[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 274

07. KITAB JUAL BELI – 07.15. BAB PENYIRAMAN DAN SEWAAN 01

0843

عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَطْرِ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ ثَمَرٍ أَوْ زَرْعٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا: «فَسَأَلُوهُ أَنْ يُقِرَّهُمْ بِهَا عَلَى أَنْ يَكْفُوهُ عَمَلَهَا وَلَهُمْ نِصْفُ التَّمْرِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: نُقِرُّكُمْ بِهَا عَلَى ذَلِكَ مَا شِئْنَا فَقَرُّوا بِهَا، حَتَّى أَجْلَاهُمْ عُمَرُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -» .

وَلِمُسْلِمٍ: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – دَفَعَ إلَى يَهُودِ خَيْبَرَ نَخْلَ خَيْبَرَ وَأَرْضَهَا عَلَى أَنْ يَعْتَمِلُوهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَلَهُمْ شَطْرُ ثَمَرِهَا»

843. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mempekerjakan penduduk Khaibar dengan memperoleh setengah dari hasilnya berupa buah-buahan dan tanaman. (Muttafaq Alaih)

Dalam suatu riwayat Al-Bukhari-Muslim: mereka meminta agar beliau menetapkan mereka memperkerjakan tanah (Khaibar) dengan memperoleh setengah dari hasil kurma, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. bersabda, “Kami tetapkan kalian dengan ketentuan seperti itu selama kami menghendaki”. Lalu mereka mengakui dengan ketetapan itu sampai Umar mengusir mereka,

Menurut riwayat Muslim: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan pohon kurma dan tanah Khaibar kepada kaum Yahudi di Khaibar dengan perjanjian mereka mengerjakan dengan modal mereka dan bagi mereka setengah dari hasil buahnya.

[shahih, Al-Bukhari (2328) dan Muslim (1551)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil sahnya penyiraman dan pertanian, itulah pendapat Ali, Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu Anhum, serta Ahmad,. Ibnu Huzaimah dan semua fuqaha ahli hadits. Kedua hal tersebut dibolehkan secara bersama-sama atau tersendiri. Umat Islam sepan-jang masa melakukan hal tersebut. Dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: “selama kami menghendaki” menunjukkan sahnya penyiraman dan pertanian walaupun temponya tidak diketahui. Jumhur ulama mengatakan bahwa penyiraman dan pertanian tidak boleh kecuali dengan tempo yang diketahui seperti halnya dengan peminjaman. Dan mereka menta’wilkan sabda beliau, “selama kami menghendaki” bukan merupakan tempo perjanjian. Tetapi maksudnya, kalian boleh tinggal di Khaibar selama kami menghendaki dan kami boleh mengusir kalian selama kami menghendaki. Karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mempunyai keinginan yang kuat untuk mengusir mereka dari Jazirah Arab, tapi pendapat ini layak dikritisi.

Adapun penyiraman, temponya dapat diketahui karena merupakan suatu bentuk peminjaman. Ulama sepakat bahwa penyiraman harus mempunyai batasan waktu yang dapat diketahui. Dalam kitab Zad Al-Ma’ad, Ibnul Qayyim berkata, “Dalam kisah Khaibar terdapat suatu dalil yang membolehkan penyiraman dan pertanian dengan sebagian hasil panen, baik berupa kurma atau tanaman. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempekerjakan penduduk Khaibar untuk melakukan hal itu, dan hal itu berlangsung hingga beliau wafat tidak dihapuskan perintah beliau sama sekali. Kebijakan tersebut berlaku sampai kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, hal ini bukan merupakan bentuk pemberian upah terhadap sesuatu melainkan termasuk bentuk kerjasama yang sama juga sebagai bentuk saling memberikan keuntungan (Mudharabah). Sehingga siapa yang menghalalkan Mudharabah, tetapi mengharamkan hal tersebut maka sungguh dia telah membedakan antara dua hal yang sejenis. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan tanah kepada penduduk Khaibar agar memperdayakan tanah Khaibar dari harta yang mereka miliki bukan memberikan mereka benih dan bukan pula membawakan benih kepada mereka dari Madinah sama sekali. Hal tersebut menunjukkan bahwa petunjuk beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menentukan syarat pemberian benih dari pemilik tanah karena dibolehkan dari pekerja itu sendiri.”

Itulah petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para khalifah setelahnya, sebagaimana yang dinukil dalam hadits-hadits. Hal ini sesuai dengan qiyas, bahwa tanah bagaikan modal kerja dalam kerjasama kerja (Mudharabah) dan benih bagaikan upaya penyiraman. Oleh karena itu, bila benih mati di tanah maka tidak dikembalikan kepada pemiliknya walaupun itu merupakan bentuk modal dalam mudharabah, kalau tidak niscaya ada penentuan syarat untuk dikembalikan kepada pemiliknya dan hal tersebut dapat merusak sistem pertanian. Sehingga dari sini dapat diketahui bahwa qiyas yang benar adalah yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para Khalifah setelahnya.

Pendapat kalangan Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah menunjukkan hal seperti di atas bahwa penyiraman dan pertanian tersebut tidak sah dan rusak (fasid). Mereka menta’wilkan hadits bahwa Khaibar dibuka secara paksa dan penduduknya sebagai budak bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sehingga apa yang beliau ambil, maka itu merupakan bagian miliknya dan apa yang beliau tinggalkan, maka menjadi bagiannya. Namun, pendapat tersebut tertolak dan tidak layak dijadikan pegangan.

0844

وَعَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «سَأَلْتُ رَافِعَ بْنَ خَدِيجٍ عَنْ كِرَاءِ الْأَرْضِ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ. فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ. إنَّمَا كَانَ النَّاسُ يُؤَاجِرُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى الْمَاذِيَانَاتِ، وَأَقْبَالِ الْجَدَاوِلِ، وَأَشْيَاءَ مِنْ الزَّرْعِ، فَيَهْلِكُ هَذَا وَيَسْلَمُ هَذَا، وَيَسْلَمُ هَذَا وَيَهْلِكُ هَذَا، وَلَمْ يَكُنْ لِلنَّاسِ كِرَاءٌ إلَّا هَذَا، فَلِذَلِكَ زَجَرَ عَنْهُ، فَأَمَّا شَيْءٌ مَعْلُومٌ مَضْمُونٌ فَلَا بَأْسَ بِهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِيهِ بَيَانٌ لِمَا أُجْمِلَ فِي الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ مِنْ إطْلَاقِ النَّهْيِ عَنْ كِرَاءِ الْأَرْضِ

844. Dari Hanthalah bin Qais Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rafi’ bin Khadij tentang menyewakan tanah dengan emas dan perak. Ia berkata, ‘Tidak apa-apa.’ Orang-orang pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyewakan tanah dengan imbalan pepohonan yang tumbuh di tempat perjalanan air, pangkal-pangkal parit, dan aneka tumbuhan. Lalu dari tetumbuhan itu ada yang hancur dan ada yang selamat, sedangkan orang-orang tidak mempunyai sewaan lainnya kecuali ini. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang hal itu. Adapun imbalan dengan barang yang nyata dan terjamin, maka tidak apa-apa. (HR. Muslim). Dalam hadits ini ada penjelasan menyeluruh tentang larangan menyewakan tanah dalam hadits Muttafaq Alaih.

[shahih, Muslim (1547)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Hanthalah bin Qais (dia Al-Zuraqi dan orang Anshar, termasuk salah satu orang yang terpercaya dari penduduk Madinah) berkata, ‘Aku bertanya kepada Rafi’ bin Khadij tentang menyewakan tanah dengan emas dan perak. Ia berkata: Tidak apa-apa. Orang-orang pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyewakan tanah dengan imbalan pepohonan yang tumbuh di tempat perjalanan air (kata Madziyanat berarti selokan air. Ada juga yang mengatakan sebagai tumbuhan yang tumbuh di saluran air), pangkal-pangkai parit (yakni pangkal-pangkal sungai), dan aneka tumbuhan. Lalu dari tetumbuhan itu ada yang hancur dan ada yang selamat, sedangkan orang-orang tidak mempunyai sewaan lainnya kecuali ini. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang hal itu. Adapun imbalan dengan barang yang nyata dan terjamin, maka tidak apa-apa. Riwayat Muslim. Dalam hadits ini ada penjelasan menyeluruh tentang larangan menyewakan tanah dalam hadits Muttafaq Alaih).

Tafsir Hadits

Dalam hadits terdapat petunjuk sahnya penyewaan tanah dengan upah yang dapat diketahui berupa emas dan perak. Diqiyaskan dengan keduanya semua bentuk pembayaran yang sah dan dibolehkan pula dengan bagian tertentu dari hasilnya seperti sepertiga atau seperempat hasil tanahnya sebagaimana ditunjukkan dalam hadits pertama dan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma yang mengatakan, “Aku tahu bahwa pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tanah dapat disewakan dengan bagian tertentu (siraman yang kecil-al-Arba’) dan sesuatu lainnya berupa taban, sedangkan aku tidak tahu apa itu (taban)? Hadits tersebut dikeluarkan oleh Muslim dan ada pula yang dikeluarkannya, “Bahwa Ibnu Umar pernah memberi tanah dengan memberikan bagian sepertiga dan seperempat kemudian ditinggalkannya.” Dan akan disebutkan hal yang bertentangan dengannya.

Perkataannya, “‘Ala al-arba'” kata al-arba’ bentuk jamak dari rubai’ yakni penyiram air yang kecil, maknanya dan hadits dalam bab ini ialah bahwa mereka dahulu memberikan sawah kepada orang yang ingin menggarapnya dengan benih dari penggarap tanah dengan syarat hasil yang tumbuh di saluran air dan pangkal saluran air menjadi bagian pemilik tanah atau bagian tersebut, sedangkan sisanya menjadi bagian penggarap tanah. Maka hal tersebut dilarang karena mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) sebab bisa jadi hal tersebut rusak, sedangkan yang lain tidak atau sebaliknya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *