[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 287

07. KITAB JUAL BELI – 07.19. BAB BARANG TEMUAN 01

0875

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: «مَرَّ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِتَمْرَةٍ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ: لَوْلَا أَنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُونَ مِنْ الصَّدَقَةِ لَأَكَلْتهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

875. Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melewati sebuah kurma di jalan, lalu beliau bersabda, “Seandainya aku tidak khawatir bahwa kurma itu dari zakat, niscaya aku memakannya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2055), Muslim (1071).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini menunjukkan dibolehkan bagi seorang untuk mengambil sesuatu yang sepele yang diikhlaskan diambil dan tidak wajib baginya untuk menyiarkan,bahkan bisa langsung menjadi miliknya ketika mendapatkannya, zhahirnya hadits itu menunjukkan bahwa hal itu berlaku bagi barang-barang yang sepele dan yang tidak perlu meminta izin walaupun pemiliknya diketahui. Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan kecuali jika pemiliknya tidak diketahui, tetapi jika pemiliknya diketahui dia harus minta izin darinya walaupun barang yang ditemukannya sepele.

Ada sebuah pertanyaan: bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membiarkan barang temuannya di jalan, bukankah kewajiban seorang Imam untuk menjaga harta yang hilang, harta yang termasuk barang zakat untuk dibagikan? Hal itu dijawab; bahwa tidak ada dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menjaganya melainkan beliau tidak memakannya karena kehati-hatian beliau akan status kehalalan barang temuannya, atau mungkin beliau sengaja membiarkannya agar diambil oleh orang melintas di jalan tersebut yang boleh memakan harta sedekah, dan seorang Imam hanya diwajibkan menjaga barang temuan yang pemiliknya pasti mencarinya dan tidak dituntut untuk menjaga barang temuan sepele yang semua orang tidak berminat mengambilnya, dan hadits itu juga menganjurkan kita untuk tidak mengambil barang yang haram.

 0876

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَسَأَلَهُ عَنْ اللُّقَطَةِ. فَقَالَ: اعْرِفْ عِفَاصَهَا وَوِكَاءَهَا ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً، فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا، وَإِلَّا فَشَأْنُك بِهَا قَالَ: فَضَالَّةُ الْغَنَمِ؟ قَالَ: هِيَ لَك أَوْ لِأَخِيك أَوْ لِلذِّئْبِ قَالَ: فَضَالَّةُ الْإِبِلِ؟ قَالَ: مَا لَك وَلَهَا؟ مَعَهَا سِقَاؤُهَا وَحِذَاؤُهَا، تَرِدُ الْمَاءَ وَتَأْكُلُ الشَّجَرَ حَتَّى يَلْقَاهَا رَبُّهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

876. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menanyakan tentang barang temuan. Beliau bersabda, “Perhatikan tempat dan pengikatnya, lalu umumkan selama setahun. Jika pemiliknya datang, berikanlah dan jika tidak; maka terserah engkau.” Ia bertanya, “Bagaimana dengan kambing yang tersesat? Beliau menjawab, “Ia milikmu, atau milik saudaramu, atau milik serigala.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana dengan unta tersesat? Beliau bersabda, “Apa hubungannya denganmu? Ia mempunyai kantong air dan sepatu, ia bisa datang ke tempat air dan memakan tetumbuhan, hingga pemiliknya menemukannya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (91), Muslim (1722).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Zaid bin Khalid Al-Juhani adalah Abu Thalhah atau Abu Abdirrahman Zaid bin Khalid tinggal di kufah dan meninggal pada tahun 78 H dan berusia 85 tahun dan banyak sekali yang meriwayatkan darinya.

Tafsir Hadits

Para ulama berbeda pendapat tentang keutamaan antara mengambil barang temuan atau membiarkannya saja? Imam Abu Hanifah berpendapat: yang paling utama adalah mengambil barang temuan itu; karena termasuk kewajiban seorang mukmin menjaga harta saudara muslim lainnya dan Imam Syafi’i berpendapat sama seperti itu, Imam Ahmad dan Malik berpendapat: yang paling utama adalah membiarkan saja berdasarkan hadits,

«ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ حَرْقُ النَّارِ»

“Barang hilang milik orang mukmin adalah bagian dari sengatan api neraka” [shahih, Shahih Al-Jami’ (3883)]

dikhawatirkan tidak bisa menjaga dan berubah menjadi hutang ketika barang temuan itu hilang. Ada juga yang berpendapat bahwa wajib bagi setiap muslim untuk mengambilnya dan menafsirkan hadits tersebut di atas bagi yang memang berniat mengambilnya untuk dimanfaatkan sendiri sebelum diumumkan terlebih dahulu. Hadits tersebut mencakup 3 masalah:

Pertama: Hukum tentang barang temuan. Barang temuan yang bukan dari hewan disebut dengan Luqathah, sedangkan yang dari hewan disebut dengan Dhalah, untuk yang ini Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan bagi siapa yang mengambilnya untuk mengumumkan tempat ditemukan dan tali pengikat hewan tersebut, perintah Nabi ini berarti wajib diumumkan beserta ciri-ciri yang melekat pada hewan tersebut diperkuat dengan hadits berikut ini:

*******************

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ آوَى ضَالَّةً فَهُوَ ضَالٌّ، مَا لَمْ يُعَرِّفْهَا» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Siapa yang menyembunyikan hewan yang tersesat, maka ia adalah orang sesat selama belum mengumumkannya.” (HR. Muslim) [shahih, Muslim (1725)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits itu menyifati orang yang tidak mengumumkannya dengan kesesatan. Ada perbedaan tentang faedah diumumkan tempat dan tali pengikat hewan tersebut; ada yang berpendapat: untuk diserahkan kepada siapa yang menyebutkan tentang tempat dan tali pengikat dengan benar; maka penjelasannya diterima dan langsung diserahkan hewan tersebut kepadanya sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari: “Apabila ada seseorang yang menjelaskan kepadamu” dalam lafazh lainnya: “Dengan perkiraan umur hewannya, tempat dan tali pengikatnya maka berikanlah kepadanya” dan hadits inilah yang menjadi landasan pendapat Imam Ahmad dan Malik.

Para pengikut Imam Malik menambahkan syarat yaitu diketahui perkiraan harga dan umurnya, berdasarkan beberapa riwayat yang menerangkan tentang hal itu, mereka berpendapat: “Jika dia tidak mengetahui perkiraan umur namun mengetahui tempat dan tali pengikat hewan itu; maka tidak apa-apa diserahkan kepadanya, namun jika dia hanya mengetahui salah satunya saja (antara tempat atau tali saja). Ada yang berpendapat: hewan tersebut tidak diserahkan kepadanya kecuali jika dia mengetahui kedua hal tersebut. Ada yang berpendapat: walaupun setelah beberapa waktu diserahkan kepadanya, lalu yang berpendapat seperti itu berselisih kembali; apakah diberikan setelah dia dapat menyebutkan tempat dan tali pengikat hewan tersebut tanpa harus bersumpah atau harus bersumpah terlebih dahulu.

Ada yang berpendapat: diserahkan kepadanya tanpa harus bersumpah terlebih dahulu; berdasarkan makna zhahir dari hadits-hadits terdahulu, ada juga yang berpendapat: tidak diserahkan kepadanya, kecuali setelah dia bersumpah terlebih dahulu, yang berpendapat harus bersumpah terlebih dahulu menambahkan: sesungguhnya faedah dari menyebutkan tempat dan tali pengikat hewan itu agar tidak bercampur dengan hartanya dan bukan agar dia mendapatkan hewan temuan itu, karena hewan temuan itu tidak diserahkan kepadanya, kecuali jika dia memberikan bukti; mereka beralasan karena dia menjadi pihak penggugat (penuntut) dan setiap penggugat tidak diserahkan apa yang menjadi tuntutannya, kecuali jika dia memberikan bukti atas dakwa-annya; karena inilah yang menjadi dasar hukum Islam yang tidak boleh diabaikan hanya dengan menyebutkan tempat dan tali pengikat hewan tersebut, akan tetapi pendapat ini dibantah dengan berdasarkan pada makna zhahir dari hadits itu yang mewajibkan untuk memberikan hewan temuan itu kepadanya setelah dia menyebutkan tempat dan tali pengikatnya; karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Berikanlah hewan itu kepadanya” dan sabda Nabi ini setelah mengatakan: “Jika yang punya datang” maka berikanlah kepadanya, sebetulnya dalam hadits itu ada yang dihapus, yaitu jawaban dari kalimat syarat karena diketahui dengan mudah, dan hadits Nabi yang menyatakan: “Bagi penggugat harus memberikan bukti'” [shahih, Shahih Al-Jami’ (2897).]

dan bukanlah memberikan bukti atas dakwaan hanya pada hal-hal yang harus memberikan bukti, melainkan bahwa bukti berlaku bagi setiap perkara untuk mengetahui kebenarannya.

Sementara yang berpendapat cukup menjelaskan tempat dan tali pengikatnya akan mensyaratkan tambahan yaitu adanya bukti bila tambahan syarat itu berdasarkan ketetapan dari hadits, yaitu jawaban dari kalimat syarat yang tersembunyi sebelum sabda Nabi, “Maka serahkanlah kepadanya” maka harus diamalkan, dan tambahan syarat adanya bukti itu dibenarkan dan disahkan oleh penulis buku ini Rahimahullah, maka harus diamalkan, akan tetapi mereka tetap berpe-gang teguh dengan makna zhahir dari hadits tersebut dan berpendapat bahwa hewan temuan diserahkan kepadanya jika dia bisa menjelaskan tempat dan tali pengikat hewan tersebut, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mewajibkan untuk mengumumkan hewan temuan selama setahun saja, dan apakah setelah masa setahun tersebut harus diumumkan lagi atau tidak? Ada yang berpendapat tidak wajib baginya untuk mengumumkan lagi setelah masa setahun tersebut, ada yang berpendapat wajib diumumkan lagi walaupun sudah diumumkan dalam masa setahun; pendapat yang pertama berdasarkan dalil sedangkan yang kedua tidak mempunyai dasar hukum.

Hadits itu hanya menunjukkan untuk mengumumkan barang temuannya, baik hanya berupa barang yang sepele ataupun mahal selama setahun, diumumkan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti pasar-pasar, pintu masjid-masjid dan perkumpulan lainnya, dan kalimat “Sya’naka” berharakat fathah menunjukkan anjuran, dan boleh juga kalimat tersebut berharakat “Marfu’ ” menjadi Mubtada’ dan kalimat setelahnya menjadi Khabar, yang artinya mempersilahkan baginya untuk menjaganya atau memanfaatkannya.

Hadits ini dijadikan dalil yang membolehkan bagi siapa yang mengambil barang atau hewan temuan itu baik kaya ataupun miskin, untuk memanfaatkannya, baik untuk kepentingan dirinya sendiri ataupun disedekahkan untuk orang lain, hanya saja ada riwayat pada Muslim yang menyatakan bahwa si penemu itu tidak bisa memiliki barang tersebut yang berbunyi:

«ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً فَإِنْ لَمْ يَجِئْ صَاحِبُهَا كَانَتْ، وَدِيعَةً عِنْدَك»

“Kemudian umumkan selama setahun, jika yang punya belum juga datang; maka simpanlah sebagai amanah yang harus kamu jaga.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

«ثُمَّ عَرِّفْهَا سَنَةً فَإِنْ لَمْ تُعْرَفْ فَاسْتَنْفِقْهَا، وَلْتَكُنْ وَدِيعَةً عِنْدَك فَإِنْ جَاءَ طَالِبُهَا يَوْمًا مِنْ الدَّهْرِ فَأَدِّهَا إلَيْهِ»

“Kemudian umumkanlah selama setahun, jika kamu tidak tahu siapa pemiliknya; maka manfaatkanlah dengan tetap menjaganya dan jadilah ia sebagai amanah yang ada padamu, apabila suatu hari yang punya datang mencari ingin mengambilnya; maka berikanlah kepadanya.” [shahih, Muslim (1722)]

Maka para ulama berbeda pendapat tentang hukum hewan temuan itu setelah diumumkan selama setahun, dalam kitab Nihayah Al-Mujtahid diterangkan, bahwa para fakar fiqih bersepakat: yaitu Imam Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i dan Asy Syafi’i menyatakan bahwa barang temuan itu menjadi miliknya sebagaimana halnya pendapat Ibnu Umar, Umar dan Ibnu Mas’ud, sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa barang temuan itu tidak menjadi miliknya dan ia harus menyedekahkannya dan ini seperti pendapat Ali, Ibnu Abbas dan para Tabi’in, tapi mereka semua bersepakat jika dimanfaatkan untuk dirinya sendiri, dia harus bertanggungjawab atau mengganti kekurangannya jika yang punya datang mengambilnya, kecuali Ahli Zhahir yang menyatakan bahwa setelah penantian selama setahun barang temuan itu menjadi miliknya dan ia tidak bertanggungjawab atau mengganti kekurangan yang ada pada barang tersebut jika yang punya datang mengambilnya.

Pendapatku (penulis), saya tidak tahu bagaimana pendapat mereka tentang hadits yang diriwayatkan Muslim dan hadits-hadits lainnya yang mewajibkan untuk bertanggungjawab (menjamin), dan pendapat yang tepat adalah apa yang dikemukan Asy-Syafi’i dan yang sependapat dengannya; yang membolehkan bagi penemunya untuk memanfaatkannya dengan tetap menjaga aslinya dan tidak menyuruhnya untuk menyedekahkannya kepada yang lainnya, kemudian menyuruhnya untuk menyerahkannya lagi kepada pemiliknya kapan saja dia datang mencari.

Kedua: Kambing yang tersesat. Para ulama bersepakat bahwa yang menemukan kambing tersesat di tempat yang jauh dari keramaian dibolehkan untuk memakannya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Itu menjadi milikmu, atau saudaramu, atau menjadi milik serigala,” maksudnya kambing yang tersesat itu akan menemui kebinasaan dan berada di antara kekuasaanmu atau kekuasaan saudara muslimmu lainnya, maksudnya siapa saja, atau mungkin bisa langsung ditemukan pemiliknya lagi, dan maksud dari serigala adalah semua binatang yang memangsa kambing. Hadits ini menganjurkan untuk mengambil kambing tersesat itu, namun apakah dia harus mengganti seharga kambing yang disembelihnya atau tidak, jika yang punya datang mencari?

Kebanyakan ulama berpendapat dia harus mengganti seharga kambing tersebut, dan sedangkan menurut yang paling masyhur dari Madzhab Imam Malik bahwa dia tidak mengganti kambing tersebut dengan menyamakan antara yang mengambil lalu memakannya dengan serigala, sebab serigala ketika memakan kambing tersebut dia tidak dituntut mengganti seharga dengan kambing yang dimakannya, demikian juga halnya dengan seorang yang memakannya, namun dasar hukum seperti ini dibantah bahwa huruf lam itu bukan menunjukkan kepemilikan karena sebetulnya serigala tidak bisa memiliki sesuatu. Bahkan para ulama bersepakat bila pemilik kambing datang mencari kambingnya sebelum dimakan oleh yang menemukan, maka kambing itu harus diserahkan kepadanya.

Ketiga: Tentang onta yang tersesat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa onta yang tersesat tidak diambil melainkan dibiarkan saja, makan rumput, minum air sendiri sampai yang punya menemukannya, maka mereka berpendapat: karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengingatkan bahwa onta tidak butuh pemeliharaan karena struktur bagan tubuh yang Allah berikan kepadanya mulai dari kuat menahan haus, menggapai tempat air dengan mudah karena lehernya yang panjang dan kesanggupannya menempuh perjalanan jauh; maka dia tidak butuh seorang yang mengambilnya untuk dipelihara berbeda dengan kambing, para pengikut madzhab Hanafi dan yang lainnya berpendapat: lebih utama kalau unta itu diambil dipelihara, para ulama berkata, “Hikmah larangan Nabi untuk memelihara onta yang tersesat, karena dengan dibiarkannya unta itu di jalanan akan lebih cepat ditemukan pemiliknya dari pada dia dipelihara seseorang sehingga menyulitkan yang punya mencarinya di rumah-rumah penduduk.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *