[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 285

07. KITAB JUAL BELI – 07.18. BAB HIBAH 03

0869

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْعُمْرَى لِمَنْ وُهِبَتْ لَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.، وَلِمُسْلِمٍ «أَمْسِكُوا عَلَيْكُمْ أَمْوَالَكُمْ، وَلَا تُفْسِدُوهَا، فَإِنَّهُ مَنْ أَعْمَرَ عُمْرَى فَهِيَ لِلَّذِي أُعْمِرَهَا حَيًّا وَمَيِّتًا، وَلِعَقِبِهِ» . وَفِي لَفْظٍ «إنَّمَا الْعُمْرَى الَّتِي أَجَازَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يَقُولَ: هِيَ لَك وَلِعَقِبِك، فَأَمَّا إذَا قَالَ: هِيَ لَك مَا عِشْت فَإِنَّهَا تَرْجِعُ إلَى صَاحِبِهَا» .، وَلِأَبِي دَاوُد، وَالنَّسَائِيُّ «لَا تُرْقِبُوا، وَلَا تُعْمِرُوا. فَمَنْ أُرْقِبَ شَيْئًا أَوْ أُعْمِرَ شَيْئًا فَهُوَ لِوَرَثَتِهِ»

869. Dari Jabir Radhiyallau Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Umra itu menjadi milik bagi orang yang diberi.” (Muttafaq Alaih)

Dalam riwayat Muslim, “Jagalah hartamu dan jangan menghamburkannya, karena siapa yang ber-‘umra, maka itu menjadi milik orang yang diberi ‘umra selama ia hidup dan mati, dan menjadi milik keturunannya.”

[shahih, Al-Bukhari (2625), Muslim (1625)]

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa ‘Umra yang dibolehkan adalah apabila ia berkata, ” Ia menjadi milikmu dan keturunanmu.” Jika ia berkata, “Ia menjadi milikmu selama kamu hidup.” maka pemberian itu akan kembali kepada pemiliknya.

Dalam riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i, “Jangan memberi Ruqba dan ‘Umra; sebab barangsiapa menerima Ruqba atau ‘Umra maka ia menjadi milik ahli warisnya.”

[Shahih: Abi Dawud (3556)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir Radhiyallau Anhu berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “‘Umra menjadi milik bagi yang diberi. Dalam riwayat Muslim (yaitu dari Jabir Radhiyallahu Anhu) “Jagalah hartamu dan jangan menghamburkannya, karena siapa yang ber’umra maka itu menjadi milik orang yang diberi ‘umra selama ia hidup dan mati dan menjadi milik keturunannya.” Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa ‘umra yang dibolehkan adalah apabila ia berkata,” Ia menjadi milikmu dan keturunanmu.” Jika ia berkata, “Ia menjadi milikmu selama kamu hidup; maka pemberian itu akan kembali kepada pemiliknya. Dalam riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i (dari Jabir Radhiyallahu Anhu) “Jangan memberi Ruqba dan ‘Umra; sebab barangsiapa menerima Ruqba atau ‘Umra maka ia menjadi milik ahli warisnya.”(Ruqba dan Umra’ yang berlangsung pada masa jahiliyyah adalah seseorang menghibahkan rumah kepada orang lain sambil berkata, “Saya hibahkan rumah itu untukmu, maksudnya pemanfaatan rumah itu selama hidupmu saja; sehingga disebut dengan ‘umra. Hal itu juga dinamakan dengan Ruqba; karena masing-masing pihak memantau pihak lain untuk mengetahui saat kematiannya, syari’at Islam datang menetapkan tradisi tersebut)

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya hibah, dan selanjutnya hibah itu menjadi hak milik bagi orang yang dihibahkan berdasarkan pendapat kebanyakan ulama, kecuali Abu Dawud yang tidak sependapat dengan hal itu.

Mereka berbeda pendapat tentang siapa yang menjadi pemilik barang hibah tersebut. Menurut Jumhur ulama, hibah itu diserahkan kepada yang masih hidup sebagaimana halnya dengan hibah-hibah lainnya, sedangkan menurut pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Malik kepemilikan hibah itu tergantung dengan lafazh kesepakatan awalnya. Hal ini terbagi menjadi 3 macam; untuk selamanya jika melafazhkan untuk selamanya, bebas jika tidak ada aturan yang mengikat, adanya kesepakatan. Bila disyaratkan selama dia masih hidup dengan berkata, “Ini saya hibahkan kepadamu, jika kamu meninggal, maka barang hibah itu kembali lagi kepadaku.”

Menanggapi hal ini para ulama berbeda pendapat, dan yang benar bahwa barang hibah itu sah menjadi miliknya dan boleh dimanfaatkan, baik diperjualbelikan maupun lainnya. Hal ini diperkuat dengan adanya hadits yang menjelaskan bahwa hibah itu menjadi miliknya, baik ketika ia masih hidup atau setelah meninggal dunia.

Sedangkan perkataan, “Ia menjadi milikmu selama kamu hidup; maka pemberian itu akan kembali kepada pemiliknya, karena dia mensyaratkan bahwa hibah itu dikembalikan lagi kepada pemiliknya setelah si penerima meninggal dunia; hukum hibah menurut syarat yang dilafazhkan. Sebagaimana halnya kalau dia boleh memanfaatkan selama sebulan atau setahun; maka itu dinamakan dengan akad pinjam-meminjam. Ucapannya: “Jagalah hartamu” dan “Janganlah saling meruqba” mungkin untuk memakruhkan sekaligus memberi-tahukan kepada mereka untuk memelihara harta karena mereka menghibahkan harta dan saling menunggu siapa yang terlebih dahulu wafat, lalu harta itu kembali kepada si penghibah bilamana dia wafat; lalu syari’at datang membenarkan akad hibah yang mereka lakukan dan membatalkan semua persyaratan yang bisa membatalkan akad hibah tersebut; sebab syarat hibah yang mereka ucapkan diibaratkan seperti orang mengambil hibah yang telah diberikan, dan syari’at melarang perbuatan tersebut.

HR. An Nasa’i dari riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu secara marfu’:

«الْعُمْرَى لِمَنْ أُعْمِرَهَا، وَالرُّقْبَى لِمَنْ أُرْقِبَهَا، وَالْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِهِ»

“siapa yang menerima Umra dan Ruqba maka barang itu menjadi miliknya, dan orang yang menarik kembali pemberiannya bagaikan anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya” [Shahih: An-Nasa’i (3712).]

namun jika dia mensyaratkan seperti yang terdapat dalam hadits yang terdahulu dan dengan syarat selama hidupmu; maka itu dinamakan dengan pinjaman sementara dan bukan hibah, karena hibah sebagaimana dalam hadits:” orang yang menarik kembali pemberiannya bagaikan anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya” seperti hadits berikut ini:

0870

«وَعَنْ عُمَرَ قَالَ: حَمَلْت عَلَى فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَأَضَاعَهُ صَاحِبُهُ، فَظَنَنْت أَنَّهُ بَائِعُهُ بِرُخْصٍ. فَسَأَلْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ ذَلِكَ. فَقَالَ: لَا تَبْتَعْهُ، وَإِنْ أَعْطَاكَهُ بِدِرْهَمٍ» الْحَدِيثُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

870. Dari Umar bin Al-Khaththab berkata, “Aku pernah memberikan seekor kuda untuk perjuangan di jalan Allah, namun orang yang diberi kuda itu menelantarkannya, lalu aku mengira dia akan menjualnya dengan harga yang murah. Maka aku tanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau bersabda, “Jangan membelinya walaupun dia memberimu harga satu dirham.” (Muttafaq Alaihi)

[shahih, Al-Bukhari (1490), Muslim (1620).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Kelanjutan hadits ini adalah,

«فَإِنَّ الْعَائِدَ فِي صَدَقَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ»

“Karena sesungguhnya orang yang menarik kembali pemberiannya bagaikan anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya.”

“lalu dia menelantarkannya” yakni, tidak memelihara sebagaimana mestinya.

“jangan membelinya” dalam lafazh lainnya, “jangan kembali lagi pada sedekah yang kamu berikan” membeli barang yang dihibahkan itu dinamakan dengan menarik kembali barang yang dihibahkan, dikatakan: karena menurut kebiasaan bahwa si penjual akan memberikan harga yang murah kepada pembeli, maka dalam hadits itu dimutlakkan walaupun dengan harga yang murah dikategorikan dengan menarik kembali pemberiannya, dan mungkin dengan harga satu dirham itu untuk melebih-lebihkan artinya jika dia memberikan harga yang sesuai dengan barang hibah itu tetap dinamakan dengan menarik kembali barang hibahnya.

Menurut pendapat suatu kaum, bahwa larangan menarik kembali pemberian itu untuk mengharamkan hukumnya, dan menurut pendapat kebanyakan Ulama: bahwa larangan itu bukan untuk mengharamkan melainkan untuk kebersihan jiwa, pada pembahasan terdahulu sudah dijelaskan bahwa menarik kembali hibah itu haram hukumnya, dan hadits yang menunjukkan keharamannya lebih kuat dalilnya kecuali pada hal-hal yang dikhususkan.

Ath-Thabari berkata, “Pengecualian dari keumuman hadits itu adalah siapa yang menghibahkan sesuatu dengan syarat dibalas di kemudian hari, seorang bapak yang menghibahkan kepada anaknya, hibah yang belum diserahkan dan hibah yang dibalas kembali oleh para ahli waris kepada si pemberi hibah berdasarkan ketetapan riwayat tentang hal itu, dan hal-hal yang termasuk hibah yang tidak diizinkan untuk menarik kembali secara mutlak adalah sedekah yang dikeluarkan mengharapkan balasan dari Allah di akhirat kelak.” Menurut pendapatku (penjelas buku ini), secara zhahir berdasarkan hadits di atas bahwa larangan membeli barang yang telah dihibahkan untuk menyucikan diri, sedangkan menarik kembali pemberian haram hukumnya, dan mungkin tidak ada perbedaan hukumnya membeli dan menarik kembali pemberian berdasarkan larangan dalam hadits tersebut dan sama-sama haram hukumnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *