[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 278

07. KITAB JUAL BELI – 07.16. BAB MEMBUKA LAHAN BARU 01

Membuka lahan baru disebut dengan ihya’ al-mawat. Kata al-mawat artinya tanah yang mati, yakni lahan kosong yang tidak dimakmurkan. seakan kemakmuran diidentikkan dengan kehidupan, sedangkan membiarkannya diidentikkan dengan mematikan sehingga kata memakmurkan diartikan dengan kata menghidupkannya.

Perlu diketahui bahwa dalam syariat, kata memakmurkan disebutkan secara mutlak sehingga perlu merujuk kepada adat istiadat masing-masing daerah (urf). Karena terkadang adat istiadat menjelaskan hal-hal mutlak yang disebutkan oleh syariat seperti perihal serah terima barang dan brankas pada kasus pencurian yang dihukumi dengan menggunakan adat istiadat.

Adapun dalam adat istiadat menghidupkan tanah yang mati -membuka lahan baru- dengan salah satu sebab yang lima; memutihkan tanah, membersihkannya dengan cangkul untuk ditanami, membangun dinding pembatas, membuat parit yang dalam sehingga orang yang menuruninya tidak dapat melongok, kecuali dengan menggunakan tangga, inilah perkataan Imam Yahya.

0852

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ عَمَّرَ أَرْضًا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ، فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا» قَالَ عُرْوَةُ: وَقَضَى بِهِ عُمَرُ فِي خِلَافَتِهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

852. Dari Urwah, dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memakmurkan tanah yang tidak dimiliki oleh siapapun maka ia lebih berhak dengan tanah tersebut.” Urwah berkata, “Umar memberlakukan hukum itu pada masa khilafahnya.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2335)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Urwah, dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memakmurkan tanah (lafazh hadits menggunakan kata ‘ammara dengan menggunakan kata lampau (fi’il madhi) dan ada pula yang menggunakan kata a’mara dengan fi’il madhi pula. Namun lafazh yang pertama yang benar) tidak dimiliki oleh siapapun, maka ia lebih berhak dengan tanah tersebut.” Urwah berkata, “Umar memberlakukan hukum itu pada masa khilafahnya.”

Tafsir hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa menghidupkan tanah yang mati merupakan bentuk kepemilikan selama belum dimiliki oleh seorang muslim, orang kafir dzimmi atau telah dimiliki orang lain.

Secara zahir hadits, hal tersebut tidak mengharuskan adanya izin dari imam (penguasa) sebagaimana yang dikatakan oleh jumhur ulama walaupun Abu Hanifah mensyaratkan adanya izin dari penguasa. Dalil yang digunakan jumhur ulama dengan hadits ini dan qiyas terhadap air laut, sungai, dan burung ataupun hewan buruan. Sedangkan mereka sepakat tidak disyaratkan adanya izin dari penguasa (imam).

Adapun tanah yang telah dimiliki orang yang pertama kemudian meninggal, maka tidak boleh memakmurkannya, kecuali atas izin imam. Begitu juga bila berkaitan dengan hak orang yang tidak tertentu, seperti lembah-lembah maka juga harus atas izin imam agar tidak menimbulkan hal yang membahayakan untuk kemaslahatan umat. Pendapat tersebut dinyatakan oleh sebagian kalangan Al-Hadawiyah.

Sedangkan Al-Muayyid dan Abu Hanifah mengatakan bahwa tanah tersebut bagaimanapun juga tidak boleh dimakmurkan sebab dihitung sama dengan harta kepemilikan orang lain yang berkaitan dengan perjalanan hidup kaum muslimin. Imam Mahdi berkata, “Hal tersebut sebagai pendapat yang kuat bila ada perubahan aliran air maka boleh dimakmurkan atas izin imam sebab haknya telah terputus dan tidak adanya kejelasan pemiliknya. Penguasa tidak memiliki izin pada saat itu, kecuali berkenaan dengan kemaslahatan umum dan bersifat tidak membahayakan. Dan seorang penguasa tidak diperbolehkan memberi izin kepada orang kafir untuk memakmurkan.” Seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«عَارِي الْأَرْضِ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ ثُمَّ هِيَ لَكُمْ»

“Bumi diwariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian untuk kalian miliki.” [dhaif, As-Silsilah Ad-Dhaifah (553) dan Shahih Al-Jami’ (3669)]

Sedangkan konteks di sini dikatakan untuk kaum muslimin. Kata perawi, “Yang diputuskan untuk mendiami.” Dikatakan, “Umar memberlakukan hukum itu.” Ada juga yang mengatakan bahwa hadits ini mursal karena Urwah dilahirkan pada masa khalifah Umar.

0853

وَعَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ» رَوَاهُ الثَّلَاثَةُ، وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ. وَقَالَ: رُوِيَ مُرْسَلًا وَهُوَ كَمَا قَالَ. وَاخْتُلِفَ فِي صَحَابِيِّهِ، فَقِيلَ: جَابِرٌ، وَقِيلَ: عَائِشَةُ، وَقِيلَ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، وَالرَّاجِحُ الْأَوَّلُ.

853. Dari Said bin Zaid Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu miliknya.” (HR. Ats-Tsalatsah. Hadits hasan menurut At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits itu diriwayatkan dengan mursal dan ada perselisihan tentang sahabatnya. Ada yang mengatakan [sahabatnya] adalah Jabir. Ada yang mengatakan Aisyah, dan ada juga yang mengatakan Umar. Yang paling kuat ialah yang pertama).

[hasan, Abi Dawud (3074)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Makna Hadits

“Dari Said bin Zaid Radhiyallahu Anhu (biografi beliau sudah disebutkan dalam bab wudhu) bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “‘Barangsiapa menghidupkan tanah mati, maka tanah iiu miliknya.” HR. Ats-Tsalatsah. Hadits hasan menurat At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan dengan mursal dan ada perselisihan tentang sahabatnya maksudnya pada perawi riwayat ini (Ada yang mengatakan [sahabatnya] adalak Jabir, ada yang mengatakan Aisyah, dan ada yang mengatakan Umar. Yang paling kuat (dari riwayat tersebut) ialah yang pertama.

Tafsir Hadits

Ada dua orang yang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Salah satu dari keduanya telah menanam pohon kurma di tanah orang lain, kemudian diputuskan bahwa pemilik tanah diberi tanahnya dan pemilik pohon kurma diperintahkan untuk mencabut pohonnya. Kemudian dia berkata, “Aku melihat akar-akarnya dipotong dengan kampak padahal itu sebagai pohon kurma milik umum sampai semua pohonnya dikeluarkan dari tanah tersebut.” Pembahasan ini telah disebutkan sebelumnya bahwa ‘tidak ada hak bagi akar yang zalim.”

0854

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ الصَّعْبَ بْنَ جَثَّامَةَ اللَّيْثِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا حِمَى إلَّا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

854. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Ash-Sha’b bin Jatstsamah memberitahukan kepadanya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada pembatasan tanah kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2370)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Ash-Sha’b bin Jatstsamah memberitahukan kepadanya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada pembatasan tanah kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.” (kata himaa dalam hadits ditulis dengan alif maqshurah dan mamdudah, namun penulisan yang paling banyak dipakai adalah dengan alif maqshurah yang artinya tempat yang dipelihara, sedangkan hal tersebut bertentangan dengan kebolehan)

Tafsir Hadits

Maksudnya, penguasa (imam) melarang mengembala di tanah khusus yang digunakan untuk pengembalaan unta-unta hasil zakat. Pada zaman jahiliah, bila pemimpin ingin melarang orang-orang memasuki suatu lokasi, dia menggunakan bantuan anjing di tempat yang tinggi. Sejauh radius suara anjing tersebut berakhir maka tidak boleh digunakan untuk menggembala. Sehingga Islam membatalkan metode seperti itu dan menggantinya dengan batasan tanah oleh Allah dan Rasul-Nya.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa hadits tersebut mengandung dua hal, yaitu: tiada kewenangan bagi kaum muslimin untuk membuat perbatasan tanah, kecuali apa yang telah dibataskan oleh Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan makna lain: kecuali seperti apa yang diberi batasan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Menurut pengeritan awal maka tidak ada seorang pun setelahnya menentukan perbatasan tanah. Sedangkan pengertian kedua maka orang yang menentukan perbatasan tanah khusus orang yang menduduki posisi Rasulullah, yaitu khalifah yang secara khusus. Pengertian kedua diperkuat dengan apa yang disampaikan oleh Al-Bukhari dari Az-Zuhri secara mu’allaq bahwa Umar menentukan batas tanah As-Syaraf dan Ai-Rabdzah. Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan riwayat hadits dengan sanad yang shahih dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa bapakku menentukan perbatasan ar-Rabadzah untuk unta hasil zakat. Sebagian kalangan Asy-Syafi’iyah juga mengikutsertakan pemimpin wilayah untuk menentukan perbatasan tanah selama tidak membaha-yakan seluruh umat Islam.

Terjadi perbedaan pendapat, apakah seorang imam menentukan perbatasan tanah untuk dirinya sendiri, atau hanya untuk umat Islam, kata Al-Mahdi bahwa Rasulullah membuat perbatasan untuk dirinya sendiri, akan tetapi bukan untuk dimiliki sendiri. Kata Imam Yahya dan dua kelompok: tidak menentukan perbatasan, kecuali untuk unta-unta umat Islam bukan untuk diri sendiri dan menentukannya untuk unta sedekah serta orang yang tidak mampu sebagaimana sabdanya, “Tidak ada pembatasan tanah kecuali milik Allah.”

Nampak jelas, bahwa tidak dalil yang khusus dalam masalah ini. Adapun kisah Umar juga menunjukkan suatu yang secara khusus yaitu yang lafazhnya seperti dikeluarkan oleh Abu Ubaid, Ibnu Abi Syaibah, Al-Bukhari dan Al-Baihaqi dari Aslam, bahwa Umar bin Khaththab menggunakan budaknya yang bernama Hani menjaga perbatasan. Dia berkata, “Wahai Hani, lindungilah dengan sayap-sayapmu kaum muslirnin, berlindunglah dari doa orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya doa orang-orang yang teraniaya itu maqbul (diterima).”

Kemudian dia memasukkan pemilik sharimah dan harta rampasan serta aku. Sungguh berbahagia Ibnu Auf dan Ibnu Affan, keduanya kembali kepadanya dengan membawa kurma dan hasil panen saat hewan ternak keduanya mati. Sedangkan para pemilik harta ghanimah saat hewan ternak mereka mati berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah aku yang meninggalkan mereka? Maka rumput-rumput lebih ringan bagiku dibandingkan emas dan perak. Demi Allah mereka menyangka aku berbuat aniaya terhadap mereka. Sesungguhnya ini negeri mereka yang dahulu mereka berperang untuknya pada zaman jahiliah dan kemudian mereka memasrahkannya saat masuk Islam. Demi Dzat yang jiwaku ada pada-Nya, kalaulah bukan karena harta yang aku emban di jalan Allah niscaya aku tidak akan menentukan perbatasan tanah negeri mereka.

Dari hal tersebut jelas bahwa pemimpin (penguasa) tidak boleh menentukan batasan tanah untuk sendiri.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *