[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 280

07. KITAB JUAL BELI – 07.16. BAB MEMBUKA LAHAN BARU 03

0858

وَعَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ «النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَقْطَعَهُ أَرْضًا بِحَضْرَمَوْتَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

858. Dari Alqamah bin Wail, dari ayahnya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kepadanya sepetak tanah di Hadhramaut. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban).

[Shahih: Abi Dawud (3058)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

“Dari Alqamah bin Wail, dari ayahnya, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kef adanya sepetak tanah di Hadlramaut. HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban” (dan dishahihkan pula oleh At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi. Maknanya hal tersebut dikhususkan dengan sebagian tanah yang mati (tidak dimakmurkan), sehingga dikhususkan dengannya dan menjadi lebih pantas untuk dimakmurkan bagi orang yang belum didahului orang lain yang memakmurkannya. Kekhususan memakmurkan merupakan kesepakatan pendapat Asy-Syafi’iyah, Al-Hadawiyah, dan lainnya.

Al-Qadhi Iyadh menceritakan bahwa pemutusan merupakan hak penguasa dengan memberikan bagian dari harta Allah kepada orang yang berhak menerimanya. Kata beliau, “Kebanyakan penggunaan tanah dari hasil buminya bagi orang yang telah mengaisnya dengan cara memilikinya kemudian memakmurkannya atau dengan menjadikan hasil panennya untuk tempo tertentu.”

Kata beliau, “Kedua yang disebut pada zaman kita sekarang dengan pemotongan walaupun tidak ada seorang sahabat kita menyebutkan hai tersebut. Sedangkan dikelaarkannya dalam bentuk fiqih merupakan suatu permasalahan tersendiri. Secara zhahir, hai tersebut berlaku bagi pihak yang memctong hai tersebut merupakan kekhususan seperti kekhususan orang yang tertahan harta bendanya, hanya saja dia tidak memiliki hamba sahaya dengan hai tersebut. Pendapat tersebut ditegaskan oleh Al-Mujib Ath-Thabari dan Al-Auza’i menganggap sebagai perbedaan pendapat tentang bolehnya kekhususan penguasa (imam) sebagian pasukan dengan hasil bumi bila dia berhak menerimanya. Ibnu At-Tin berkata, “Disebut pemotongan bila berupa tanah atau gedung. Adapun pemotongan harta rampasan fai’ tidak memangkas hak seorang muslim dan kafir yang mempunyai ikatan perjanjian. Dikatakan, terkadang pemotongan merupakan bentuk pemilikan dan bukan.

Sedangkan yang terpotong dari tanah negeri Yaman pada zaman mutakhir merupakan bagian pemotongan sebagian jama’ah dari para personal penduduk desa di negeri asyariah mereka mengambi! zakatnya dan memberikannya untuk diri mereka sendiri walaupun mereka mampu. Hal seperti ini merupakan haram yang tidak pernah dinyatakan dalam syariat Nabi Muhammad, justru syariat datang untuk melarang bersedekah untuk keluarga Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan diharamkan bagi orang kaya dari kalangan umat.

0859

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ «النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَقْطَعَ الزُّبَيْرَ حُضْرَ فَرَسِهِ، فَأَجْرَى الْفَرَسَ حَتَّى قَامَ، ثُمَّ رَمَى بِسَوْطِهِ. فَقَالَ أَعْطُوهُ حَيْثُ بَلَغَ السَّوْطُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد. وَفِيهِ ضَعْفٌ

859. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi tanah kepada Zubair sejauh lari kudanya, maka ia melarikan kudanya hingga berhenti kemudian ia melempar cemetinya. Lalu beliau bersabda, “Berikan padanya sejauh lemparan cemetinya”. (HR. Abu Dawud dan di dalamnya ada kelemahan).

[Dhaif: Abi Dawud (3072)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi tanah kepada Zubair sejauh lari kudanya, maka ia melarikan kudanya hingga berhenti kemudian ia melempar cemetinya. Lalu beliau bersabda, “Berikan padanya sejauh lemparan cemetinya.” HR. Abu Dawud dan di dalamnya ada kelemahan (karena di dalamnya ada Al-Umari Al-Mukabbir, yaitu Abdulah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khaththab, dalam hadits tersebut terdapat kritikan). Dan dikeluarkan oleh Ahmad dari hadits Asma’ binti Abu Bakar, di dalamnya terdapat penyebutan pemotongan dari harta bani Nadhir dan berkata, “Imam berhak memotong tanah yang tidak dimakmurkan sebagaimana perilaku Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap Az-Zubair sejauh larinya kuda dan perilaku Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma.”

0860

وَعَنْ «رَجُلٍ مِنْ الصَّحَابَةِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: فِي الْكَلَأِ، وَالْمَاءِ، وَالنَّارِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

860. Dari salah seorang sahabat Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Aku berperang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan aku mendengar beliau bersabda, “Manusia itu berserikat dalam tiga hal: rerumputan, air, dan api.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan para perawinya dapat dipercaya)

[Shahih: Abi Dawud (3477)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah secara marfu’:

«ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْكَلَأُ وَالْمَاءُ وَالنَّارُ»

“Tiga hal yang tidak dilarang: air, rerumputan, dan api” [Shahih: Al-Jami’ (3048)]

Dengan sanad yang shahih, dan dalam bab ini terdapat riwayat yang banyak tidak luput dari kritikan. Akan tetapi, semuanya tidak didasarkan atas dalil, dan petunjuk air dengan kekhususan hadits-hadits yang berada pada Imam Muslim dan lainnya. Sedangkan Al-Kala’ yaitu tumbuhan yang basah maupun kering, sedangkan al-Hasyis dan Hasyim khusus bagi yang kering, Dan kala’ khusus bagi basah seperti halnya al-usyub.

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil tidak adanya kekhususan orang yang mengambil salah satu dari tiga jenis tersebut Hal tersebut sebagai ijma’ ulama dalam permasalahan rumput yang berada di tanah kosong dan gunung selama belum dimiliki orang sama sekali. Maka tidak terlarang mengambij rumput di sana kecuali yang berada dalam pengawasan penguasa (imam) sebagaimana disebutkan sebelumnya. Sedangkan tetumbuhan yang berada di tanah yai’g siidah dimiliki atau dalam pengawasan masih terdapat perbedaan pendapat ulama. Merturut Al-Hadawiyah dan lainnya bahwa hal tersebut bersifat mubah, dan keumuman hadits sebagai dalil bagi mereka, Ulama berbeda pendapat tentang maksud api. Ada yang mengatakan, maksudnya bahan bakar yang dipungut oleh orang-orang. Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya penerangan dan penyinaran dengan sinarnya. Ada yang mengatakan, bebatuan yang dapat menampakkan api saat berada dalam kondisi mati, tapi yang jelas benar maksudnya adalah api sebenarnya walaupun berada dari bahan bakar yang dimiliki, Dikatakan, hukumnya adalah sama dengan hukum asalnya. Dan dikatakan, dimungkinkan terdapat perbedaan ulama perihal air disebabkan keumuman faktor kebutuhan dan toleransi terhadapnya.

Sedangkan perihal air sudah dijelaskan sebelumnya dimana dilarang menahan tempat berkumpulnya air, baik berupa air hujan yang berada di tanah kosong yang mubah, sebab belum dimiliki orang. Begitu pula dengan tanah yang dimiliki orang, hanya saja pemilik tanah lebih berhak memiliki penyiramannya dan penggunaannya untuk memberi air minum ternak dan kemudian sisanya diberikan kepada orang yang memerlukannya. Bila di dalam rumah atau tanahnya terdapat mata air yang mengalir atau sumur yang telah digalinya maka dia tidak berhak memiliki air hanya saja dia lebih diprioritaskan dalam pemanfaatannya dibandingkan dengan orang lain, namun mereka dibolehkan memasukinya seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Bila dikatakan, boleh menjual mata air dan sumur, dan ada pula yang mengatakan, boleh menjual sumur dan mata air sebab larangan datang dari larangan menjual sisa air sumur dan mata air. Dan pembelinya lebih berhak sesuai kadar kecukupannya. Terdapat riwayat yang jelas bahwa Utsman bin Affan pernah membeli sumur Raumah dari seorang Yahudi atas perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bila air tersebut tidak dimiliki bagaimana mungkin orang Yahudi membatasi sumur tersebut sampai menjualrtya kepada Utsman. Dikatakan, kisah tersebut terjadi pada permulaan Islam sampai datang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Madinah dan sebelum ditetapkan hukum-hukum Islam terhadap orang Yahudi, sedangkan beliau menetapkan mereka pada awalnya sesuai dengan pengakuan mereka berupa harta yang dimiliki mereka.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *