[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 288

07. KITAB JUAL BELI – 07.19. BAB BARANG TEMUAN 02

0877

وَعَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ وَجَدَ لُقَطَةً فَلْيُشْهِدْ ذَوَيْ عَدْلٍ، وَلْيَحْفَظْ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا، ثُمَّ لَا يَكْتُمْ، وَلَا يُغَيِّبْ، فَإِنْ جَاءَ رَبُّهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا، وَإِلَّا فَهُوَ مَالُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَابْنُ الْجَارُودِ، وَابْنُ حِبَّانَ

877. Dari ‘Iyadh bin Himar Radhiyallahu Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menemukan barang hilang, hendaknya dia mencari kesaksian dua orang adil, menjaga tempat/ apa yang dibawanya dan pengikatnya, serta tidak menyembunyikan dan menghilangkannya. Apabila pemiliknya datang, ia lebih berhak dengannya. Dan jika tidak datang, ia adalah harta Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali At-Tirmidzi. Hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Al-Jarud dan Ibnu Hibban)

[Shahih: Abi Dawud (1709)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Pembahasan tentang barang temuan, tempat perlengkapan dan talinya telah dibahas pada bagian terdahulu, dan hadits ini menambahkan satu syarat lagi untuk mempersaksikan barang temuannya dengan dua orang adil, Imam Abu Hanifah berpendapat seperti itu dan ini juga salah satu pendapat Imam Syafi’i dengan berkata, “Wajib hukumnya untuk mempersaksikan barang temuan dan tempat atau perlengkapan yang melekat padanya. Menururt Imam Malik, Al Hadi dan salah satu dari pendapat Imam Syafi’i menerangkan, “Tidak wajib hukumnya untuk mempersaksikan barang temuan; dengan berdalil: tidak ada keterangan tentang kewajiban untuk mempersaksikannya yang terdapat dalam hadits-hadits shahih, maka tambahan yang terdapat dalam hadits ini sifatnya sunnah dan tidak mewajibkan. Sedangkan yang pertama berpendapat: tambahan ini setelah diteliti kebenarannya maka wajib hukumnya untuk mempersaksikan barang temuan dan tidak boleh diabaikan dikarenakan tidak disebutkan dalam hadits-hadits terdahulu, dan yang paling benar adalah kewajiban untuk mempersaksikan barang temuan.

Sabda Nabi, “Maka ia adalah harta Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki” inilah yang menjadi dasar hukum Ahli Zhahir yang menyatakan bahwa barang temuan itu menjadi milik si penemu dan dia tidak wajib untuk menjamin (mengganti) harganya, pendapat ini dijawab: bahwa hadits ini dikhususkan hukumnya dengan hadits terdahulu yang mewajibkan bagi pengambil barang temuan itu untuk menjamin, sedangkan sabda Nabi: “Yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki” maksudnya bahwa barang temuan itu boleh dimanfaatkan setelah pemberitahuannya selama setahun.

0878

وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ التَّيْمِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «نَهَى عَنْ لُقَطَةِ الْحَاجِّ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

878. Dari Abdurrahman bin Utsman At-Taimi Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mengambil barang temuan milik orang haji. (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1724)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abdurrahman bin Utsman At Taimi (keturunan Quraisy, anak dari saudara Thalhah (keponakan Thalhah). Ibnu ‘Ubaidillah adalah seorang shahabat, ada yang mengatakan bahwa dia pernah sezaman dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam namun belum pernah meiihat Nabi, berislam pada masa Hudaibiyah, ada yang mengatakan pada hari ketika Fath Makkah, terbunuh bersama Ibnu Zubair) bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mengambil barang hilang milik orang haji. HR. Muslim, yaitu larangan Nabi mengambil barang hilang milik orang haji, yaitu yang dihilang di sekitar Makkah berdasarkan riwayat terdahulu dari Abu Hurairah yang menyatakan, “Tidak boleh diambil barang temuan hilang milik orang haji kecuali jika diumumkan”, telah diterangkan pada bagian terdahulu bahwa larangan mengambil barang hilang tersebut bila tujuannya ingin memilikinya bukan untuk diumumkan; sebab bila untuk diumumkan lagi maka boleh. Mereka berkata, “Larangan itu dikhususkan bagi orang yang haji karena memungkinkan untuk dikembalilkan kepada pemiliknya, sebab bila milik orang Mekah, tentu sangat mudah ditemukan kembali, tetapi jika milik orang-orang non-Mekah; bukan-kah setiap tahun orang-orang akan naik haji ke sana, jika yang mene-mukannya selalu mengumumkannya setiap tahun, akan memudahkan bagi yang memiliki barang tersebut menemukannya lagi sebagaimana yang disampaikan Ibnu Baththal.

Kebanyakan ulama berkata, “Sebetulnya tidak ada perbedaan antara ditemukan barang hilang orang Haji di Mekah maupun di negara lainnya, hanya saja di Mekah harus selalu diumumkan, karena orang yang haji akan kembali pulang ke rumah dan bisa saja tidak akan kembali ke Mekah lagi, maka diharuskan bagi yang menemukannya untuk terus-menerus mengumumkannya.” Pendapat yang paling benar adalah yang pertama, sedangkan hadits yang melarang ini dipertegas dengan hadits riwayat dari Abu Hurairah yang menyatakan boleh diambil bagi yang bertujuan mengumumkan dan mencari yang punya, khususnya barang temuan di Mekah yang tidak boleh diambil kecuali dengan tujuan diumumkan, dan mungkin hadits ini berlaku bagi semua barang hilang orang haji, baik di Mekah maupun tempat lainnya, karena dalil mutlak dan tidak ada pengkhususannya di Mekah.

0879

وَعَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِ يَكْرِبَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَلَا لَا يَحِلُّ ذُو نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ، وَلَا الْحِمَارُ الْأَهْلِيُّ، وَلَا اللُّقَطَةُ مِنْ مَالِ مُعَاهَدٍ، إلَّا أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْهَا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

879. Dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ingatlah, tidak halal binatang buas bertaring, keledai negeri dan mengambil barang temuan milik orang kafir mu’ahad (orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin) kecuali jika ia tidak memerlukannya lagi.” (HR. Abu Dawud)

[Shahih: Abu Dawud (3804)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini akan dibahas secara rinci pada bab tentang makanan, dalam hadits ini disebutkan (mengambil barang temuan milik orang kafir mu’ahad (orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin) hadits ini menerangkan bahwa barang temuannya sama hukumnya dengan barang temuan orang muslim, mungkin orang kafir menemukannya di tempat yang mayoritas dihuni orang kafir atau semuanya orang kafir dzimmi; bila tidak itu menjadi barang temuan yang tidak diketahui dari mana asalnya. Sabda Nabi, “kecuali ia tidak memerlukannya lagi” barang temuan itu ditafsirkan dengan sesuatu yang sepele seperti yang terdapat dalam pembahasan terdahulu tentang kurma dan lain sebagainya atau yang punya tidak pernah mencari setelah diumumkan, yang diungkapkan dalam bahasa hadits itu dengan ia tidak memerlukannya lagi; karena itu menjadi penyebab sehingga dia mengambaikan tidak mau mencari, karena jika ia membutuhkan barang tersebut tentu dia akan mencari.

Tafsir Hadits

Imam An-Nawawi menerangkan dalam kitab Syarh Al Muhazdzdab: “Para ulama berbeda pendapat tentang seseorang yang melewati kebun, pertanian atau tempat mengembala hewan ternak, kebanyakan ulama berpendapat: dia tidak boleh mengambil sesuatupun dari tempat tersebut kecuali karena darurat; boleh mengambil atau memakan dari tempat tersebut tapi dia harus mengganti harganya: inilah pendapat dari Imam Syafi’i dan kebanyakan ulama, sebagian ulama Salaf berpendapat: dia tidak mengganti apa-apa, Imam Ahmad berpendapat: kalau kebun tersebut tidak dipagari; dalam salah satu riwayatnya yang paling benar menjelaskan boleh dimakan sekalipun tidak dalam keadaan darurat, dalam riwayat lainnya beliau berpendapat jika dalam keadaan darurat maka dia tidak perlu mengganti walaupun kebun tersebut dipagari atau tidak, Imam Syafi’i menta’liq pendapat tersebut berkaitan dengan keshahihan hadits yang menjadi dasar hukumnya, Al-Baihaqi berkata, “Yaitu hadits riwayat Ibnu Umar yang marfu’yang berbunyi:

«إذَا مَرَّ أَحَدُكُمْ بِحَائِطٍ فَلْيَأْكُلْ، وَلَا يَتَّخِذْ خُبْنَةً»

“jika di antara kalian melintasi suatu kebun yang dipagari, makanlah sekedarnya darinya dan jangan mengambilnya sebagai bekal ataupun makanan diperjalanan.” (HR. At-Tirmidzi dan menurutnya Hadits ini gharib), [Shahih: At-Tirmizdi (1287)]

Al-Baihaqi berkata: hadits ini tidak sah lalu menyebutkan hadits lainnya yang derajatnya lemah.

Penulis Rahimahullah berkata, sebenarnya semua hadits yang disampaikan derajatnya shahih, bahkan beberapa hukum dalam Islam berhujjah pada hadits-hadits yang derajat keshahihan di bawah hadits tersebut, hal itu sudah saya jelaskan dalam bukuku yang berjudul “Al Minhah Fiima ‘Allaa Asy Syafi’i Al Qaul bihi ‘Ala Ash Shihhah”.

Dalam masalah tersebut banyak perbedaan dan pendapat-pendapat para ulama yang terangkum dalam kitab Al-Muhazdzdab yang belum memberikan pendapat solutif karena perbedaan ulama dalam menyikapi hadits yang membolehkan dan melarang, sementara hadits-hadits yang membolehkan tidak bisa mengabaikan hadits-hadits yang berisi larangan karena sebetulnya hadits larangan itu lebih kuat dan menjadi dasar hukum hubungan sesama manusia yang tidak membolehkan mengambail hak dan milik orang lain, bahkan hadits-hadits larangan tersebut menguatkan prinsip-prinsip dasar hubungan sesama manusia.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *