[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 270

07. KITAB JUAL BELI – 07.13. SAB SYUF’AH (HAK MEMBELI BAGIAN DARI DUA ORANG YANG BERSEKUTU)  01

Kata syuf’ah mempunyai tiga kata dasar [asal kata]. Ada yang mengatakan berasal dari kata syafaq yang berarti pasangan, ada yang mengatakan berasal dari kata ziyadah yang berarti tambahan, dan adapula yang mengatakan berasal dari kata i’anah yang berarti pertolongan.

Menurut istilah, syuf’ah adalah berpindahnya bagian seseorang kepada mitranya untuk dijual kepada pihak yang lain dengan adanya pengganti yang disebutkan. Sebagian besar fuqaha mengatakan bahwa Syuf’ah bertentangan dengan qiyas karena terambil dengan terpaksa dan hal tersebut merupakan aniaya yang tidak dapat tertolak dari seseorang dengan adanya aniaya yang lain pula. Ada yang mengatakan, bertentangan dengan qiyas ini, namun sesuai dengan qiyas-qiyas yang lain dengan menolak aniaya orang lain dengan adanya aniaya sebagian yang lain, sehingga haknya diambil dengan terpaksa. Seperti perilaku hakim menjual harta orang yang enggan membayar hutang dan orang yang jatuh bangkrut serta orang yang lainnya.

0836

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «قَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: بِالشُّفْعَةِ فِي كُلِّ مَا لَمْ يُقْسَمْ. فَإِذَا وَقَعَتْ الْحُدُودُ وَصُرِّفَتْ الطُّرُقُ فَلَا شُفْعَةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ – وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ «الشُّفْعَةُ فِي كُلِّ شِرْكٍ: فِي أَرْضٍ، أَوْ رَبْعٍ، أَوْ حَائِطٍ، لَا يَصْلُحُ -» وَفِي لَفْظٍ: «لَا يَحِلُّ – أَنْ يَبِيعَ حَتَّى يَعْرِضَ عَلَى شَرِيكِهِ» – وَفِي رِوَايَةِ الطَّحَاوِيِّ: «قَضَى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالشُّفْعَةِ فِي كُلِّ شَيْءٍ» وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

836. Dari Jabir bin Abdullah. Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menetapkan berlakunya syuf’ah pada setiap sesuatu yang belum dibagi. Apabila telah dibatasi dan telah diatur peraturannya, maka tidak berlaku syuf’ah. (Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari).

//shahih, Al-Bukhari (2257), Abu Daud 3514, Ibnu Majah 2499. Ebook editor//

Menurut riwayat Muslim: “Syuf’ah itu berlaku dalam setiap persekutuan, baik dalam tanah, kampung, atau kebun. Tidak boleh -dalam lafazh lain: tidak halal-menjualnya hingga ditawarkan kepada sekutunya.

[shahih, Muslim (1608)]

Menurut riwayat Ath-Thahawi, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan berlakunya syuf’ah dalam segala sesuatu. Para perawinya dapat dipercaya.

[Syarhu Ma ‘ani Al-Atsar (4/122)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menetapkan berlakunya syuf’ah pada setiap sesuatu yang belum dibagi. Apabila telah dibatasi dan telah diatur peraturannya (yakni telah dijelaskan peraturannya) maka tidak berlaku syuf’ah. Muttafaq Alaih dan lafazhnya menurut Al-Bukhari. Menurut riwayat Muslim (yakni dari hadits Jabir) Syuf’ah itu berlaku dalam setiap persekutuan (yakni sesuatu yang dipersekutukan) baik dalam tanah, kampung (maksudnya rumah dan disebutkan secara mutlak dengan tanah) atau kebun. Tidak boleh -dalam lafazh lain: tidak halal- menjualnya (dengan mencampurkan sebagaimana disebutkan dalam alur teksnya) hingga ditawarkan kepada sekutunya. Menurut riwayat Ath-Thahawi (yakni dari hadits Jabir) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menetapkan berlakunya syuf’ah dalam segala sesuatu. Para perawinya dapat dipercaya.

Tafsir Hadits

Lafazh-lafazh dalam hadits ini sangat jelas menunjukkan diperbolehkannya syuf’ah bagi sekutunya, baik dalam hal bangunan rumah, gedung, dan kebun. Hal ini merupakan ijma’ ulama pada sesuatu yang dapat dibagi. Sedangkan sesuatu yang tidak dapat dibagi seperti kamar mandi yang kecil atau semisalnya masih diperselisihkan para ulama. Al-Hadawiyah dan Al-‘Atrah dalam kitab Al-Bahr menganggap sah adanya Syuf’ah dalam segala bentuk apapun. Begitu pula dalam Al-Bahr dari Abu Hanifah dan para sahabatnya yang ditunjukkan oleh hadits Ath-Thahawi dan semisalnya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma pada At-Tirmidzi secara marfu’,

«الشُّفْعَةُ فِي كُلِّ شَيْءٍ»

“Syuf’ah berlaku dalam segala sesuatu”. [dhaif dan munkar, At-Tirmidzi (1371)]

Bagaimana bila dinyatakan bahwa kedudukan marfu’nya merupakan kesalahan? Telah dinyatakan kemursalannya dari hadits Ibnu Abbas sebagai penguat atas kemarfu’annya. Dan mursal seorang sahabat bila riwayatnya sah dapat dijadikan argumentasi. Sedangkan pendapat Al-Manshur bahwa tidak ada syuf’ah pada sesuatu yang ditakar dan ditimbang karena terdapat kemudharatan di dalamnya. Namun, dijawab bahwa hal tersebut mempunyai madharat dengan menggugurkan hak sekutunya dan kami tidak pasrah menerima argumentasi bahwa alasan hukum di atas merupakan adanya faktor madharat.

Sebagian besar ulama mengatakan syuf’ah tidak berlaku pada hal yang dapat dipindahkan berpegang dengan dalil sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«فَإِذَا وَقَعَتْ الْحُدُودُ وَصُرِّفَتْ الطُّرُقُ فَلَا شُفْعَةَ»

“Apabila telah dibatasi dan telah diatur peraturannya, maka tidak berlaku syuf’ah”.

Hal tersebut menunjukkan bahwa syuf’ah tidak berlaku, kecuali untuk gedung bangunan dan begitu pula dengan rumah berdasarkan hadits Muslim: “atau rumah”. Mereka mengatakan: karena madharat yang terjadi pada hal yang dapat dipindahkan jarang sekali terjadi.

Pendapat tersebut dibantah, bahwa penyebutan sebagian anggota benda yang bersifat umum tidak mengurangi hal tersebut. Mereka mengatakan sebagaimana dikeluarkan oleh Al-Bazzar dari hadits Jabir dan Al-Baihaqi dari hadits Abu Hurairah dengan lafazh yang terdapat pembatasan. Dalam kedua hadits tersebut: Pertama: “tidak ada syuf’ah kecuali untuk rumah dan bangunan” dalam lafazh kedua: “tidak ada syuf’ah kecuali untuk rumah dan bangunan gedung”. Hanya saja kata Al-Baihaqi setelah menyebutkan lafazh tersebut bahwa sanadnya lemah. [Al-Baihaqi dalam kitab Al-Kubra (6/109)]

hal ini dijawab, kalaulah hadits tersebut benar sah niscaya merupakan suatu bentuk pemahaman yang tidak dapat menandingi pesan yang terucap: “dalam segala sesuatu”. Di antara kalangan ulama ada pula yang mengecualikan pakaian dari hal yang dapat dipindahkan. Mereka mengatakan: syuf’ah berlaku pula untuknya. Sebagian mereka ada pula yang mengecualikan hewan, mereka mengatakan: syuf’ah berlaku pula untuknya.

Dalam hadits Muslim terdapat petunjuk bahwa sekutu kepemilikan tidak boleh menjual bagiannya sebelum dia menawarkan kepada sekutu yang lainnya. Diharamkan pula menjual sebelum menawarkan kepadanya. Sedangkan ulama yang memalingkan pengertian tersebut menjadi bentuk keburukan (karahah) menyelisihi dasar pengertian larangan tanpa berdasarkan dalil. Ulama kemudian berbeda pendapat apakah sekutu mempunyai hak syuf’ah setelah memberikan izin kepada sekutunya kemudian menjual bagiannya kepada yang lain?. Ada pendapat yang mengatakan: dia mempunyai hak tersebut dan tidak dapat menghalangi keabsahannya setelah adanya izin darinya. Itulah pendapat ulama yang terbanyak.

At-Tsauri, Al-Hakam, Abu Ubaid dan segolongan ahli hadits mengatakan: hak syuf’ahnya gugur setelah ditawarkan kepadanya. Itulah pendapat yang lebih cocok dengan lafazh hadits dan itu pula yang kita pilih dalam kitab Hasyiyah Dhau’ An-Nahar.

Dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: “hendak menjual” menunjukkan bahwa hanya terjadi dengan akad jual beli dan itulah ijma’ ulama. Dan terdapat perbedaan pendapat ulama perihal menggunakan selain lafazh jual beli.

Dan sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam: “dalam segala sesuatu” mencakup syuf’ah dalam bentuk peminjaman walaupun kalangan Al-Hadawiyah melarang hal tersebut dengan mengatakan: peminjaman terjadi pada barangnya bukan manfaatnya. Akan tetapi, perkataan mereka dilemahkan sebab manfaat juga disebut sebagai bagian sesuatu dan menjadi cakupan pula sehingga hal di atas masuk dalam sabdanya: “dalam segala sesuatu”. Sebab bila tidak termasuk bagian sesuatu dan tidak tercakup, niscaya tidak sah meminjamkannya dan tidak sah pula membagikannya dengan dihadiahkan. Hal tersebut termasuk jual beli khusus yang dicakup oleh sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “tidak sah baginya untuk menjualnya”. Maka yang benar adalah berlaku syuf’ah pada hal tersebut sebab terkandung dalam dalil dan karena adanya sebab syuf’ah di dalamnya. Sedangkan zhahir sabda beliau, “dalam segala persekutuan” yakni sesuatu yang terjadi persekutuan. Adapun berlakunya syuf’ah bagi kafir dzimmi terhadap seorang muslim saat menjadi sekutu kepemilikan terdapat perbedaan pendapat ulama. Namun yang lebih nampak berlakunya syuf’ah bagi orang kafir dzimmi selain di Jazirah Arab karena mereka dilarang bermukim di sana.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *