[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 279

07. KITAB JUAL BELI – 07.16. BAB MEMBUKA LAHAN BARU 02

0855

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ – وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ مِثْلُهُ، وَهُوَ فِي الْمُوَطَّإِ مُرْسَلٌ

855. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada kerusakan dan tidak ada pengrusakan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dalam riwayatnya yang lain ada hadits serupa dari Abu Said, dalam kitab Al-Muwaththa’ hadits itu mursal)

[shahih, Shahih Al-Jami’ (5717)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada kerusakan dan tidak ada pengrusakan.” HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dalam riwayatnya yang lain ada hadits serupa dari Abu Said, dalam kitab Al-Muwattha’ hadits itu mursal (dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah juga Baihaqi dari hadits Ubadah bin Shamit. Dan dikeluarkan oleh Malik dari Umar Ibnu Yahya Al-Mazani dari bapaknya secara mursal dengan tambahan:

«مَنْ ضَارَّ ضَارَّهُ اللَّهُ وَمَنْ شَاقَّ شَاقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ»

“Siapa yang berbuat kerusakan, maka Allah akan merusaknya, dan siapa yang mempersempit urusan orang lain maka Allah akan menyempitkan urusannya.”

Dan dikeluarkan pula oleh Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari Abu Sa’id secara marfu’, juga dikeluarkan oleh Abdurrazaq dan Ahmad dari Ibnu Abbas juga. Ada tambahan:

«وَلِلرَّجُلِ أَنْ يَضَعَ خَشَبَتَهُ فِي حَائِطِ جَارِهِ، وَالطَّرِيقُ الْمِيتَاءُ سَبْعَةُ أَذْرُعٍ»

“Seseorang boleh menyandarkan bambunya pada tembok tetangganya dan jalan yang mati sepanjang tujuh dzira’ (hasta).”

Tafsir Hadits

Sabdanya, “Tidak ada kerusakan” dharar atau kerusakan adalah lawan kata manfaat. Maksudnya, seseorang tidak boleh melakukan kerusakan pada harta orang lain sehingga nilai hartanya berkurang dari hak semestinya. Sedangkan pengrusakan (idhrar) maksudnya tidak membalas perusakan dengan cara mengadakan kerusakan. Kerusakan (dharar) sebagai awal perbuatan dan perusakan (idhrar) pembalasan atas kerusakan yang terjadi. Saya katakan, sehingga menjauhkan adanya kebolehan memenangkan bagi orang yang dianiaya:

{وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ}

“Dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya’ (QS. Asy-Syura: 41)

{وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا}

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa”. (QS. Asy-Syura: 40)

Dikatakan, kata dharar artinya apa yang merusak sahabatmu dan engkau mendapatkan manfaat dengannya dan kata dhirar artinya engkau mendapatkan kerusakan tanpa ada manfaat. Ada pula yang mengatakan keduanya satu makna hanya saja pengulangan di sini sebagai penegasan.

Penegasan tersebut menunjukkan keharaman melakukan kerusakan, karena dengan menafikan keberadaannya menunjukkan larangan tersebut. Sebab larangan merupakan permintaan untuk mencegah suatu perbuatan yang mengharuskan tidak adanya suatu perbuatan. Adapun larangan adanya dharar dapat diketahui secara akal maupun syariat, kecuali yang dibolehkan oleh syariat melihat kemas-lahatan umat yang menafikan kerusakan, seperti penegakan hukum syar’i dan lainnya. Hal tersebut dapat diketahui dari rincian tatanan nilai syariat. Sehingga penegakkan hukum hudud baik pembunuhan, pemukulan dan lainnya tidak dapat dikatakan sebagai bentuk dharar dari pelakunya kepada yang lain. Karena itu merupakan bentuk pelaksanaan perintah Allah untuk menegakkan hukum had bagi pelaku maksiat. Juga sebagai hukuman dari Allah, bukan berarti membuat suatu kerusakan. Sehingga pelaku penegakkan hukum tidak tercela justru dipuji atas tindakannya tersebut.

0856

وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ أَحَاطَ حَائِطًا عَلَى أَرْضٍ فَهِيَ لَهُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ ابْنُ الْجَارُودِ

856. Dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membatasi suatu tanah, maka ia menjadi miliknya” (HR. Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Jarud).

[Dhaif: Abi Dawud (3077)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa membatasi suatu tanah, maka ia menjadi miliknya.” HR. Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Jarud” (telah disebutkan bahwa siapa yang memakmurkan tanah yang belum dimiliki orang maka menjadi miliknya).

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bentuk-bentuk memakmurkan tanah. Namun, hal tersebut harus dipastikan bahwa tanah tersebut belum dimiliki oleh siapa pun.

0857

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ حَفَرَ بِئْرًا فَلَهُ أَرْبَعُونَ ذِرَاعًا عَطَنًا لِمَاشِيَتِهِ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.

857. Dari Abdullah bin Mughaffal bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menggali sebuah sumur, maka baginya empat puluh hasta untuk minuman ternaknya.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

[hasan, Shahih Al-Jami’ (6200)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abdullah bin Mughaffal bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menggali sebuah sumur, maka baginya empat puluh hasta (kata ‘athan dalam hadits artinya gerakan sebagaimana disebutkan dalam al-qamus. Sedangkan athanul ibil adalah tempat bersimpuhnya unta sekitar danau) untuk minuman ternaknya.” HR. Ibnu Majah dengan sanad lemah (karena di dalamnya terdapat Ismail Ibnu Muslim dan Ath-Thabrani telah mengeluarkan riwayatnya dari hadits As’ats dari Hasan).

Dalam bab ini juga terdapat riwayat dari Abu Hurairah dari Ahmad:

«حَرِيمُ الْبِئْرِ الْبَدِيءُ خَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ ذِرَاعًا وَحَرِيمُ الْبِئْرِ الْعَادِي خَمْسُونَ ذِرَاعًا»

“Batas keharaman sumur sepanjang dua puluh lima hasta, dan batas keharaman sumur adat lima puluh hasta”.

Ad-Daraquthni dari jalur Ibnul Musayyib dan dita’lil dengan kondisinya yang mursal. Dikatakan, siapa yang mensanadkan kepadanya sungguh keliru. Dan dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Yusuf Al-Muqri, salah seorang guru dari gurunya Ad-Daraquthni yang disangka sebagai orang yang meriwayatkan hadits palsu. Sedangkan Al-Baihaqi dari Jalur Yunus dari Ibnul Musayyib secara mursal dan ditambahkan dengan lafazh,

«وَحَرِيمُ بِئْرِ الزَّرْعِ ثَلَثُمِائَةِ ذِرَاعٍ مِنْ نَوَاحِيهَا كُلِّهَا»

“Dan batas keharaman sumur sawak sepanjang tiga hasta dari semua sisinya.”

Dan dikeluarkan oleh Al-Hakim dari hadits Abu Hurairah secara mushul dan mursal, sedangkan yang menyambungkan sanadnya ialah Umar bin Qais seorang yang dhaif.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan batasan sumur, maksud batasan di sini yaitu sesuatu yang menghalangi orang yang hendak memakmurkan dan menggali Jubang padanya, Dalam kitab An-Nihayah dinyatakan penamaan batasan dengan harim sebab pemiliknya mengharamkan orang lain melakukan tindakan terhadapnya, Sedangkan dalam hadits terdapat teks yang tegas adanya batasan sumur.

Adapun zhahir hadits, Abdullah menyatakan bahwa alasannya yaitu hal yang dibutuhkan oleh pemilik sumur saat memberi air minum unta-untanya. Sedangkan hadits Abu Hurairah menunjukkan bahwa alasan kasus tersebut ialah sesuatu yang dibutuhkan oleh sumur agar tidak terjadi kecelakaan di sana disebabkan lokasi pemak-muran yang dekat dengannya. Oleh karena itu, terjadi perbedaan pendapat antara pemula dan yang sudah biasa.

Dari kedua hadits di atas dapat digabungkan dengan melihat faktor kebutuhan, apakah disebabkan untuk memberi minuman hewan ternak atau disebabkan adanya sumur. Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, Al-Hadi, As-Syafi’i dan Abu Hanafiah mengatakan bahwa batasan sumur secara syariat Islam sepanjang empat puluh hasta. Sedangkan Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa batasan keharaman sumur sepanjang dua puluh lima hasta.

Adapun mata air, Al-Hadi berpendapat bahwa batasan mata air yang besar sepanjang satu fawarah yaitu lima ratus hasta dari semua sisinya. Dikatakan, seakan beliau melihat pada tanah subur sehingga membutuhkan area seluas itu, sedangkan tanah yang tandus kurang dari batasan di atas. Bagi rumah yang menyendiri maka batasannya adalah pekarangannya yakni dengan mengukur sebatas tembok rumah. Dikatakan, sesuatu yang batu tidak akan sampai saat roboh. Itulah pendapat yang dipegang oleh Zaid bin Ali dan lainnya.

Batasan bagi sungai yaitu bertemunya sapuannya. Dikatakan, seperti setengahnya dari semua sisi. Dikatakan, sebatas tanah sungai itu sendiri. Sedangkan batasan tanah yaitu sesuatu yang dibutuhkan saat dikerjakan dan dilempar sapuannya. Begitu pula dengan saluran air maka batasannya sama dengan sungai disertai dengan adanya perbedaan ulama tentang hal ini.

Semua pendapat ini merupakan bentuk qiyas dengan sumur dengan titik temu adanya kebutuhan. Ini berlaku pada areal tanah yang bersifat mubah, sedangkan areal tanah yang sudah dimiliki maka tidak ada batasan keharamannya. Sebab setiap pemilik berhak melakukan apa saja yang dikehendakinya pada hal yang dimilikinya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *