[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 265

07. KITAB JUAL BELI – 07.10. BAB PENGAKUAN (IQRAR)

Pengakuan (Iqrar) secara bahasa artinya penetapan, sedangkan menurut istilah berarti pemberitahuan dari seseorang perihal beban kewajibannya. Iqrar (pengakuan) adalah lawan dari juhud (penolakan).

0826

عَنْ أَبِي ذَرٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ لِي النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: قُلْ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا» صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ مِنْ حَدِيثٍ طَوِيلٍ

826. Dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, “Katakanlah yang benar walaupun terasa pahit -bagimu-.” (Hadits ini dishahihkan Ibnu Hibban dari hadits yang panjang)

[dhaif, Dhaif Al-Jami’ (2122)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Makna Hadits

“Dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, “Katakanlah yang benar walaupun terasa pahit -bagimu-.” Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dari hadits yang panjang (Al-Hafidz Al-Mundziri menyebutkannya dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib yang berisi banyak wasiat-wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam)

Dalam lafazhnya, ia berkata,

«أَوْصَانِي خَلِيلِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ أَنْظُرَ إلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنِّي وَلَا أَنْظُرُ إلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي، وَأَنْ أُحِبَّ الْمَسَاكِينَ، وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِي وَإِنْ قَطَعُونِي وَجُفُونِي، وَأَنْ أَقُولَ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا، وَأَنْ لَا أَخَافَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ، وَأَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا، وَأَنْ أَسْتَكْثِرَ مِنْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ»

“Kekasihku Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku agar aku melihat orang yang lebih rendah dariku, dan aku tidak melihat orang yang lebih di atasku, dan mencintai orang-orang miskin serta mendekati mereka, dan menyambung tali silaturahmi saat mereka memutuskan dan menjauhkan hubungan denganku. Dan agar aku berkata jujur walaupun itu pahit, dan agar aku tidak takut karena Allah sebab adanya cercaan orang yang mencela. Serta agar aku tidak mengemis sedikit-pun kepada orang lain dan agar aku memperbanyak mengucapkan kalimat “La haula wala quwwata ilia billah -tiada dzat yang mempunyai daya dan kekuatan kecuali Allah.” Demikian itulah gudang khazanah dari gudang-gudang menuju surga.”

Sabda beliau Shallallahu Alaihi iva Sallam, “Katakanlah yang benar” mencakup perkataan kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain. Hal tersebut terambil dari firman Allah Ta’ala,

{كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ}

“Jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu.” (QS.An-Nisaa’: 135)

Dan firman Allah Ta’ala,

{وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ}

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An-Nisaa’: 171)

Dengan menganggap hal tersebut bersifat umum, penulis menyebutkan hadits ini dengan mengikuti Ar-Rafi’i yang menyebutkan hadits ini dalam bab pengakuan.

Tafsir Hadits

Dalam hadits merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pengakuan seseorang itu berlaku atas dirinya dalam segala bentuk urusan. Hadits tersebut bersifat umum untuk semua hukum Islam, karena mengatakan kebenaran atas dirinya sendiri merupakan bentuk pemberitahuan atas apa yang menjadi beban tanggungannya yang mengharuskan melepaskan tanggung jawab tersebut baik dengan membayar dengan harta, diri sendiri atau dengan harga diri.

Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Walaupun terasa pahit -bagimu-” sebagai bentuk perumpamaan. Karena kebenaran sulit diterapkan pada diri sendiri sebagaimana sulit menelan hal yang pahit. Akan disebutkan beberapa hadits dalam bab hukum hudud dan qishash.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *