[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 298

08. KITAB NIKAH  01

Nikah secara bahasa adalah menggabung dan menjalin. Lalu dipakai untuk istilah jima’ dan akad. Ada yang mengatakan, bahwa makna ini hanyalah bentuk majas dengan melafazhkan sebab untuk tujuan sebenarnya. Ada yang berpendapat, keduanya adalah makna sebenarnya, dan pendapat inilah yang dimaksudkan dalam pernyataan bahwa arti lafazh nikah adalah mencakup keduanya. Banyak sekali penggunaan kata nikah yang diartikan dengan akad. Ada juga yang berpendapat, bahwa arti nikah dengan akad berdasarkan makna syari’at yang sebenarnya, dan di dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan melainkan makna akad saja.

0899

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ. فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

899. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai generasi muda, siapa di antara kamu telah mampu untuk menikah hendaknya ia nikah, karena nikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan jika dia belum mampu hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu dapat menjadi kendali (obat).” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1905), Muslim (1400)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini ditujukan kepada kawula muda, karena orang seusia mereka adalah orang yang paling kuat syahwatnya terhadap lawan jenis [wanita].

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud kata ” الْبَاءَةَ “, dan pendapat yang paling benar artinya adalah jima’. Sehingga maksud hadits adalah, bagi yang ingin berjima’ dan ia sudah mampu untuk memenuhi nafkah keluarga, hendaklah dia menikah, dan bagi yang belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga, hendaklah dia berpuasa untuk mengekang syahwat dan menurunkan produksi air mani, sebagaimana halnya tameng yang bisa menghalangi badan dari sabetan senjata tajam sebagai bentuk pengendalian diri.

Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban diterangkan, bahwa makna “وِجَاءٌ” adalah kebiri. Ada juga yang mengartikan, makna “وِجَاءٌ” adalah menghancurkan kedua buah dzakar. Dan arti sebenarnya adalah mengebiri; maksudnya puasa diibaratkan seperti kebiri karena sama-sama mengendalikan syahwat.

Perintah menikah hukumnya wajib bila seorang mempunyai kemampuan untuk memenuhi nafkah keluarganya, inilah pendapat dari Dawud dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Ibnu Hazm berkata, “Wajib hukumnya bagi yang mampu melakukan jima’ bila sudah ada yang akan dinikahi atau dijadikan budak, bila tidak bisa melakukan hal tersebut, hendaklah dia memperbanyak puasa, lalu berkata, “Demikianlah kesepakatan sebagian ulama terdahulu.”

Jumhur ulama berpendapat, bahwa perintah menikah itu hukumnya sunnah berdasarkan firman Allah yang memerintahkan untuk memilih antara menikah atau mengambil budak.

{فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ}

“Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” (QS. An-Nisaa’: 3)

Menurut ijma’ ulama, mengambil budak tidak wajib hukumnya demikian juga dengan menikah; karena Allah tidak mungkin menyuruh memilih antara perintah yang wajib dilakukan dan tidak, dan anggapan adanya ijma’ dari ulama tidak benar karena adanya perbedaan hukum antara jumhur ulama dengan Dawud dan Ibnu Hazm.

Ibnu Daqiq Al-‘Id menerangkan, bahwa sebagian ahli fikih ada yang berpendapat bahwa menikah hukumnya wajib bila seseorang takut berbuat zina jika ia tidak segera menikah dan ia sudah mampu menikah, namun tidak mampu membeli budak, sebagaimana yang disampaikan Al-Qurthubi, maka menikah hukumnya wajib bagi seseorang yang khawatir melakukan perbuatan zina bila tidak menikah.

Menikah hukumnya bisa berubah menjadi haram bagi yang tidak mau memenuhi kebutuhan seksual terhadap istrinya dan tidak memberi nafkah kepadanya, sedangkan dia mampu memenuhi kedua kebutuhan tersebut. Hukumnya menjadi makruh bila memenuhi kedua kebutuhan tersebut hanya sewaktu-waktu walaupun hal itu tidak membahayakan istrinya. Menikah hukumnya menjadi mubah apabila semua sebab dan larangan menikah tidak ada. Dan hukumnya sunnah bagi yang ingin memperbanyak keturunan, walaupun ia tidak begitu besar hasratnya untuk jima’; berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sungguh aku bangga dengan jumlah umatku yang banyak.” serta adanya hadits-hadits yang menganjurkan dan menyuruh menikah.

Sabda Nabi, “hendaklah dia berpuasa,” merupakan anjuran untuk memperbanyak puasa. Puasa dijadikan sebagai pengen-dali diri; karena dengan mengurangi makan dan minum bisa mengu-rangi nafsu syahwat, dan juga karena puasa merupakan perintah dari Allah Ta’ala yang mengandung banyak hikmah. Maka, menurut pemahaman ini tidak akan bermanfaat diet makan tanpa dilandasi niat berpuasa. Al-Khaththabi membolehkan berobat untuk menghilangkan nafsu syahwat.

Al-Baghawi dalam kitab Syarh As-Sunnah menyebutkan, bahwa obat yang dimaksud [oleh Al-Khaththabi] adalah obat yang bisa menenangkan nafsu syahwat bukan menghilangkan selama-lamanya; sebab mungkin di lain hari dia mampu memenuhi kebutuhan keluar-ganya bila ingin menikah, karena Allah telah menjanjikan kekayaan bagi orang yang mampu memelihara dirinya dari hal-hal yang diharamkan; karena Allah menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama dari pengendalian diri. Para ulama telah bersepakat melarang memo-tong salah satu buah dzakar maupun keduanya, maka semua hal yang berkenaan dengan hal tersebut di atas dihukumi sama bila inti masalahnya sama.

Hadits ini berisi anjuran untuk selalu mencari solusi yang bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan juga menerangkan, bahwa melakukan pernikahan tidak membebani seseorang dengan hal-hal yang tidak bisa dilakukan, apalagi sampai berhutang. Maka, Al-Qarafi berhujjah bahwa puasa dengan niat pengendalian diri merupakan dasar hukum yang membolehkan ibadah dengan dua niat sekaligus, lain halnya beribadah karena riya’, akan tetapi dia menambahkan, hal ini apabila amalan yang kedua adalah bentuk pelaksanaan ibadah yang pertama; karena dengan berpuasa akan membentengi diri dengan menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.

Sedangkan menggabungkan niat pada amalan mubah seperti seorang yang melaksanakan shalat sekedar memenuhi panggilan, hal ini masih diperdebatkan: mungkinkah diqiyaskan dengan hal tersebut di atas? Tetapi kemungkinan qiyasnya tidak sah. Jika seorang yang melaksanakan shalat berniat meninggalkan perbuatan batil atau ghibah; maka hal ini sah menjadi tujuan didirikannya shalat.

Sebagian pengikut madzhab Maliki menjadikan hadits ini sebagai dalil yang mengharamkan onani; sebab jika dibolehkan tentu akan diberitahu [diterangkan], karena onani merupakan cara termudah bagi yang belum mampu menikah. Sebagian pengikut madzhab Ahmad dan Hanafi membolehkan onani.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *