[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 29

01.08. BAB MANDI DAN HUKUM JUNUB 03

0109

109 – وَلِلْأَرْبَعَةِ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً» ، وَهُوَ مَعْلُولٌ

109. Dan bagi imam yang empat, dari Aisyah RA dia berkata, ‘Rasulullah SAW pernah tidur padahal beliau sedang junub, tanpa menyentuh air.’ Hadits ini cacat.’

[Shahih: Shahih Abu Daud 228]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Penulis telah menjelaskan alasan cacatnya, yaitu karena termasuk riwayat dari Abu Ishaq dari Al Aswad dari Aisyah RA. Ahmad berkata, “Ia itu tidak shahih.” Dan Abu Daud berkata, “Hadits itu diragukan keshahihannya.”

Alasannya adalah karena Abu Ishaq tidak mendengarkannya dari Al Aswad, akan tetapi dishahihkan oleh Al Baihaqi dan ia berkata, “Abu Ishaq betul-betul mendengarkan hadits tersebut dari Al Aswad, maka batallah perkataan bahwa ulama-ulama hadits telah sepakat akan kesalahan Abu Ishaq.”

At Tirmidzi mengatakan, “andai hadits itu shahih, mungkin yang dimaksud Aisyah RA adalah beliau SAW tidak menyentuh air untuk mandi”, maka saya (Ash Shan’ani) katakan, “Hadits atsar sesuai dengan hadits dalam Ash-Shahihain yang menjelaskan bahwa Nabi SAW berwudhu dan mencuci kemaluannya terlebih dahulu ketika akan tidur, makan, minum dan bercampur dengan istrinya.”

Para ulama berbeda pendapat, apakah berwudhu itu wajib, ataukah tidak? Jumhur ulama mengatakan tidak wajib, berdasarkan hadits bab ini yang menjelaskan bahwa beliau tidak menyentuh air dan berdasarkan hadits tentang Nabi SAW menggilir istri-istri beliau dengan satu kali mandi. Tidak diragukan bahwa yang mengklaim pendapat tersebut tidak terdapat padanya dalil ini.

Daud dan sekelompok ulama lainnya berpendapat mengenai wajibnya, karena disebutkan perintah mencuci dalam riwayat Muslim,

«لِيَتَوَضَّأْ ثُمَّ لِيَنَمْ»

“Hendaklah dia berwudhu kemudian tidur..” [Muslim 306]

Juga dalam riwayat Al Bukhari:

«اغْسِلْ فَرْجَك ثُمَّ تَوَضَّأْ»

“Cucilah kemaluanmu, kemudian berwudhu.” [1]

Asal dari suatu perintah adalah menunjukkan wajib.

Jumhur ulama mentakwilkan bahwa hal itu menunjukkan sunnah, untuk mengkompromikan antara berbagai dalil tersebut, dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahih keduanya dari hadits Umar berikut:

«أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَيَنَامُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَيَتَوَضَّأُ إنْ شَاءَ»

“Bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW, ‘Apakah seseorang dari kami boleh tidur dalam keadaan junub?’ beliau menjawab ‘Ya’, dan dia boleh berwudhu jika dia mau.”

Asalnya dalam Ash-Shahihain tetapi tanpa penambahan kata (jika dia mau), hanya saja pentashihan dari orang yang menyebutkannya, ia meriwayatkannya dalam kitab Ash Shahih dari kitabnya cukup untuk menjadi pegangan.

Dan diperkuat oleh hadits ‘Dan beliau tidak menyentuh air’ dan tidak membutuhkan penakwilan At Tirmidzi. Juga memperkuat hukum asal, yakni tidak diwajibkan berwudhu bagi orang yang ingin tidur dalam keadaan junub, sebagaimana pendapat jumhur ulama.

________________

[1] Al Bukhari tidak meriwayatkan dengan lafazh ini, Ash Shan’ani mendukung Ibnu Hajar dalam dugaan ini, lihat At Talkhish (1/141)

0110

110 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ، ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ، فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ. ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ، فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ، ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.

110. Dari Aisyah RA dia berkata: Rasulullah SAW apabila mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya, kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu lalu mengambil air, kemudian memasukkan jari-jari tangannya ke pangkal rambutnya, kemudian menuangkan di atas kepalanya tiga kali, kemudian menuangkan air ke sekujur tubuhnya, kemudian beliau mencuci kedua kakinya. (Muttafaq alaih, dan lafazh ini milik Muslim)

[Al Bukhari 183 dan Muslim 306]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW apabila mandi junub, (yakni hendak mandi junub) beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya, (dalam hadits maimunah disebutkan dua kali atau tiga kali) kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu (dalam hadits Maimunah, seperti wudhu untuk shalat) lalu mengambil air, kemudian memasukkan jari-jari tangannya ke pangkal rambutnya, (yakni rambut kepalanya, dalam riwayat Al Baihaqi, “Beliau menyela-nyela belahan kepalanya bagian kanan, lalu menelusuri pangkal rambutnya, kemudian beliau mengerjakan pada belahan kepalanya bagian kiri dengan cara yang demikian pula.”) kemudian menuangkan di atas kepalanya tiga kali, (lafazh hafanah berarti sepenuh telapak tangan, sebagaimana dalam An Nihayah dan kitab Al Qamus, boleh mengkasrahkan ‘ha dan boleh memfathahkannya, sebagaimana dalam Al Qamus, dan dalam hadits Maimunah, “Kemudian beliau menuangkan air ke atas kepalanya dengan tiga kali sepenuh kedua telapak tangannya.” Tapi kebanyakan riwayat Muslim menggunakan kalimat ‘Sepenuh telapak tangannya, dengan bentuk tunggal) kemudian menuangkan air ke sekujur tubuhnya, (yaitu tubuhnya yang belum terkena air) kemudian beliau mencuci kedua kakinya.

0111

111 – وَلَهُمَا، مِنْ حَدِيثِ مَيْمُونَةَ: «ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ ضَرَبَ بِهَا الْأَرْضَ» – وَفِي رِوَايَةٍ: فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ، وَفِي آخِرِهِ: ثُمَّ أَتَيْته بِالْمِنْدِيلِ، فَرَدَّهُ، وَفِيهِ: وَجَعَلَ يَنْفُضُ الْمَاءَ بِيَدِهِ.

111. Dan bagi keduanya (Al Bukhari dan Muslim), dari hadits Maimunah RA, ‘Lalu beliau menyiram kemaluannya dan mencucinya dengan tangan kirinya, lalu beliau memukulkan tangannya ke tanah.’ Di dalam riwayat lainnya, ‘Beliau mengusap tangannya dengan debu dan di akhirnya, ‘kemudian aku memberikan beliau sapu tangan tetapi beliau menolaknya.’ Dan dalam hadits itu disebutkan, ‘Dan beliau mengibaskan air dengan tangannya.”

[Al Bukhari 254, Muslim 317]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits Maimunah menyebutkan tentang cara mandi junub Nabi SAW mulai dari awal hingga selesai, tetapi penulis hanya mengambil apa yang tidak terdapat dalam hadits Aisyah RA.

Di dalam riwayat lainnya, ‘Beliau mengusap tangannya dengan debu dan di akhirnya, ‘kemudian aku memberikan beliau sapu tangan tetapi beliau menolaknya.’ Dan dalam hadits itu disebutkan, ‘Dan beliau mengibaskan air dengan tangannya.”

Sebelumnya lafazh ini dalam hadits keduanya, “Kemudian beliau beranjak dari tempatnya, lalu mencuci kedua kakinya, lalu saya mendatanginya… sampai akhirnya.

Kedua hadits tersebut mencakup keterangan tata cara mandi junub mulai dari permulaan sampai akhirnya, dimulai dengan mencuci kedua tangan sebelum mencelupkannya ke dalam bejana ketika baru bangun dari tidur, sebagaimana yang ditegaskan hadits, jika mandinya dari bejana, dan di dalam hadits Maimunah ditaqyid dengan dua atau tiga kali.

Lafazh ‘kemudian beliau mencuci kemaluannya’. Di dalam kitab Asy Syarh, sesungguhnya menurut zhahirnya hadits mencuci tangan itu diungkapkan dalam bentuk umum, sehingga cukup sekali saja dan menggosok tangan ke tanah untuk menghilangkan bau di tangan, tidak disebutkan kalau beliau mengulangi mencuci kemaluannya, padahal kalau saja bau masih ada di tangan, berarti bau juga masih melekat di kemalauan, inilah yang bisa dipahami dari hadits tersebut.

Hadits itu juga menunjukkan bahwa air yang digunakan membersihkan tempat yang bernajis adalah suci lagi menyucikan, juga menunjukkan bahwa niat untuk mandi menghilangkan najis harus disertai dengan niat untuk menghilangkan hadats. Dan dijadikan dalil bahwa bau yang belum hilang setelah mencuci tempat yang terdapat najis tidaklah membahayakan, dan menunjukkan bahwa mandi junub (yang wajib) hanya sekali.

Ini komentarnya dan mungkin juga tidak ada lagi baunya akan tetapi beliau menggosok tangannya ke tanah itu hanya untuk menghilangkan lengketnya tangan, jika betul bahwa bau tersebut sudah hilang.

Adapun wudhu beliau sebelum mandi junub, boleh jadi seperti wudhunya untuk shalat, dan wudhu tersebut sah sebelumnya menghilangkan hadats besar. Membasuh anggota-anggota wudhu tersebut sudah mencukupi dari mandi junub. Kedua cara bersuci itu digabung, ini adalah pendapat Zaid bin Ali, Asy-Syafi’i dan sekelompok ulama lainnya bahkan Ibnu Baththal menukil bahwa para ulama telah ijma’ dalam hal tersebut.

Mungkin juga beliau SAW mencuci anggota wudhu untuk mandi junub, beliau mendahulukannya karena untuk memuliakannya, lalu beliau berwudhu untuk shalat. Tetapi pendapat ini pada dasarnya tidak ada yang menukilnya.

Mungkin juga wudhu beliau adalah untuk shalat, kemudian beliau menuangkan air padanya beserta anggota tubuh launnya dengan niat mandi junub. Tapi ungkapan (beliau mencurahkan air ke sekujur tubuhnya) tidak sesuai dengan ungkapan ini, karena zhahirnya bahwa beliau mencurahkan air pada bagian tubuhnya yang belum terkena air, padahal kata sa’ir artinya yang tersisa bukan semuanya. Di dalam Al Qamus dikatakan bahwa kata sa’ir artinya sisa, bukan semuanya seperti dugaan banyak orang.

Dua hadits tersebut menjelaskan bahwa mencuci anggota wudhu cukup sekali saja, untuk mandi junub dan wudhu, dan tidak disyariatkan sahnya wudhu dengan hilangnya hadats besar. Adapun orang yang berpendapat bahwa keduanya (wudhu dan mandi junub) tidak menyatu, dan orang itu mesti berwudhu setelah sempurna mandinya, tidak ada dalil yang mendukung pendapat tersebut.

Telah ditegaskan dalam Sunan Abu Daud:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَغْتَسِلُ وَيُصَلِّي الرَّكْعَتَيْنِ وَصَلَاةَ الْغَدَاةِ وَلَا يَمَسُّ مَاءً»

“Bahwa Rasulullah SAW biasanya mandi dan shalat sunnah dua rakaat lalu shalat shubuh dan tidak menyentuh air.” [Shahih: Abu Daud 250]

Maka batallah pendapat yang mengatakan bahwa tidak terdapat dalam hadits Maimunah dan hadits Aisyah RA yang menyatakan bahwa beliau melaksanakan shalat setelah mandi junub itu. Dan juga alasan bahwa wudhu dan mandi junub menjadi satu tidaklah sempurna, kecuali jika benar-benar ada hadits yang menyatakan bahwa beliau shalat setelah mandi junub.

Kami katakan, “Sudah jelas dalam kitab Sunan Abu Daud bahwa beliau melaksanakan shalat cukup dengan mandi junub saja (tanpa wudhu), memang betul tidak disebutkan bahwa beliau mengusap kepalanya ketika berwudhu sebelum mandi junub, kecuali hanya dikatakan bahwa sudah tercakup dalam hadits Maimunah dengan lafazh, “Beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat.’

Adapun ungkapan ‘Kemudian beliau mengguyurkan air’, kata mengguyurkan berarti mengalirkan air, ini dapat dijadikan dalil tidak wajibnya menggosok badan, karena yang namanya mandi tidak mengandung arti menggosok, sebab Maimunah sendiri menggunakan kata al ghusl (mandi) sedangkan Aisyah RA menggunakan kata al ifadhah (mengguyurkan) dan pengertiannya sama saja. Kata Al ifadhah tidak mengandung arti menggosok demikian pula kata al ghusl. Al Mawardi mengatakan, bahwa alasan tersebut tidak kuat, karena tetap saja ada perbedaan tentang persamaan arti al ifadhah dan al ghusl.

Al Mawardi berkata, “Tidak sempurna pengambilan dalil dengan hal itu, sebab ifadhah berarti ghusl, sedang perbedaannya pada mandi yang dijadikan alasan.”

Selanjutnya apakah membasuh anggota wudhu ketika berwudhu sebelum mandi junub perlu diulangi tiga kali? Hal itu tidak disebutkan dalam hadits Aisyah RA dan Maimunah. Al Qadhi Iyadh mengatakan, “Tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan demikian”, penulis berkata, “Tetapi yang demikian ada dalam riwayat yang shahih dari Aisyah RA.”

Mengenai ucapan Maimunah, “Bahwasanya beliau mengakhirkan membasuh dua kaki”, dan tidak terdapat dalam riwayat Aisyah RA. Ada yang berpendapat bahwa mungkin saja dia mengulangi membasuh kedua kakinya setelah lebih dahulu dia mencuci keduanya untuk berwudhu, sesuai dengan zhahir ucapan Maimunah, “Beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat’, kalimat ini jelas menunjukkan masuknya kedua kaki dalam hal itu.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang memilih mencucinya terlebih dahulu, ada yang memilih mengakhirkan mencuci keduanya. Dari keterangan di atas dapat diambil pengertian bolehnya memisahkan membasuh anggota-anggota wudhu.

Adapun ucapan Maimunah “Kemudian aku berikan beliau sapu tangan lalu beliau menolaknya”, itu terkandung dalil tidak disyariatkannya mengeringkan air pada anggota badan, dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat, pendapat yang paling masyhur adalah sebaiknya tidak dilakukan, ada yang mengatakan boleh, dan ada pula yang mengatakan selain itu.

Dalam hal tersebut terdapat dalil bahwa mengeringkan tangan dari air wudhu tidak apa-apa, pendapat ini bertentangan dengan hadits:

«لَا تَنْفُضُوا أَيْدِيَكُمْ فَإِنَّهَا مَرَاوِحُ الشَّيْطَانِ»

“Janganlah kami mengeringkan tanganmu, karena itu adalah kipas anginnya setan.”

[Dhaif: Dhaif Al Jami 873]

Hanya saja hadits ini dhaif, tidak dapat menandingi hadits di atas.

0112

112 – وَعَنْ «أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – قَالَتْ: قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي، أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ وَفِي رِوَايَةٍ: وَالْحَيْضَةِ قَالَ: لَا، إنَّمَا يَكْفِيك أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِك ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

112. Dari Ummu Salamah RA, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku orang yang suka mengikat rambut kepalaku, apakah aku harus melepaskan ikatan itu ketika akan mandi junub?” dalam riwayat lain, “Atau sewaktu mandi haidh?” beliau menjawab, ”Tidak usah, cukup bagimu menyiran kepalamu dengan tiga kali siraman.” (HR. Muslim)

[Muslim 330, riwayat dengan lafazh ‘dan haidh’ tidak benar, lihat Al Irwa 1/168, 169]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Adanya lafazh ‘Aku mengikat rambut kepalaku’ sebagai ganti dari lafazh sya’rii (rambutku), seakan-akan penulis meriwayatkannya dengan makna dan lafazh dhafr lebih dikenal.

Hadits tersebut sebagai dalil bahwa wanita tidak wajib menguraikan rambutnya (membuka sanggul) sewaktu mandi junub atau mandi haidh, tidak juga disyaratkan sampainya air ke pangkal-pangkal rambut.

Mengenai hukum menguraikan rambut sewaktu mandi junub, terdapat perbedaan pendapat:

Menurut Al Hadawiyah, tidak wajib menguraikannya ketika mandi junub, tetapi wajib hukumnya ketika mandi haidh atau nifas berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada Aisyah RA:

[اُنْقُضِي شَعْرَك وَاغْتَسِلِي]

“Uraikan rambutmu, kemudian mandilah” [Shahih: Ibnu Majah 646]

Pendapat ini dapat dijawab, bahwa hadits tersebut bertentangan dengan hadits bab ini, padahal keduanya dapat dikompromikan, bahwa perintah menguraikan itu adalah sunnah, atau bisa juga dijawab bahwa rambut Ummu Salamah jarang dan Rasulullah SAW tahu kalau air pasti sampai ke pangkal rambutnya.

Ada yang mengatakan, diwajibkan menguraikan rambut kalau air tidak bisa sampai ke pangkal rambut, dan jika air bisa sampai lantaran jarangnya rambut, maka tidak wajib menguraikannya, atau apabila rambutnya dijalin (diikat) maka perlu diuraikan, tapi jika tidak, maka tidak wajib diuraikan, karena air dapat sampai ke pangkalnya.

Adapun hadits:

«بُلُّوا الشَّعْرَ وَأَنْقُوا الْبَشَرَ»

“Basahilah rambutmu dan bersihkanlah kulitmu.” [akan dijelaskan takhrijnya nanti]

Tidak dapat menyamai hadits Ummu Salamah. Adapun perbuatan Rasulullah SAW yaitu beliau memasukkan tangannya –sebagaimana telah dijelaskan dalam bab mandi junub- adalah perbuatan yang tidak menunjukkan wajib, lagi pula ini berkaitan dengan laki-laki dan hadits Ummu Salamah berkaitan dengan cara mandinya perempuan, demikianlah kesimpulan yang terdapat dalam Asy Syarh.

Hadits Aisyah RA yang menceritakan ritual haji yang dilakukannya, di mana Aisyah RA berihram untuk umrah, kemudian dia haidh sebelum masuk Makkah, maka Nabi SAW menyuruhnya untuk menguraikan rambutnya, menyisir, mandi dan bertahallul untuk haji. Aisyah RA ketika itu belum suci dari haidhnya, itu hanyalah mandi agar bersih bukan mandi haidh, sehingga sebenarnya tidak ada pertentangan dengan hadits Ummu Salamah, juga tak butuh dengan berbagai macam penafsiran yang amat lemah tadi, karena membedakan antara rambut yang jarang dan yang tebal harus ada dalilnya.

Pendapat bahwa yang terikat dan yang lain tidak, dan ungkapan tentang keduanya dari perawi dengan lafazh menguraikan, merupakan pendapat yang tidak punya dalil.

Dalam masalah ini haditsnya sudah jelas: Ad Daruquthni meriwayatkan dalam kitab Al Afrad, At Thabrani dan Al Khathub meriwayatkan dalam AT Talkhish dan Ad Diya’ Al Maqdisi dari Anas secara marfu’:

«إذَا اغْتَسَلَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ حَيْضِهَا نَقَضَتْ شَعْرَهَا نَقْضًا وَغَسَلَتْهُ بِخَطْمِيٍّ وَأُشْنَانٍ، وَإِنْ اغْتَسَلَتْ مِنْ جَنَابَةٍ صَبَّتْ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهَا صَبًّا وَعَصَرَتْهُ»

“Apabila seorang perempuan mandi haidh, dia harus menguraikan rambutnya dengan sungguh-sungguh, lalu membasuhnya dengan daun khathmi, dan beberapa curahan, dan apabila mandi junub, dia harus menuangkan air ke atas kepalanya dengan sungguh-sungguh lalu memeras rambutnya.” [Adh Dhiya dalam Al Mukhtar 5/69, At Thabrani dalam Al Kabir 1/260]

Hadits ini meskipun diriwayatkan oleh Adh Diya’ Al Maqdisi –dan dia mengisyaratkan hadits yang diriwayatkannya shahih- namum menimbulkan zhan (keraguan) untuk pengamalannya, dan dipahami sebagai sunnah, karena ada penyebutan daun khatmi dan beberapa curahan, karena tidak ada yang menyatakan wajib menggunakan keduanya. Ia hanyalah qarinah yang menunjukkan sunnah, sedangkan hadits Ummu Salamah menunjukkan wajib, sebagaimana ia katakan ‘cukup bagimu’, apabila ia menambah dengan mengurai rambut, maka itu sunnah.

Dalil yang menunjukkan tidak wajibnya, adalah yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad:

«أَنَّهُ بَلَغَ عَائِشَةَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَأْمُرُ النِّسَاءَ إذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُءُوسَهُنَّ فَقَالَتْ: يَا عَجَبًا لِابْنِ عُمَرَ هُوَ يَأْمُرُ النِّسَاءَ أَنْ يَنْقُضْنَ شَعْرَهُنَّ أَفَلَا يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُءُوسَهُنَّ؟ لَقَدْ كُنْت أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ إنَاءٍ وَاحِدٍ فَمَا أَزِيدُ أَنْ أُفْرِغَ عَلَى رَأْسِي ثَلَاثَ إفْرَاغَاتٍ»

“Telah sampai kepada Aisyah RA berita bahwa Ibnu Umar menyuruh wanita mengurai rambutnya ketika mandi, Aisyah RA mengatakan, “Aneh sekali Ibnu Umar, mengapa dia menyuruh perempuan menguraikan rambutnya, mengapa dia tidak menyuruh mereka mencukur rambut sekalian? Sungguh aku pernah mandi bersama Rasulullah SAW dari satu bejana, maka aku tidak menuangkan air ke atas kepalaku lebih dari tiga tuangan.” [Muslim 331]

Sekalipun haditsnya tentang mandi junub dan zhahirnya apa yang dikutip dari Ibnu Umar menyuruh perempuan menguraikan rambutnya secara mutlak, baik ketika mandi haidh maupun mandi junub.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *