[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 283

07. KITAB JUAL BELI – 07.18. BAB HIBAH 01

Hibah adalah akad untuk memiliki suatu benda tanpa harus mengganti atau membalas ketika masih hidup. Kata ini digunakan untuk setiap pemberian, atau bisa bermakna yang lebih umum lagi.

0864

«عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ أَنَّ أَبَاهُ أَتَى بِهِ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: إنِّي نَحَلْت ابْنِي هَذَا غُلَامًا كَانَ لِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَكُلَّ وَلَدِك نَحَلْته مِثْلَ هَذَا؟ فَقَالَ: لَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: فَارْجِعْهُ» وَفِي لَفْظٍ: «فَانْطَلَقَ أَبِي إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي. فَقَالَ: أَفَعَلْت هَذَا بِوَلَدِك كُلِّهِمْ؟ قَالَ لَا. قَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فَرَجَعَ أَبِي. فَرَدَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ قَالَ: «فَأَشْهِدْ عَلَى هَذَا غَيْرِي» ثُمَّ قَالَ: «أَيَسُرُّك أَنْ يَكُونُوا لَك فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: فَلَا إذَنْ»

864. Dari Nu’man bin Basyir, bahwa ayahnya pernah menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata, “Aku telah memberikan kepada anakku ini seorang budak milikku. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah setiap anakmu engkau berikan seperti ini?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalau begitu, tariklah kembali.” Dalam suatu lafazh: Maka ayahku menghadap kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar menyaksian pemberiannya kepadaku, lalu beliau bersabda, “Apakah engkau melakukan hal ini terhadap semua anakmu?” Ia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Takutlah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu.” Lalu ayahku pulang dan menarik kembali pemberian itu.” (Muttafaq Alaih) Dalam riwayat Muslim beliau bersabda, “Carilah saksi lain selain diriku dalam hal ini”, kemudian beliau bersabda, “Apakah engkau senang jika anak-anakmu sama-sama berbakti kepadamu?” Ia menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Kalau begitu, janganlah kamu lakukan.”

[shahih, Al-Bukhari (2587), Muslim (1622)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang mewajibkan untuk berlaku adil dalam memberikan hibah kepada anak-anak, sebagaimana yang ditegaskan Imam Al-Bukhari, dan ini adalah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, Ats-Tsauri dan lainnya. Hibah yang diberikan secara tidak adil kepada anak-anak hukumnya batil. Hukum ini diistinbath dari perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengambil kembali hibah tersebut dan dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Bertakwalah kepada Allah, berlaku adil terhadap anak-anakmu”, sabdanya, “Kalau begitu, janganlah kamu lakukan”, dan juga sabdanya, “Saya tidak mau menjadi saksi dalam perbuatan zhalim.”

Namun, para ulama berbeda pendapat tentang asas sama rata ini. Ada yang berpendapat bahwa harus sama rata pemberian itu, baik bagi laki maupun perempuan berdasarkan sabda Nabi yang diriwayatkan An-Nasa’i,

«أَلَا سَوَّيْت بَيْنَهُمْ»

“Tidakkah engkau berlaku adil terhadap semua anak-anakmu.” [Sanadnya shahih, An-Nasa’i (3687).]

dan dalam riwayat Ibnu Hibban,

«سَوُّوا بَيْنَهُمْ»

“Berlaku adillah terhadap anak-anakmu”,

dan juga dalam hadits dari riwayat Ibnu Abbas,

«سَوُّوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ فِي الْعَطِيَّةِ فَلَوْ كُنْت مُفَضِّلًا أَحَدًا لَفَضَّلْت النِّسَاءَ»

“Berlaku adillah terhadap anak-anakmu dalam memberikan hibah; seandainya dibolehkan uniuk lebih mengutamakan di antara anak-anak, tentulah aku lebih mengutamakan anak yang perempuan.” Dikeluarkan oleh Said bin Manshur dan Al-Baihaqi dengan sanad hasan.

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan berlaku sama (adil) adalah menjadikan bagian untuk anak laki-laki sama seperti bagian dua anak perempuan, sebagaimana pembagian dalam ilmu waris.

Jumhur berpendapat, bahwa tidak wajib untuk berlaku sama adil dalam pemberian hibah kepada anak, namun hukumnya hanyalah sunnah. Dan mereka memberikan berbagai udzur menolak hadits itu, Ada 10 alasan yang disebutkan dalam penjelasan hadits; semua alasan itu tidak bisa mengubah hukum asalnya. Kami sudah menulis sebuah risalah yang menjawab semua masalah seputar itu, serta kami jelaskan kuatnya pendapat yang mewajibkan untuk berlaku adil dalam memberikan hibah kepada anak-anak, dan memberikan hibah secara tidak adil kepada mereka hukumnya batil.

0865

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ «لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السَّوْءِ، الَّذِي يَعُودُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَرْجِعُ فِي قَيْئِهِ»

865. Dari Ibnu Abbas B.adhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang menarik kembali pemberiannya bagaikan anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2589), Muslim (1622).]

Dalam riwayat Al-Bukhari, “Kami tidak mempunyai perumpamaan yang buruk, bagi orang yang menarik kembali pemberiannya bagaikan anjing yang muntah kemudian menjilat kembali muntahannya.”

[shahih, Al-Bukhari (2622).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haram hukumnya menarik kembali pemberian yang telah diberikan kepada seseorang. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Imam Al-Bukhari membuat bab dalam bukunya dengan judul: “Bab tidak boleh bagi seorang untuk menarik kembali pemberian dan sedekahnya”. Sedang jumhur ulama mengecualikan dalam masalah ini, jika hal itu dilakukan oleh orangtua untuk menarik kembali pemberiannya yang telah diberikan kepada anaknya.

Al-Hadawiyah dan Abu Hanifah berpendapat boleh menarik kembali pemberian selain sedekah, kecuali hibah yang diberikan kepada sanak kerabat. Mereka beralasan, maksud dari hadits itu untuk menunjukkan larangan yang benar-benar dimakruhkan. Ath-Thahawi berkata, “Sabdanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Seperti orang yang menjilat kembali muntahannya” walaupun pengertiannya menunjukkan hukumnya haram, namun dalam riwayat lain terdapat tambahan lafazh, “diumpamakan seperti anjing”, hal itu menunjukkan tidak haram hukumnya; karena perumpamaan anjing tidak menunjukkan amalan ibadah, dan menjilat muntahannya kembali hukumnya tidak haram baginya. Maksud dari perumpamaan itu adalah menghindarkan diri dari kebiasaan yang dilakukan anjing; untuk menghindari berbagai penafsiran tentang hal itu. Penggunaan lafazh-lafazh seperti itu dalam istilah syar’i adalah berfungsi sebagai bentuk larangan, sebagaimana larangan meniru cara duduk seperti anjing, gerakan patuk burung gagak ketika makan, dan menoleh seperti musang dalam melaksanakan shalat. Semua lafazh-lafazh hadits itu menunjukkan haramnya melakukan perbuatan yang tersebut di atas dan menolak semua penafsiran ataupun alasan yang mengubah hukumnya menjadi tidak haram, keharaman hukumnya diperkuat dengan hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *