[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 290

07.20. BAB FARA’IDH – 07.20. BAB FARA’IDH 02

0882

«وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – فِي بِنْتٍ وَبِنْتِ ابْنٍ وَأُخْتٍ – فَقَضَى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِلِابْنَةِ النِّصْفُ، وَلِابْنَةِ الِابْنِ السُّدُسُ – تَكْمِلَةَ الثُّلُثَيْنِ – وَمَا بَقِيَ فَلِلْأُخْتِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

882. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu tentang bagian warisan anak perempuan, cucu perempuan, dan saudara perempuan. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan untuk anak perempuan mendapatkan setengah, cucu perempuan seperenam- sebagai penyempurna [bagian] dua pertiga- dan selebihnya adalah milik saudara perempuan.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (6736)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menerangkan, bahwa bila terkumpul antara saudara perempuan, anak perempuan dan cucu perempuan dari anak laki-laki si mayit, maka saudara perempuan menjadi ashabah. Hal ini sudah disepakati, apabila saudara-saudara perempuan berkumpul dengan anak-anak perempuan, maka kedudukannya menjadi ashabah. Sedangkan Abu Musa berfatwa, bahwa saudara perempuan mendapatkan bagian setengah. Lalu Abu Musa menyuruh si penanya tersebut untuk bertanya kepada Ibnu Mas’ud. Maka Ibnu Mas’ud menetapkan sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah pada perkara seperti itu. Lalu Abu Musa berkomentar, “Janganlah kalian bertanya kepadaku, selagi sang alim [al-habr] ini berada di antara kalian.”

Abu Ubaid menerangkan, makna al-habr adalah seorang alim yang pintar memberikan jawaban solutif. Ada juga yang mengatakan, dijuluki dengan demikian karena banyaknya ilmu yang diwariskan kepada generasi setelahnya.

0883

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَتَوَارَثُ أَهْلُ مِلَّتَيْنِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ، وَالتِّرْمِذِيُّ، وَأَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ بِلَفْظِ أُسَامَةَ، وَرَوَى النَّسَائِيّ حَدِيثَ أُسَامَةَ بِهَذَا اللَّفْظِ

883. Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak bisa saling mewarisi orang yang berlainan agama.” (HR. Ahmad, Al-Arba’ah kecuali At-Tirmidzi. HR. Al-Hakim dengan lafazh dari Usamah. HR. An-Nasa’i meriwayatkan dari Usamah dengan lafazh seperti ini)

[Shahih: Abi Dawud (2911)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak bisa saling mewarisi antara penganut agama yang berbeda dengan orang kafir, atau antara Islam dengan kafir. Jumhur ulama berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan dua agama berbeda adalah seperti agama Islam dengan agama kafir [non-Islam], maka hal ini sejalan dengan hadits Nabi yang menyatakan, “Orang muslim tidak mewarisi harta orang kafir.” Mereka menambahkan, adapun selain agama Islam [kafir,] mereka bisa saling mewarisi walaupun berbeda-beda; berdasarkan ketetapan Islam.

Hanya Imam Al-Auza’i yang tidak sependapat dengan Jumhur ulama, ia berpendapat, “Orang Yahudi tidak mewarisi harta orang Nashrani, begitu juga sebaliknya. Hal ini berlaku juga bagi semua agama.” Pendapat Al-Auza’i ini sejalan dengan makna zhahir hadits tersebut; maka inilah yang menjadi pendapat madzhab Al-Hadawiyah. Hadits tersebut mentakhshis ketetapan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an dalam firman Allah Ta’ala,

{يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ}

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu,” (QS. An-Nisaa’: 11)

Ayat itu umum berlaku untuk semua anak-anak, lalu dikecualikan anak-anak yang beragama kafir, karena dia tidak mewarisi harta dari bapaknya yang beragama Islam. Artinya, hukum dalam Al-Qur’an ditakhshih dengan hadits ahad, sebagaimana diketahui dalam dalam ilmu ushul [kaedah-kaedah penetapan hukum dalam Islam].

0884

وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ: إنَّ ابْنَ ابْنِي مَاتَ، فَمَا لِي مِنْ مِيرَاثِهِ؟ فَقَالَ: لَك السُّدُسُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: لَك سُدُسٌ آخَرُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ. فَقَالَ: إنَّ السُّدُسَ الْآخَرَ طُعْمَةٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَهُوَ مِنْ رِوَايَةِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ عَنْ عِمْرَانَ، وَقِيلَ: إنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ

884. Dari Imran Ibnu Al-Hushain Radhiyallahu Anhu berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Cucu laki-laki dari puteraku meninggal dunia, berapa bagianku dari harta peninggalannya?'” Beliau bersabda, “Untukmu seperenam”, ketika dia berpaling beliau memanggilnya dan bersabda, “Untukmu seperenam lagi.” Ketika dia berpaling, beliau memanggilnya dan bersabda, “Yang seperenam lagi itu sebagai tambahan.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut At-Tirmidzi. Ini riwayat Hasan Al-Bashri dari Imran. Ada yang mengatakan bahwa dia tidak mendengar darinya)

[Dha’if: Abi Dawud (2896).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Qatadah berkata, “Saya tidak tahu bagaimana sistem warisannya, lalu ia menambahkan, “Setidaknya kakek tadi mendapatkan bagian 1/6, gambaran masalah ini: apabila si mayit meninggalkan dua anak perempuan dan si penanya tadi adalah kakeknya sendiri, maka dua anak perempuan mendapatkan 2/3 dan tersisa 1/3, lalu Nabi memberikan 1/6 bagian yang menjadi haknya, dan tidak langsung memberikan 1/6 lainnya agar tidak dianggap bahwa bagiannya adalah 1/3 melainkan Nabi biarkan dia berpaling; maksudnya pergi meninggalkannya, baru kemudian dipanggil dan diberitahu: bahwa kakek tadi mendapatkan 1/6 lagi, yaitu sisa warisan. Ketika dia hendak pergi lagi, Nabi memanggilnya dan bersabda, “Yang 1/6 lagi itu adalah rezekimu, yaitu tambahan bagian yang harus diterimanya. Nabi melakukan hal seperti itu untuk memberitahukan bagian yang seperenam lagi itu adalah tambahan atas bagian yang semesti dia terima, maka si kakek tadi mendapatkan bagian 1/6 haknya dan 1/6 lagi sebagai ashabah.

0885

وَعَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَعَلَ لِلْجَدَّةِ السُّدُسَ، إذَا لَمْ يَكُنْ دُونَهَا أُمٌّ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَابْنُ الْجَارُودِ، وَقَوَّاهُ ابْنُ عَدِيٍّ

885. Dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan bagian 1/6 untuk nenek bila tidak ada ibu (ibu dari si mayit).” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Huzaimah dan Ibnu Al-Jarud, dan dikuatkan Ibnu Adi)

[Dha’if: Abi Dawud (2895).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan bagian 1/6 untuk nenek bila tidak ada ibu (ibu dari si mayit).” HR. Abu Dawud dan An Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Huzaimah dan Ibnu Al-Jarud, dan dikuatkan Ibnu Adi (di antara perawi hadits ini terdapat Ubaidillah Al-Ataki yang diperselisihkan ketsiqahannya tapi Abu Hatim mentsiqahkannya).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa bagian warisan nenek adalah 1/6, baik dia nenek dari pihak ibu atau dari pihak bapak, kedua nenek atau lebih berserikat [berbagi sama] atas harta warisan apabila mereka berada dalam satu tingkatan, namun jika berbeda; maka yang terjauh dari kedua belah pihak akan terhalang. Tetapi, mereka tidak akan terhalang melainkan jika ada ibu dan bapak yang menjadi penghalang dari masing-masing pihak.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *