[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 271

07. KITAB JUAL BELI – 07.13. SAB SYUF’AH (HAK MEMBELI BAGIAN DARI DUA ORANG YANG BERSEKUTU) 02

0837

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «جَارُ الدَّارِ أَحَقُّ بِالدَّارِ» رَوَاهُ النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَلَهُ عِلَّةٌ.

837. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Tetangga sebelah rumah lebih berhak terhadap rumah itu.” (HR. An-Nasa’i, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, dan ia mempunyai illah-cacat)

[shahih, Shahih Al-Jami’ (3089)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tetangga sebelah rumah lebih berhak terhadap rumah itu” (hal tersebut dikeluarkan oleh para Imam dari para penghafal hadits dari Qatadah dari Anas. Sedangkan yang lain mengeluarkan dari Al-Hasan dari Samrah dan itulah yang terpelihara. Dikatakan, kedua hadits tersebut shahih semua walaupun terdapat cacat padanya).

0838

وَعَنْ أَبِي رَافِعٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «الْجَارُ أَحَقُّ بِصَقَبِهِ» أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَالْحَاكِمُ وَفِيهِ قِصَّةٌ

838. Dari Abu Rafi’ Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tetangga itu lebih berhak karena kedekatannya.” (HR. Al-Bukhari dan Al-Hakim. Hadits tersebut mempunyai kisah)

[shahih, Al-Bukhari (2258)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Rafi’ Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tetangga itu lebih berhak karena kedekatannya”. HR. Al-Bukhari dan Al-Hakim. Hadits tersebut mempunyai kisah (yakni saat Abu Rafi’ berkata kepada Al-Masur bin Makhramah, “Tidakkah engkau perintahkan ini untuk menunjukkan kepada Sa’ad agar membeli kedua rumah dariku yang berada di rumahnya.” Maka Sa’ad berkata kepadanya, “Demi Allah, aku tidak menambahkan lebih dari empat ratus dinar secara cash atau kredit.” Maka Abu Rafi’ berkata, “Subhanallah, aku telah melarang keduanya dari lima ratus secara kontan, kalaulah aku tidak mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tetangga itu lebih berhak karena kedekatannya, niscaya aku tidak menjual kepadamu”.”

Tafsir Hadits

Hadits tersebut walaupun Abu Rafi’ menyebutkannya dalam jual beli tapi mencakup syuf’ah terhadap tetangga. Ulama berbeda pendapat perihal syuf’ah dalam tetangga. Al-Hadawiyah, Al-Hanafiah dan lainnya berpendapat hal tersebut berlaku dengan dalil hadits-hadits tersebut dan hadits lainnya seperti hadits Asy-Syarid bin Suwaid, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah dia rela sedangkan seseorang tidak mempunyai sekutu dan bagian kecuali tetangga?” beliau menjawab, ‘Tetangga itu lebih berhak karena kedekatannya’ dan hadits Jabir yang akan disebutkan kemudian.

Ali, Umar, dan Utsman serta Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan lainnya berpendapat bahwa tidak ada hak syuf’ah bagi tetangga. Menurut mereka, maksud tetangga dalam hadits tersebut adalah sekutu. Sebagai petunjuk hal tersebut adalah hadits Abu Rafi’ yang menamakan sekutu dengan tetangga dan berargumen dengan hadits. Sedangkan beliau termasuk ahli penutur bahasa dan lebih mengetahui terhadap maksud yang diinginkan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa tidak pernah didapati dalam bahasa penamaan sekutu dengan tetangga merupakan hal yang tidak benar karena segala sesuatu yang dekat dengannya disebut sebagai tetangga. Namun pendapat tersebut dijawab bahwa Abu Rafi’ bukan termasuk sekutu bagi Sa’ad bahkan merupakan tetangga baginya, dimana dia mempunyai dua rumah dalam pekarangan Sa’ad dan bukan disebabkan dia memiliki bagian dari rumah Sa’ad. Dan mereka berargumentasi juga dengan hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya tentang hak syuf’ah bagi sekutu.

Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Apabila telah dibatasi dan telah diatur peraturannya, maka tidak berlaku syuf’ah” dan hadits-hadits lainnya yang terdapat pembatasan syuf’ah sebelum dibagi, Namun hal tersebut dibantah bahwa tujuan hal tersebut berupa menetapkan hak syuf’ah bagi sekutu tanpa menawarkan kepada tetangga tanpa ada ucapan maupun hasil pemahaman hadits. Sedangkan pemahaman adanya pembatasan terjadi pada perkataannya, Adapun Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan syuf’ah” … hadits. Namun hadits tersebut sebelum dibagi untuk dijual antara pembeli dan sekutu (mitra). Petunjuknya adalah pembagian menafikan hak syuf’ah yang merupakan kejelasan dari riwayat, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan hak syuf’ah pada segala sesuatu selama belum dibagikan”. Maka hadits-hadits yang menetapkan hak syuf’ah bagi sekutu tidak meniadakan hak syuf’ah bagi tetangga setelah ditegakkan dalil-dalil syariat terdahulu dan hadits yang di antaranya:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *