih Muslim. Hadits Ini mempunyai sebab yaitu, ada tiga orang laki-laki datang ke rumah istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau, ketika diceritakan kepada mereka, maka mereka seakan-akan bertanya-tanya lalu berkata, “Di mana kedudukan kami dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Padahal beliau telah diampuni segala dosa yang telah lampau dan yang akan datang! Maka salah seorang di antara mereka berkata, “Adapun saya akan melaksanakan shalat malam terus-menerus.” Orang kedua berkata, “Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Orang ketiga berkata, “Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam datang kepada mereka, lalu berkata, “Kalian telah berkata begini dan begitu. Perhatikanlah, sesungguhnya, demi Allah, saya adalah orang yang paling takut kepada Allah, akan tetapi saya shalat…”

Hadits ini merupakan dalil bahwa yang disyari’atkan dalam agama adalah tidak berlebih-lebihan dalam beribadah hingga menyiksa diri dan menjauhi hal-hal yang dibolehkan. Bukankah agama Islam didirikan di atas asas kemudahan dan tidak berlebih-lebihan, serta tidak menyusahkan diri? Sebagaimana tersebut dalam firman Allah Ta’ala,

{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ}

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ath-Thabari berkata, “Hadits ini merupakan bantahan terhadap siapa saja yang melarang untuk menikmati apa-apa yang dihalalkan, baik dari jenis pakaian maupun makanan. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Hal inilah yang menjadi perselisihan ulama terdahulu. Ada di antara mereka yang sependapat dengan Ath-Thabari dan ada juga yang tidak sependapat dengan merujuk kepada firman Allah Ta’ala,

{أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا}

“Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja).” (QS. Al-Ahqaf: 20)

lalu dia berkomentar, bahwa ayat yang dijadikan sebagai dasar hukum tersebut sebetulnya diperuntukkan bagi orang-orang kafir.”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menempatkan diri di antara kedua perkara itu, yaitu bersikap pertengahan [tengah-tengah] dalam segala perkara dan tidak berlebih-lebihan memanfaatkan yang baik-baik, karena hal itu akan mendorong untuk hidup bermewah-mewahan dan sombong yang menjerumuskan pada hal-hal syubhat. Sebab, siapa saja yang terbiasa dengan hal-hal tersebut lalu di lain waktu tidak menikmatinya lagi; maka dia tidak bisa bersabar hingga menyebabkannya terjerumus pada hal-hal yang dilarang dalam agama. Demikian juga, bagi yang melarang [menahan] dirinya untuk menikmati apa-apa yang dihalalkan Allah dengan membebani diri yang menjerumuskannya pada perbuatan yang keluar dari syari’at Islam. Perbuatan seperti ini dilarang, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ}

“Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik.” (QS. Al-A’raf: 32)

Sebagaimana orang yang berlebih-lebihan dalam melaksanakan ibadah akan menimbulkan kejenuhan dan kemalasan, demikian juga bila seorang yang hanya melaksanakan ibadah-ibadah wajib saja dan meninggalkan ibadah-ibadah sunnah, akan menyebabkannya malas dan tidak bersemangat dalam beribadah. Sebaik-baik perkara adalah pertengahan [tidak kurang dan tidak juga berlebihan].

Maksud dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Siapa yang membenci sunnahku” (yakni ajaranku) “ia tidak termasuk umatku” yakni tidak termasuk golongan umat lurus yang menjalankan syariat Islam dengan benar.

Bukankah yang terbaik bagi orang yang berpuasa agar berbuka sehingga akan kuat berpuasa lagi? Tidur [istirahat] untuk mengembalikan stamina tubuh? Dan menikah untuk memelihara pandangan dan kemaluannya? Ada juga yang berpendapat, bahwa maksud dari sabda Nabi adalah siapa saja menyalahi tuntunan dan ajaran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bukankah orang yang melaksanakan ibadah sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi lebih benar? Dan maksud dari sabda, “tidak termasuk umatku” yaitu tidak termasuk umat agama ini; karena keyakinan seperti itu bisa membawa kepada kekafiran.

0902

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاك» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مَعَ بَقِيَّةِ السَّبْعَةِ

902.Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena 4 hal: harta, keturunan, kecantikan dan agamanya. Dapatkan (pilih) wanita yang beragama, engkau akan bahagia.” (Muttafaq Alaih dan As-Sab’ah yang lainnya).

[shahih, Al-Bukhari (5090), Muslim (1466)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan, bahwa hal-hal yang membuat laki-laki tertarik untuk menikahi wanita karena adanya empat sifat yang dimiliki oleh wanita tersebut, dan sifat yang paling akhir adalah karena agamanya. Lalu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada pemuda bila ingin menikah, lalu ia menemukan seorang wanita yang taat beragama, maka hendaklah dia jangan berpaling darinya, karena ada larangan untuk menikah dengan wanita bukan karena agamanya. Sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, Al-Bazzar dan Al-Baihaqi dari hadits Abdullah bin Amr secara marfu’,

«لَا تَنْكِحُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَلَعَلَّهُ يُرْدِيهِنَّ، وَلَا لِمَالِهِنَّ فَلَعَلَّهُ يُطْغِيهِنَّ، وَانْكِحُوهُنَّ لِلدِّينِ، وَلَأَمَةٌ سَوْدَاءُ خَرْقَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ»

“Janganlah kamu menikahi wanita-wanita karena kecantikannya, karena hal itu bisa menjerumuskan mereka dalam kebinasaan dengan bersikap sombong dan takabur; dan jangan pula kamu menikahi mereka karena hartanya, karena hal itu bisa menjerumuskan mereka dalam perbuatan maksiat dan dosa; dan nikahilah mereka karena agamanya. Ketahuilah, sesungguhnya budak wanita yang beragama walaupun telinga sobek lebih utama dari pada wanita cantik tetapi tidak beragama.” [dha’if sekali, Dha’if Al-Jami’ (6216)]

Dalam hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dari Abu Hurairah diterangkan sifat-sifat baik bagi wanita,

«قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إنْ نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إنْ أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ»

bahwa Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kriteria wanita apa terbaik itu? Rasulullah menjawab, “Wanita yang dapat membahagiakanmu saat kamu lihat, wanita yang patuh kepadamu saat kamu perintah, dan wanita yang setia dan dapat menjaga hartanya. ‘ [shahih, Shahih Al-Jami’ (3298)]

Dan الْحَسَبُ ” diartikan juga dengan perilaku yang baik bagi suami dan orang tuanya, dan diartikan juga dengan harta pada hadits yang diriwayatkan At Tirmidzi dan haditsnya hasan menurutnya dari hadits riwayat Samurah marfu’:

«الْحَسَبُ الْمَالُ، وَالْكَرَمُ التَّقْوَى»

“Al hasab adalah harta dan Al karam adalah ketaqwaan.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 3178]

Hanya saja arti Al Hasab bukan harta pada hadits bab ini; karena disebutkan bersamaan, maka artinya adalah makna yang pertama.

Hadits ini menunjukkan bahwa berteman dengan orang yang taat beragama lebih utama; karena bisa mengambil manfaat dari akhlak, keberkahan dan cara pergaulan mereka, apalagi seorang istri haruslah diutamakan yang beragama (taat beragama), karena dia adalah pendamping hidup, ibu bagi anak-anak, penjaga amanah harta, rumah dan dirinya dikala sendiri.

Sabda Nabi «تَرِبَتْ يَدَاك» artinya tanganmu akan menyentuh tanah karena kemiskinan dan kerugian. Ungkapan ini di luar kebiasaan yang diucapkan manusia dalam percakapan, dan bukan pula Rasulullah mendoakan seseorang untuk mendapatkan kecelakaan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *