[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 281

07. KITAB JUAL BELI – 07.17. BAB WAKAF 01

Secara bahasa, kata wakaf bermakna menahan. Sebagai contoh, perkataan seseorang, “Saya mewakafkan ini’ yakni saya menahannya [tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi]. Sedangkan secara syariat, wakaf adalah menahan harta agar dimanfaatkan pada hal-hal yang dibolehkan syariat dengan tetap menjaga keuruhan bendanya.

0861

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

861. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga perkara: sedekah [amal] jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan untuknya [orang tuanya].” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim (1631).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits di atas disebutkan Imam Muslim dalam bab wakaf, karena para ulama menafsirkan ‘sedekah jariyah’ dengan wakaf.

Wakaf pertama kali dalam Islam adalah wakafnya Umar Radhiyallahu Anhu, sebagaimana diterangkan pada hadits yang akan datang dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah yang menyatakan bahwa orang-orang muhajirin berkata, “Wakaf pertama kali dalam Islam adalah wakafnya Umar.”

At-Tirmidzi berkata, “Kami tidak mengetahui perbedaan ahli fikih di antara para shahabat dan generasi setelahnya berkaitan dibolehkan wakaf dengan tanah.” Imam Asy-Syafi’i menerangkan bahwa hal itu termasuk keistimewaan Islam yang tidak terdapat dalam tradisi jahiliyah.

Di antara bentuk ungkapan atau perkataan yang menunjukkan wakaf, seperti: saya v/akafkan, saya tahan, saya dermakan untuk kepentingan umum, saya abadikan dijalan Allah. Semua ungkapan ini menunjukkan wakaf secara jelas. Sedangkan ungkapan yang menun-jukkan wakaf secara kinayah [kiasan], seperti: saya sedekahkan.

Adapun mengenahi ungkapan, ‘saya haramkan memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri’, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, bahwa itu adalah ungkapan yang menunjukkan makna wakaf secara jelas. Tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah ungkapan wakaf secara kinayah.

Sabdanya, (أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ) [atau ilmu yang bermanfaat] maksudnya ilmu yang dapat memberikan manfaat padanya di akhirat kelak. Maka, ilmu perbintangan tidak termasuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat bila dilihat dari sisi manfaat atau mudharat sehingga dapat mendatangkan kebahagian atau kesengsaraan bagi yang mengamalkannya. Termasuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat adalah seorang yang menulis buku yang bermanfaat -bagi umat-, atau dia mengajarkannya sehingga masih ada yang meriwayatkan dan memanfaatkannya. Atau seseorang yang menulis sebuah buku yang bermanfaat walaupun mendapatkan imbalan dari tulisannya itu dengan syarat ia melakukannya ikhlas karena Allah, atau dengan cara mewakafkan buku-buku. Dan lafazh ‘anak’ -dalam hadits- mencakup anak laki-laki dan perempuan dengan syarat harus anak saleh, agar doanya dikabulkan.

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa setiap pahala amal seorang terputus bila dia meninggal dunia, kecuali tiga hal yang tersebut di atas yang akan selalu mengalir pahalanya setelah dia meninggal dunia. Para ulama mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena amal itu bersumber dari jerih payahnya sendiri.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa doa anak yang saleh akan sarnpai kepada kedua orangtuanya, demikian juga sedekah, membayar hutang dan amal-amal yang lainnya.

Ketahuilah, sesungguhnya ada beberapa amal saleh yang pahalanya selalu mengalir bagi pelakunya selain tiga amal yang tersebut di atas. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah berikut,

«أَنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا نَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ أَوْ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ تَلْحَقُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ»

“Sesungguhnya di antara amalan yang akan selalu menyertai seorang mukmin setelah dia meninggal dunia adalah ilmu yang disebarkan [diajarkan], atau anak saleh yang ditinggalkan, atau mushaf yang diwariskan, atau masjid yang dibangun, atau rumah yang dibangun untuk -menampung- ibnu sabil [orang-orang yang bepergian], atau bendungan air yang dimanfaatkan untuk irigasi, atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya sendiri semasa hidup dan sehat; semua itu pahalanya akan selalu mengalir dan menyertainya setelah dia meninggal.” [hasan, Ibnu Majah (242).]

Al-Hafizh As-Suyuthi Rahimahullah menyebutkan amalan lainnya yang berjumlah sampai sepuluh amalan tersusun dalam sebuah matan sebagai berikut,

إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ لَيْسَ يَجْرِي … عَلَيْهِ مِنْ فِعَالٍ غَيْرِ عَشْرِ

عُلُومٌ بَثَّهَا وَدُعَاءُ نَجْلٍ … وَغَرْسُ النَّخْلِ وَالصَّدَقَاتِ تَجْرِي

وِرَاثَةُ مُصْحَفٍ وَرِبَاطُ ثَغْرٍ … وَحَفْرُ الْبِئْرِ أَوْ إجْرَاءُ نَهْرِ

وَبَيْتٌ لِلْغَرِيبِ بَنَاهُ يَأْوِي … إلَيْهِ أَوْ بِنَاءُ مَحَلِّ ذِكْرِ

“Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka tidak ada pahala yang mengalir kepadanya melainkan sepuluh macam amal perbuatan:

Ilmu yang disebarkan, doa anak saleh, pohon kurma yang diwakafkan, sedekah-sedekah yang diberikan,

mushaf yang diwariskan, kuda yang disedekahkan untuk berperang, sumur yang dibangun untuk umum, membuat saluran irigasi,

atau rumah yang diperuntukkan bagi orang asing [yang sedang dalam perjalanan] atau tempat ibadah yang dibangun -untuk umat Islam-.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *