[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 334

08. KITAB NIKAH – 08.05. BAB PEMBAGIAN GILIRAN TERHADAP PARA ISTRI 03

0987

وَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا صَلَّى الْعَصْرَ دَارَ عَلَى نِسَائِهِ ثُمَّ يَدْنُو مِنْهُنَّ» . الْحَدِيثُ

987. Menurut riwayat Muslim bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Ashar, beliau berkeliling ke istri-istrinya, kemudian menghampiri mereka.” (Al Hadits).

[shahih, Muslim (1474)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Menurut riwayat Muslim bahwa Aisyah Radhiyallahu Anhu berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat Ashar, beliau berkeliling ke istri-istrinya, kemudian menghampiri mereka.” Al-Hadits. (Sebatas menghampiri, membelai, dan mencium tanpa berhubungan suami istri, sebagaimana yang telah kamu ketahui).

0988

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَسْأَلُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَيْنَ أَنَا غَدًا؟ يُرِيدُ يَوْمَ عَائِشَةَ فَأَذِنَ لَهُ أَزْوَاجُهُ يَكُونُ حَيْثُ شَاءَ، فَكَانَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

988. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alathi wa Sallam bertanya ketika beliau sakit yang menyebabkan wafatnya, “Di mana giliranku besok?” beliau menginginkan hari giliran Aisyah dan istri-istrinya mengizinkan apa yang beliau kehendaki. Maka beliau berdiam di rumah Aisyah”. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (4450), Muslim (2443)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dalam satu riwayat bahwa Nabi mulai sakit di rumah Maimunah Radhiyallahu Anha seperti yang diriwayatkan Al-Bukhari di akhir kitab peperangan.

Ucapannya: “Istri-istrinya mengizinkan,” diriwayatkan Ahmad dari Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

إنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَدُورَ بُيُوتَكُنَّ فَإِنْ شِئْتُنَّ أَذِنْتُنَّ لِي فَأُذِنَ لَهُ

“Saya tidak bisa berkeliling bergilir di rumah kalian, jika kalian mau, maka izinkanlah saya” maka mereka mengizinkannya.

Menurut riwayat Ibnu Sa’ad dengan sanad shahih dari Az-Zuhri bahwa Fatimah Radhiyallahu Anha yang berbicara kepada Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi), dan berkata, “Nabi sangat kepayahan bila harus berpindah-pindah” dan mungkin Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam meminta izin kepada istri-istri beliau, kemudian Fatimah Radhiyallahu Anha juga meminta izin untuk beliau, sehingga kedua hadits itu bisa digabungkan maknanya. Dalam satu riwayat diterangkan bahwa Nabi berdiam di rumah Aisyah pada hari Senin dan meninggal dunia di hari Senin berikutnya.

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil yang menjelaskan bahwa bila seorang istri mengizinkan, maka hilanglah haknya mendapatkan giliran pembagian di tempatnya, tapi harus dengan izin tidak cukup dengan undian sebagaimana dalam bepergian; berdasarkan hadits berikut ini:

___________________

وَعَنْهَا قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ، فَأَيَّتَهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ»

“Darinya (Aisyah), ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bila ingin bepergian, beliau mengundi antara istri-istrinya, maka siapa yang undiannya keluar, beliau keluar bersamanya.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (2593), Muslim (2770)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Diriwayatkan Ibnu Sa’d, ada tambahan darinya: “Jika yang keluar bukan undianku, terlihat kekecewaan di wajah Nabi.”

Hadits ini menyuruh untuk mengundi di antara istri-istri bagi yang ingin bepergian dan ingin mengajak seorang di antara mereka, dan perbuatan yang tidak wajib dilakukan. Asy-Syafi’i berpendapat wajib dilakukan. Al Hadawiyyah berpendapat: tidak wajib, sang suami bebas memilih dengan istri yang mana dia bepergian dan tidak harus mengundi terlebih dahulu, mereka beralasan: tidak wajib baginya untuk membagi giliran di antara mereka, dan perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah gambaran kemuliaan akhlak beliau, kelembutan, dan mu’amalah baik, jika dia bepergian dengan seorang di antara mereka maka tidak diwajibkan bepergian dengan yang lainnya pada waktu yang lain. Abu Hanifah berkata, “Dia harus mengqadha’ (mengganti hari-hari gilirannya), baik sebelumnya diundi atau tidak.” Asy-Syafi’i berkata, “Jika sudah diundi, maka tidak wajib untuk mengqadha’, tapi jika tidak diundi terlebih dahulu, maka harus diqadha’ (mengganti hari-hari gilirannya). Sebenarnya tidak ada dalil yang mewajibkan, baik dalam bentuk mutlak (umum) ataupun penjelasan terperinci.”

Berdasarkan dalil, menunjukkan bahwa pembagian giliran wajib, dan tidak bisa digugurkan karena bepergian, maka hal ini dijawab: bahwa dengan bepergian pembagian giliran hari dengan salah satu istrinya gugur (batal), dengan dalil sang suami bisa saja bepergian sendiri, tidak mengajak seorang di antara mereka. Atas dasar itu dia tidak diwajibkan untuk mengganti hari-hari gilirannya di antara mereka setelah bepergian berdasarkan kesepakatan ulama. Bukankah hadits sebagaimana yang engkau ketahui tidak mewajibkan untuk mengundi dan hal itu adalah kemuliaan akhlak Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bukan dalil yang mewajibkan. Hadits ini menunjukkan pengakuan dan penggunaan undian di antara teman-teman (masalah harta milik bersama) dan lainnya. Menurut pendapat yang masyhur dari madzhab Malik dan Abu Hanifah menjelaskan bahwa tidak mengakui peranan dan penggunaan undian. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Itulah pendapat masyhur dari Imam Malik dan pengikutnya; karena termasuk bab untung-untungan dan judi, tapi diriwayatkan dari Abu Hanifah yang membolehkan sistem undian.

Yang tidak sependapat dengan sistem undian berdalih, bahwa sebagian istri-istrinya mungkin ada yang sangat bermanfaat menemaninya dalam bepergian, jika setelah diundi ternyata istri yang tidak memberi manfaat dalam bepergian, tentu hal itu akan menyusahkan suami, demikian juga ada istri-istri yang sangat cekatan dan bagus dalam mengatur kemashalahatan rumah ketika suaminya ada, jika undian itu dia yang dapat tentu akan menyusahkan suami karena rumahnya berantakan dan tidak terawat ketika dia kembali dari bepergian. Al-Qurthubi berkata, “Syari’at undian disyaratkan keadaan dan keahlian mereka sama sehingga tidak memunculkan kesan mengkhususkan (lebih memihak) kepada satu daripada lainnya.” Ada yang berpendapat: hadits ini adalah pengecualian atas hadits yang diriwayatkan dengan makna yang mensyari’atkan undian. Berpendapat sesuai dengan teks zhahirnya lebih tepat sebagaimana yang dikemukakan Asy-Syafi’i.

0989

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَجْلِدُ أَحَدُكُمْ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

989. Dari Abdullah bin Zam’ah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah seorang di antara kamu memukul istrinya seperti ia memukul budak.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (5204)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abdullah bin Zam’ah (adalah Ibnu Al-Aswad bin Abdil Muthalib bin Asad bin Abdil Uzza seorang shahabat masyhur, tidak ada dalam Shahih Al-Bukhari riwayat darinya selain hadits ini saja, termasuk penduduk Madinah). Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah seorang di antara kamu memukul istrinya seperti ia memukul budak.” HR. Al-Bukhari (Kelanjutan haditsnya, “Kemudian dia menggaulinya” dalam riwayat lain, “Kemudian dia berkeinginan menggaulinya”)

Tafsir Hadits

Hadits ini membolehkan memukul istri dengan pukulan ringan berdasarkan pada sabda, ” seperti ia memukul budak” dalam riwayat Abu Dawud,

«وَلَا تَضْرِبُ ظَعِينَتَك ضَرْبَك أَمَتَك»

“Janganlah memukul istrimu seperti memukul budak wanitamu,” [Shahih: Abi Dawud (142)]

dalam riwayat An-Nasa’i,

«كَمَا تَضْرِبُ الْعَبْدَ أَوْ الْأَمَةَ»

“seperti memukul budak laki-laki atau wanita,” [An-Nasa’i dalam kitab Al-Kubra (5/371)]

dalam riwayat Al-Bukhari,

«ضَرْبَ الْفَحْلِ أَوْ الْعَبْدِ»

“Seperti memukul hewan jantan atau budak, ” [shahih, Al-Bukhari (6042)]

semua dalil untuk membolehkan untuk memukul, tapi dengan syarat tidak boleh seperti memukul hewan ataupun budak-budak, Allah berfirman, “dan pukullah mereka” (QS. An-Nisaa’: 34) yang menunjukkan boleh memukul terhadap selain istri dengan pukulan keras.

Sabda Nabi, “Kemudian dia menggaulinya” menerangkan alasan larangan tersebut, sebab hal itu tidak bisa dimengerti orang-orang berakal; karena jima’ dan tidur bersama identik dengan kasih sayang dan perilaku baik, sedangkan pukulan membuat yang dipukul akan menjauh dan menghindar dari si pemukul, tetapi berbeda dengan pukulan ringan (sewajarnya) dengan tujuan untuk mendidik, tidak membuatnya menjauh dan menghindar pergi. Sudah tidak diragukan lagi bahwa ringan tangan, jiwa pemaaf, dan lapang dada adalah perilaku mulia sebagaimana akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seperti yang diriwayatkan An-Nasa’i dari hadits Aisyah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah memukul istrinya, pembantu, dan tidak pernah juga memukul dengan tangannya sama sekali kecuali dalam peperangan atau seseorang melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, maka Rasulullah marah apabila perintah Allah dilanggar.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *