[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 297

07. KITAB JUAL BELI – 07.22. BAB WADI’AH (TITIPAN)

Wadi’ah adalah benda yang dititipkan seseorang atau wakilnya kepada orang lainnya agar dijaga, hukumnya sunnah bagi yang percaya bahwa dirinya bisa menjaga amanah tersebut. Sebagaimana tersebut firman Allah Ta’ala dan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berikut,

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى}

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. (QS. Al- Maidah: 2)

«، وَاَللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ»

“Allah akan selalu menolong hamba-Nya selagi hamba-Nya menolong saudara muslim lainnya.” (HR. Muslim) [shahih, Muslim (2699)]

Dan terkadang hukum wadi’ah ini bisa berubah menjadi wajib jika tidak ada yang bisa menjaganya, dan ia takut barangnya rusak jika tidak diterima barang titipannya.

0898

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ أُودِعَ وَدِيعَةً فَلَيْسَ عَلَيْهِ ضَمَانٌ» أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَفِي إسْنَادِهِ ضَعْفٌ.

وَبَابُ قَسْمِ الصَّدَقَاتِ تَقَدَّمَ فِي آخِرِ الزَّكَاةِ.

وَبَابُ قَسْمِ الْفَيْءِ وَالْغَنِيمَةِ يَأْتِي عَقِبَ الْجِهَادِ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.

898. Dari Amr Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang dititipi suatu titipan, maka tidak ada tanggungan atasnya.” (HR. Ibnu Majah dalam sanadnya ada yang dha’if)

[hasan, Ibni Majah (2430)]

Bab pembagian zakat telah dibahas dalam bab akhir zakat. Dan bab pembagian harta rampasan akan datang setelah bab Jihad.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang dititipi suatu titipan, maka tidak ada tanggungan atasnya.” HR. Ibnu Majah dalam sanadnya ada yang dha’if (karena dalam sanadnya terdapat Al-Mutsanna bin Ash-Shabah, seorang rawi matruk. Ad-Daraquthni meriwayatkan dengan lafazh,

«لَيْسَ عَلَى الْمُسْتَعِيرِ غَيْرِ الْمُغِلِّ ضَمَانٌ، وَلَا عَلَى الْمُسْتَوْدَعِ غَيْرِ الْمُغِلِّ ضَمَانٌ»

“tidak ada tanggungan bagi peminjam dan penerima titipan barang bila tidak berkhianat”, dalam sanadnya ada rawi dha’if.

Ad-Daraquthni berkata, “Hadits ini dari riwayat Syuraih tidak marfu’.” Ad-Daraquthni dalam riwayatnya menafsirkan kata ‘Al-Mughil dengan makna orang yang berkhianat. Ada juga yang menafsirkannya maknanya orang yang memanfaatkan dengan semestinya).

Ada beberapa riwayat dari Abu Bakar, Ali, Ibnu Mas’ud dan Jabir Radhiyallahu Anhum menegaskan bahwa, titipan (wadi’ah) adalah amanah, walaupun sebagian riwayat masih diperdebatkan. Namun demikian, sudah ada ijma’ ulama yang menyatakan bahwa orang yang dititipi tidak ada tanggungan (jaminan) kecuali riwayat dari Al-Hasan Al-Bashri yang menyatakan bila disyaratkan adanya jaminan maka dia harus menanggung, tetapi dengan syarat kerusakan barangnya dari kesalahan orang yang dititipi. Akad penitipan barang itu bisa dengan ucapan, ‘saya titipkan ini kepadamu’ atau dengan lafazh lainnya yang menunjukkan arti sama dan kerelaannya menerima titipan bisa juga diucapkan.

Kadang akadnya tidak dengan ucapan, tetapi langsung meletakkan barang titipan di almari penitipan barang dengan sepengetahuan orang yang dititipi barang (karena kalau dia keberatan bisa langsung menolak), atau penitipan berada di masjid dan dia tidak shalat karena menjaga barang, namun jika orang yang dititipi barang ikut shalat tidak boleh diberi titipan barang; karena dia tidak bisa menolak jika tidak mau. Dalam bab titipan barang ini banyak sekali rincian yang menerangkan tentang hal tersebut.

“Bab pembagian zakat (tentang 8 golongan yang berhak menerima zakat) telah diterangkan pada bab akhir zakat (lebih tepat karena masih berhubungan dengan tema tersebut). Bab pembagian harta rampasan perang akan diterangkan setelah bab Jihad (karena lebih tepat setelah bab Jihad, karena masih ada hubungan. Penulis -Ibnu Hajar- menyebutkan demikian, ia menyalahi kebiasaan para penulis dari kalangan Syafi’iyyah yang menempatkan kedua bab itu sebelum bab nikah; maka penulis berbeda dengan mereka, dengan sengaja meletakkan kedua bab tersebut sedemikian rupa sehingga lebih tepat bagi kedua bab tersebut).

-oOo-

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *