[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 292

07. KITAB JUAL BELI – 07.20. BAB FARA’IDH 04

0889

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَيْسَ لِلْقَاتِلِ مِنْ الْمِيرَاثِ شَيْءٌ» رَوَاهُ النَّسَائِيّ، وَالدَّارَقُطْنِيّ، وَقَوَّاهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ، وَأَعَلَّهُ النَّسَائِيّ، وَالصَّوَابُ وَقْفُهُ عَلَى عَمْرٍو

889. Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pembunuh tidak mendapatkan warisan apapun dari yang dibunuh.” (HR. An-Nasa’i dan Ad-Daraquthni, dan dikuatkan Ibnu Abdil Bar. Hadits ini ma’lul menurut An-Nasa’i dan sebenarnya hadits ini mauquf pada Amar)

[shahih, Al-Irwa’ (1671)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini mempunyai banyak syahid (hadits pendukung) sehingga tetap diamalkan sesuai dengan pengertiannya secara umum.

Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan pengikutnya serta kebanyakan ulama berpendapat bahwa si pembunuh tidak mendapatkan warisan dan juga bagian dari diyat, dengan tidak membedakan antara pembunuhan yang sengaja membunuh atau tidak. Sementara Al-Hadawiyah dan Imam Malik berpendapat: jika pembunuhan terjadi tidak sengaja; maka dia masih mendapatkan warisan, tapi tidak mendapatkan bagian diyat. Sedangkan tidak ada dalil yang menetapkan hukuman berbeda bagi pelaku pembunuhan dilihat dari aspek sebab-musababnya.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Khallas, bahwa ada seorang laki-laki yang melemparkan batu, tetapi terkena ibunya sendiri, lalu meninggal dunia, orang tersebut ingin mendapatkan warisan dari harta ibu tersebut, maka saudara-saudaranya berkata, “Kamu tidak mempunyai hak lagi dari harta warisannya”. Akhirnya mereka pergi menemui Ali Radhiyallahu Anhu meminta fatwa atas masalah yang mereka alami. Ali berkata, “Kamu tidak boleh mendapatkan bagian warisan lagi, bahkan diwajibkan membayar diyat atas kematiannya, serta tidak mendapatkan bagian dari harta warisan darinya.”

Diriwayatkan juga dari Jabir bin Zaid, ia berkata, “Siapa saja yang membunuh seorang laki-laki ataupun wanita yang akan memberikan warisan kepadanya sengaja atau tidak sengaja; maka dia tidak akan mendapatkan warisan darinya, dan setiap wanita yang membunuh seorang laki-laki ataupun wanita yang akan memberikan warisan ke-padanya sengaja atau tidak sengaja; maka dia tidak akan mendapatkan warisan darinya. Jika dia membunuhnya dengan sengaja, maka dia harus diqishash, kecuali jika dimaafkan para wali dari pihak yang terbunuh, ditambah lagi dia tidak berhak mendapatkan warisan dari hartanya maupun bagian dari diyat. Seperti itulah Umar bin Khaththab, Ali, Syuraih dan lainya memberikan putusan atas perkara seperti itu.

0890

وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «مَا أَحْرَزَ الْوَالِدُ أَوْ الْوَلَدُ فَهُوَ لِعَصَبَتِهِ مَنْ كَانَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ الْمَدِينِيِّ، وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ

890. Dari Urnar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apa yang diperoleh oleh ayah atau anak adalah untuk ashabah, siapun dia.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Hadits dishahihkan oleh Ibnu Al-Madini dan Ibnu Abdil Bar)

[hasan, Abi Dawud (2917)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apa yang diperoleh oleh ayah atau anak adalah untuk ashabah, siapun dia.” HR. Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Majah. Hadits dishahihkan oleh Ibnu Al-Madini dan Ibnu Abdil Bar (maksud dari apa-apa yang diperoleh oleh ayah atau anak adalah apa yang menjadi hak ayah atau anak; semua itu menjadi hak waris bagi ashabahnya)

Dikisahkan sebuah hadits dalam As-Sunan dengan lafazh:

«أَنَّ رِئَابَ بْنَ حُذَيْفَةَ تَزَوَّجَ امْرَأَةً فَوَلَدَتْ لَهُ ثَلَاثَةَ غِلْمَةٍ فَمَاتَتْ أُمُّهُمْ فَوَرِثُوهَا رِبَاعَهَا وَوَلَاءَ مَوَالِيهَا، وَكَانَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ عَصَبَةَ بَنِيهَا فَأَخْرَجَهُمْ إلَى الشَّامِ فَمَاتُوا فَقَدِمَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ، وَمَاتَ مَوْلًى لَهَا وَتَرَكَ مَالًا فَخَاصَمَهُ إخْوَتُهَا إلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ عُمَرُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» مَا أَحْرَزَ – الْحَدِيثَ قَالَ فَكَتَبَ لَهُ كِتَابًا فِيهِ شَهَادَةُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ وَرَجُلٍ آخَرَ ”

Bahwa Ri’ab bin Hudzaifah menikah dengan seorang wanita, lalu lahirlah 3 orang anak laki-laki, setelah itu istrinya meninggal dunia, ketiga anaknya mewarisi rumah beserta tanah di sekitarnya dan perwalian dari budak-budaknya. Amru bin Ash adalah ashabah bagi mereka, lalu dia mengajak ketiga anak tersebut ke Syam, tetapi mereka meninggal semua; karena ternyata di negeri Syam sedang dilanda wabah penyakit tha’un, ketika Amru pulang, budak yang sudah ada perwalian nasab dengan wanita [ibu] meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, lalu saudara dari wanita yang meninggal itu menuntut bagian mereka dari harta warisan tersebut, mereka pun pergi menemui Umar bin Khaththab, Umar menjawab dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apa yang diperoleh oleh ayah atau anak adalah untuk ashabah, siapun dia” dan memberikan sebuah catatan dengan persaksian dari Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit dan yang lainnya.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa wala’ tidak bisa diwariskan kepada ahli warisnya, namun permasalahan ini masih diperselisihkan para ulama apakah diwariskan atau tidak. Faedah perbedaan ulama akan terlihat bila ada seorang yang memerdekakan budak, lalu orang itu wafat dengan meninggalkan dua orang saudara atau dua orang anak, kemudian salah satu anaknya wafat dengan meninggalkan seorang anak laki-laki atau salah satu saudaranya wafat dengan meninggalkan seorang anak. Bagi yang berpendapat bahwa wala’ [perwalian nasab] diwariskan; maka dibagikan antara anak laki dan cucu anak laki atau anak dari saudara yang wafat, namun bagi yang berpendapat bahwa itu tidak diwariskan; semua itu menjadi hak mutlak anaknya saja.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *