[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 291

07. KITAB JUAL BELI – 07.20. BAB FARA’IDH 03

0886

وَعَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِ يَكْرِبَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْخَالُ وَارِثُ مَنْ لَا وَارِثَ لَهُ» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ سِوَى التِّرْمِذِيِّ، وَحَسَّنَهُ أَبُو زُرْعَةَ الرَّازِيّ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَابْنُ حِبَّانَ

886.Dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Paman [dari pihak ibu] menjadi pewaris orang yang tidak memiliki ahli waris.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali At-Tirmidzi. Hadits ini derajatnya hasan menurut Abu Zar’ah Ar-Razi, dan shahih menurut Al-Hakim dan Ibnu Hibban)

[hasan shahih, Abi Dawud (2899, 2900, 2901).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa paman [dari pihak ibu] mendapatkan harta waris apabila tidak ada ahli waris si mayat, baik dari pihak ashabah maupun ashabnl furudh [ahli waris yang mendapatkan bagian tertentu], dan paman [dari pihak Ibu] termasuk dzawil arham [pertalian kekerabatan karena kesatuan rahim].

Para ulama berbeda pendapat tentang hak waris bagi dzawil Arham. Kelompok terbesar dari ulama ‘Aali dan yang lainnya berpendapat, bahwa mereka juga menjadi ahli waris. Maka barangsiapa yang meninggal dunia dan hanya meninggalkan bibi dari pihak bapak dan ibu, maka bibi dari pihak bapak mendapatkan bagian 2/3 dan bibi dari pihak Ibu mendapat bagian 1/3. Mereka beristidhlal dengan hadits ini dan firman juga Allah Ta’ala,

{وَأُولُو الأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ}

“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya.” (QS. Al-Anfal: 75)

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa dzawil arham tidak bisa menjadi ahli waris; karena ketetapan ahli waris harus berdasarkan pada Al-Qur’an, As-Sunnah atau ijma’ ulama. Dari semua sumber-sumber hukum tadi tidak ada satu nash yang menyatakan bahwa dzawil arham menjadi ahli waris, dan mereka mengatakan bahwa hadits di atas hanya memberikan hak ahli waris kepada paman [dari pihak ibu] dan tidak bagi yang lainnya, dan ayat “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya”, bersifat mujmal artinya masih butuh ada penafsiran lagi. Penamaan mereka dengan Ulil Arham tidak sama dengan istilah yang biasa dipergunakan oleh ahli Fikih.

Ada beberapa riwayat yang menerangkan tentang hal itu, seperti, “Bibi dari pihak bapak dan pihak ibu tidak bisa menjadi ahli waris” walaupun hadits ini diperselisihkan keshahihannya, akan tetapi menguatkan bahwa pada dasarnya bibi, baik dari pihak bapak dan ibu, tidak mendapatkan warisan sampai ada dalil yang membantah atau menyalahkan pendapat kami. Kelompok yang mengatakan bahwa Ulil Arham tidak mendapatkan harta warisan, mereka berpendapat bahwa harta warisan itu diserahkan kepada Baitul Mai, yang dikelola oleh seorang pemimpin yang adil yang mampu memanfaatkan dan mendistribusikannya dengan tepat, atau ada seorang hakim adil yang diberi kewenangan untuk memanfaatkan dan mendistribusikan harta itu dengan tepat; maka harta warisan itu diserahkan kepadanya. Keterangan lebih lanjut tentang Ulil Arham lainnya terdapat pada kitab-kitab fara’idh; maka kami tidak akan memperpanjang pembahasan tentang masalah ini.

0887

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ إلَى أَبِي عُبَيْدَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ مَوْلَى مَنْ لَا مَوْلَى لَهُ، وَالْخَالُ وَارِثُ مَنْ لَا وَارِثَ لَهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ سِوَى أَبِي دَاوُد، وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

887. Dari Abu Umamah bin Sahal Radhiyallahu Anhu berkata, “Umar mengirim surat kepada Abu Ubaidah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah dan Rasul-Nya menjadi pelindung bagi orang yang tidak mempunyai pelindung, dan paman [dari pihak ibu] menjadi pewaris orang yang tidak memiliki ahli waris.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali Abu Dawud. Hadits hasan menurut At-Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Hibban)

[Shahih: At-Tirmidzi (2103)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah bantahan bagi sebagian orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud ‘al-Khal’ pada hadits riwayat Al-Miqdam adalah sulthan [pemimpin]. Bila pendapat itu benar, pasti Nabi mengatakan, “Aku adalah pewaris bagi yang tidak mempunyai ahli waris.”

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan Ibnu Hibban,

«أَنَا وَارِثُ مَنْ لَا وَارِثَ لَهُ أَعْقِلُ عَنْهُ، وَأَرِثُهُ»

“Aku adalah pewaris bagi siapa yang tidak memiliki ahli waris, membayar diyat [denda] untuknya dan mewarisi hartanya.”

Untuk menggabungkan antara riwayat dari Al-Miqdam dan Abu Umamah yang sama-sama menetapkan hak waris bagi paman [dari pihak Ibu] jika tidak ada ahli waris lagi yang berhak menerima harta warisan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan hal itu manakala tidak ada ahli waris lagi baik dari pihak yang berhak mendapatkan ashabah maupun ashabul furudh, dan juga paman [dari pihak ibu] tidak ada.

Maksud Nabi mewarisi harta tersebut adalah, harta itu didistribusikan untuk kemashlahatan kaum muslimin, dan harta warisan itu tidak akan diserahkan ke Baitul Mal, kecuali jika semua orang yang berhak mewarisi tersebut di atas tidak ada.

0888

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا اسْتَهَلَّ الْمَوْلُودُ وُرِّثَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

888. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila anak yang lahir menangis, ia sudah menjadi ahli waris.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Ini adalah lafazh hadits dari riwayat Abu Hurairah sebagaimana terdapat dalam Shahih Abi Dawud (2920), dan hadits Jabir ini dikeluarkan At-Tirmidzi (1032).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Makna istihlal (suara atau tangisan bayi di saat lahir) dalam sebuah hadits marfu’ yang dha’if disebutkan bahwa,

«الِاسْتِهْلَالُ الْعُطَاسُ»

“Istihlal [dapat diketahui] dengan bersin-bersin.” (HR. Al-Bazzar) [Kasyf Al-Astar (1390)]

Ibnu Al-Atsir berkata, “Bayi lahir dikatakan hidup bila dia menangis.” Tangisan merupakan bentuk kinayah bahwa ia telah lahir dalam keadaan hidup atau dia tidak menangis, tapi terdapat tanda-tanda kehidupan padanya.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila ada keguguran namun lahir dengan memperlihatkan tanda-tanda kehidupan; maka dia mendapatkan hukum atau perlakuan yang sama dengan lainnya, yaitu berhak mendapatkan warisan dan juga hukum lainnya seperti dimandikan, dikafani dan dishalati. Bagi penyebab keguguran itu harus dihukum baik dengan qishash atau membayar diyat. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang jumlah saksi yang memberitahukan bayi keguguran itu lahir dalam hidup. Menurut pengikut madzhab Al-Hadawiyah cukup satu orang wanita adil. Menurut Al-Hadi harus dengan dua orang wanita adil. Sedang menurut Imam Asy-Syafi’i harus empat orang wanita adil yang menjadi saksi bahwa bayi keguguran yang lahir dalam keadaan hidup. Perbedaan seperti ini pun terjadi juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan aurat wanita.

Hadits ini juga menunjukkan, bahwa bila ada bayi keguguran lahir dalam keadaan mati atau tidak menunjukkan sama sekali tanda-tanda kehidupan dari awal; maka dia tidak memperoleh hukum-hukum yang tersebut di atas.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *