[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 282

07. KITAB JUAL BELI – 07.17. BAB WAKAF 02

0862

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: «أَصَابَ عُمَرُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَرْضًا بِخَيْبَرَ، فَأَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنِّي أَصَبْت أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ. قَالَ: إنْ شِئْت حَبَسْت أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْت بِهَا قَالَ: فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ: أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا، وَلَا يُورَثُ، وَلَا يُوهَبُ، فَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ، وَفِي الْقُرْبَى، وَفِي الرِّقَابِ، وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَابْنِ السَّبِيلِ، وَالضَّيْفِ، لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، وَيُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ مَالًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ. وَفِي رِوَايَةِ لِلْبُخَارِيِّ: «تَصَدَّقَ بِأَصْلِهَا: لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ»

862. Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Umar Radhiyallahu Anhu memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk meminta petunjuk dalam mengurusnya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memperoleh sebidang tanah di Khaibar, yang menurutku, aku belum pernah memperoleh tanah yang lebih baik dari padanya. Beliau bersabda, “Jika engkau mau, wakafkanlah pohonnya dan sedekahkanlah hasilnya (buahnya).”

Ibnu Umar berkata, “Lalu Umar berkata, ‘Mewakafkannya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, diwariskan dan diberikan. Hasilnya disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat, hamba sahaya, orang yang berada di jalan Allah, musafir yang kehabisan bekal dan tamu. Pengelolanya boleh memakannya dengan sepantasnya dan memberikan makan sahabat yang tidak berharta.” (HR. Muttafaq Alaihi dan lafazhnya dari riwayat Muslim. Menurut riwayat Al-Bukhari, “Wakafkanlah pohonnya dengan syarat tidak boleh dijual dan dihibahkan, namun disedekahkan buahnya.”)

[shahih, Al-Bukhari (2737), Muslim (1632)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Umar memperoleh bagian tanah di khaibar (menurut riwayat An-Nasa’i, bahwa Umar mendapatkan bagian perang sebanyak 100 ekor unta, lalu ditukar dengan 100 saham tanah khaibar) lalu menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta petunjuk dalam mengurusnya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memperoleh sebidang tanah di khaibar, yang menurutku, aku belum pernah memperoleh tanah yang lebih baik dari padanya. Beliau bersabda, “Jika engkau mau, wakafkanlah pohonnya dan sedekahkanlah hasilnya (buahnya).” Ibnu Umar berkata, “Lalu Umar berkata, ‘Mewakafkannya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, diwariskan dan diberikan.

Hasilnya disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat (yaitu kerabat dekat Umar) hamba sahaya, orang yang berada di jalan Allah, musafir yang kehabisan bekal dan tamu. Pengelolanya boleh memakannya dengan sepantasnya dan memberikan makan sahabat yang tidak berharta (untuk dimakan dan bukan disimpan untuk diperjualbelikan). HR Muttafaqun Alaihi dan lafazhnya dari riwayat Muslim. Menurut riwayat Al-Bukhari, “Wakafkanlah pohonnya dengan syarat tidak boleh dijual dan dihibahkan, namun disedekahkan buahnya.”

Menurut riwayat Al-Bukhari, bahwa wakaf itu tidak boleh dijual dan dihibahkan berasal dari perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan ini tentunya membantah pendapat Abu Hanifah yang membolehkan untuk menjual harta wakaf. Abu Yusuf berkata, “Seandainya Abu Hanifah mengetahui hadits tersebut, pastilah dia akan berpendapat sama dan mencabut kembali pendapatnya yang membolehkan menjual harta wakaf.” Al-Qurthubi berkata, “Mengambil kembali harta yang diwakafkan bertentangan dengan ijma’ ulama, maka jangan dipedulikan perkataannya.” Dan berkenaan dengan sabda Nabi ‘Pengelolanya boleh memakannya dengan sepantasnya’ Al-Qurthubi berkata, “Sudah menjadi adat istiadat bahwa pengelolanya boleh memakan buah pohon yang diwakafkan walaupun si pewakaf mensyaratkan tidak boleh dimakan buahnya, dan maksud ‘dengan sepantasnya’ yaitu ukuran yang masyhur dan adat pada umumnya.

Ada yang berpendapat, “Ukuran yang mengenyangkan.” Ada juga yang berpendapat, “Ukuran yang disesuaikan dengan upah pekerjaannya.” Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Sabda Nabi, “yang tidak berharta” yaitu yang tidak menyimpan sebagai harta simpanan atau untuk dimiliki, artinya, tidak menyimpan sesuatu pun dari pohon wakaf tersebut, tidak juga mengambil sebagian dari hasil panen untuk membeli sesuatu untuk kepentingan sendiri, kecuali mengambil sesuai dengan apa yang diinfakkannya dalam pemeliharaan pohon-pohonnya. Imam Ahmad menambahkan dalam riwayatnya, “Bahwa Umar mewasiatkan wakafnya untuk dipelihara Hafshah Ummul Mukminin, setelah itu baru dialihkan kepada kerabat-kerabat dari keluarga Umar, demikian juga pendapat Ad-Daraquthni.

0863

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ» الْحَدِيثَ، وَفِيهِ «فَأَمَّا خَالِدٌ فَقَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتَادَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

863. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Umar untuk memungut zakat [Al-Hadits], dan di dalamnya disebutkan: adapun Khalid, dia telah mewakafkan baju-baju besi dan peralatan perangnya untuk membela di jalan Allah.” (Muttafaq Alaihi)

[shahih, Al-Bukhari (1468), Muslim (983).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini merupakan dalil yang mensahkan wakaf dengan benda-benda yang harus dikeluarkan zakatnya, atau uang yang zakatnya dibelikan peralatan perang di jalan Allah, dan dalil yang mensahkan wakaf dengan barang dagangan.

Abu Hanifah berkata, “Tidak sah mewakafkan barang dagangan, karena sifat barang dagangan itu selalu berubah clan berganti, sedangkan wakaf harus kekal dan tidak berubah selamanya. Dan hadits di atas merupakan dasar hukum atas pendapat ini. Adapun bagi yang berpendapat bahwa sah hukumnya mewakafkan hewan, mereka beralasan bahwa kalimat al-a’tad bisa diartikan dengan kuda, serta sebagai dalil yang membolehkan harta zakat dibagikan hanya kepada satu golongan dari delapan golongan yang disebutkan. Ibnu Daqiq Al-‘Id menjelaskan bahwa apa yang disebutkan dan tidak disebutkan di atas hanyalah penafsitan dengan berbagai kemungkinan terhadap apa yang dilakukan Khalid, bila dalilnya masih berdasarkan pada berbagai kemungkinan, maka tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum. Beliau berkata, “Mungkin saja, Khalid tidak memanfaatkan peralatan perangnya untuk dijadikan sebagai pengintai [menakut-nakuti musuh], dan bukan sebagai barang yang diwakafkan.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *