[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 266

07. KITAB JUAL BELI – 07. 11. BAB PINJAMAN (ARIYAH) 01

Pinjaman (‘ariyah) menurut syariat adalah izin yang membolehkan untuk mengambil manfaat suatu barang tanpa memilikinya, kemudian dikembalikan kepada pemiliknya tanpa ada biaya pengganti.

0827

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «عَلَى الْيَدِ مَا أَخَذَتْ حَتَّى تُؤَدِّيَهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ. وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

827. Dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tangan bertanggung jawab terhadap apa yang ia ambil sampai ia mengembalikannya.” (HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Dhaif: Abi Dawud (3561)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Makna Hadits

“Dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tangan bertanggung jawab terhadap apa yang ia ambil sampai ia mengembalikannya.” HR. Ahmad dan Al-Arba’ah. Hadits shahih menurut Al-Hakim (hal ini didasarkan atas sima’ [pendengaran] Al-Hasan dari Samrah, karena hadits ini berasal dari riwayat Al-Hasan dari Samrah. Mengenai sima’ [pendengaran] Al-Hasan ini, para Huffadz (penghapal hadits) terbagi dalam tiga pendapat:

Pertama; bahwa Al-Hasan mendengar dari Samurah secara mutlak. Itulah pendapat Ali bin Al-Madini, Al-Bukhari dan At-Tirmidzi.

Kedua; bahwa Al-Hasan tidak mendengarnya secara mutlak. Itulah pendapat Yahya bin Said Al-Qaththani, Yahya bin Ma’in, dan Ibnu Majah.

Ketiga; bahwa Al-Hasan mendengar darinya, kecuali hadits tentang Aqiqah. Itulah madzhab An-Nasa’i yang dipilih oleh Ibnu Asakir, serta diakui Abdul Haq sebagai pendapat yang shahih.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa seseorang wajib untuk mengembalikan harta milik orang lain yang ada di tangannya. Dan dia tidak bisa bebas darinya, kecuali dengan cara mengembalikannya kembali kepada pemiliknya atau orang yang menggantikan posisinya berdasarkan sabda beliau, “sampai ia mengembalikannya” dan mengembalikan tidak dapat dilakukan, kecuali dengan cara seperti itu. Pernyataan tersebut bersifat umum, baik berupa rampasan, penyimpanan atau pinjaman. Masalah ini disebutkan dalam bab pinjaman karena adanya keterkaitan dalam cakupan pembahasannya, dan mungkin dipahami dari hal tersebut bahwa jaminannya ditanggung oleh peminjam itu sendiri. Sehingga terdapat tiga pendapat dalam hal ini:

Pertama; Pengembalian tersebut dijamin secara mutlak. Itulah pendapat Ibnu Abbas, Zaid bin Ali, ‘Atha, Ahmad, Ishaq dan Asy-Syafi’i berdasarkan hadits ini dan hadits lain yang akan disebutkan manfaat maknanya.

Kedua, Menurut Al-Hadi dan yang lainnya bahwa pinjaman adalah amanat yang tidak diwajibkan adanya jaminan, kecuali jika disyaratkan. Hal ini berdasarkan kepada hadits Shafwan yang akan disebutkan nanti.

Ketiga, Menurut Al-Hasan, Abu Hanifah dan lainnya bahwa pinjaman itu tidak dijamin walaupun ditanggung jaminannya. Berdasarkan hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«لَيْسَ عَلَى الْمُسْتَعِيرِ غَيْرُ الْمُغَلِّ وَلَا عَلَى الْمُسْتَوْدَعِ غَيْرُ الْمُغَلِّ ضَمَانٌ»

“Tiadalah beban tanggungan -untuk mengganti- atas peminjam yang tidak berkhianat dan atas orang yang menyimpan yang tidak berkhianat.” [Ad-Daraqutni (3/41), dan Al-Baihaqi (6/91)]

Hadits ini dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi dari Ibnu Amr, keduanya mendhaifkannya, tetapi keduanya menshahihkannya pada kondisi mauquf dari hadits Syuraih.

Sabda beliau, ‘al-mughil’ disebutkan dalam kitab An-Nihayah yang berarti jika dia tidak berkhianat dalam peminjaman dan penitipan maka tidak ada tanggungan terhadapnya. Adapula yang mengatakan bahwa al-mughil bermakna al-mustaghil yang artinya pemegang, karena dengan memegangnya dapat menjadikannya mustaghil. Pendapat pertama lebih kuat, sehingga pendapat ini tidak dapat dijadikan dalil walaupun hadits tersebut dihukumi marfu’ kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena yang dimaksud tidak seperti itu selama dia menjadi peminjam, jika tidak niscaya dia harus menanggung jaminannya.

Hadits bab ini sangatlah banyak, sebagaimana sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Tangan bertanggung jawab terhadap apa yang ia ambil sampai ia mengembalikannya” yang menunjukkan untuk menanggungnya. Tidak ada dalil secara jelas yang menunjukkan dia harus menanggungnya, begitu pula dengan tangan yang memegang amanat wajib pula mengembalikan barang yang diambilnya. Sehingga kami katakan, mungkin saja dipahami, bahwa tidak ada dalil yang menunjukkan tanggungan barang yang dipinjam, kecuali sabda beliau, “Pinjaman yang ditanggung.”

Dalam hadits Shafwan disebutkan bahwa penyifatannya dengan ditanggung mungkin saja diartikan sebagai sifat yang memperjelas. Dan maksud ditanggung di sini menunjukkan tanggungannya secara mutlak, dan mungkin pula sebagai sifat yang mengikat sehingga inilah yang nampak benar. Sebab ini merupakan asas yang mendasar dan banyak bentuknya.

Secara zhahir hadits, yang dimaksud adalah pinjaman yang telah kami jaminkan kepadamu. Sehingga dimungkinkan bersifat mengikat atau tidak, bahkan mungkin juga sebagai janji walaupun hal tersebut sangat jauh. Maka nampak jelas bahwa dalil tersebut sebagai pendapat terkuat bagi ulama yang mengatakan hal tersebut dijamin. Itulah yang nampak jelas dengan menanggungnya baik dengan cara menuntut pemiliknya atau dengan cara peminjam menyedekahkannya.

0828

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَدِّ الْأَمَانَةَ إلَى مَنْ ائْتَمَنَك، وَلَا تَخُنْ مَنْ خَانَك» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَبُو دَاوُد وَحَسَّنَهُ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيّ

828. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tunaikanlah amanat kepada orang yang memberimu amanat dan janganlah berkhianat kepada orang yang menghianatimu.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits dihasankan oleh At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Hakim, sedangkan menurut Abu Hatim Ar-Razi mungkar)

[hasan shahih, Abi Dawud (3535)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tunaikanlah amanat kepada orang yang memberimu amanat dan janganlah berkhianat kepada orang yang menghianatimu.” HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Hadits dihasankan oleh At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Hakim, sedangkan menurut Abu Hatim Ar-Razi mungkar (dan dikeluarkan oleh Jama’ah dari para penghafal hadits -huffadz-)

Tafsir Hadits

Hal ini mencakup peminjaman {‘ariyah), titipan dan lainnya. Dan diwajibkan menunaikan amanat sebagaimana dimaksud dalam firman Allah Ta’ala,

{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا}

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisaa’: 58)

Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Janganlah berkhianat kepada orang yang mengkhianatimu,” adalah dalil yang menunjukkan bahwa kejelekan tidak dapat dibalas dengan kejelekan pula. Sedangkan jumhur ulama menyatakan hal tersebut bersifat anjuran saja berdasarkan petunjuk firman Allah Ta’ala,

{وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا}

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (QS. Asy-Syura’: 40)

Dan firman Allah Ta’ala,

{وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ}

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (QS. An-Nahl: 126)

Ayat tersebut menunjukkan sebagai hal yang bersifat boleh. Itulah yang dikenal dengan pedoman kemenangan. Dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat dalam tiga kelompok:

Pertama; Pendapat Imam Asy-Syafi’i yang masyhur membolehkannya, baik hal yang sama dengan yang dia terima balasannya atau dengan jenis yang lainnya.

Kedua; Dibolehkan bila sama dengan jenis yang dia terima bukan dengan yang lainnya sebagaimana zhahir firman Allah Ta’ala, “Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (QS. An-Nahl: 126) Dan firman-Nya, “… yang serupa.” (QS. Asy-Syura’: 40) Hal tersebut merupakan pendapat Abu Hanifah dan Al-Mu’ayyid.

Ketiga; Hal tersebut tidak dibolehkan kecuali dengan hukum yang bersifat zhahir dalam hadits, dan firman Allah Ta’ala,

{لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ}

“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188; An-Nisa: 29)

Namun, pendapat ini dijawab bahwa hal tersebut bukan sebagai bentuk memakan harta dengan cara yang batil. Sedangkan hadits bab ini diartikan sebagai bentuk larangan yang bersifat untuk dijauhi bukan bentuk keharaman.

Keempat; Menurut Ibnu Hazm wajib mengambil sesuai haknya, baik dari bentuk yang sama dengan miliknya atau dari yang lainnya lalu dijual untuk diambil haknya. Bila terdapat sisa dari yang diambilnya, maka dikembalikan kepada pemiliknya atau ahli warisnya, dan bila masih kurang maka menjadi beban tanggungan pemilik barang yang kurang. Bila hal tersebut tidak dilakukan, maka dia telah berbuat kemaksiatan kepada Allah, kecuali bila orang tersebut telah merelakannya dan membebaskannya sehingga dia mendapat pahala.

Bila hak miliknya tidak mempunyai bukti dan dimenangkan oleh orang yang memiliki harta miliknya, maka si pemilik barang berhak mengambilnya saat pemegang barang enggan memberikannya. Bila pemilik barang dituntut untuk bersumpah, maka hendaknya dia bersumpah, niscaya dia mendapat pahala dalam hal tersebut. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i, Abu Sulaiman dan pengikut dari keduanya. Dan menurut kami, barang siapa yang mengambil harta orang lain secara zhalim, maka wajib diambil harta itu darinya untuk memberikan keadilan kepada orang yang terzhalimi.

Dapat dijadikan petunjuk dari kedua ayat tersebut, dan juga firman Allah Ta’ala,

{وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ}

“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosapun atas mereka.” (QS. Asy-Syura: 41)

{وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ}

“Dan orang-orang yang bila ditimpa kezhaliman mereka mendapat kemenangan.” (QS. Asy-Syura: 39)

{وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ}

“Dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qishash.” (QS. Al-Baqarah: 194)

{فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ}

“Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah: 194)

Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Hindun —istri dari Abu Sufyan, beliau bersabda,

خُذِي مَا يَكْفِيك وَوَلَدِك بِالْمَعْرُوفِ

“Ambillah -dari harta suamimu- yang dapat mencukupimu dan anakmu dengan cara yang makruf.” [shahih, Al-Bukhari (5364), Muslim (1714)]

Hadits ini disabdakan oleh Rasulullah ketika Hindun menyebutkan bahwa Abu Sufyan adalah seorang suami yang sangat pelit, tidak memberikan nafkah yang dapat mencukupiku -Hindun- dan anakku, apakah saya berdosa mengambil hartanya?

Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari berikut,

«إنْ نَزَلْتُمْ بِقَوْمٍ فَأَمَرُوا لَكُمْ بِمَا يَنْبَغِي لِلضَّيْفِ فَاقْبَلُوا، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا فَخُذُوا مِنْهُمْ حَقَّ الضَّيْفِ»

“Jika kalian datang kepada suatu kaum, lalu diperintahkan kepada kalian untuk mengambil hak sebagai tamu maka terimalah. Namun, jika mereka tidak melakukan hal itu, maka ambillah dari mereka hak bagi tamu.” [shahih, Al-Bukhari (2461), Muslim (1727)]

Dan pendapat yang mengatakan bahwa jika tidak melakukannya dianggap telah melakukan maksiat berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ}

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

Ia berkata, “Barangsiapa yang mengalahkan sesuatu sebanding dengan kezhaliman yang ia terima, atau yang diterima oleh seorang muslim, atau seorang dzimmi, maka hal ini tidak dapat membebaskannya dari pelaku kezhaliman, dan mengembalikan kepada orang yang dizhalimi atas hak-haknya, karena termasuk salah satu dari dua pelaku kezhaliman, ia tidaklah menolong dalam kebaikan dan takwa, akan tetapi menolong dalam dosa dan permusuhan. Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan kepada siapa saja yang melihat kemungkaran agar mencegah kemungkaran itu dengan tangannya jika mampu. Maka barang siapa yang mampu untuk mencegah kezhaliman, lalu memberikan hak seseorang secara adil, tetapi ia tidak melakukannya, dan ia juga mampu utuk mencegah kemungkaran tetapi tidak melakukannya, maka ia telah bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Kemudian ia menyebutkan hadits Abu Hurairah seraya berkata, “Hadits ini dari riwayat Thalq bin Ghanam, dari Syuraik dan Qais bin Ar-Rabi’, dan semuanya adalah dhaif. Ia berkata, “Jika memang benar, tidak tetap tidak dapat dijadikan hujjah karena seseorang yang menuntut haknya bukanlah khianat, tetapi hak yang wajib dan mengingkari yang mungkar. Adapun dinamakan khianat jika seseorang berkhianat dengan kezhaliman dan kebatilan atas orang yang tidak memiliki hak terhadapmu.

Saya katakan, “Sebagai penguat masalah ini adalah hadits Rasulullah, “Tolonglah temanmu yang zhalim atau terzhalimi.” Perintah dalam hadits ini menunjukkan perintah wajib. Adapun menolong orang yang zhalim dengan cara mengeluarkannya dari kezhaliman yang dilakukannya atas orang lain.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *