[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 284

07. KITAB JUAL BELI – 07.18. BAB HIBAH 02

0866

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ،، وَابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَا: «لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُعْطِيَ الْعَطِيَّةَ ثُمَّ يَرْجِعَ فِيهَا إلَّا الْوَالِدَ فِيمَا يُعْطِي وَلَدَهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَابْنُ حِبَّانَ، وَالْحَاكِمُ

866. Dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim memberikan suatu pemberian kemudian menariknya kembali, kecuali seorang ayah yang menarik kembali apa yang diberikan kepada anaknya.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah, dan hadits ini shahih menurut At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

[Shahih: Abi Dawud (3539)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Sabda Nabi, “Tidak dihalalkan” menunjukkan haram hukumnya, sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa itu menunjukkan hal-hal yang makruh sangat bertentangan dengan lafazh zhahir hadits.

Sabda Nabi, “Kecuali anaknya” adalah dalil dibolehkan bagi seorang ayah menarik kembali pemberian dari anaknya, balk anaknya masih kecil maupun sudah besar. Sedang madzhab Al-Hadawiyah mengkhususkan bagi anak-anak yang masih kecil, dan pendapat ini bertentangan dengan lafazh hadits. Sebagian ulama merinci tentang masalah ini; yakni boleh menarik kembali pemberian tapi tidak dibolehkan menarik kembali pemberian dalam bentuk sedekah, mereka beralasan bahwa sedekah itu bertujuan untuk mendapatkan pahala di akhirat. Dasar perbedaan seperti itu tidak mempengaruhi status hukumnya. Dan menurut kebanyakan ulama, status seorang ibu sama hukumnya seperti bapak dalam masalah pemberian hibah.

Namun, menurut Al-Hadi dalam hal ini ada pengecualian, bahwa mahar atau sesuatu yang telah dihibahkan seorang istri kepada suaminya, tidak boleh ditarik kembali, sebagaimana yang dita’liq Al-Bukhari dalam riwayatnya dari An-Nakha’i dan Umar bin Abdul Aziz.

Az-Zuhri berpendapat, hendaknya dikembalikan kepada si istri bila sang suami menipunya demi mendapatkan mahar atau hibah. Abdurrazzaq meriwayatkan hadits dari Umar dengan sanad terputus yang berbunyi,

«إنَّ النِّسَاءَ يُعْطِينَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً فَأَيُّمَا امْرَأَةٍ أَعْطَتْ زَوْجَهَا فَشَاءَتْ أَنْ تَرْجِعَ رَجَعَتْ»

“Sesungguhnya para wanita terkadang memberi hibah dengan sukarela atau terpaksa, bila seorang wanita memberikan hibah kepada suaminya lalu ingin menarik kembali, maka diizinkan untuk menariknya kembali.” [Al-Mushannaf (9/115)]

0867

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ، وَيُثِيبُ عَلَيْهَا» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

867.Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menerima hadiah dan membalasnya.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2585)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu menerima pemberian hadiah dan membalasnya, dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dijelaskan bahwa Rasulullah membalasnya dengan yang lebih baik.

Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama berpendapat wajib hukumnya untuk membalas setiap pemberian hadiah; karena apa yang menjadi kebiasaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam harus dilaksanakan, namun hadits itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum yang mewajibkan untuk memberi hadiah. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu melakukan hal itu sebagai cermin dari kemuliaan akhlak beliau, dan bukan untuk mewajibkan membalas pemberian hadiah seseorang. Madzhab Al-Hadawiyah berpendapat, dalam membalas pemberian seseorang harus sama nilainya sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku. Mereka berdalil, bahwa dasar muamalah dalam materi adalah untuk saling mengganti, sebagaimana diungkapkan dalam kitab Al-Bahr: “Wajib hukumnya membalas pemberian seseorang sesuai dengan adat yang berlaku.” Imam Yahya berkata, “Ketika membalas pemberian [hadiah] seseorang harus yang semisal dan seukuran.” Imam Asy-Syafi’i dalam pendapatnya yang baru [qaul al-jadid] berkata: “Berhibah dengan niat dibalas hukumnya batil, karena termasuk dalam kategori transaksi jual beli yang tidak jelas. Sebab, pada dasarnya hibah itu dilakukan atas dasar sukarela, jika diwajibkan untuk mengganti maka akan sama dengan akad jual beli.

Dalam istilah syari’at dan ‘urf ada perbedaan antara akad jual beli dan hibah. Bahwa suatu transaksi yang terjadi dengan saling tukar menukar barang dinamakan dengan jual beli, sedangkan hibah adalah kebalikannya. Dikatakan bahwa siapa yang membolehkan untuk saling membalas hibah seakan-akan berdalil bahwa tradisi hibah terjadi karena sudah menjadi syarat dalam hibah untuk saling membalas. Sebagian ulama Malikiyah berpendapat: wajib hukumnya membalas hibah apabila si pemberi memutlakkan pemberiannya, atau hibah itu berasal dari orang yang memang mengharapkan balasannya dikemudian hari, seperti orang fakir yang memberikan hibah kepada orang kaya. Kecuali bila hibah itu berasal dari orang kaya yang diberikan kepada orang miskin. Bila pemberi hibah tidak ridha dengan balasan hibah yang diterimanya, dalam hal ini ada beberapa pendapat.

Ada yang mengatakan diganti harga yang semisal, dan ada juga yang mengatakan harus membalas dengan barang yang membuat dia ridha, pendapat pertama yang masyhur di kalangan madzhab Maliki Rahimahullah, pendapat tersebut bertentangan dengan hadits berikut ini:

0868

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «وَهَبَ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَاقَةً. فَأَثَابَهُ عَلَيْهَا، فَقَالَ: رَضِيت؟ قَالَ: لَا. فَزَادَهُ، فَقَالَ: رَضِيت؟ قَالَ: لَا. فَزَادَهُ، فَقَالَ: رَضِيت؟ قَالَ: نَعَمْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

868. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Ada seseorang memberi unta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau membalasnya dan bertanya, “Apakah engkau ridha dengan ini?” Ia menjawab, “Tidak.” Lalu beliau menambah dan bertanya, “Apakah engkau ridha?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau menambah lagi dan bertanya, “Apakah engkau ridha?” Ia menjawab, “Ya.” (HR. Ahmad dan hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Ahmad (1/295), Ibnu Hibban (14/296)]

//Shahih: Al-Irwa 6/37. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam riwayat At-Tirmidzi, dijelaskan, bahwa balasan Nabi itu mencapai 6 kali lipat.

Hadits ini menunjukkan bahwa keridhaan si pemberi adalah syarat dalam membalas hibah yang diterima. Jika diberikan dan dia tidak ridha, maka harus ditambah. Hadits ini adalah salah satu dalil dari dua pendapat terdahulu yang merupakan pendapat Umar, akan tetapi yang lainnya membantah dengan berdalil: jika segala sesuatu didasarkan kepada keridhaan, maka tidak akan ada transaksi jual beli.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *