[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 333

08. KITAB NIKAH – 08.05. BAB PEMBAGIAN GILIRAN TERHADAP PARA ISTRI 02

0984

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا تَزَوَّجَهَا أَقَامَ عِنْدَهَا ثَلَاثًا، وَقَالَ: «إنَّهُ لَيْسَ بِك عَلَى أَهْلِك هَوَانٌ، إنْ شِئْت سَبَّعْت لَك وَإِنْ سَبَّعْت لَك سَبَّعْت لِنِسَائِي» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

984. Dari Ummi Salamah Radhiyallahu Anha bahwa ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahinya, beliau berdiam dengannya selama tiga hari, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau di depan suamimu bukanlah hina, jika engkau mau aku akan memberimu giliran tujuh hari, namun jika aku memberimu tujuh hari, aku juga harus memberi tujuh hari kepada istri-istriku.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim 1460]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ummi Salamah Radhiyallahu Anha bahwa ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menikahinya, beliau berdiam dengannya selama tiga hari, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau di depan suamimu (Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) bukanlah hina, jika engkau mau aku akan memberimu giliran tujuh hari, namun jika aku memberimu tujuh hari, aku juga harus memberi tujuh hari kepada istri-istriku.”

Dalam riwayat lain, “Jika kamu ingin tiga hari, maka hanya tiga hari kemudian menggilir kepada istri lainnya lalu dia menjawab: 3 hari, dijelaskan dalam riwayat lain: “Rasulullah berdiam dengan Ummi Salamah, ketika Nabi hendak keluar (sudah 3 hari), dia memegang baju Nabi, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: jika kamu mau, aku akan memberimu giliran lebih dari 3 hari, yaitu 7 hari seperti hak istri yang gadis, dan bagi seorang istri janda, haknya 3 hari menunjukkan hak-hak giliran yang harus ditunaikan bagi istri yang masih gadis dan janda sebagaimana penjelasan dahulu.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan jika seorang suami tidak berdiam dengannya dalam waktu tertentu dengan kerelaan si wanita, maka hilanglah haknya untuk didahulukan tapi si suami wajib mengganti hari-hari tersebut, namun jika tidak berdasarkan keridhaannya, maka hak-hak harus ditunaikan terlebih dahulu berdasarkan mafhum sabda Nabi: “Jika kamu mau” dan makna sabda Nabi: “Sesungguhnya engkau di depan suamimu bukanlah hina” maksudnya, sesungguhnya engkau tidak diabaikan hakmu, dan kami akan memberikan apa yang menjadi hakmu dengan lengkap, kemudian Nabi memberikah hak pilih kepadanya antara 3 atau 7 hari, kalau 7 hari Nabi juga akan memberikan hak giliran selama 7 hari terhadap istri beliau lainnya, hal ini menunjukkan bagaimana baiknya perilaku Nabi kepada para istri dan menerangkan apa yang diwajibkan dan tidak diwajibkan kepada mereka, dan memberikan hak pilih terhadap hal yang menjadi haknya.

0985

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «أَنَّ سَوْدَةَ بِنْتَ زَمْعَةَ وَهَبَتْ يَوْمَهَا لِعَائِشَةَ. وَكَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْسِمُ لِعَائِشَةَ يَوْمَهَا وَيَوْمَ سَوْدَةَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

985. Dari Aisyah bahwa Saudah binti Zam’ah pernah memberikan hari gilirannya kepada Aisyah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan giliran kepada Aisyah pada harinya dan pada hari Saudah. (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (5212), Muslim (1463)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah bahwa Saudah binti Zam’ah (Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menikah dengan Saudah di Mekah sepeninggal Khadijah Radhiyallahu Anha, yang meninggal di Madinah tahun 54 H) pernah memberikan hari gilirannya kepada Aisyah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan giliran kepada Aisyah pada harinya dan pada hari Saudah”. Muttafaq Alaih. (Al-Bukhari menambahkan: “malamnya juga”, ditambahkan di akhir riwayatnya: “mengharapkan keridhaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan sanad Muslim menyebutkan sebab memberikan gilirannya:

«أَنَّ سَوْدَةَ حِينَ أَسَنَّتْ، وَخَافَتْ أَنْ يُفَارِقَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَوْمِي لِعَائِشَةَ فَقَبِلَ مِنْهَا»

“Ketika Saudah semakin tua dan khawatir diceraikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, giliranku kuberikan kepada Aisyah. Maka Rasulullah menerima pemberian giliran itu.

[hasan shahih, Abi Dawud (2135)]

dengan sebab itu, atau yang lainnya, lalu turunlah ayat, “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh.” (QS. An-Nisaa’: 128)

Diriwayatkan Ibnu Sa’d dengan perawi yang dapat dipercaya dari hadits Al-Qasim Ibnu Abi Bazzah Mursal menerangkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menceraikannya -yaitu Saudah- lalu ia duduk di jalan yang biasa dilalui Nabi dan berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan Haq, sungguh saya tidak mempunyai hasrat lagi dengan laki-laki, hanya saja saya mendambakan dibangkitkan di hari kiamat dengan bersama istri-istrimu, demi Dzat yang telah menurunkan Kitab kepadamu, apakah engkau menceraikanku karena aku berperilaku yang membuat engkau marah?” Nabi menjawab, “Tidak,” selanjutnya dia berkata, “Dengan nama Allah, rujuklah saya,” maka Nabi merujuknya. Lalu dia berkata, “Saya akan memberikan giliranku, siang dan malamnya untuk Aisyah, kekasih Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” [Ath-Thabaqat Al-Kubra (8 /36-37)]

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil yang membolehkan istri memberikan gilirannya kepada yang lainnya, dengan persetujuan suami; karena sang suami mempunyai hak atasnya dan dia tidak berhak memberikan gilirannya kepada istri lainnya, kecuali dengan persetujuartnya. Ulama Ahli Fiqih berbeda pendapat jika istri hanya memberikan gilirannya dan membebaskan sang suami untuk menentukan, kebanyakan ‘Ulama berpendapat: sah, dan biarlah suaminya yang memilih, diambil dari zhahir hadits. Ada yang berpendapat: suami tidak berhak memilih, bahkan, itu seperti tidak ada. Ada juga yang mengatakan: Jika istri mengatakan hal itu kepada suami: boleh jika dipilihkan kepada siapa diberikan, dan tidak boleh bila tidak ditentukan. Lalu mereka berkata: boleh bagi istri meralat (menarik) kembali hak giliran yang diberikan kepada istri lainnya; karena sesuatu yang berhak diberikan selalu berubah pemiliknya.

0986

عَنْ عُرْوَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَتْ عَائِشَةُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: يَا ابْنَ أُخْتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَا يُفَضِّلُ بَعْضَنَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْقَسْمِ مِنْ مُكْثِهِ عِنْدَنَا، وَكَانَ قَلَّ يَوْمٌ إلَّا هُوَ يَطُوفُ عَلَيْنَا جَمِيعًا فَيَدْنُو مِنْ كُلِّ امْرَأَةٍ مِنْ غَيْرِ مَسِيسٍ، حَتَّى يَبْلُغَ الَّتِي هُوَ يَوْمُهَا. فَيَبِيتَ عِنْدَهَا» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَاللَّفْظُ لَهُ. وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

986. Dari Urwah Radhiyallahu Anhu bahwa Aisyah berkata, “Wahai saudara anak perempuanku, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengistimewakan sebagian kami atas sebagian yang lain dalam pembagian giliran tinggalnya bersama kami. Pada siang hari beliau berkeliling pada kami semua dan menghampiri setiap istri tanpa menyentuhnya hingga beliau sampai pada istri yang menjadi gilirannya, lalu bermalam padanya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan lafazhnya menurut Abu Dawud. Hadits shahih menurut Al-Hakim)

[hasan shahih, Abi Dawud (2135)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang membolehkan bagi suami untuk menemui istri yang bukan gilirannya pada siang hari, berlemah-lembut, dan menciumnya. Hal ini menerangkan bagusnya akhlak Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Nabi adalah sebaik-baiknya manusia kepada keluarganya, keterangan ini membantah pendapat Ibnul Arabi yang menyatakan bahwa Nabi mempunyai 1 jam di siang hari yang tidak boleh dibagi-bagi gilirannya, yaitu setelah shalat Ashar. Pengarang -Rahimahullah- berkata, “Saya tidak menemukan dalil atas pendapat yang dikemukakannya.”

Hadits berikut ini, menerangkan waktu Nabi berkunjung ke rumah istri-istri beliau:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *