[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 293

07. KITAB JUAL BELI – 07.20. BAB FARA’IDH 05

0891

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «الْوَلَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ» رَوَاهُ الْحَاكِمُ مِنْ طَرِيقِ الشَّافِعِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي يُوسُفَ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَأَعَلَّهُ الْبَيْهَقِيُّ

891. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Wala’ itu satu pertalian daging seperti pertalian daging turunan, ia tidak boleh dijual dan dihibahkan.” (HR. Al Hakim dari jalan Asy-Syafi’i dari Muhammad bin Al-Hasan, dari Abu Yusuf. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Ma’lul menurut Al-Baihaqi)

[shahih, Al-Irwa’ (1668)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Banyak sekali penjelasan ulama tentang jalur periwayatan hadits ini, apakah shahih atau tidak; semua itu sudah dibahas pada bab jual beli. Dalam hadits ini diterangkan, bahwa al-wala’ tidak bisa dibeli ataupun diberikan, sebagaimana tidak boleh diqiyaskan juga semua sebab kepemilikannya, seperti nadzar dan wasiat, sebab semua itu sudah menjadi seperti nasab, dan nasab tidak boleh dijual ataupun dihibahkan.

0892

وَعَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَفَرْضُكُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ سِوَى أَبِي دَاوُد، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ، وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ

892. Dari Abu Qilabah, dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang paling mengetahui fara’idh di antara kalian adalah Zaid bin Tsabit.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali Abu Dawud. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Hadits ini Mursal)

[hasan shahih, At-Tirmidzi (3791)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini mursal, karena Abu Qilabah tidak pernah mendengar hadits ini dari Anas secara langsung walaupun dia pernah mendengar dari orang lain tentang hadits ini yang berasal dari riwayat Anas.

Hadits ini hanya sebagian dari hadits panjang, yang menjelaskan tujuh orang shahabat mempunyai spesialisasi masing-masing. Penulis buku ini, menyebutkan satu orang shahabat saja yang terkait dengan bab ini; karena itu merupakan persaksian bagi Zaid bin Tsabit bahwa dia adalah shahabat yang paling mengetahui ilmu Fara’idh, maka ambillah ilmu darinya dan jadikan sebagai rujukan jika terjadi perselisihan. Imam Asy-Syafi’i banyak mengambil fatwa darinya dan lebih menguatkan pendapatnya daripada yang lainnya dalam masalah-masalah yang diperselisihkan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *