[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 289

07. KITAB JUAL BELI – 07.20. BAB FARA’IDH 01

Fara’idh bentuk jama’ dari faridhah yang berarti bagian yang telah ditentukan. Kata faraidh berasal dari kata al-fardhu yang berarti putus. Ilmu tentang warisan disebut dengan ilmu fara’idh diambil dari firman Allah Ta’ala,

{نَصِيبًا مَفْرُوضًا}

“menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (QS. An-Nisaa’: 7)

Maksudnya, ukuran yang telah ditentukan. Banyak sekali hadits yang menganjurkan untuk mempelajari ilmu fara’idh. Dan ada juga hadits yang menerangkan, bahwa ilmu faraidh adalah ilmu yang pertama kali cepat dilupakan manusia.

0880

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا، فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

880.Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Berikan bagian warisan kepada ahli warisnya, selebihnya adalah milik laki-laki yang paling terdekat.” (Muttafaq Alaihi)

[shahih, Al-Bukhari (6732), Muslim (1615)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Berikan bagian warisan kepada ahli warisnya (yaitu 6 bagian yang diterangkan dalam Al-Qur’an lengkap dengan yang berhak menerimanya) selebihnya adalah milik laki-laki yang paling terdekat (ada perbedaan di antara ulama tentang faedah penyebutan laki-laki dengan sifat kelaki-lakian dan kekerabatan; pengulangan sifat itu sebagai bentuk penguat [taukid]. Banyak sekali penjelasan tentang hal itu, akan tetapi faedahnya sedikit sekali)

Bagian warisan yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an ada enam: ½, ¼, 1/8, 2/3, 1/3, 1/6. Maksud dari ‘ahli warisnya’ adalah orang yang berhak mendapatkan bagian tersebut berdasarkan ketentuan dari Allah Ta’ala. Ibnu Baththal menerangkan bahwa yang dimaksud dengan laki-laki terdekat adalah, bila masih ada ashabah [ahli waris laki-laki yang berhak mendapatkan warisan tanpa ada ukuran tertentu] setelah ashabul furudh laki-laki [ahli waris yang berhak berdasarkan ketentuan Al-Qur’an], maka sisa warisan itu hanya dibagikan kepada yang paling dekat urutan nasabnya dengan mayit dan tidak dibagikan kepada yang jauh urutan nasabnya dan jika mereka sama derajat atau kedudukan nasabnya; maka mereka saling berbagi rata, dan bukanlah maksudnya kerabat laki-laki yang langsung berhubungan dengan pihak bapak ataupun ibu; karena tidak ada yang paling berhak di antara mereka terhadap si mayit jika mereka sama kedudukannya. Ada juga yang berpendapat, maksudnya bila terkumpul antara saudara dan saudari dari bapak (paman dan bibi dari pihak bapak), dan terkumpulnya anak perempuan dan laki-laki dari saudara si mayit (keponakan), dan terkumpulnya antara anak laki-laki dan perempuan dari saudara bapak.

Tidak termasuk dari gambaran di atas, saudara dan saudari sekandung atau seayah saja, karena mereka mendapatkan warisan berdasarkan firman dari Allah Ta’ala,

{وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ}

“Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan.” (QS. An-Nisaa’: 176)

Ashabah yang paling dekat dengan si mayit adalah anak laki-laki, cucu laki-laki dan seterusnya, baru kemudian bapak, kakek, bapaknya kakek (buyut) dan seterusnya. Perincian tentang bagian ashabah dan siapa saja yang berhak mendapatkan warisan terdapat pada kitab fara’idh. Hadits itu juga berlandaskan adanya pembagian warisannya kepada ashabah laki-laki, jika ashabah dari pihak laki-laki tidak ada; maka sisanya diberikan kepada kerabat wanita yang tidak mempunyai bagian yang ditetapkan dalam Al-Qur’an, seperti anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki dan saudara perempuan.

0881

وَعَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ، وَلَا يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

881.Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang muslim tidak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi harta orang muslim.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (4283), Muslim (1614)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang muslim tidak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi harta orang muslim.” Muttafaq Alaih (kata ‘muslim’ pada awal hadits menjadi subjek dan kata ‘kafir’ menjadi objek, sedangkan pada kalimat kedua kebalikannya, kebanyakan ulama berpendapat sebagaimana nash hadits tersebut. Sementara Mu’adz, Mu’awiyah, Masruq, Sa’id bin Al-Musayyib, Ibrahim An-Nakha’i, Ishaq, Al-Imamiyyah dan An-Nashir mereka berpendapat bahwa orang muslim mewarisi harta orang kafir, namun tidak sebaliknya).

Mu’adz berhujjah, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«الْإِسْلَامُ يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ»

“Islam itu bertambah dan tidak berkurang.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim. [Dha’if: Abi Dawud (2912, 2913).]

Musaddad meriwayatkan bahwa dia pernah melihat dua orang Muslim dan seorang Yahudi yang berselisih minta penyelesaian kepada Mu’adz tentang masalah warisan sepeninggal bapak mereka yang beragama Yahudi; sebab semua warisan itu diambil oleh anaknya yang beragama Yahudi, lalu Mu’adz menghakimi dengan memberikan warisan kepada yang muslim.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Ma’qal berkata, “Sungguh, aku tidak pernah melihat keputusan tentang warisan yang lebih bagus dari apa yang telah dilakukan oleh Mu’awiyah. Ia memberikan hak warisan kepada yang muslim walaupun yang meninggal dunia seorang ahli kitab, tetapi mereka tidak bisa mewarisi dari kami yang muslim; sebagaimana kita dihalalkan menikahi wanita ahli kitab tetapi tidak sebaliknya.”

Jumhur ulama membantah semua hujjah tersebut dengan mengatakan, bahwa hadits yang disepakati keshahihannya menegaskan tentang larangan mewarisi harta waris non muslim. Sementara hadits yang bersumber dari riwayat Mu’adz bukan merupakan dalil yang mengistimewakan seorang muslim atas yang lainnya, melainkan sebagai pemberitahuan bahwa agama Islam lebih utama daripada agama lainnya. Karena Islam adalah agama yang senantiasa bertambah dan tidak berkurang.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *