[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 273

07. KITAB JUAL BELI – 07.14. BAB QIRADH (MEMBERIKAN MODAL KEPADA SESEORANG, HASILNYA DIBAGI DUA)   04

Qiradh menurut bahasa penduduk Hijaz artinya mu’amalah seorang pekerja dengan menentukan bagian keuntungannya. Disebut juga dengan Mudharabah yang terambil dari kata Dharab fil Ardhi (berjalan di muka bumi) karena keuntungan didapat dengan bepergian atau bisa juga dari ad-dharbufil mal (menggunakan harta) yang berarti bertransaksi.

0841

عَنْ صُهَيْبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «ثَلَاثٌ فِيهِنَّ الْبَرَكَةُ، الْبَيْعُ إلَى أَجَلٍ، وَالْمُقَارَضَةُ، وَخَلْطُ الْبُرِّ بِالشَّعِيرِ لِلْبَيْتِ، لَا لِلْبَيْعِ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ

841. Dari Shuhaib Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya ada berkah: jual beli bertempo, berqiradh, dan mencampur gandum dengan sya’ir untuk makanan di rumah, bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad lemah)

[dhaif sekali, Ibni Majah (2331)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Shuhaib Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tiga hal yang di dalamnya ada berkah: jual beli bertempo, berqiradh, dan mencampur gandum dengan sya’ir untuk makanan di rumah, bukan untuk dijual”. Riwayat Ibnu Majah dengan sanad lemah. (Keberkahan ada pada tiga faktor, sebab pada jual beli dengan tempo terdapat toleransi, kemudahan, dan pertolongan kepada yang lain dengan adanya pemberian tempo. Sedangkan pada muqaradhah (berqiradh) terdapat di dalamnya pemanfaatan manusia terhadap sebagian yang pokok bukan untuk dijual, sebab terkadang terdapat unsur penipuan dan kecurangan.

0842

وَعَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ كَانَ يَشْتَرِطُ عَلَى الرَّجُلِ إذَا أَعْطَاهُ مَالًا مُقَارَضَةً: أَنْ لَا تَجْعَلَ مَالِي فِي كَبِدٍ رَطْبَةٍ، وَلَا تَحْمِلَهُ فِي بَحْرٍ، وَلَا تَنْزِلَ بِهِ فِي بَطْنٍ مَسِيلٍ، فَإِنْ فَعَلْت شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَقَدْ ضَمِنْت مَالِي رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ وَقَالَ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّإِ، عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ: إنَّهُ عَمِلَ فِي مَالٍ لِعُثْمَانَ عَلَى أَنَّ الرِّبْحَ بَيْنَهُمَا وَهُوَ مَوْقُوفٌ صَحِيحٌ

842. Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu Anhu bahwa disyaratkan bagi seseorang yang memberikan modal sebagai qiradl, yaitu: Jangan menggunakan modalku untuk barang bernyawa, jangan membawanya ke laut, dan jangan membawanya di tengah air yang mengalir. Jika engkau melakukan salah satu di antaranya, maka engkaulah yang menanggung modalku. (HR. Ad-Daraquthni dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya).

[shahih, lihat Al Irwa’ (5/293)]

Malik berkata dalam kitabnya Al-Muwaththa, dan Ala’ bin Abdurrahman bin Ya’qub, dari ayahnya, dari kakeknya: Bahwa ia pernah menjalankan modal Utsman dengan keuntungan dibagi dua. Hadits ini mauquf shahih.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya Qiradh, dan hal tersebut termasuk perilaku orang jahiliah yang ditetapkan oleh agama Islam. Qiradh termasuk jenis peminjaman, hanya saja ditoleransi di sini sisi ketidakjelasan upah. Seakan keringanan tersebut berupa sikap lembut terhadap manusia. Qiradh mempunyai rukun dan syarat-syarat tertentu.

Rukun-rukunnya yaitu: akad dengan adanya ijab qabul (serah terima) atau yang semakna dengannya yang berupa transaksi antara orang yang boleh membelanjakan hartanya, hanya saja dikecualikan transaksi tersebut dari seorang muslim kepada orang kafir terhadap harta secara kontan sebagaimana pendapat jumhur ulama. Qiradh juga mempunyai beberapa hukum di antaranya:

· Ketidakjelasan upah dimaafkan di sini.

· Tidak ada beban tanggungan bagi pelaksana investasi terhadap kerugian yang terjadi pada modal selama tidak teledor melaksanakannya.

Ulama berbeda pendapat bila berupa hutang, jumhur ulama melarang hal tersebut. Sebab dengan adanya hutang pelaksana investasi mendapat kesulitan sehingga pemberian upah atas keuntungan yang ada menjadi bentuk riba yang dilarang. Dikatakan bahwa sesuatu yang masih dalam tanggungan tidak berubah dari tanggungan sehingga menjadi bentuk amanat saja. Dikatakan, sesuatu yang masih dalam benak tanggungan bukan sesuatu yang ada secara hakiki sehingga belum jelas menjadi harta investasi.

Termasuk syarat mudharabah berupa harta dari pihak pemegang modal. Ulama sepakat bila salah satu pihak menentukan syarat keuntungan bagi dirinya secara berlebihan dan tertentu, maka tidak dibolehkan dan dianggap tidak ada (batal).

Hadits Hakim menunjukkan bolehnya pemilik modal memblokir perilaku pelaksana modal sesuai kehendaknya bila menyelisihi, maka dia menanggung akibat yang terjadi berupa kerugian. Bila modal bisa diselamatkan, maka mudharabah tetap berlangsung selama masih dipelihara. Apabila syarat tersebut tidak bermuara pada penjagaan harta, atau justru berupa perniagaan seperti agar tidak membeli jenis tertentu dan tidak menjual kepada pihak tertentu maka itu merupakan bagian sikap yang berlebihan bila dilanggar. Bila pemilik modal membolehkan maka jual beli dapat dilanjutkan, tetapi bila tidak ada izin darinya maka jual beli tidak terlaksana.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *