[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 269

07. KITAB JUAL BELI – 07.12. BAB GHASAB (MENGAMBIL HAK ORANG LAIN) 02

0833

وَعَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ زَرَعَ فِي أَرْضِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إذْنِهِمْ فَلَيْسَ لَهُ مِنْ الزَّرْعِ شَيْءٌ، وَلَهُ نَفَقَتُهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ. وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ. وَيُقَالُ إنْ الْبُخَارِيَّ ضَعَّفَهُ

833.Dari Rafi bin Khadij Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menanam di atas tanah suatu kaum tanpa seizin mereka, maka ia tidak berhak memiliki apapun dari tanaman itu, namun ia mendapat nafkah (belanja)nya.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah, kecuali An-Nasai. Hadits ini dihasankan oleh At-Tirmidzi. Dan dikatakan bahwa Al-Bukhari mendhaifkannya)

[Shahih: Abu Dawud (3403), At-Tirmidzi (1366)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Rafi’ bin Khadij Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menanam di atas tanah suatu kaum tanpa seizin mereka, maka ia tidak berhak memiliki apapun dari tanaman itu, namun ia mendapat nafkah (belanja)nya.” HR. Ahmad dan Al-Arba’ah kecuali An-Nasai. Hadits ini dihasankan oleh At-Tirmidzi. Dan dikatakan bahwa Al-Bukhari mendhaifkannya (perkataan ini dari Al-Bukhari yang disebutkan oleh Al-Khaththabi. Sedangkan At-Tirmidzi menyelisihinya dan menyatakan bahwa hadits tersebut hasan yang ia nukil dari Al-Bukhari. Hanya saja Abu Zar’ah dan lainnya mengatakan bahwa Atha’ bin Abi Rabah tidak mendengar dari Rafi’ bin Khadij. Sedangkan para penghafal hadits berselisih pendapat masalah hadits ini walaupun mempunyai banyak saksi.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan sebagai dalil bahwa orang yang mengambil tanah secara zhalim, jika ia bercocok tanam pada tanah tersebut, dia tidak berhak memiliki apa yang ditanamnya, tetapi tanaman tersebut menjadi milik si pemilik tanah. Sedangkan dia hanya menerima nafkah [biaya] dan benih yang telah ditanamnya saja. Itulah pendapat Ahmad bin Hambal, Ishaq, Malik dan pendapat kebanyakan para ulama Madinah dan Al-Qasim bin Ibrahim. Begitu juga pendapat Abu Muhammad bin Hazm sebagaimana ditunjukkan dalam hadits,

«لَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ»

“Tidak ada hak bagi orang yang bercocok tanam atas tanah orang lain dengan cara zhalim.”

Hadits ini akan disebutkan pada hadits berikutnya. Yang dimaksud dengan hadits ini adalah orang yang menanam, mencangkul, membangun atau menggali tanah milik orang lain tanpa ada hak ataupun syubhat.

Sebagian besar umat berpendapat bahwa tanaman menjadi hak pemilik benih yaitu orang yang mengambilnya dan dia harus menanggung biaya tanah. Mereka berdalih dengan hadits:

«الزَّرْعُ لِلزَّارِعِ وَإِنْ كَانَ غَاصِبًا»

“Tanaman milik orang yang menanam walaupun dia memperoleh dengan merampasnya.” [Hadits yang batil tidak mempunyai asal. Lihat kitab Ad-Dhaifah (88)]

Hanya saja hadits tersebut tidak ada seorang pun yang pernah mengeluarkan hadits ini.

Dalam kitab Al-Manar disebutkan: aku telah mencarinya, tetapi tidak saya temukan dan As-Syarih telah menukilnya dan menjelaskan dalam makhrajnya.

Mereka juga berdalih dengan hadits: “Tidak ada hak bagi orang yang bercocok tanam atas tanah orang lain dengan cara zhalim.” akan dijelaskan.

Maka nampak jelas pendapat pertama dalam segi pengambilan dalilnya.

0834

وَعَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ رَجُلَيْنِ اخْتَصَمَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي أَرْضٍ، غَرَسَ أَحَدُهُمَا فِيهَا نَخْلًا وَالْأَرْضُ لِلْآخَرِ، فَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالْأَرْضِ لِصَاحِبِهَا، وَأَمَرَ صَاحِبَ النَّخْلِ أَنْ يُخْرِجَ نَخْلَهُ وَقَالَ: لَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ – وَآخِرُهُ عِنْدَ أَصْحَابِ السُّنَنِ مِنْ رِوَايَةِ عُرْوَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ، وَاخْتُلِفَ فِي وَصْلِهِ وَإِرْسَالِهِ، وَفِي تَعْيِينِ صَحَابِيِّهِ.

834. Dari Urwah bin Al-Zubair Radhiyallahu Arihu bahwa seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Ada dua orang bertengkar mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masalah tanah. Salah seorang di antara mereka telah menanam pohon kurma di atas tanah milik yang lain. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan tanah tetap menjadi milik si empunya dan menyuruh pemilik pohon kurma untuk mencabut pohonnya, dan beliau bersabda, “Akar yang zhalim tidak punya hak”. Riwayat Abu Dawud dan sanadnya hasan.

[hasan, Abi Dawud (3074)]

Akhir hadits itu menurut pengarang-pengarang kitab As-Sunan dari riwayat Urwah, dari Said bin Zaid. Tentang maushul dan mursalnya hadits tersebut serta penentuan para perawinya masih ada pertentangan.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

“Dari Urwah bin Al-Zubair Radhiyallahu Anhu bahwa seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: Ada dua orang bertengkar mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masalah tanah. Salah seorang di antara mereka telah menanam pohon kurma di atas tanah milik yang lain. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan tanah tetap menjadi milik siempunya dan menyuruh pemilik pohon kurma untuk mencabut pohonnya, dan beliau bersabda: “Akar yang dholim tidak punya hak” (dengan menggunakan Idhafah dan pemberian sifat namun Al-Khaththabi mengingkari dengan menggunakan Idhafah). Riwayat Abu Dawud dan sanadnya hasan.

Akhir hadits itu menurut pengarang-pengarang kitab As-Sunan dari riwayat Urwah, dari Said bin Zaid. Tentang maushul dan mursalnya hadits tersebut serta penentuan para perawinya masih ada pertentangan (Abu Dawud meriwayatkan dari jalur Urwah secara mursal dan dari jalur lainnya secara tersambung dari riwayat Muhammad bin Ishaq.

Katanya: Maka seorang sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Besar kemungkinan dia adalah Abu Said.

Dalam bab ini terdapat jalur dari Aisyah yang dikeluarkan oleh Abu Dawud At-Thayalisi dan dari Samrah pada Abu Dawud dan Al-Baihaqi serta dari Ubadah dan Abdullah bin Amr pada At-Thabrani.

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam penafsiran: “akar yang zhalim”. Dikatakan, maksudnya adalah seseorang menanam di tanah milik orang lain, yang mana empunya berhak terhadap hal tersebut. Imam Malik berkata, “Yang dimaksud adalah setiap yang diambil, digali dan ditanam tanpa hak,” sedangkan menurut Rubai’ah adalah akar yang zhalim, bisa jadi nampak atau tidak nampak. Adapun yang tidak nampak berupa sesuatu yang digali oleh seseorang seperti sumur untuk mengeluarkan bahan tambang darinya. Sesuatu yang nampak seperti bangunan atau tanaman. Ada pula yang mengatakan orang yang zhalim, yaitu siapa yang menanam atau membangun atau menggali di tanah orang lain tanpa hak maupun syubhat.

Semua itu merupakan penafsiran yang saling berdekatan dan sebagai petunjuk bahwa setiap orang yang menanam di tanah orang lain merupakan orang yang zhalim yang tidak mempunyai hak. Bahkan dia diberi pilihan antara mencabut yang ditanam olehnya atau mengambil nafkah yang dikeluarkan atasnya, sebagai bentuk kompromi antara kedua hadits tersebut tanpa memisahkan antara tanaman dan pohon-pohonan. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa tanaman menjadi milik orang yang mengambil merupakan pengertian yang bertentangan dengan zhahir hadits. Bagaimana mungkin syariat mengatakan “tiada hak bagi akar” dengan menyebutkan kata zhalim yang menghilangkan hak atasnya. Dan kami nyatakan bahwa hak ada padanya.

0835

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ «النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ فِي خُطْبَتِهِ يَوْمَ النَّحْرِ بِمِنًى: إنْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا»

835. Dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dalam khutbahnya pada hari raya Kurban di Mina, “Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram atasmu sebagaimana haramnya harimu ini, pada bulanmu ini, di negerimu ini.” (Muttafaq Alaih)

//Shahih: Al Bukhari 1741 dan Muslim 1679. Ebook editor//

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Apa yang ditunjukkan hadits ini sangatlah jelas dan merupakan ijma’ ulama. Seandainya penulis memulai pembahasan dalam bab ghashab dengan hadits ini, niscaya sangat pas sebagai landasan permasalahan dan lebih tepat sebagai hadits pembuka.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *