[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 268

07. KITAB JUAL BELI – 07.12. BAB GHASAB (MENGAMBIL HAK ORANG LAIN)  01

Kata al-ghasbu merupakan bentuk masdar dari kata ghashaba-yaghshibu yang artinya mengambil dengan zhalim, sebagaimana tersebut Dalam Al-Qamus,

07. KITAB JUAL BELI07. KITAB JUAL BELI\07.12. BAB GHASAB (MENGAMBIL HAK ORANG LAIN)07.12. BAB GHASAB (MENGAMBIL HAK ORANG LAIN)\0831 0831
عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقَهُ اللَّهُ إيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرْضِينَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

831.Dari Said bin Zaid Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,, “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan cara zhalim, maka pada hari kiamat nanti Allah akan mengalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2452), dan Muslim (1610)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Said bin Zaid Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah (itu adalah salah satu lafazh dalam Ash-Shahihain) dengan zhalim, maka pada hari kiamat nanti Allah akan mengalungkan kepadanya dengan tujuh lapis bumi.” Muttafaq Alaih (para ulama berbeda pendapat tentang makna kata mengalungkan. Ada yang mengatakan; dihukum dengan ditenggelamkan sampai ke tujuh lapis bumi sehingga pada saat itu setiap lapis bumi menjadi kalung di lehernya. Makna ini diperkuat dengan riwayat hadits Ibnu Umar berikut,

خُسِفَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إلَى سَبْعِ أَرَضِينَ

“Ditenggelamkan pada hari kiamat nanti sampai ke tujuh lapis bumi.”

Ada pula yang mengartikan; pada hari kiamat nanti ia dibebani untuk memindahkan apa yang telah diambilnya secara zhalim menuju ke Padang Mahsyar, seakan-akan menjadi kalung di lehernya, bukan merupakan kalung yang sebenarnya. Pengertian tersebut diperkuat dengan hadits,

«أَيُّمَا رَجُلٍ ظَلَمَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ كَلَّفَهُ اللَّهُ أَنْ يَحْفِرَهُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ سَبْعِ أَرْضِينَ ثُمَّ يُطَوِّقُهُ حَتَّى يَقْضِيَ بَيْنَ النَّاسِ»

“Siapapun orang yang mengambil tanah dengan cara zhalim niscaya Allah bebankan kepadanya untuk menggalinya sampai akhir bumi [tanah] lapis ke tujuh, kemudian Allah kalungkan kepadanya hingga -perkara itu- diputuskan di antara manusia.”

Hadits ini dikeluarkan oleh At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari hadits Ya’la bin Murrah secara marfu’. [Al-Mu’jam Al-Kabir (22/270), dan Shahih Ibni Hibban (11/568)]

Dan riwayat Imam Ahmad dan At-Thabrani menyebutkan,

«مَنْ أَخَذَ أَرْضًا بِغَيْرِ حَقِّهَا كُلِّفَ أَنْ يَحْمِلَ تُرَابَهَا إلَى الْمَحْشَرِ»

“Barangsiapa yang mengambil tanah bukan haknya niscaya akan dibebani untuk membawa debunya ke Padang Mahsyar. [shahih, Shahih Al-Jami’ (9584) ?]

Dan masih terdapat dua pendapat yang terakhir.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan haramnya berbuat zhalim dan berbuat ghashab, serta hukuman yang sangat pedih atas dosa-dosa tersebut. Mengambil tanah yang bukan haknya termasuk dalam kategori dosa besar. Bagi orang yang mempunyai tanah, dia memiliki apa yang terkandung dalam tanahnya bahkan sampai dasar tanahnya dan dia berhak melarang orang yang hendak menggalinya, baik untuk sumur atau lainnya. Dan orang yang memiliki permukaan bumi, dia memiliki pula kandungannya, baik berupa batu-batuan, bangunan, maupun hasil bumi dan tambang. Dia berhak pula menggali tanahnya selama tidak mengganggu tetangganya.

Tujuh lapis -bumi- itu bertumpuk-tumpuk tanpa terpisah antara satu dengan yang lainnya, karena bila terpisah niscaya orang yang mengambilnya secara zhalim cukup dikalungkan dengan tanah yang dirampasnya saja. Sebab tanah tersebut terpisah dengan tanah yang di lapis bawahnya.

Selanjutnya timbul pertanyaan, apakah orang yang mengambilnya dengan cara zhalim wajib menanggung kerusakan yang timbulkan setelah dirampas olehnya?

Dalam hal ini perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan; tidak menanggung beban yang rusak, sebab yang wajib ditanggung adalah sesuatu yang diambilnya saja, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tangan bertanggung jawab terhadap apa yang ia ambil sampai ia mengembalikannya.”

Mereka mengatakan bahwa tidak dapat diqiyaskan antara keberadaan tangan dengan memindahkan barang karena adanya perbedaan dalam sisi perbuatannya.

Jumhur ulama mengatakan bahwa kerusakan tersebut ditanggung oleh perusak dengan mengiyaskan dengan barang yang telah dipindahkan. Karena ulama telah sepakat bahwa orang yang mengambil barang menanggung kerusakan pada barang yang dipindahkannya dengan adanya penguasaan pada barang yang berpindah tangan. Dan berdasarkan ketentuan pada barang yang tidak dapat dipindah tangankan. Sebenarnya, keberadaan tangan merupakan bentuk penguasaan walaupun tidak dipindahkan, sebagaimana dikatakan, ‘sang raja menguasai negeri dan Zaid menguasai tanah Amir’,

Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “sejengkal,” maka, terlebih lagi jika lebih banyak darinya -sejengkal-. Jika kurang darinya termasuk juga diharamkan, dan hal ini tidak disebutkan karena yang demikian jarang sekali terjadi.

Dalam riwayat Al-Bukhari terdapat lafazh “Syai’an” [sesuatu] sebagai pengganti lafazh “Syibran” [sejengkal]. Hanya saja para fuqaha mengatakan bahwa harta yang diambil dengan zhalim itu harus berupa barang yang berharga (bernilai). Mereka mengatakan pula bahwa orang yang memakan satu sha’ kurma atau anggur kering (zabib) satu persatu dia tidak menanggung kerusakannya, hingga sepanjang umurnya makan harta yang haram. Dia tidak menanggung kerusakannya walaupun dia berdosa atas perilaku memakan harta yang haram. Seperti halnya memakan roti atau daging sesuap sesuap tanpa perlu menguasai semuanya.

0832

وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ. فَأَرْسَلَتْ إحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ خَادِمٍ لَهَا بِقَصْعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ. فَضَرَبَتْ بِيَدِهَا. فَكَسَرَتْ الْقَصْعَةَ. فَضَمَّهَا، وَجَعَلَ فِيهَا الطَّعَامَ وَقَالَ: كُلُوا وَدَفَعَ الْقَصْعَةَ الصَّحِيحَةَ لِلرَّسُولِ، وَحَبَسَ الْمَكْسُورَةَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَسَمَّى الضَّارِبَةَ عَائِشَةَ، وَزَادَ: فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «طَعَامٌ بِطَعَامٍ، وَإِنَاءٌ بِإِنَاءٍ» وَصَحَّحَهُ

832. Dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berada di rumah salah seorang istrinya. Lalu salah satu istrinya yang lain mengutus seorang pelayan membawa sebuah piring yang berisi makanan. Kemudian ia -istri yang serumah dengan beliau- memukul dengan tangannya dan pecahlah piring tersebut. Beliau menangkupkan piring itu dan meletakkan makanan di atasnya, lalu bersabda, “Makanlah.” Kemudian pesuruh itu mengembalikan piring yang baik kepada beliau dan menyimpan piring yang pecah. (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, dan dia menyebut pemukul tersebut adalah Aisyah, dan menambahkan: Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanan diganti dengan makanan dan bejana diganti dengan bejana.” Dan hadits ini dishahihkan olehnya.

[shahih, Al-Bukhari (2481), dan At-Tirmidzi (1359)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang berada di rumah salah seorang istrinya. Lalu salah satu istrinya yang lain mengutus seorang pelayan (Ibnu Hazm menyebutkan, namanya adalah Zaenab binti Jahsy, sedang penulis mengatakan, “Aku tidak mengetahui nama pelayan tersebut) membawa sebuah piring yang berisi makanan. Kemudian ia -istri yang serumah dengan beliau- memukul dengan tangannya dan pecahlah piring tersebut. Beliau menangkupkan piring itu dan meletakkan makanan di atasnya, lalu bersabda: “Makanlah”. Kemudian pesuruh itu mengembalikan piring yang baik kepada beliau dan menyimpan piring yang pecah. HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, dan dia menyebut pemukul tersebut adalah Aisyah, dan menambahkan: Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makanan diganti dengan makanan dan bejana diganti dengan bejana.” Dan hadits ini dishahihkan olehnya.

Kisah seperti ini diriwayatkan juga dari Aisyah Radhiyallahu Anha perihal piring Umi Salamah, sebagaimana dikeluarkan oleh An-Nasa’i dari Umu Salamah Radhiyallahu Anha: “dia membawa piring makanan untuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau, kemudian datang ‘Aisyah dengan menutup dirt dengan pakaian dan membawa fihr sehingga dia msmecakkan piring tersebut.” [Shahih: An-Nasa’i (3965)]

Kisah yang sama dari Hafshah Radhiyallahu Anha bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha memecahkan bejana dan seperti itu juga dengan kisah Shafiyyah Radhiyallahu Anha bersama Aisyah.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa siapa yang merusak harta milik orang lain, maka dia wajib untuk menanggung -mengganti- dengan barang yang sama dengannya, baik pada biji-bijian maupun bentuk lainnya. Inilah pendapat yang disepakati oleh ulama.

Adapun mengenai barang yang bernilai (berharga), para ulama berbeda pendapat dalam tiga kelompok:

Pertama; Menurut Asy-Syafi’i dan ulama Kufah wajib menggantinya dengan yang serupa, baik berupa hewan ataupun lainnya, dan tidak cukup dengan nilai maupun harganya, kecuali jika tidak didapati sesuatu yang semisal.

Kedua; Menurut Al-Hadawiyah barang yang berharga ditanggung [diganti] dengan nilainya. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah mengatakan bahwa barang yang ditakar dan ditimbang maka diganti dengan yang semisal (sama), sedangkan jenis yang lainnya, baik berupa barang niaga atau hewan, maka diganti dengan harganya.

Imam Asy-Syafi’i dan ulama yang sependapat dengannya berpegang dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Bejana diganti dengan bejana dan makanan diganti dengan makanan.” Dan juga sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ibnu Hakim,

«مَنْ كَسَرَ شَيْئًا فَهُوَ لَهُ عَلَيْهِ مِثْلُهُ»

“Barangsiapa yang memecahkan sesuatu maka dia wajib menggantinya dengan jenis yang sama.”

Dalam riwayat Ad-Daraquthni ditambahkan: “maka menjadi suatu keputusan” yakni keputusan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maksudnya, menjadi keputusan yang bersifat umum bagi siapa yang mengalami hal yang sama sehingga tertolaklah pendapat yang mengatakan bahwa hadits tersebut merupakan hukum yang mengikat pada kasus tertentu saja. Bila hukumnya seperti yang mereka katakan, niscaya sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Makanan diganti dengan makanan dan bejana diganti dengan bejana” cukup menjadi dalil bahwa penyebutan kata makanan cukup jelas menunjukkan hukum secara urhum. Karena dalam kasus ini tidak ada tanggungan hutang makanan, yang ada hanya tanggungan hutang bejana. Adapun makanan merupakan hadiah pemberian dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bila tidak didapati barang yang sama, maka penerima penggantinya diberikan pilihan antara memberikan tempo sampai didapati barang yang sama atau diganti dengan harganya.

Dalam kitab Al-Bahr dan lainnya, bagi ulama yang berpendapat wajibnya mengganti sesuai harganya berpegang dengan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau memutuskan bagi orang yang membebaskan -budak- yang menjadi miliknya [secara serikat] dengan orang lain, maka hendaknya ia membayar harga -separuhnya-kepada mitra serikatnya itu. Mereka mengatakan bahwa Nabi telah memutuskan untuk mengganti dengan harganya.

Namun, pendapat tersebut dijawab bahwa sahabat yang membebaskan bagiannya pada seorang budak antara dia dan mitranya tidak merusak sesuaru apa pun tidak juga termasuk mengambil hak dengan kezhaliman (ghashab) serta tidak ada aniaya di sana, justru yang ada membebaskan bagiannya sebagaimana dihalalkan Allah. Menurut anggapan ulama yang berpegang dengan dalil ini bahwa yang dibinasakan di sini adalah bagian yang ada pada budak yang sama halnya dengan bagian milik orang yang jauh. Sehingga pembayaran tunai lebih dekat dan jauh dari adanya perselisihan dan pada sisi yang lain penilaian barang termasuk juga dengan menen-tukan kadar yang sama atau dengan harganya. Hanya saja menurut istilah tersebut penggantian dengan harganya lebih bersifat khusus. Oleh karena sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan penafsiran secara bahasa bukan secara istilah.

Perilaku Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil pecahan piring di rumah terjadinya pemecahan dijadikan dalil oleh Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa benda yang diambil bila hilang diakibatkan oleh perbuatan orang yang mengambil menjadi milik pengambil, baik secara nama dan sebagian besar manfaatnya.

Ibnu Hazm mengatakan bahwa pengajaran berperilaku zhalim lebih besar dari hal tersebut dimana tidak ada perilaku yang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan perbuatan memakan harta orang lain dengan kebatilan. Sehingga dapat dikatakan bagi tiap orang yang fasik bila ingin mengambil gandum anak yatim atau lainnya, atau memakan harta rampasannya dan menghalalkan pakaiannya. Oleh karena bisa dikatakan kepadanya: ambillah, potonglah pakaiannya menurut anggapannya, sembelihlah hasil rampasannya dan masaklah serta ambillah gandumnya kemudian tumbuklah dan makanlah karena semua itu halal bagimu, kamu tidak mempunyai kewajiban, kecuali mengganti harga yang telah kamu ambil. Sedangkan anggapan tersebut menyalahi larangan dalam Al-Qur’an yang melarang memakan harta orang lain dengan kebatilan. Dan menyelisihi pula sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam secara mutawatir yang mengatakan:

«إنَّ أَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ»

“Sesungguhnya harta kalian hukumnya haram atas kalian”. [Shahih: Abi Dawud (3332)]

Sedangkan ulama yang berbeda pendapat dengannya berpegang dengan kisah piring dan penjelasan tersebut telah disebutkan sebelumnya. Mereka berdalil dengan kambing yang terkenal dimana seorang perempuan mengajak Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk makan di rumahnya kemudian dia menginformasikan kepada beliau bahwa dia hendak membeli seekor kambing akan tetapi tidak mendapatkannya. Kemudian dia memerintahkan tetangganya mencarikannya kambing milik suaminya sehingga dia mencarikannya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya agar kambing tersebut diberikan sebagai makanan para tawanan. [Shahih: Abi Dawud (3403)]

Mereka mengatakan: hadits ini menunjukkan bahwa hak pemilik kambing telah gugur darinya saat telah dipanggang. Akan tetapi, pendapat tersebut dijawab bahwa kabar tersebut tidak sah dan bila dianggap sah, maka menjadi argumentasi yang mematahkan pendapat mereka sendiri. Karena hal tersebut bertentangan dengan pendapat mereka sebab dalam sabda tersebut terdapat perilaku Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak meninggalkan daging tersebut berada dalam kepemilikan wanita yang mengambilnya tanpa seizin pemiliknya. Sedangkan mereka mengatakan: daging tersebut milik orang yang mengambilnya dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyedekahkannya tanpa seizin darinya. Sedangkan kabar tentang kambing para tawanan telah kami bahas dalam buku Minhatul Ghaffar.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *