[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 296

07. KITAB JUAL BELI – 07.21. BAB WASIAT 03

0896

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَحَسَّنَهُ أَحْمَدُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَقَوَّاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَابْنُ الْجَارُودِ – وَرَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -، وَزَادَ فِي آخِرِهِ «إلَّا أَنْ يَشَاءَ الْوَرَثَةُ» ، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

896. Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang berhak dan tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali An-Nasa’i. Hadits Hasan menurut Ahmad dan At-Tirmidzi, dikuatkan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Al-Jarud. HR. Ad-Daraquthni dari riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dengan tambahan di akhir hadits, “kecuali jika ahli waris menginginkannya” dan sanadnya hasan)

[hasan shahih, Abi Dawud (2870)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam bab ini, ada riwayat dari Amr bin Kharijah yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Anas menurut riwayat Ibnu Majah dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, kakeknya menurut riwayat Ad-Daraquthni dan juga dari Jabir, ia berkata, “Yang paling benar, bahwa hadits ini mursal, dan dari Ali menurut riwayat Ibnu Abi Syaibah bahwa setiap sanad dari keduanya masih dipertanyakan keshahihannya, akan tetapi karena banyaknya riwayat yang menerangkan tentang hal itu; menguatkan pemahaman hadits tersebut untuk diamalkan, bahkan Imam Syafi’i menegaskan dalam kitab Al-Umm, bahwa matan hadits ini mutawatir dan ia berkomentar bahwa hadits ini berasal dari rawi yang banyak dan disampaikan juga oleh rawi yang banyak pula, sehingga lebih kuat dari Khabar Ahad (disampaikan satu orang saja).

Saya katakan: yang paling tepat adalah mengamalkan hadits ini karena banyaknya riwayat tentang hal itu, dan juga seperti alasan yang diterangkan Asy-Syafi’i. Walaupun Al-Fakhr Ar-Razi menentang istilah Asy-Syafi’i yang mengatakan bahwa matannya mutawatir, namun hal ini tidak mempengaruhi ketetapan hadits; karena seperti yang diketahui, hadits ini diterima di kalangan umat Islam. Al-Bukhari menjadikan judul bab dengan mengatakan, “Bab Tidak ada wasiat untuk ahli waris”, namun barangkali tidak shahih menurut syaratnya sehingga tidak diriwayatkannya, namun setelah itu Al-Bukhari meriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Abbas secara mauquf dalam menafsirkan ayat dan itu berarti matan haditsnya marfu’.

Berdasarkan hadits ini, jumhur ulama melarang berwasiat kepada ahli waris. Sementara Al-Hadi dan sebagian ulama lainnya membolehkan berwasiat berdasarkan pada firman Allah Ta’ala,

{كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ}

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut.” (QS. Al-Baqarah: 180)

Mereka mengatakan, “Hukum wajibnya sudah dinasakh, tetapi bukan berarti tidak boleh dilakukan lagi.” Kami berpendapat: betul yang mereka katakan, jika hadits ini tidak ada, dan tentu tidak dibolehkan untuk berwasiat; karena kewajiban untuk berwasiat sudah dihapus ketetapannya dengan ayat-ayat warisan. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Hartanya milik anaknya, sedangkan wasiatnya untuk kedua orang tuanya, lalu Allah menghapus ketentuan hukum tersebut dengan yang lebih dicintai-Nya, dan memberi anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan dan kedua orang tua masing-masing mendapatkan seperenam, lalu memberi bagian seorang istri seperempat dan seperdelapan, dan bagian suami setengah dan seperempat.”

Sabda Nabi, “kecuali bila ahli warisnya menginginkannya”merupakan dalil yang membolehkan wasiat, jika ahli waris membolehkan, maka harus dilaksanakan. Dalam pembahasan terdahulu dibolehkan berwasiat lebih dari sepertiga harta, namun apakah harus dilaksanakan atau tidak? Pengikut Madzhab Azh-Zhahiriyyah berpendapat wasiatnya dilaksanakan sebagaimana makna zhahir haditsnya; karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika melarang berwasiat kepada ahli warisnya dikecualikan dengan sabdanya “bila ahli warisnya menginginkan (mau).”

Dan menurut pendapat kami, larangan Nabi berwasiat lebih dari sepertiga bersifat umum tidak ada pengecualian, dan yang berpendapat ada pengecualian diambil dari sabda Nabi, “Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu” maksudnya larangan berwasiat lebih dari sepertiga untuk menjaga hak-hak ahli waris, jika mereka mengizinkan; maka mereka tidak mendapatkan hak harta waris yang semestinya, mengizinkan berwasiat dalam hal seperti ini mempunyai kekuatan hukum.

Para ulama berbeda pendapat jika yang mewariskan mengakui bahwa pada hartanya ada hak untuk ahli warisnya. Al-Auza’i dan ulama lainnya membolehkannya secara mutlak. Sedang menurut Imam Ahmad tidak boleh ditetapkan apa yang diakui orang sedang sakit yang menyatakan ada sebagian hak ahli waris pada hartanya, karena dikhawatirkan setelah dilarang berwasiat kepada ahli warisnya dia akan menetapkan keputusan. Kelompok yang berpendapat menetapkan membantah hujjah yang mereka berikan dan berkata, “Harus dijauhkan berbagai tuduhan (pikiran negatif) terhadap orang yang sekarat atas apa yang diakui, dan sudah ada kesepakatan bila dia menetapkan baik yang berkenaan dengan harta atau lainnya; maka pengakuannya dibenarkan, bukankah Islam hanya menghukumi pada hal-hal yang tampak saja? Maka jangan diabaikan pengakuannya dikarenakan berbagai perkiraan dan kemungkinan yang belum pasti; sebab hukum-hukum yang berkaitan dengan hal semacam itu diserahkan kepada Allah.

Saya katakan: Hujjah yang disampaikan kelompok pertama merupakan dalil yang paling kuat. Imam Malik mengecualikan bila bapak yang hanya mempunyai seorang anak perempuan menetapkan bahwa pada hartanya ada hak milik anaknya, ketika ia terkumpul dengan ahli waris yang berserikat dengannya, seperti anak laki-laki pamannya dengan alasan karena dia tertuduh memperbanyak harta warisan bagian anaknya dan mengurangi bagian milik anak pamannya. Demikian juga bila seorang suami yang beristri lebih dari satu sedang sakit, ia menetapkan bahwa pada sebagian hartanya ada hak milik salah satu istrinya yang diketahui paling dicintai, sedangkan sang suami dengan anak-anak dari istri lainnya tidak begitu akrab, ditambah lagi dia mempunyai anak dari istri yang dicintai; maka ketetapannya pada saat itu tidak diakui.

Saya katakan: pendapat yang paling baik adalah pendapat yang disampaikan sebagian pengikut Imam Malik, dan dipilih Ar-Rauyani salah satu pengikut Imam Asy-Syafi’i yang menyatakan bahwa standar diakui atau tidak penetapan dari seorang yang akan meninggal dunia terletak pada penetapan itu, apakah disertai adanya berbagai tuduhan dan kemungkinan negatif atau tidak; jika tidak ada dibolehkan, dan jika sebaliknya maka tidak boleh. Hal semacam ini bisa diketahui dari hal-hal yang berkaitan dengannya. Menurut sebagian ahli fikih, pengakuan seorang suami bahwa pada hartanya ada hak milik pribadi istrinya tidak boleh ditetapkan, kecuali bila pengakuan itu berkenaan dengan maharnya saja.

0897

وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ اللَّهَ تَصَدَّقَ عَلَيْكُمْ بِثُلُثِ أَمْوَالِكُمْ عِنْدَ وَفَاتِكُمْ زِيَادَةً فِي حَسَنَاتِكُمْ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَأَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَالْبَزَّارُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الدَّرْدَاءِ. – وَابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، وَكُلُّهَا ضَعِيفَةٌ، لَكِنْ قَدْ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا: وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

897.Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengizinkan kepadamu bersedekah sepertiga dari hartamu waktu kamu akan meninggal untuk menambah kebaikanmu.” (HR. Ad-Daraquthni. Ahmad dan Al-Bazzar juga meriwayatkan dari hadits Abu Darda’. Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah dan semuanya dha’if, namun saling menguatkan)

[hasan, Shahih Al-Jami’ (1733)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengizinkan kepadamu bersedekah sepertiga dari hartamu waktu kamu akan meninggal untuk menambah kebaikanmu.” HR. Ad-Daraquthni. Ahmad dan Al-Bazzar juga meriwayatkan dari hadits Abu Darda’. Ibnu Majah dari hadits Abu Hurairah dan semuanya dha’if, namun saling menguatkan (karena pada sanadnya ada Isma’il bin Iyasy dan Syaikhnya Utbah bin Humaid yang dikenal dha’if, walaupun dalam riwayat Isma’il ada penjelasan yang bisa diterima).

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang membolehkan bagi orang yang akan meninggal berwasiat dengan sepertiga harta untuk disedekahkan. Berlaku umum baik bagi yang berharta banyak ataupun tidak, dan bagi yang mempunyai ahli waris atau tidak. Akan tetapi hadits ini ditakhshish dengan hadits terdahulu yang lebih shahih dari pada hadits ini, maka hadits ini tidak boleh dilaksanakan. Inilah pendapat para Fuqaha Empat dan lainnya, Al-Muaiyyid Billah dan menurut riwayat dari Zaid bin Ali. Sedangkan pengikut Al-Hadawiyah berpendapat bahwa wasiat menyedekahkan sepertiga harta harus dilaksanakan, dan menganggap sudah ada Ijma’ dari Ahli Bait (keluarga Nabi), akan tetapi hal tidak benar.

Ketahuilah; bahwa dalam firman Allah Ta’ala, “(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.” (QS. An-Nisaa’: 11) menunjukkan bahwa hutang dan wasiat sama-sama ditunaikan dari harta peninggalan si mayit, jika menghabiskan semua harta warisan; maka wasiat yang diperintahkan haruslah mencakup hutang.

Para ulama bersepakat bahwa pembayaran hutang harus didahulukan dari pada melaksanakan wasiat berdasarkan riwayat Ahmad, At-Tirmidzi dan lainnya dari hadits Ali dari Al-Harits Al-A’war, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan bahwa pembayaran hutang harus didahulukan dari wasiat walaupun kalian membaca ayat yang mendahulukan pelaksanaan wasiat dari pada pelunasan hutang.” Al-Bukhari menta’liq hadits ini sedangkan sanadnya dha’if, namun At- Tirmidzi berkata, “Ulama bersepakat mengamalkan makna hadits itu.” Mungkin Al-Bukhari yang menjadikannya sebagai dasar hukum karena adanya kesepakatan mengamalkan haditsnya, dengan memberikan berbagai riwayat lainnya yang mendukung hadits tersebut.

Ulama bersepakat bahwa pembayaran hutang harus didahulukan daripada wasiat, tapi jika ada yang mengatakan: jika demikian halnya, mengapa dalam ayat tentang perintah melaksanakan wasiat didahulukan daripada pelunasan hutang?

Saya katakan: As-Suhaili telah menjawab masalah ini, bahwa pada umumnya wasiat merupakan perintah untuk melaksanakan kebaikan dan menyambung silaturrahmi, sedangkan hutang secara umum terjadi karena kesalahan manusia, maka didahulukan melaksanakan wasiat karena ia lebih utama. Ada juga yang berpendapat: wasiat didahulukan pada ayat itu; karena wasiat itu dilaksanakan tanpa ada ganti-rugi, dan hutang dibayarkan karena ada ganti-rugi; melaksanakan wasiat lebih sulit bagi ahli waris daripada membayar hutang, sebab wasiat itu sangat mudah untuk diabaikan berbeda dengan hutang, maka wasiat didahulukan daripada pelunasan hutang.

Pada umumnya wasiat diperuntukkan bagi orang fakir dan miskin, lain halnya dengan hutang yang merupakan hak bagi si piutang yang selalu menuntutnya dan pendapat ini masih diperselisihkan. Ada juga yang mengatakan; wasiat itu berasal dari keinginannya sendiri; maka didahulukan sebagai anjuran untuk mengamalkannya, berbeda dengan hutang yang harus dibayar baik disebutkan dalam ayat itu ataupun tidak, karena wasiat itu biasanya dapat dilakukan oleh siapa saja yang disuruh, baik hanya berupa anjuran yang sunnah ataupun wajib, yang berkaitan dengan harta dan amal perbuatan, lain halnya dengan hutang. Dan hal-hal yang sering terjadi lebih utama didahulukan daripada hal-hal yang jarang terjadi.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *