[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 28

01.08. BAB MANDI DAN HUKUM JUNUB 02

0104

104 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فِي قِصَّةِ «ثُمَامَةَ بْنِ أَثَالٍ، عِنْدَمَا أَسْلَمَ – وَأَمَرَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يَغْتَسِلَ» . رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ وَأَصْلُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

104. Dari Abu Hurairah RA tentang kisah Tsumamah bin Utsal, ketika dia memeluk Islam, lalu Nabi SAW menyuruhnya mandi. (HR. Abdurrazaq, asalnya Muttafaq alaih)

[Al Mushannaf, Abdurrazaq 6/9; Asalnya Al Bukhari 462 dan Muslim 1764]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Tsumamah bin Utsal adalah seseorang yang bermazhab Hanafi dan tokoh penduduk Al Yamamah.

Abdurrazaq adalah seorang Hafizh besar, namanya Abdurrazaq bin Hamman Ash Shan’ani, menyusun beberapa kitab, dan ia meriwayatkan hadits dari Ubaidillah bin Umar dan dari banyak para perawi, Ahmad, Ishaq, Ibnu Ma’in dan Adz Dzahabi meriwayatkan darinya. Adz Dzahabi berkata, “Ia dinyatakan tsiqah oleh lebih dari seorang ulama, hadits-haditsnya diriwayatkan dalam kitab-kitab shahih.” Ia termasuk orang yang luas pengetahuannya, meninggal dunia pada bulan Syawal tahun 211 H.

Penjelasan Kalimat

ketika dia memeluk Islam (yaitu ketika dia baru masuk Islam), lalu Nabi SAW menyuruhnya mandi

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil disyariatkannya mandi bagi orang yang baru masuk Islam, kalimat ‘Beliau menyuruhnya’ menunjukkan wajib. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat:

Menurut Al Hadawiyah, jika ia telah junub ketika masih kafir, maka dia wajib mandi junub, dan jika sudah pernah mandi junub semasa kafirnya, maka tidak ada hukum baginya (tidak wajib mandi). Hadits yang mengatakan:

«الْإِسْلَامِ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ»

“Islam menghapus apa-apa yang sebelumnya,”[Muslim 121] tidak sejalan dengan pendapat tadi.

Sedangkan menurut pendapat Al Hanafiyah, jika sudah pernah mandi junub semasa kafirnya, maka dia tidak wajib mandi, dan menurut Asy-Syafi’iyah dan yang lainnya, setelah masuk Islam dia tidak wajib mandi junub, berdasarkan hadits yang telah disebutkan, yaitu: Islam menghapus apa-apa yang sebelumnya, adapun jika beliau pernah junub semasa kafirnya, dia hanya disunnahkan mandi, tidak yang lainnya.

Adapun menurut imam Ahmad, ia mengatakan, dia wajib mandi secara mutlak, berdasarkan zhahir ayat Al Qur’an dan zhahirnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Qais bin Ashim, ia berkata:

أَتَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أُرِيدُ الْإِسْلَامَ فَأَمَرَنِي أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Aku menemui Rasulullah SAW sewaktu aku ingin masuk Islam, lalu beliau memerintahkanku untuk mandi dengan air yang dicampur dengan daun bidara.” Dikeluarkan oleh At Tirmidzi dan An Nasa’i seperti itu juga.

[Shahih: At Tirmidzi 605]

0105

105 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ» . أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ

105. Dari Abu Sa’id RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Mandi pada hari Jum’at hukumnya wajib bagi setiap orang yang sudah mimpi basah (baligh).” (HR. Imam yang tujuh)

[Al Bukhari 858, Muslim 846]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dijadikan dalil oleh Daud mengenai wajibnya mandi pada hari Jum’at, sedangkan jumhur ulama mentakwilkan hadits tersebut sebagaimana yang sebentar lagi akan dijelaskan.

Ada yang berpendapat, “Pada awal mulanya mandi diwajibkan, mengingat mereka hidup dalam kesulitan dan umumnya pakaian mereka dari bahan wol, sementara mereka tinggal di wilayah yang udaranya panas. Mereka berkeringat sewaktu pergi menuju shalat Jum’at, maka Nabi SAW memerintahkan mereka untuk mandi, tetapi ketika Allah lapangkan kondisi mereka dan mereka sudah mengenakan bahan dari katun, Rasulullah SAW memberikan keringanan untuk (tidak) mandi.”

0106

106 – وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ، وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ

106. Dari Samurah bin Jundub RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu pada hari Jum’at, berarti dia telah mengamalkan sunnah dan betapa nikmatnya, dan barangsiapa yang mandi, maka mandi lebih utama.” (HR. imam yang lima dan dihasankan At Tirmidzi)

[Hasan: Abu Daud 354]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Samurah bin Jundub adalah Abu Sa’id menurut kebanyakan pendapat. Samurah bin Jundub Al Fazariy sang tangan kanan golongan Anshar, pernah tinggal di Kufah dan menjadi gubernur Bashrah, ia termasuk orang Bashrah, termasuk penghafal hadits yang cukup banyak, meninggal dunia di Bashrah pada akhir tahun 59 H.

Penjelasan Kalimat

Barangsiapa yang berwudhu pada hari Jum’at, berarti dia telah mengamalkan sunnah (artinya dia telah mengambil sunnah) dan betapa nikmatnya, (yaitu sunnah, atau dia telah mengambil keringanan itu (mandi) dan betapa nikmatnya keringanan itu, karena yang sunnah adalah mandi, atau dia melaksanakan yang wajib (wudhu) dan betapa nikmatnya yang wajib itu, karena wudhu hukumnya wajib) dan barangsiapa yang mandi, maka mandi lebih utama.

Tafsir Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh imam yang lima dan dihasankan oleh At Tirmidzi. Yang menshahihkan pendengaran Al Hasan dari Samurah, maka hadits tersebut shahih, dan mengenai pendengarannya itu terdapat perbedaan pendapat.

Hadits tersebut adalah dalil tidak wajibnya mandi dan –sebagaimana yang Anda ketahui- menjadi dalil jumhur ulama atas hal itu, juga bsg dalil untuk mentakwil hadits yang mewajibkan mandi. Hanya saja, muncul pertanyaan, bagaimana bisa mandi yang hukumnya sunnah, lebih utama dari wudhu yang hukumnya wajib menurut ijma ulama? Jawabannya adalah, maksudnya bukanlah keutamaan atas wudhu itu sendiri, tapi atas wudhu yang tidak disertai mandi, seakan-akan beliau bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu dan mandi, maka dia lebih utama dari orang yang hanya berwudhu saja.”

Dalil lain yang menunjukkan tidak wajibnya mandi adalah hadits Muslim:

«مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَةِ إلَى الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثِهِ أَيَّامٍ»

“barangsiapa yang berwudhu lalu ia membaguskan wudhunya, kemudian ia pergi shalat Jum’at, dia mendengarkan khutbaj dengan diam penuh perhatian, maka akan diampuni dosanya antara Jum’at itu hingga Jum’at berikutnya dan ditambah lagi tiga hari.” [Muslim 857]

Menurut Daud, hadits ini muqayyad (dibatasi) dengan hadits yang mewajibkan mandi, maka hadits yang dapat dijadikan hujjah adalah hadits Samurah, meskipun hadits yang mewajibkan lebih shahih, karena diriwayatkan oleh perawi yang tujuh. Berbeda dengan hadits Samurah yang tidak diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim, maka agar lebih hati-hati, hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan mandi pada hari Jum’at.

Dalam Al Hadyu An Nabawi dikatakan, perintah mandi pada hari Jum’at itu sangat ditegaskan, kewajibannya lebih kuat dari kewajiban shalat witir, membaca basmalah dalam shalat, juga melebihi kewajiban berwudhu karena menyentuh perempuan, karena menyentuh kemaluan, karena tertawa terbahak-bahak pada waktu shalat, karena keluar darah dari hidung (mimisan), karena berbekam dan karena muntah.

______________

Mengenai pendapat wajibnya mandi untuk shalat Jum’at, ada tulisan menarik dari Syaikh Ahmad Syakir, ketika mengomentari pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Ar Risalah, silakan rujuk untuk menambah pengetahuan. (ebook editor)

0107

107 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَهَذَا لَفْظُ التِّرْمِذِيِّ وَصَحَّحَهُ، وَحَسَّنَهُ ابْنُ حِبَّانَ

107. Dari Ali RA, dia berkata, Rasulullah SAW biasanya membacakan Al Qur’an kepada kami selama beliau tidak junub. (HR. Ahmad dan Imam yang lima, dan ini lafazh At Tirmidzi dan ia menghasankannya, sedang Ibnu Hibban menilainya shahih)

[Dhaif: Dhaif Abu Daud 229]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Demikianlah menurut yang terdapat dalam cetakan Bulughul Maram, tapi yang lebih bagus adalah ‘Dan Al Arba’ah’, dan memang dalam sebagiannya tertulis seperti itu.

Ini adalah lafazh At Tirmidzi dan ia menghasankannya, sedang Ibnu Hibban menilainya shahih. Penulis dalam At Talkhish mengatakan, “At Tirmidzi, Ibnu Sakan, Abdul Haqq dan Al Baghawi telah menghukumi akan keshahihan hadits tersebut.” Dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dengan sanadnya dari Syu’bah ia berkata, “Hadits ini adalah sepertiga modalku dan aku tidak pernah meriwayatkannya hadits yang lebih baik dari ini.”

Adapun pendapat An Nawawi yang mengatakan, “kebanyakan ulama menyelisihi At Tirmidzi, mereka menilai hadits itu lemah.” Penulis mengatakan, “Sesungguhnya pengkhususan An Nawawi dengan hanya menyebutkan nama At Tirmidzi yang menshahihkannya, merupakan dalil bahwa ia tidak mengetahui ada yang menshahihkannya selain dia, dan telah kami sebutkan ulama yang menshahihkannya selain At Tirmidzi.”

Ad Daruquthni telah meriwayatkan dari Ali secara mauquf:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا لَمْ تُصِبْ أَحَدُكُمْ جَنَابَةٌ، فَإِنْ أَصَابَتْهُ فَلَا وَلَا حَرْفًا

“Bacalah Al Qur’an, selama salah seorang dari kalian tidak junub, jika sudah junub maka janganlah ia membacanya, walau satu huruf.” [Sunan Ad Daruquthni 1/118]

Hadits ini mendukung hadits dalam bab ini (tidak boleh membaca Al Qur’an bagi yang junub), tapi Ibnu Khuzaimah mengatakan di dalam hadits tersebut tidak terdapat hujjah yang melarang orang junub membaca Al Qur’an, karena tidak terdapat larangan di dalamnya, itu hanyalah sebuah keterangan tentang perbuatan Nabi SAW, dan Nabi SAW sendiri tidak menjelaskan kalau dia tidak membaca Al Qur’an karena beliau sedang junub.

Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berpendapat tidak mengapa orang junub membaca Al Qur’an. [Al Bukhari 1/116]

Adapun pendapat tentang riwayat, ‘tidak ada sesuatu yang membatasi Nabi SAW atau melarangnya selain jinabah’, dikeluarkan oleh Ahmad, dan Ashabus Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, Al Hakim, Al Bazzar, Ad Daruquthni dan Al Baihaqi, lebih jelas mengenai dalil keharaman membaca Al Qur’an bagi yang junub dari pada hadits bab ini. pendapat tersebut tidaklah kuat, karena lafazh-lafazh dalam riwayat tersebut semuanya adalah informasi tentang Rasulullah SAW tidak membaca Al Qur’an ketika sedang junub, sikap beliau yang tidak membaca Al Qur’an itu tidaklah bisa menjadi dalil atas suatu hukum tertentu, karena telah disebutkan hadits Aisyah RA bahwa “beliau SAW senantiasz berdzikir dalam setiap kondisi”, kami sudah menjelaskan bahwa hadits Aisyah RA ini ditakhshish oleh hadits Ali tadi.

Akan tetapi sebenarnya, hadits tersebut tidak tegas menunjukkan keharamannya, tetapi mungkin saja beliau meninggalkan bacaan Al Qur’an ketika sedang junub karena hukumnya makruh atau yang semacamnya, akan tetapi Abu Ya’la meriwayatkan dari Ali ia berkata;

«رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَوَضَّأَ ثُمَّ قَرَأَ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا لِمَنْ لَيْسَ بِجُنُبٍ، فَأَمَّا الْجُنُبُ فَلَا وَلَا آيَةً»

“Aku pernah melihat Rasulullah SAW berwudhu, kemudian membaca sesuatu dari ayat Al Qur’an, kemudian beliau bersabda, ‘Beginilah bagi orang yang tidak dalam keadaan junub, adapun bagi orang yang junub dia tidak boleh membacanya walau satu ayat pun’.” [Musnad Abu Ya’la 1/300]

Al Haitsami berkata, “Para perawinya dalam orang-orang yang terpercaya semuanya.” Dan hadits menunjukkan keharaman membaca Al Qur’an ketika sedang junub, karena dalam hadits tersebut terdapat larangan dan larangan pada dasarnya menunjukkan keharaman, dan hadits ini memperkuat hadits sebelumnya.

Adapun hadits Ibnu Abbas yang marfu’:

«لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إذَا أَتَى أَهْلَهُ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ»

“Jika salah seorang di antara kalian ingin mencampuri istrinya, lalu dia mengucapkan bismillah….”

Dalam hadits ini tidak terdapat dalil yang membolehkan orang yang junub membaca Al Qur’an, dan karena menggunakan lafazh tersebut yang tidak dimaksudkan membaca Al Qur’an, juga bacaan basmalah dibaca sebelum mencampuri istrinya yang berarti dia belum dalam keadaan junub.

Adapun hadits Ibnu Abi Syaibah bahwasanya Rasulullah SAW apabila mencampuri istrinya, beliau membaca:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيمَا رَزَقَتْنِي نَصِيبًا

“Ya Allah, janganlah Engkau berikan bagi setan peranan dari apa (anak) yang Engkau anugerahkan kepadaku.”

Dalam hadits tersebut tidak terdapat tasmiyah, maka tidak bertentangan dengan hadits yang mengharamkannya.

0108

108 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ، ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ – زَادَ الْحَاكِمُ «فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ»

108. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, kemudian dia ingin kembali, hendaklah dia berwudhu di antara keduanya dengan satu wudhu.” (HR. Muslim, Al Hakim menambahkan, “Karena sesungguhnya dengan wudhu lebih memberikan semangat untuk mengulanginya.”)

[Muslim 308, Al Hakim 1/254]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini sepertinya Rasulullah SAW ingin mempertegasnya, karena terkadang hanya dimaksudkan mencuci sebagian anggota wudhu. Maka dengan penegasan ini, beliau menerangkan bahwa yang dikehendakinya adalah menurut syariat. Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dan Al Baihaqi disebutkan: “Seperti wudhunya untuk shalat, karena dengan wudhu lebih memberikan semangat untuk mengulanginya.”

Dalam hadits Rasulullah SAW tersebut terdapat dalil disyariatkannya wudhu bagi yang ingin mengulangi berhubungan dengan istrinya. Akan tetapi ada hadits yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah mencampuri istrinya, tidak memperbarui wudhu antara keduanya, juga ada hadits yang menyatakan bahwa beliau mandi junub setiap kali selesai bercampur dengan istrinya. Semuanya diperbolehkan, sekalipun berwudhu hukumnya sunnah, hanya saja yang memalingkan perintah tersebut dari wajib ta’lil dan perbuatan Rasulullah SAW.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *