[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 272

07. KITAB JUAL BELI – 07.13. SAB SYUF’AH (HAK MEMBELI BAGIAN DARI DUA ORANG YANG BERSEKUTU) 03

0839

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْجَارُ أَحَقُّ بِشُفْعَةِ جَارِهِ، يَنْتَظِرُ بِهَا – وَإِنْ كَانَ غَائِبًا – إذَا كَانَ طَرِيقُهُمَا وَاحِدًا»

839. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tetangga itu lebih berhak dengan syuf’ah tetangganya, ia dinanti -walaupun sedang pergi- jika jalan mereka satu.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Para perawinya dapat dipercaya)

[Shahih: Abi Dawud (3518)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Penulis telah berlaku baik dengan memperkuat para perawinya dan tidak menilainya cacat. Kalau tidak, mereka telah banyak mengkritisi riwayat ini karena secara sendirian menyebutkan tambahan sabda beliau: “jika jalan mereka satu” yaitu Abdul Malik bin Abi Sulaiman Al-‘Arzumi. Saya katakan: Abdul Malik merupakan orang yang terpercaya sehingga kesendiriannya tidak bermasalah sebagaimana diketahui dalam ilmu ushul dan ilmu hadits.

Tafsir hadits

Hadits tersebut sebagai dalil adanya hak syuf’ah bagi tetangga hanya saja dikhususkan dengan sabdanya: “jika jalan mereka satu”.

Sebagian ulama mensyaratkan hal tersebut dengan mengatakan bahwa hak syuf’ah berlaku bagi tetangga yang dalam satu jalan. Kata beliau dalam kitab As-Syarh dan hal tersebut tidaklah jauh dari pengambilan dalilnya. Bisa berupa dari sisi dalil maka kejelasan yang terdapat dalam hadits Jabir ini dan pemahaman syarat bila berbeda jalan maka tidak ada hak syuf’ah. Sedangkan dari segi alasan maka pensyariatan syuf’ah dalam rangka menghilangkan kemudharatan dan kemudharatan secara garis besar terjadi bersamaan dengan adanya percampuran dan jaringan pemanfaatan yang berlaku dengan sekutu tentang jalan dan asal persekutuan. Dan kemudharatan akan jarang terjadi bila hal tersebut tidak ada. Sedangkan hadits Jabir diikat dengan syarat tersebut dan tidak mengandung ta’wil sebagaimana tersebut. Atau bila maksud sekutu di sini adalah tetangga, maka tidak ada gunanya penetapan syarat dengan satu jalan di sini.

Saya katakan: nampak jelas muara pembicaraan akan berujung pada hal yang dimiliki bersama, karena dengan adanya jalan yang bersatu maka ada hak syuf’ah di sini disebabkan percampuran yang terjadi. Itulah yang kami tegaskan dalam kitab Minhah Al-Ghaffar Hasyiyah Dhau’ An-Nahar. Ibnul Qayyim berkata, “Itulah perkataan yang lebih adil dan menjadi pilihan Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, sedangkan hadits Jabir jelas menetapkan hak syuf’ah bagi tetangga yang satu jalan sedangkan dalam hadits lain hal tersebut ditiadakan disertai perbedaan antara keduanya, dimana beliau bersabda,

«فَإِذَا وَقَعَتْ الْحُدُودُ وَصُرِّفَتْ الطُّرُقُ فَلَا شُفْعَةَ»

“Apabila telah dibatasi dan telah diatur peraturannya, maka tidak berlaku syuf’ah”

Maka pemahaman hadits Jabir ini dengan sendirinya menjadi perkataan hadits terdahulu. Salah satunya membenarkan dan sesuai dengan yang lain, tidak bertentangan dan bertolak belakang dengannya. Sedangkan Jabir meriwayatkan dua lafazh sehingga sunnah Nabi menjadi sesuai dan satu dengan segala puji bagi Allah. Adapun sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: “ia dinanti” menunjukkan bahwa hak syuf’ah orang yang pergi (ghaib) tidaklah gugur walaupun dalam seng-gang waktu yang lama dan tidak wajib berlalu saat berita pembelian sampai kepadanya.

0840

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الشُّفْعَةُ كَحَلِّ الْعِقَالِ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَزَّارُ وَزَادَ «وَلَا شُفْعَةَ لِغَائِبٍ» وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ

840. Dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Syuf’ah itu laksana melepaskan unta.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Bazzar dengan tambahan, “Tidak ada syufah bagi orang yang pergi”. Sanadnya lemah).

[Hadits ini lemah sekali, Al-Irwa’ (1542)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Syuf’ah itu laksana melepaskan unta”. HR. Ibnu Majah dan Al-Bazzar dengan tambahan, “Tidak ada syufah bagi orang yang pergi”. Sanadnya lemah (tidak dapat dijadikan argumentasi disebabkan hal yang akan diketahui oleh pembaca nantinya. Sedangkan lafazh dari keduanya:

«لَا شُفْعَةَ لِغَائِبٍ وَلَا لِصَغِيرٍ، وَالشُّفْعَةُ كَحَلِّ عِقَالٍ»

“Tidak ada syuf’ah bagi orang yang pergi dan anak kecil, syuf’ah itu laksana melepaskan unta.”

Namun, hadits tersebut didhaifkan oleh Al-Bazzar. Menurut Ibnu Hibban: Tidak mempunyai asal. Menurut Abu Zar’ah: Hadits ini mungkar. Menurut Al-Baihaqi: Tidak benar adanya dan dalam maknanya terdapat hadits-hadits yang semuanya tidak mempunyai asal yang bisa dipertanggungjawabkan.

Tafsir hadits

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, menurut Al-Hadawiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah bahwa hal tersebut berlangsung segera. Dan mereka mempunyai batasan waktu yang segera yang tidak berdasarkan dalil yang ada. Tidak diragukan lagi bila sisi pensyariatannya sebagai bentuk penolakan atas kemudharatan yang terjadi, maka yang sesuai secara langsung (segera). Dikatakan: bagaimana mungkin terlalu berlebihan menolak kerugian orang yang mempunyai hak syuf’ah dan kerugian pembeli dengan bergantungnya kondisi mereka. Kalaulah tidak, maka tidak cukup penentuan kadar waktu dalam penentuan hukum di sini. Walaupun pada asalnya tidak ada pensyaratan secara segera dalam hadits ini sehingga penetapannya membutuhkan adanya dalil terlebih dahulu. Sedangkan Al-Baihaqi telah membuat bab tersendiri dalam kitab As-Sunnan Al-Kubra dengan lafazh-lafazh mungkar yang disebutkan oleh sebagian para fuqaha termasuk di dalamnya: “Syuf’ah itu laksana melepaskan unta” dan “Tidak ada syufah bagi orang yang pergi dan anak kecil”, “syuf’ah tidak mewariskan dan diwariskan”, “anak kecil sesuai syuf’ahnya sampai mendapatkannya”, “tidak ada syuf’ah bagi orang Nasrani dan tidak pula bagi orang Yahudi”, dan “bagi orang Nasrani tidak ada syuf’ah” dan itulah di antara hadits dalam bab kitab yang dimaksud.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *