[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 275

07. KITAB JUAL BELI – 07.15. BAB PENYIRAMAN DAN SEWAAN 02

0845

وَعَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ «رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ الْمُزَارَعَةِ وَأَمَرَ بِالْمُؤَاجَرَةِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ أَيْضًا

845. Dan Tsabit bin Adh-Dhahhak Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang muzara’ah dan memerintahkan sewa-menyewa.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1549)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini dikeluarkan pula oleh Muslim bahwa Abdulah bin Umar telah menyewakan tanahnya sampai ia mendengar bahwa Rafi’ bin Khadij Al-Anshari melarang menyewakan persawahan. Kemudian beliau menemuinya dan berkata, “Wahai Ibnu Hadij, apa yang engkau dapatkan dari perkataan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang menyewakan tanah?” Rafi’ berkata kepada Abdullah, “Aku mendengar dari kedua pamanku yang keduanya pernah mengikuti perang Badar mengatakan kepada penghuni rumah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menyewakan tanah.” Maka Abdullah berkata, “Aku benar-benar tahu bahwa pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tanah itu disewakan.” Kemudian Abdullah khawatir kalau Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengatakan tentang hal tersebut, sehingga ia meninggalkan sistem sewa tanah. [shahih, Muslim (1547)]

Tafsir Hadits

Terdapat beberapa hadits yang menunjukkan larangan memperdayakan persawahan dan setelah diakumulasikan dengan hadits-hadits yang membolehkan dari beberapa sisi, maka pengertian yang paling baik ialah: bahwa larangan itu terjadi saat pertama kebutuhan manusia, dimana saat itu kaum Muhajirin tidak mempunyai tanah sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kaum Anshar untuk memuliakan mereka.

Hal tersebut ditunjukkan dengan hadits yang disampaikan oleh Muslim dari hadits Jabir bahwa:

«كَانَ لِرِجَالٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فُضُولُ أَرْضٍ وَكَانُوا يُكْرُونَهَا بِالثُّلُثِ وَالرُّبْعِ فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْ لِيَمْنَحْهَا أَخَاهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُمْسِكْهَا»

dahulu kaum Anshar mempunyai kelebihan tanah sehingga mereka menyewakannya dengan imbalan hasilnya sebanyak sepertiga atau seperempat dari hasilnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang mempunyai tanah hendaklah menanaminya atau memberikan kepada saudaranya, apabila enggan maka peganglah.” [shahih, Muslim (1536)]

Masalah ini sama halnya dengan larangan menyimpan daging kambing qurban untuk disedekahkan. Setelah kondisi umat Islam sudah membaik maka kebutuhan tersebut berakhir sehingga dibolehkan bercocok tanam dan pemilik dibolehkan berbuat terhadap harta miliknya sesukanya, baik berupa penyewaan dan lainnya. Hal itu ditunjukkan dengan kejadian pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para Khalifah. Sangat tidak mungkin sekali mereka lalai terhadap larangan dan isu dari Rafi’ dalam tempo seperti ini. Dan disebutkan juga terjadi pula hingga kepemerintahan Mu’awiyah. Al-Khaththabi berkata, “Ibnu Abbas memahami maknanya bahwa maksudnya bukan mengharamkan Muzara’ah dengan memberikan sebagian hasil panen, melainkan maksud yang diinginkan berupa mereka saling memberi dan berkasih sayang satu dengan yang lainnya.”

Zaid Ibnu Tsabit berkata, “Allah mengampuni Rafi’, demi Allah saya lebih paham terhadap hadits itu dibandingkannya.” Kasus yang terjadi sebenarnya ada dua orang Anshar yang datang kepada Rasulullah dengan berselisih pendapat, maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إنْ كَانَ هَذَا شَأْنُكُمْ فَلَا تُكْرُوا الْمَزَارِعَ

“Kalau kondisi kalian seperti ini, maka jangan menyewakan tanah.” [Dhaif: Abi Dawud (3390)]

Seakan Zaid berkata, “Rafi’ telah memutus hadits sehingga meriwayatkan suatu larangan yang bukan diriwayatkan oleh perawinya sendiri sehingga merusak maksud hadits.”

Adapun alasan ini disebabkan ketidakjelasan upah sewa, maka tidak dapat diterima sebab dianggap sah pemberian upah bagi wanita penyusu dengan memberikan nafkah dan pakaian walaupun tidak ada kejelasan tentang kadar susuan tersebut. Sehingga dapat dihukumi sama dengan hal yang dapat diketahui sebabnya secara garis besar akan adanya kedekatan kondisi yang dihasilkan dan ditentukan dengan faktor kuantitas, yaitu setengah atau sepertiga, dan datang nash hadits yang memutuskan beban syariat yang memberatkan.

0846

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «احْتَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ أَجْرَهُ. وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

846. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhurna berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbekam dan memberikan upah kepada orang yang membekamnya. Seandainya hal itu haram beliau tidak akan memberinya upah.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (2103)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbekam dan memberikan upah kepada orang yang membekamnya. Seandainya hal itu haram beliau tidak akan memberinya upah. (Menurut lafazh pada Al-Bukhari: “Kalaulah dia tahu kemakruhannya, niscaya beliau tidak akan memberinya” dan perkataan ini dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma. Seakan beliau ingin membantah pendapat yang menganggap tidak boleh memberi upah kepada tukang bekam dan hal tersebut haram).

Tafsir Hadits

Ulama berbeda pendapat tentang upah tukang bekam, jumhur ulama mengatakan halal dengan alasan hadits di atas. Mereka berkata, “Itu merupakan pendapatan yang terdapat tambahan kehinaan dan tidak diharamkan.” Mereka mengartikan larangan tersebut hanya bersifat tanzih (untuk dihindari). Di antara ulama ada pula yang beranggapan telah dihapus (nasakh), dimana dahulu diharamkan kemudian dibolehkan. Pendapat tersebut dibenarkan bila dapat diketahui sejarahnya. Imam Ahmad dan lainnya mengatakan, bahwa dibenci bagi orang yang merdeka (bukan budak) melakukan bekam dan diharamkan pula untuk menginfakkan sebagian hasil upah bekam untuk dirinya. Tapi dibolehkan berinfak kepada kerabat dekatnya dan hewan ternak. Argumentasi mereka hadits yang dikeluarkan oleh Malik, Ahmad, dan Ashabus Sunnan dengan perawi hadits yang terpercaya dari hadits Muhaishah yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang upah hasil bekam, maka Rasulullah melarangnya kemudian dia menyebutkan alasan kebutuhan terhadapnya. Sehingga Rasulullah bersabda,

اعْلِفْهُ نَوَاضِحَكَ

“Berilah dia siramanmu.” [Shahih: Abi Dawud (3422)]

Kemudian mereka membolehkan secara mutlak bagi hamba sahaya. Dari hadits tersebut di atas terdapat petunjuk dibolehkannya berobat dengan mengeluarkan darah dan hal tersebut sudah menjadi ijma’ ulama.

0847

وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «كَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ»

847. Dari Rafi’ bin Khadij Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pekerjaan tukang bekam adalah buruk.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1568)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Rafi’ bin Khadij Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pekerjaan tukang bekam adalah buruk.” Riwayat Muslim (kata khabitsu adalah lawan kata kebaikan).

Apakah hukumnya menunjukkan haram? Secara zhahir hadits tidak menunjukkan hal seperti itu, firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an:

{وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ}

“Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk kemudian kamu nafkahkan dari padanya” (QS. Al-Baqarah: 267).

Dinamakan kotoran-kotoran harta sebagai keburukan walaupun tidak diharamkan.

Adapun hadits:

«مِنْ السُّحْتِ كَسْبُ الْحَجَّامِ»

“Termasuk penghasilan yang haram yaitu penghasilan dari upah bekam.” [Ahmad (2/299,332)]

Namun hadits bab ini menjelaskan bahwa maksud kata haram di sini yakni keburukan dan diperkuatlah dengan sikap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan upah bekam.

Ibnul Arabi berkata, “Digabungkan antara hadits ini dan perilaku Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi upah bekam bahwa letak hukum yang dibolehkan yaitu bila upah yang dihasilkan dari pekerjaan yang dapat diketahui. Sedangkan letak larangan, bila upah dihasilkan dari pekerjaan yang tidak ada kejelasannya.” Saya katakan, “Hal tersebut didasarkan dengan apa yang diambilnya haram.” Sedangkan Ibnul Jauzi berkata, “Hal tersebut makruh (dibenci) karena termasuk bagian yang wajib ditolong bagi setiap muslim kepada muslim yang lainnya saat dibutuhkan. Sehingga tidak layak baginya untuk mengambil upah dari pertolongannya itu.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *